
Di atas sebuah bukit kecil bertanah lapang, sedangkan di bawahnya terhampar hutan rimbun penuh pepohonan menghijau, berdiri sebuah pondok tanpa dinding, beratap ilalang yang tinggi, serta satu bangunan menempel berdinding papan untuk menyimpan perkakas.
Ada enam lelaki dewasa, satu sepuh dan seorang anak kecil bekerja dalam diam. Bunyi api disemburkan terus-menerus serta palu besi berdentingan silih berganti menghempas ke penempa logam lainnya.
Sebelum logam ditempa menjadi perkakas ladang, Do dan senjata lainnya, para penambang menggali bijih besi dari dalam tanah di sebuah wilayah utara bukit itu. Kadang para penambang menggunakan api untuk melebarkan celah pada lapisan dan mengangkat tumpukan-tumpukan besar dan dibawa ke bukit tempat penempaan besi.
Mereka kemudian memanaskan bijih besi tersebut di tempat terbuka yang membutuhkan kayu dengan jumlah yang bisa dikatakan luar biasa banyak.
Para penambang kemudian meleburkan bijih besi dalam lubang galian di dalam tanah dan dipisah-pisahkan dengan tanah liat kering serta banyak menggunakan arang di bawah bijih besi tadi untuk memisahkan udara dalam kepadatan logam.
Begitu juga dengan batu mantikei yang mengandung besi dimasukkan ke suatu tempat dan dipanaskan sehingga besinya meleleh dan bahan-bahan lain di sekitarnya terbakar. Mereka kemudian menuang besi cair itu dengan menggunakan wadah dari tanah.
Sedangkan di pondok penempaan ditancapkan dua batang bambu, berdiri tegak lurus di dekat api. Dua batang bambu ini terbuka di bagian ujung alas dan berjenjang di bawah.
Dua sampai empat ruas jari jaraknya dari bagian dasar galian ada bambu kecil sambungan yang bertujuan sebagai rongga semprot yang mengarah dan bertemu di pusat api.
Untuk menghembuskan udara, tumpukan bulu burung atau bahan lunak lainnya diikatkan pada pegangan yang panjang dan digerakkan turun naik pada lubang bambu bagian atas. Jika mendorong ke bawah akan mendorong udara melalui lubang bambu. Dengan mengipas turun naik maka arus angin terus dihembuskan. Ini dikerjakan oleh seorang anak laki-laki yang didudukkan di sebuah kursi atau tempat yang tinggi.
Api yang dipelihara dan diatur inilah yang digunakan untuk menempa besi. Terlihat beberapa peralatan penting seperti puputan dan tungku, alat penempa besar dan kecil, alat penjepit, palu kecil, serta palung air untuk meredakan panas di logam.
Mereka adalah para penambang dan pandai besi orang-orang Daya dari kampung berbenteng kayu ulin yang dikepalasukui oleh Temenggung Beruang.
Para penambang dan penempa serta pandai besi tak ada yang kembali ke kampung sore itu. Semuanya tewas ketika mereka selesai dengan pekerjaan mereka di hari itu, termasuk anak kecil laki-laki serta seorang sepuh. Sedangkan semua persenjataan habis dicuri para penyerang.
Ini terjadi ketika para prajurit bersama Punyan, Tung dan Temenggung Beruang menghabisi lawan yang datang menyerang kampung mereka.
Belasan prajurit Daya dari suku lain menyerbu dari ke tempat penempaan yang sebenarnya tidak diketahui orang dari suku lain. Dari sinilah, para pandai besi dan penampang menciptakan senjata-senjata serta perkakas peladangan dengan mutu tinggi. Namun sekarang, tidak hanya sumber, bahan baku, senjata dan perkakas yang ketahuan dan hilang oleh musuh, para ahli penempa dan pandai besi juga habis dibantai.
Kepala mereka ikut hilang dibawa pergi para prajurit Daya pengayau.
***
Dara Cempaka berkelit lincah dari sabetan pedang Karsa, sehingga hanya ranting pepohonan yang menjadi korban serangan Sang Penyair Baka tersebut.
Dara Cempaka bahkan sempat melemparkan tusuk konde emas terakhirnya ke arah Karsa sembari menghindar. Tentu saja Karsa dengan tidak memerlukan upaya berat menepis lemparan konde emas tajam itu dengan tangannya yang bebas.
Karsa menjadi semakin garang dan bernafsu menetak tubuh molek sang gadis muda tersebut.
__ADS_1
"Dara, gunakan silat pulut, jangan melawan!" teriak Jayaseta sembari mengejar Karsa untuk mencegahnya menyerang Dara Cempaka.
Mendengar jelas ucapan Jayaseta, Dara Cempaka paham apa yang harus dilakukan. Berhari-hari berlatih silat bersama, bahkan berpasang-pasangan dalam olah tubuh dan kanuragan menciptakan semacam cara berbicara dan hubungan khusus diantara mereka.
Dara Cempaka bergerak bagai menari menyelip di sela-sela pepohonan dan ranting-ranting kurus. Kakinya berkecipak di rawa, melompati akar-akar pepohonan yang menyembul keluar ke permukaan air, serta mengatur jarak dengan Karsa.
Sudah dua tebasan cepat Karsa berhasil ia hindari. Menambah sebuah kekesalan Karsa lagi, ketika dengan gerakan seringan bulu burung, Dara Cempaka melesat menyelip diantara pepohonan dan menendang Karsa tepat di dadanya.
DUAG!
Tendangan kaki mungil itu ternyata sangat bertenaga, membuat Karsa terpukul mundur.
Tiba-tiba tanpa diduga Do Jayaseta mengajar kepalanya keras.
Karsa terjerembab. Wajahnya terbenam ke lumpur.
"Engkau tak apa, Dara?" tanya Jayaseta. Jarak mereka terpisah beberapa tombak dengan Karsa yang terjerembab ke lumpur di tengah-tengah mereka.
Dara Cempaka menggeleng. "Adik tak apa, abang Jayaseta," balasnya. Rambut panjang hitamnya tergerai lepas dari sanggulannya.
Jayaseta baru hendak menarik nafas lega ketika Karsa melompat dari rawa dan menebaskan pedangnya kembali ke arah Dara Cempaka.
BRET!!
Teriakan Dara Cempaka tertahan. Punggungnya menubruk beberapa batang anak-anak pohon. Bahu kanannya terluka. Baju yang ia kenakan sobek di bagian dimana ia terluka, memperlihatkan kulit putihnya yang robek, walau tak terlalu lebar namun terlihat cukup dalam. Darah mengalir terlihat samar-samar dalam gelap.
Dara Cempaka tak mungkin bisa bergerak lagi ketika Karsa meraung dan melompat lagi bagai seekor bajing siap membelah dua Dara Cempaka dari ujung kepalanya. Ia sudah dalam keadaan terkunci dan mati langkah.
Seketika giliran Jayaseta yang berteriak keras serta melemparkan Do nya.
Karsa urung menyerang Dara Cempaka dan menepis lemparan Do itu dengan pedangnya selagi masih berada di udara.
TRING!
Pedang Karsa rompal hampir di separuh bilah, sedangkan Do sanaman mantikei menancap di tanah berair, hanya meninggalkan gagangnya yang terlihat di permukaan rawa.
Serangan Jayaseta memang berhasil dipatahkan. Tapi itu sangat cukup baginya, karena tujuan utama adalah menggagalkan serangan Karsa kepada Dara Cempaka.
__ADS_1
"Maafkan hamba, Datuk Mas Kuning," ujar Jayaseta lirih. Ia menjejak tanah, memutarkan tubuhnya di udara sekali dan menendang Karsa tepat di kepalanya dengan tendangan Guntur dari Selatan yang dialirkan tenaga dalam, persis seperti jurus kembangan Karsa dari jurus ciptaan Bharata, si Kakek Keling.
Karsa merasakan otak di dalam batok kepalanya terbakar, bergoncang dan mencair.
Ia sempoyongan. Pedang rompalnya lepas dari tangannya dan hilang di dalam rawa.
Jayaseta menyerang lagi dengan jurus Tapak Budha yang digubah oleh orang-orang Cina Muslim suku Hui tepat di perut Karsa, membuat usus-ususnya meradang dan sobek, karena aliran tenaga dalam di kedua telapak terbuka Jayaseta.
Jayaseta berteriak kembali dan mengerahkan lima tinju dalam jurus Bogem Watu Gunung menghajar dada kiri Karsa. Ini dilakukan juga dengan tenaga dalam, membuat jantung Karsa berhenti bekerja.
Tubuh Karsa berdiri kaku. Sepasang matanya terbeliak memandang Jayaseta dengan gambaran perasaan antara campuran amarah dan ngeri.
Jayaseta mengangkat kepalannya di atas kepala, kemudian dengan kecepatan dan kekuatan luar biasa memukul terakhir kali ke arah jantung Karsa dengan lebih dari separuh kekuatan tenaga dalamnya.
Bunyi berderak keras terdengar. Tulang-tulang iga dan dada Karsa patah dan pecah berkeping-keping. Jantungnya meledak pecah. Pecahan dan patahan tulang dada nya juga menancap dan menembus jantungnya.
Salah satu bagian tubuh yang terpenting itu menjadi gumpalan darah yang mengoyak tulang, daging dan kulit punggungnya.
Darah menyembur deras dari hidung, mulut bahkan mata Karsa. Dadanya membiru kemudian menghitam, sedangkan punggungnya berlubang. Beberapa bagian jantung yang sekarang terlihat seperti potongan daging merah itu menyembul keluar dari lubang di punggungnya.
Nyawa lepas dari tubuh Karsa. Tubuh kakunya jatuh terlentang ke rawa-rawa. Langsung saja, air bertambah gelap oleh campuran darah.
Jayaseta terbatuk. Darah menyembur dari mulutnya. Ia jatuh berlutut di depan mayat Karsa. Ini jelas akibat nyata dari penggunaan tenaga dalamnya ketika sedang dalam masa pantang menggunakan tenaga dalam dan penyembuhan dengan rajah yang ditatahkan Datuk Mas Kuning.
"Abang!!" teriak Dara Cempaka yang langsung menghambur ke arah Jayaseta.
Jayaseta mengangkat satu tangannya ke arah Dara, memberhentikannya. Mau tak mau, dengan perasaan khawatir yang luar biasa, Dara Cempaka berhenti satu tombak saja di dekat Jayaseta.
Sang Pendekar Topeng Seribu ini dengan susah payah kemudian berdiri. Berjalan terseok-seok mengambil Do yang tertancap di lumpur.
Ia mendekati Karsa yang kedua matanya masih terbelalak lebar, kemudian menjambak rambutnya. Dengan satu tebasan sempurna, Jayaseta melepaskan kepala Karsa dari badannya.
Ia melemparkan kepala tersebut sedikit menjauh dari tubuh Karsa.
Tubuh Jayaseta sendiri kemudian menolak bertahan. Demam menyerang seluruh bagian tubuhnya. Pori-pori di seluruh kulitnya menyedot rasa dingin. Jayaseta merasakan tubuhnya membeku.
Darah mengalir dari mulut dan hidungnya. Begitu juga darah di seluruh luka di tubuhnya.
__ADS_1
Sepasang kakinya gemetar. Jayaseta tak bisa bertahan. Pandangannya kabur dan pendengarannya perlahan menghilang, walau ia sempat mendengar teriakan Dara Cempaka memanggil namanya sekali lagi sebelum ia tak sadarkan diri.