Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Menahan Laju Tunjaman


__ADS_3

Tubuh Jayaseta yang melambung tinggi ke udara kembali melesat turun dengan cepat bagai bintang jatuh ke satu perahu lainnya.


BRUK!


BRUK!


Para perompak yang masih sempat menggenggam lembing bambu di tangan mereka pun tak mampu menahan laju jatuhnya serangan dari langit itu. Satu perompak tersentak ke belakang begitu jauh hingga terlempar ke air. Tulang dagunya retak akibat terkena tendangan Jayaseta meski masih cukup sadar dan merasakan rasa sakit menyengat wajahnya. Satu lagi menahan dengan tombak bambu menyilang di dadanya. Tapi batang bambu itu juga patah jadi dua akibat dijejak Jayaseta. Tidak hanya itu, dadanya juga lebam terkena kaki lawan. Sang perompak terdorong ke belakang, menubruk teman-teman perompaknya di dalam perahu dayung tersebut.


Jayaseta terlontar lagi menuju ke perahu lainnya. Rupanya ia menggunakan jurus meringankan tubuh sekaligus tenaga dalam di kakinya untuk melumpuhkan musuh sekaligus menggunakan badan lawan sebagai titik tolak tubuhnya.

__ADS_1


Sama seperti kedua perahu sebelumnya, para perompak di perahu ini pun tak mampu menahan laju tunjaman kedua kaki Jayaseta yang dilapisi tenaga dalam itu. Kali ini bahkan perahu sampai bergoyang bergolak keras hampir terbalik oleh ledakan daya tenaga hempasan kedua kaki Jayaseta tersebut. Beberapa perompak ambruk, satu tercebur ke sungai.


Tubuh Jayaseta melayang ringan dan turun di tepian sungai berlumpur yang dihiasi sulur-sulur akar tanaman dan pepohonan besar nan rimbun tersebut.


Rasa lega mengalir memenuhi rongga dada Jayaseta sang pendekar pilih tanding tersebut ketika sepasang kakinya telah berhasil menjejak bumi, tempat yang sangat ia akrabi. Sejenak tadi ia telah bertarung mati-matian dengan rasa takutnya. Keputusan yang ia ambil untuk nekad mencelat dari perahu ke perahu jelas bukan tanpa kemungkinan buruk. Bila salah loncatan, ia akan menyemplung ke sungai. Dan kemampuan silat macam apapun akan percuma bagi dirinya di dalam air, bertahan agar tak tenggelam bagai orang bodoh. Kependekarannya akan menjadi kisah konyol, apalagi bila ia mati tenggelam. Apa yang akan dikenang dunia persilatan bila tahu si Pendekar Topeng Seribu mati karena kesalahannya sendiri, tewas tenggelam?


Untungnya, Jayaseta sungguh bukan pendekar rendahan. Ketepatan dan naluri bertarungnya sudah terasah sedemikian rupa selama bertahun-tahun.


Setelah itu Jayaseta berbalik arah dan berlari masuk ke dalam hutan, di sela-sela pepohonan di tepi sungai. Tubuhnya menghilang.

__ADS_1


Tak pelak tindakan ini langsung memancing para perompak untuk mendayung menepi dan mengejarnya.


"Peduli setan dengan rencana. Bedebah itu telah menantang kita. Percuma juga menunggu dan terus menghindarinya kalau sasaran utama Dunia Baru sudah ada di depan mata. Ayo, sisa perahu dan kalian yang masih sadar dan hidup, kita kejar bangsat itu!" perintah sang pemimpin.


Teriakan-teriakan amarah sekaligus semangat langsung terdengar bersahut-sahutan sembari mendayung perahu mereka cepat. Mereka juga tidak mengacuhkan rombongan di perahu Jayaseta tadi lagi. Pusat perhatian mereka adalah sang pendekar yang berlari masuk ke dalam hutang setelah mempermalukan beberapa orang perompak dengan menjejak tubuh mereka.


Padahal bagi pendekar yang paham dan waras, gerakan meringankan tubuh dan serangan Jayaseta tadi sudah menunjukkan dengan baik bahwa sosok Jayaseta bukanlah orang yang mampu mereka lawan. Tingkatan kemampuan tempur orang itu jauh di atas mereka, tak peduli belasan sampai dua puluhan orang perompak kini mengejar dan berusaha membunuhnya.


"Cepat, kita juga harus mengikuti mereka," ujar Dara Cempaka. "Tindakan abang Jayaseta sudah tepat. Kita tidak tahu apa yang dipersiapkan kekuatan yang tak kita kenal ini di depan. Dibanding abang Jayaseta harus menghadapi mereka di sungai, lebih baik kita turun ke darat, mengalahkan mereka di sana sekaligus mengacaukan rencana mereka, apapun itu," lanjutnya.

__ADS_1


"Kau benar, adik Dara. Kita juga akan melindungi Jayaseta dari belakang, meski aku yakin ia sendiri sudah gatal ingin menghajar dan menghabisi orang-orang itu seorang diri. Terlalu lama di atas sungai membuat tangannya kaku," balas Narendra. Senyum tipis nan samar menghiasai wajahnya.


Lima perahu para perompak didayung cepat ke tepian sungai. Para perompak meloncat riuh dn liar dimakan nafsu membunuh sesampainya di darat. Nampaknya pancingan Jayaseta cukup manjur. Para perompak sama sekali tak paham bahwa Jayaseta sama sekali tak menghindari pertarungan, sebaliknya, pendekar itu sedang mempersiapkan lahan pembantaian yang tepat dan sesuai.


__ADS_2