Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Bubuk Api


__ADS_3

Jayaseta masih mencari celah untuk menyerang kedua saudara de Jaager ini. Jurus-jurus mereka ternyata saling melengkapi dan penuh kejutan. Devisser de Jaager yang jangkung dengan langkah-langkah panjang dan cepatnya selalu dapat memberikan jarak ketika Jayaseta hendak masuk menyerang. Sedangkan permainan siku dan pergelangan tangan sang saudara tua, Sebastian de Jaager membuat Jayaseta harus selalu awas.


Sudah lebih dari sepuluh percobaan tusukan yang Jayaseta lancarkan seimbang dengan serangan kedua saudara de Jaager tersebut, sampai Sebastian de Jaager menemukan satu jarak untuk menggetarkan kembali pedangnya.


Jayaseta paham bahwa inilah saatnya Sebastian de Jaager kembali mengeluarkan ilmunya yang mengejutkan dan dahsyat itu. Setiap de Jaager mengeluarkan ilmu ledakan pedangnya tersebut, ia selalu sedikit menggetarkan pedangnya. Mata orang biasa mungkin tidak dapat melihatnya dengan gamblang, tentu tidak begitu dengan seorang pendekar sekelas Jayaseta.


Hanya saja, mengapa de Jaager melakukannya dalam jarak yang tidak begitu jauh ini? Sebelumnya ia menggunakan ilmu tersebut ketika jarak mereka terpisah cukup jauh. Namun Jayaseta tidak sempat memikirkannya karena sabar Sebastian de Jaager telah dibabatkan membelah dari bawah ke atas.


BUM!


Ledakan terjadi lagi. Jayaseta terlempar sejauh dua tiga tombak ke belakang. Ia terlempar lebih jauh dari pertama kali tubuhnya terlempar karena ledakan serangan ilmu Sebastian de Jaager tersebut. bahkan kali ini luka yang dialami Jayaseta juga lebih besar. Dadanya terbakar dua kali lipat dari sebelumnya. Bahkan ia dapat merasakan darah keluar dari lukanya dan membasahi baju putihnya yang juga terbakar di banyak bagian.


Jayaseta tadi menahan saber Sebastian de Jaager dengan membenturkannya dengan kerisnya. Ia nekad melakukannya untuk mengukur seberapa besar ledakan yang mungkin dihasilkan dan bagaimana sebenarnya ilmu de Jaager tersebut.


Sebastian de Jaager sendiri sekarang berdiri dengan tegap. Mata pedangnya dihadapkan ke tanah, sedangkan tangan kirinya masih memegang pistol milik sang adik.


Ketika Jayaseta mulai berdiri, Devisser de Jaager sudah menyerbu dengan langkah-langkahnya yang panjang dan cepat. Jayaseta terpaksa menghindar habis-habisan dari tusukan dan tebasan rapier yang pendek-pendek tapi tajam.


BLETAK!


Jayaseta merasakan kepalanya terbentur sesuatu. Segaris tipis darah mengalir dari pelipisnya. Namun yang lebih mengkhawatirkan adalah bahwa perhatiannya teralihkan sehingga rapier Devisser menyobek bajunya dan menghadiahkan satu goresan luka kecil.


Jayaseta berkelit mundur dan berguling ke belakang sejauh mungkin, kembali memberi jarak dari kedua penyerangnya. Setelah berhasil menjauh ia melihat benda yang dilemparkan ke keningnya oleh Sebastian de Jaager tergeletak di tanah: pistol milik Devisser de Jaager.


***


Ketiga pasang pendekar belati mengendap-endap sangat perlahan, ketiganya merayap dan mendekati dua orang pasukan pribumi dari Ternate orang Walanda yang terlihat paling yang berlindung di balik semak menggenggam kelewang.


Kesuma yang badannya paling ramping diantara kedua temannya sudah lebih dahulu mendekati sang serdadu tanpa suara sama sekali dan langsung berdiri dan menyergap sang serdadu dari belakang. Ia membungkam mulut sang serdadu dan menggorok lehernya.


Sedangkan Mahendra dan Sasangka muncul kemudian dan memegang kedua tangan sang serdadu pribumi Ternate, merebut kelewangnya dan menghujamkan kedua belati mereka ke dada si serdadu sampai ia tak bergerak sama sekali.


***


Jayaseta merasa menjadi sedikit ceroboh karena terlalu sibuk menghindar dan berkelit dari serangan de Jaager bersaudara, terutama Sebastian de Jaager dengan ilmu anehnya.

__ADS_1


Pada dasarnya, luka-luka yang ia terima karena serangan Sebastian de Jaager merupakan salah satu pengorbanan untuk memahami ilmu aneh Sebastian de Jaager itu sendiri. Sembari menghindar inipun Jayaseta mencoba memahami pergerakan jurus sang musuh.


Sayang, nampaknya Jayaseta sudah harus segera memutuskan serangan macam apa yang harus ia lancarkan karena,


DUAR!!!


Ledakan saber Sebastian de Jaager Pistol meletus kembali. Jayaseta berguling kesamping. Rerimbunan pohon bambu terbakar, begitu juga dengan secarik pakaiannya.


Tapi sebelum Devisser de Jaager menyerang lagi, sama seperti pola sebelumnya, sebuah benda pipih meluncur ke arahnya. Spontan Devisser de Jaager berkelit dan menangkis benda itu dengan rapiernya.


TING!


Benda pipih itu terlempar jauh dan menancap di sebuah pohon beberapa tombak jaraknya. Belum lagi Devisser de Jaager sempat mencari tahu apa yang terjadi, sebuah benda lempeng kembali berdesing ke arah kepalanya. Sekali lagi ia harus berkelit dan kali ini menggunakan belati di tangan kirinya untuk menangkis benda pipih itu.


Cakram kedua Jayaseta kali ini terpental ke tanah. Devisser De Jaager memperhatikan senjata rahasia itu dengan wajah yang bersinar. Walau kaget, ia menaruh minat yang besar dengan Jayaseta. Semangat bertempurnya semakin meningkat karena ternyata Jayaseta pantas disebut sebagai seorang pendekar karena ternyata banyak kejutan yang ia berikan dalam pertarungan ini.


***


Jayaseta berdiri.


Topeng Jayaseta menyembunyikan wajahnya sehingga sukar sekali menebak keadaan Jayaseta saat ini. Apakah ia meringis kesakitan, apakah wajahnya memucat menunjukkan kelemahan dan kelelahan? De Jaager pun tak tahu.


Tapi yang pasti sekarang Jayaseta sudah menunjukkan keinginannya untuk melanjutkan pertarungan. Kerisnya masih tergenggam erat di tangan kanan, nafasnya sudah kembali teratur, bahkan kedua kaki Jayaseta tidak menunjukkan tanda-tanda kelemahan seperti bergetar atau melemas.


Tidak begitu dengan Sebastian de Jaager yang celingak-celinguk ke arah rerimbunan pepohonan bambu dan semak belukar. Para serdadu yang ia perintahkan untuk menyerang Jayaseta bilamana serangan pertama mereka gagal, ternyata tidak menunjukkan batang hidungnya. Ia sendiri merasa jatuh harga dirinya bila sudah sejauh ini harus berteriak memerintahkan para serdadu keluar dari persembunyian untuk menyerang Jayaseta. Belum lagi sang adik, Devisser de Jaager, terlihat sekali menikmati pertarungan ini.


***


Belasan serdadu pribumi ditambah beberapa serdadu bule Walanda yang bersembunyi merunduk dengan senapan dan kelewang terhunus tewas tanpa sisa. Ketiga pendekar belati menggorok leher dan menusuk dada musuh tanpa suara. Mereka melakukannya dengan kecepatan yang tak bisa dibayangkan.


***


Udara pagi mulai menghilang, sinar matahari sudah tidak malu-malu untuk menyeruak masuk melalui sela-sela pepohonan. Devisser de Jaager, Sang Petir Berwajah Pucat pun terlihat semakin bersinar. Matahari menabrak rambut, rapier dan belatinya yang juga dihias dengan ukiran perak yang kemudian memantulkan sinar menyilaukan.


Di sinilah gelar si Petir nampaknya juga cocok dengan perawakan de Jaager yang seakan-akan bersinar berkilat-kilat di seluruh tubuhnya.

__ADS_1


Jayaseta memperhatikan nafsu tempur sang lawan sekaligus memperhatikan kecemasan di wajah Sebastian de Jaager yang mencari-cari belasan serdadunya di balik rerimbunan pohon bambu dan semak belukar.


Jayaseta tersenyum di balik topengnya.


Kesuma, Mahendra dan Sasangka nampaknya berhasil menghabisi semua pembokong itu dengan cepat bahkan tanpa suara.


Dari awal Jayaseta tak pernah percaya bahwa pasangan Walanda konmpeni ini tidak mempersiapkan kejutan apapun dan bertarung dengan adil. Selain para serdadu yang dipersiapkan, ternyata kunci dari jurus-jurus ajaib nan berbahaya tersebut adalah perhitungan yang luar biasa terencana dan sebuah ajian yang menjadi ciri khas kaum bule, yaitu ilmu pengetahuan.


Jayaseta ternyata berhasil melihat kunci ledakan tenaga yang meledak dan membakar milik Sebastian de Jaager. Ceruk yang ada di bilah sabernya sebenarnya adalah semacam ruang untuk bubuk api yang tersimpan di gagang saber.


Setiap Sebastian de Jaager menggetarkan sabernya, bubuk api akan keluar dari gagang melalui ceruk tersebut. Sabetannya membuat bubuk api bergesek dengan bilah dan menimbulkan ledakan. Ilmu pengetahuan ini menjadi senjata yang cukup aneh, ajaib dan menakjubkan bila dilakukan dengan jurus bela diri yang mumpuni juga, dengan latihan keras dan kematangan.


***


Dengan gerakan Jurus Tanpa Jurusnya, Jayaseta berputar-putar seperti tanpa arah dan tak tertebak. Jurus-jurus yang ia gunakan sekilas bagi de Jaager bersaudara hanyalah jurus aneh lainnya dari para pendekar pribumi di tanah Jawa ini.


Ratusan gaya silat dengan meniru gerakan binatang seperti elang, harimau, monyet atau ular sampai jurus-jurus silat yang mengambil falsafah alam seperti awan, ombak, topan atau letusan gunung sebenarnya menurut de Jaager tidak ubahnya dengan jurus-jurus Jayaseta yang digunakan hanya berusaha menghindari serangan rapier panjang Devisser de Jaager dan yang jelas, ledakan saber Sebastian de Jaager.


Walau mereka merasa perlu mengakui kelincahan musuhnya ini, apalagi telah terbukti Jayaseta sudah membunuh kedua ronin Jepun bawahan mereka, cepat ataupun lambat serangan mereka akan memangsa Jayaseta. Jayaseta sudah lelah menghadapi Koguro dan Hideyoshi, ia juga sudah terluka oleh ledakan saber dan tergores oleh rapier. Topengnya boleh menyembunyikan rasa sakit yang tergambar di wajah, tapi rasa sakit itu pasti nyata adanya. Begitu pikir kedua saudara de Jaager.


Saber berputar-putar dengan permainan pergelangan tangan dan siku Sebastian de Jaager, mengancam memapras dan meledakkan tubuh Jayaseta. Rapier Devisser de Jaager menusuk-nusuk dengan cepat dengan gerakan pendek-pendek melapisi serangan saber Sebastian de Jaager.


Seakan pertarungan ini tertunda oleh serangan-serangan yang dibatalkan karena jarak: keris Jayaseta yang terbilang jauh lebih pendek dibanding saber dan terutama rapier. Belum lagi walau kedua pistol sudah habis peluru dan tak digunakan lagi, ledakan bubuk api saber Sebastian de Jaager tak ubahnya seperti senapan.


Berbanding terbalik dengan pertarungan dengan Koguro dan Hideyoshi yang menghabiskan waktu pada perencanaan dan perhitungan serangan yang tidak boros namun mematikan, pertarungan dengan bersaudara de Jaager ini, Jayaseta banyak bergerak dan memancing serta menakar jarak dan serangan.


Hingga pada suatu kesempatan yang dinanti-nanti, Jayaseta menunduk begitu rendah kemudian memutarkan tubuhnya untuk menghindari serangan panjang rapier Devisser de Jaager untuk kemudian mencelat bagai katak menusukkan keris Kyai Pulau Bertuah ke perut Sebastian de Jaager ketika lolos dari sang adik.


Entah apa yang dipikirkan Jayaseta saat itu, karena ia begitu berani dan tergolong nekad mengambil keputusan menusukkan kerisnya dalam keadaan yang sangat berbahaya. Jelas inilah saat yang diinginkan Sebastian de Jaager dimana Jayaseta sudah tak mampu mendekat dan tak sabar untuk menyerang secara membabibuta.


Tusukan itu ditepis Sebastian de Jaager dengan mudah dengan memiringkan tubuh segaris lurus dengan sabernya yang diputarkan ke arah bawah sehingga keris Jayaseta terpukul oleh bagian forte di sabernya. Setelah itu Sebastian de Jaager memundurkan tubuh sedikit saja, menggetarkan sabernya dan meledakkannya ke arah kepala Jayaseta.


DAR!


Jayaseta jatuh tengkurap di tanah dan tak bergerak. Kepalanya berasap. Sudah tidak dapat dibayangkan bagaimana keadaan Jayaseta sekarang. Pedang tipis semacam itu sudah pasti dapat membelah benda keras sekalipun dengan mudah. Belum lagi daya ledak bubuk api tersebut, sudah pasti kepala Jayaseta sang Pendekar Topeng Seribu bisa dikatakan hancur tak berbentuk.

__ADS_1


__ADS_2