
Lâm merunduk-runduk perlahan bersama para perompak lain di belakangnya. Mereka menyibak rerumputan dan ranting-ranting pepohonan lebat. Senjata lengkap digenggam erat. Tameng besar di tangan kiri dan tombak panjang di tangan kanan. Lâm sudah menyaksikan mayat perompak bagian dari kelompoknya, tewas dibawa arus air sungai yang gelap. Tidak hanya itu, menyusul pula potongan-potongan bambu runcing senjata yang digunakan sebagai lembing yang juga merupakan ciri khas kelompok mereka. Dengan adanya perahu yang tertambat begitu saja di tepi sungai, jelas menunjukkan telah terjadi pertempuran sebelumnya.
Bau anyir dan karat darah terbawa angin mencapai hidung Lâmdan rekan-rekannya. Detak jantung sang pemimpin semakin cepat dan menggedor dadanya. Ia sudah siap dengan pertarungan yang akan terjadi di depan sana. Kegelapan malam tidak akan mampu menghalanginya sama sekali.
Kakinya membentur sesuatu. Lâm langsung awas. Matanya sudah menyesuaikan dengan gelap. Terlihatlah sudah, mayat-mayat bergelimpangan di sebuah wilayah dengan aliran air membentuk sungai kecil.
“Bangsat! Dimana kau, Jayaseta! Hadapi aku. Kubunuh kau dan rombonganmu semuanya!” teriak Lâm tak bisa lagi ditahan.
Bahkan tanpa penjelasan pun semua orang tahu bahwa mayat-mayat itu adalah rekan-rekan Annam dan Champa mereka dari rombongan perahu yang tertinggal di belakang tempo hari. Kini sudah dipastikan bahwa Jayaseta telah berhasil membunuhi teman-teman para perompaknya.
Para perompak Champa langsung menyebar ke segala penjuru untuk mencari dimana gerangan orang yang mereka buru tersebut.
__ADS_1
Setelah mencari dengan awas dan teliti tetapi cepat, para anggota perompak itu segera kembali berkumpul dan menghadap pemimpin mereka tersebut.
“Lâm, semua mayat ini adalah perompak kelompok kita. Tidak ada yang masih hidup, semuanya tewas. Kami juga tidak menemukan korban lain selain anggota kita. Jelas bahwa teman-teman kita dibantai habis-habisan. Tidak kah kau menyangka dia sehebat ini, Lâm?” ujar salah satu perompak yang menghadapnya.
Lâm benar-benar murka. Awalnya ia berpikir bahwa paling tidak ada perlawanan berarti dari rekan-rekannya. Memang, bisa saja korban berjatuhan pula dari para perompak. Sesepele apapun pemikirannya tentang Jayaseta, bagaimanapun orang itu pastilah seorang pendekar. Belum lagi teman-teman yang ada bersamanya yang bisa menjadi bantuan yang luar biasa mengimbangi serangan para perompak. Namun, ia tak menyangka bahwa separuh kelompoknya dibantai habis, seperti sedang dalam keadaan perang saja.
Lâm menunduk, tanpa menyentuh, dengan kemampuan melihat dengan teliti tubuh-tubuh mati dalam gelap itu. Ia kemudian berdiri dan menatap orang yang melaporkan kepadanya keadaan di tempat itu. “Periksa sekali lagi. Lihat setiap mayat teman kita satu-persatu. Ingat, satu-persatu. Apakah mereka tewas oleh senjata tajam?” perintahnya lagi.
“Segera lakukan apa perintahku,” ujar Lâm dingin.
Dengan masih bingung, sang bawahan mengajak teman-temannya yang lain untuk melaksanakan perintah yang menyisakan pertanyaan besar itu. Namun, bagaimanapun, mereka benar-benar memeriksa kembali seteliti dan secermat mungkin. Setelah semuanya selesai, tidak tersembunyi sama sekali raut wajah terkejut dan mulur ternganga mereka.
__ADS_1
“Lâm, apa sebenarnya ini? Kecurigaanmu ternyata benar. Tidak ada dari teman-teman kita yang tewas dengan senjata tajam, atau paling tidak terluka dengan cara dibunuh dengan tusukan atau sabetan wajar dari pedang, belati atau tombak,” lapor perompak yang sama.
“Rekan-rekan kita mati oleh satu orang saja. Aku menduga Jayaseta lah yang melakukan ini sendirian,” Lâm menutup mata mencoba membayangkan kejadian yang terjadi lama sebelumnya itu.
“Bagaimana kau bisa menyimpulkan seperti itu?”
“Tidak mungkin rombongan itu semua memiliki jurus dan cara membunuh yang sama. Tidak mungkin mereka repot-repot melawan para perompak yang menyerang mereka tanpa senjata. Tidak mungkin masing-masing dari rombongan itu melakukannya,” ujar Lâm mantap.
“Jadi, maksudmu, Jayaseta si Pendekar Topeng Seribu benar-benar seorang pendekar seperti apa yang orang-orang ceritakan selama ini? Apa kau berharap kita semua mengubah pemikiran dan dugaan kita sebelumnya bahwa ia tak seperti nama besarnya?”
Lâm diam. Ia menatap lawan bicaranya. “Aku tak bisa mengatakan apa-apa. tapi kau tahu bahwa yang akan kita hadapi bukanlah orang biasa. Kita tak akan benar-benar tahu sampai kita benar-benar menghadapinya. Siapkan persenjataan kalian. Jangan sampai lengah. Kita akan buru Jayaseta dan berusaha membunuhnya. Jangan ada ampun, jangan terkecoh dengan apapun yang bakal kita lihat di depan nanti. Orang itu sangat berbahaya,” ujar Lâm.
__ADS_1