Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Sang Kudi Langit


__ADS_3

Sudah sekitar empat tahun sejak Jayaseta meninggalkan Giri Kedaton dari tahun 1636, setelah Giri jatuh ke dalam kekuasaan Mataram. Sekarang sudah tahun 1639, itu juga berarti sudah hampir dua tahun sejak pertemuannya dengan Almira.


Ah, Almira. Kenapa tiba-tiba nama itu yang muncul di dalam kepalanya?


Usia Jayaseta berarti sekarang sudah dua puluh tahun. Ia sudah dewasa dan matang secara penuh. Tubuhnya liat, terbentuk oleh alam dan pengalaman. Pertarungan dimana-mana tak pernah ia elakkan. Ia bukan seorang pendekar bijak yang bila terpaksa baru akan bertempur. Ia adalah seorang adiwira yang tidak bisa membenarkan kejahatan yang terjadi di sekelilingnya dan hanya membiarkannya.


Sudah tiga bulan pula sejak ia meninggalkan Betawi dan ketiga rekan pendekarnya.


Ia sudah memutuskan untuk terus mengikuti peran kehidupan yang sudah digariskan oleh Yang Maha Kuasa, menjadi seorang pendekar yang membela kebenaran dan melawan kebatilan.


Ia akan terus berkelana, selain menjalankan takdir sekaligus mencari obat akan racun tenaga dalam yang ada di dalam tubuhnya. Racun inilah yang membuat rekan-rekannya tewas. Ia juga menyambungkan ini dengan kesalahannya sendiri karena melibatkan orang lain di dalam mengarungi kehidupannya. Seakan mereka menjadi tumbal atas langkah-langkahnya.


Maka, kali ini ia akan tetap melanjutkan perjalanan ke Sukadana di seberang lautan, seperti permintaan mendiang kakek Salman. Ia akan pulang ke Giri, ziarah ke makam kedua orangtua dan kakek neneknya, mungkin jugaa bertemu dengan kakek Keling, kemudian berangkat ke Sukadana dengan angkutan kapal dari pelabuhan Gresik.


Akan membutuhkan waktu beberapa bukan untuk sampai di Giri. Ia ingin mengejar masa angin Musim Timur di musim kemarau agar dapat berlayar ke pulau Tanjung Pura dimana Sukadana berada.


Sebuah perjalanan yang panjang, maka nama Almira jelas ada di dalam otaknya. Ia sudah berjanji akan kembali menemui gadis itu setelah urusannya selesai, yaitu mengobati racun tenaga dalam tombak Kyai Plered.


Memang namun yang terjadi adalah bahwa urusannya jauh dari kata selesai. Mungkin sudah nasibnya harus berkelana ke penjuru bumi. Untuk hal ini, apapun dan bagaimanapun nantinya, ia harus menemui Almira dan menjelaskan segalanya. Bahwa mungkin ia dan Almira tak akan bersatu karena ia telah terkunci oleh takdirnya, pergi seorang diri sebagai ksatria pengelana.


Namun, Mataram dan Almira bisa menunggu sebentar, sampai ia selesaikan satu perihal dengan sang jawara dari Banyumas yang menggelari dirinya sebagai Sang Kudi Langit bernama Jaka Pasirluhur ini.


***


Orang Jawa diluar Banyumas biasa menyebut Kudi dengan istilah pegama atau gaman, yang bisa diartikan serba bisa karena memang Kudi ini merupakan suatu alat atau senjata yang serba bisa.


Kudi terdiri dari empat bagian yaitu khudi, garan atau gagang, karah atau cincin sebagai batas gagang dan bilahnya, dan kethoprak atau warangkanya. Bentuknya merupakan gabungan tiga perkakas atau senjata, yaitu bendho atau pisau,arit atau sabit dan bel atau kapak.


Pada ujung kudi terdapat gabungan bentuk bedho dan arit, sedangkan bentuk kapak diletakan dipangkal atau ditengah disesuaikan dengan jenis kudi.



Seperti hampir semua senjata yang awalnya digunakan sebagai peralatan pertanian dan keseharian, bagian ujung kudi yang tajam dan melengkung juga sebenarnya digunakan untuk memotong bagian yang lunak seperti rumput, daging atau mengupas buah-buahan.


Sedangkan bagian yang berbentuk setengah lingkaran dan membulat keluar atau mblendhuk seperti bentuk perut buncit manusia digunakan untuk mencacah atau memotong benda-benda yang keras seperti kayu, bambu, tulang, dan mengupas kulit kelapa dengan mudah.


Sang Kudi Langit berdiri sedikit doyong karena mabuknya namun kudinya dipegang erat di tangan dengan ujungnya yang melengkung tajam mengarah ke bawah.


Berbeda dari keris, golok atau pedang yang diselipkan atau digantungkan di pinggang, kudi biasa diletakkan di punggung, atau bagian belakang tubuh dengan warangka dari kayu nangka, jati atau angsana keling. Sedangkan tali pengikatnya terbuat dari sayatan pohon waru yang telah direndam beberapa hari dan dikeringkan menjadi tali yang dipilin saling menjalin.


Jayaseta memperhatikan dan mempelajari musuhnya dengan seksama. Ia tak boleh terkecoh dengan gaya setengah mabuknya. Ia pernah mendengar bahwasanya jawara-jawara asal Banyumas adalah orang-orang sakti nan pemberontak. Di satu sisi mereka merasa bangga sebagai bagian dari Kesultanan Mataram, di sisi lain, mereka tidak segan melawan siapapun yang dirasa tidak berhak dihormati, termasuk Mataram itu sendiri.


"Bersiaplah menyumbangkan nyawamu," ujar Sang Kudi Langit.

__ADS_1


Sesegera itu pula si Jaka Pasirluhur menghambur maju. Kudinya membabat memotong dari atas ke bawah. Merasa tak membawa senjata, Jayaseta mencari celah untuk menembus lawan. Namun, untuk saat ini, ia cukup bergeser ke samping.


Bilah kudi yang tebal, serta gagang yang panjang disertai hawa tenaga dalam lawan, Jayaseta dapat menakar bahwa pendekar ini bukan orang biasa walau serangan pertamanya lolos.


Dugaan Jayaseta kembali terbukti ketika Sang Kudi Langit berputar dan membabat menyasar batok kepalanya, seperti ingin mengupas sebuah kelapa saja.


"Coba engkau terima ini, jurus Kudi Hyang Bayu, heyaaa ...!!"


Sang Kudi Langit berputar-putar kembali menyerang Jayaseta. Dua tiga bacokan menyasar ke kepala dan dadanya.


Rupa-rupanya keadaannya yang sedang setengah mabuk ini seakan mempertegas jurus-jurusnya yang bagai angin puyuh. Tak heran serangannya dinamakan Kudi Hyang Bayu, sang Dewa Angin.


Jayaseta meniru gerakan Sang Kudi Langit yang sempoyongan, karena memang salah satu kehebatan si Pendekar Topeng Seribu ini adalah kemampuan meniru yang merupakan bagian dari Jurus Tanpa Jurus. Jayaseta tidak terkungkung oleh jenis jurus apapun, sebaliknya ia dapat menyesuaikan setiap gerakan dengan keperluan ketika berhadapan dengan lawan.


Jaka Pasirluhur tentu berang bukan kepalang. Bukan saja karena serangannya lolos, namun musuhnya seperti sedang mengolok-oloknya dengan meniru gerakan setengah mabuknya.


Ia pun kembali meraung kencang. Kali ini ia tidak sekadar menyerang dengan kudinya, namun juga menyepak.


Tendangan sang jawara ternyata bukan sembarang tendangan. Seperti yang sudah diperkirakan Jayaseta, bahwa pendekar ini memiliki hawa kanuragan yang tak bisa diremehkan, Jayaseta menahan tendangan yang diarahkan ke dadanya dengan kedua tangannya.


Jayaseta terdorong ke belakang dan hampir terpental. Belum sempat ia menarik nafas, dengan garang Jaka Pasirluhur menyerang kembali dengan jurus yang sama; memutarkan tubuh bagai kitiran dan deruan angin untuk menambah daya hancur bacokan kudinya.


SRETTT!!


Jayaseta kembali mundur tiga langkah. Ketika Sang Kudi Langit kembali memutarkan tubuhnya dalam rangkaian jurus Kudi Hyang Bayu, Jayaseta melemparkan capingnya.


Jaka Pasirluhur tersentak terkejut namun segera menebaskan kudinya. Caping yang dilemparkan Jayaseta terbelah sempurna dengan gampang, membuat Jaka Pasirluhur makin murka. Sepanjang pertarungannya di berbagai tempat di tanah kekuasaan Mataram, serangan Jayaseta adalah serangan paling hina dan memalukan.


Pisau rahasia, tulup atau panah sekalipun tidak akan membuatnya terhina. Tapi seberapa berbahaya kah sebuah caping?


Celakanya Jaka Pasirluhur karena bagi Jayaseta, tidak ada suatu hal pun yang tidak bisa dimanfaatkan untuk menyerang musuh.


Karena yang terjadi adalah, ketika Jaka Pasirluhur hendak kembali memutarkan tubuh dan menyerang Jayaseta dengan kemarahan yang sudah sampai di ubun-ubun, mendadak buku-buku jarinya terasa perih.


Ada tiga batang rautan bambu tajam yang menancap di kepalan tangan kanannya yang menggenggam kudi.


Jayaseta telah menempatkan buluh-buluh bambu yang diraut setipis lidi sehingga tajam di balik atau bagian bawah capingnya.


Jayaseta selalu mengingat wejangan sang guru, kakek Keling, bahwasanya seorang pendekar tidak boleh terikat dengan senjata, walau bukan berarti ia boleh sembrono melawan musuh dengan tangan kosong.


Sehebat-hebatnya ilmu kanuragan dan kelihaian berkelahinya, Jayaseta harus sadar bahwa senjata adalah sebuah keniscayaan dalam sebuah pertarungan, apalagi pertarungan itu adalah percaturan nyawa, membunuh atau dibunuh.


Memang, ia sudah meninggalkan cakram, keris, atau senjata apapun yang dulu selalu ia bawa. Namun kemampuan melempar cakram dan pisau terbang, serta jurus-jurus menggunakan senjata sudah tertanam di dalam tubuh dan pikirannya.

__ADS_1


Oleh sebab itu, tak terlalu susah bagi Jayaseta untuk berganti-ganti pegangan, dari golok, pisau bahkan sabit atau arit ketika ia sedang dalan perjalanan.


Kali ini, ia memanfaatkan caping sebagai senjata rahasia sederhana namun merupakan gabungan sekaligus cakram dan pisau lempar rahasia.


Demi melihat Jaka Pasirluhur terhenyak, Jayaseta memutarkan tubuhnya meniru jurus Sang Kudi Langit dan menggantikan bacokan kudi dengan kepalan tangan yang dialiri sedikit saja tenaga dalam dari kembangan jurus Tinju Besi.


BUG!


Dada Jaka Pasirluhur bagai dipukul godam. Ia terjatuh dalam keadaan duduk, seakan remuk tulang-belulangnya.


Sebagai pendekar, bagaimanapun Jaka Pasirluhur Sang Kudi Langit tetap melakukan usaha terbaiknya untuk menghadapi musuh. Ia bangkit.


Jayasera berputar lagi namun kali ini memberikan sebuah tendangan lurus, gabungan jurus Kudi Hyang Bayu milik Sang Kudi Langit dengan gaya tendangan dari negeri Hindustan yang diajarkan kakek Keling.


Tak pelak Jaka Pasirluhur terlempar jauh ketika tendangan Jayaseta kembali mengenai dadanya. Kudi yang ia pegang terpental lepas dari tangannya.


Jayaseta memburunya, masih belum ingin melepaskan lawan dan ingin memberikan pelajaran lebih banyak. Paling tidak kali ini ia akan menghancurkan tulang rusuk atau mematahkan lengan dan bahu Jaka Pasirluhur.


"Tunggu, kisanak. Aki mohon hentikan!" suara seorang perempuan tiba-tiba terdengar. Jayaseta menghentikan jejakan tendangannya tepat di depan seorang perempuan.


"Ampuni orang ini, kisanak. Ia adalah pimpinan pengawalku. Aku tahu ia bersalah karena memiliki kebiasaan mabuk-mabukan, tapi aku jamin ia bukanlah orang jahat ketika sedang waras," tambah perempuan ini.


Jaka Pasirluhur yang kesakitan tiba-tiba perlahan sadar dari mabuknya terutama ketika melihat siapa gerangan yang datang secara tiba-tiba.


Ia hanya bisa mengucap lirih, "Nyai ...."


Namun, Jayaseta kini yang terhenyak.


Wanita ini mengenakan busana berwarna hijau pupus. Selendangnya menutupi kepala, namun helai-helai rambut hitam helam bergelombang mencuat indah dari balik kain itu.


Jayaseta ingat benar sepasang mata jernih bagai telaga, hidung mancung dan kulit putih bersih bersinarnya.


Jayaseta melepas kain penutup mulutnya.


Penjual tuak dan orang-orang di sekitar sudah sedari tadi pergi menjauh dari tempat pertandingan ini. Hanya tiga orang pendekar lawan Jaka Pasirluhur yang masih berdiri di bawah pohon menjagai teman mereka yang masih belum siuman serta memperhatikan jalannya pertarungan.


Butuh sedikit waktu untuk perempuan itu mengenali wajah di depannya.


Wajah rupawan pria bertubuh lumayan tinggi ini tertutupi kumis, jenggot dan cambang. Namun sepasang mata sipit dan hidung mancung seperti orang-orang Arab dan Parsi itu tak mungkin dapat ia lupakan.


Sang perempuan terkesima, "Kakang ... kakang Jayaseta? Kau kah itu, kakang?"


Jayaseta tersenyum lebar, "Benar, Almira. Aku adalah Jayaseta."

__ADS_1


__ADS_2