
Dua kapal dengan layar terkembang telah menempel di sisi kanan dan kiri lambung jung yang dinakhodai Antonio da Silva ini. Kedua kapal memiliki ukuran yang berbeda, satu lebih kecil dibanding yang satunya, meskipun keduanya juga masih terbilang lebih kecil dibanding jung Raja Nio tersebut.
Dengan ukurannya yang lebih kecil, jelas kedua kapal perompak lebih luwes dan cepat dalam mengejar kapal buruan mereka.
Teriakan perintah Raja Nio disambut dengan tembakan meriam. Lagi-lagi, kedua meriam menghancurkan beberapa bagian kapal musuh. Namun sudah terlambat. Serangan pembuka delapan perompak pendekar yang kebal sebelumnya itu telah mengacaukan persiapan tempur para awak kapal.
Dua kapal induk bajak laut itu langsung menabrakkan badannya ke kapal Jung Jawa yang Jayaseta naiki. Bunyi tubrukan sangat keras, menggetarkan kapal.
Jayaseta oleng.
Ia menarik nafas dalam-dalam dan menyalurkan tenaga dalam penyembuh yang diajarkan sang guru, Kakek Keling.
Teriakan perang membahana dari para awak kapal ketika melihat musuh di kedua kapal induk mengacung-acungkan badik, parang dan tombak mereka menantang.
"Hentikan tembakan meriam. Jarak kapal mereka terlalu dekat. Ledakan dapat merusakkan kapal ini juga," wajah tampan sang nakhoda kembali menegas ketika memberikan perintah.
"Siapkan bedil kalian. Yang membawa senjata tajam harus mendampingi pembawa bedil. Camkan baik-baik kataku, lihat bila para perompak itu mengenakan kalung atau sejenisnya, dengan mata yang terbungkus kantong kulit, itu adalah kulao bassi, sumber kekebalan mereka. Putuskan talinya atau rebut benda itu, baru mereka busa dibunuh. Oleh sebab itu, para penembak bedil harus mundur memperlebar jarak sehingga ....,"
Perintah sang Raja Nio terputus ketika kedua kapal perompak sudah benar-benar menempel pada jung. Para muda dan budak telah terbakar semangat karena melihat kedelapan bajak laut pembuka serangan telah dilumpuhkan oleh Jayaseta dan mereka sendiri yang mencacah dan membantai para perompak malang itu.
Kepuasan membunuh musuh disertai rasa percaya diri karena memiliki seorang pendekar sakti di atas geladak kapal, membuat orang-orang dengan darah muda yang masih panas ini nekad dan bertindak gegabah.
Bukannya menunggu para penyerang dan menjalankan perintah sang nakhoda, awak kapal dan para budak sudah mengacungkan pedang, parang dan tombak mereka menyambut musuh.
Biilah-bilah papan diselonjorkan ke kapal Jung Jawa tepat ketika kedua kapal induk perompak telah merapat ke jung. Bilah-bilah papan ini digunakan untuk para perompak menyebrangi kapal induk mereka ke jung.
Awalnya, Jayaseta yang tidak paham mengenai hal-hal kelautan berpikir bahwa para perompak akan begitu saja melompat ke geladak kapal korban bajakannya, menggunakan tali atau berenang seperti yang dilakukan kedelapan perompak sebelumnya.
Lompatan jelas tidak mungkin, mengingat ukuran kapal yang berbeda.
Sewaktu papan-papan yang ukurannya tiada seberapa itu di tumbangkan dan para perompak menyebrangi kapal menuju ke kapal Jung Jawa tersebut, para awak dan budak sudah tak sabar menghalangi mereka.
__ADS_1
Mereka maju menyambut para perompak.
Saat ini pulalah Jayaseta menangkap pemandangan yang begitu berarti bagi pengalaman hidupnya sebagai seorang pendekar. Para perompak tambahan dari kapal induk tersebut menggunakan gaya bertarung yang berbeda dengan para perompak yang tadi menaiki kapal lebih dahulu.
Mereka menggunakan kuda-kuda yang rendah dan sangat tipis, dalam artian kuda-kuda mereka membentuk urutan kaki dan badan yang segaris. Kaki kiri di depan, kaki kanan di belakang, kedua tangan mengikuti arah kedua kaki. Sejenak akan terlihat bahwa bentuk tubuh mereka seperti sedang menyamping dan tepat mengisi ruang satu papan tersebut.
Cukup berbeda dengan kuda-kuda kaki bersilang milik perompak sebelumnya.
Kuda-kuda ini mengakibatkan serangan silat mereka juga tak kalah khas karena mereka tidak memerlukan ruang yang luas untuk menyerang.
Gaya bertarung ini biasa dikenal sebagai silat sepapan atau silat langkah sepapan dalam dunia Melayu, meski juga kadang disebut sendeng sepapan bagi orang-orang Bugis atau Mangkasara atau Mangkasar. Tapi apapun sebutannya, pusat inti dari gaya bertarung ini adalah peletakan kuda-kuda kaki segaris seperti diatas selembar papan.
Penutup kepala berupa ikatan kain tinggi yang mereka gunakan tertiup angin kencang dan berkibaran. Tubuh-tubuh bertelanjang dada itu memantulkan sinar matahari melalui keringat dan cipratan air laut.
Mereka menggigit badik dan parang serta memutuskan melawan musuh dengan tangan kosong. Jayaseta menerka ini mereka lalukan demi kebebasan bergerak dan keseimbangan di atas papan penyeberangan tersebut.
Mereka tak terlihat mengenakan kulao bassi sebagai kalung ataupun disimpan di balik sabuk mereka. Benarkah serbuan anggota perompak yang lain ini benar-benar tak berilmu kebal, atau mereka menyimpan azimat itu di tempat lain? Di ikat kepala mereka mungkin?
Kemungkinan selanjutnya jelas jatuh pada orang-orang Bugis dan Mangkasara yang memang sangat terkenal sebagai para pelaut ulung.
Ternyata pada kenyataannya, semua bajak laut dari dua kapal induk dan kapal penyerang kecil yang datang lebih dahulu berasal dari campuran semua suku itu, Bugis, Mangkasara maupun Bajo’. Inilah mengapa Jayaseta dapat menjadi saksi bergam jenis jurus-jurus dan gaya bersilat orang-orang laut tersebut. Dari silat dengan kuda-kuda menyilang sampai silat sepapan ini.
***
Satu budak dengan pedang panjangnya maju membacok perompak di atas papan. Bacokannya terlalu gampang dihindari. Dalam satu gerakan, tangan sang perompak menarik lengan sang penyerang, menyapu kaki dengan gerakan kecil dan menghancurkan tengkuk sang budak dengan sikutnya.
Tubuh budak itu jatuh ke laut setelah sebelumnya terjepit kedua tubuh kapal yang menempel. Sudah dipastikan badannya hancur dan tewas seketika itu juga.
Dua tiga penyerang dari jung Raja Nio yang menyusul juga bernasib serupa. Oleh karena kuda-kuda yang tipis dan rendah membuat keseimbangan para perompak begitu baik, sasaran seranganpun menjadi sangat kecil.
Para penyerang tak pelak berjatuhan ke laut karena menyerang mereka. Para perompak terlihat sama sekali tidak menggunakan tendangan, mungkin karena menitikberatkan pada bentuk kuda-kuda mereka yang rendah dan tipis. Mereka terus maju merengsek tanpa sekalipun mundur. Tidak ada bunga-bunga dalam jurus-jurus mereka. Hanya serangan, hindaran dan tangkisan. Mereka terus maju, memukul, menangkis, bertahan, kemudian maju lagi. Ternyata ruang sempit dan terbatas di sebilah papan itu adalah kekuatan mereka.
__ADS_1
"Tuan nakhoda, segera perintahkan mereka untuk mundur," ujar Jayaseta cemas terhadap perkembangan ini. Bila dibiarkan, para awak kapal dan budak akan terus berjatuhan tewas.
"Sial! Aku sudah katakan kepada mereka untuk mematuhi perintahku," gumam Raja Nio.
Ia kemudian kembali berteriak lagi, dan meminta orang-orang yang berada di dekatnya untuk ikut berteriak menyampaikan perintahnya, "Mundur ... Mundur ... Dampingi penembak bedil!"
Kalimat-kalimat perintah ini diulang-ulang sampai awak yang tadinya terbakar semangat perang menjadi tersadar dan mundur.
Melihat para penyambut mereka tak lagi menghalangi, para perompak langsung maju dan melompat ke atas geladak.
Bunyi tembakan bedil disertai asap tebal membumbung ke angkasa.
Perompak yang telah sampai ke geladak rubuh ke lantai kayu. Perompak yang masih berjalan di atas papan ketika terkena tembakan, segera menggelinding ke geladak jung dan rubuh setelah sampai di seberang.
Tembakan bedil terus-menerus dilakukan, dan kesemuanya menghasilkan sekitar lima belas tubuh tergeletak di geladak jung Raja Nio. Tak ada satupun dari mereka yang jatuh ke laut karena mereka sudah keburu berguling secepat mungkin ke jung ketika tertembak.
Namun seperti yang telah Jayaseta bahwa Raja Nio duga, kelimabelas perompak arus kedua ini perlahan bangun. Ternyata kesemuanya memiliki ilmu kebal.
"Bangs*at! Mereka menanam kulao bassi di tubuh mereka," ujar Raja Nio geram.
"Tuan, kau punya pentungan, gada kayu atau potongan dayung?" ujar Jayaseta segera mendekati sang nakhoda.
"Ya ... Ya, a..aku punya itu, kurasa. Tapi ada di ruang kapal terbawah. Kita perlu waktu untuk mengambilnya," ucap Raja Nio terbata namun paham sekali maksud Jayaseta.
Para perompak mungkin kebal dengan pelu*ru dan senjata tajam yang terbuat dari logam, namun seperti yang telah ditunjukkan Jayaseta sebelumnya, tulang belulang mereka tidak akan mampu menahan tekanan besar yang diakibatkan pukulan benda tumpul dan bukan terbuat dari logam.
"Biarkan aku menahan beberapa dari mereka. Jumlah mereka yang terlalu banyak tak mungkin aku hadapi sendiri. Perintahkan untuk terus memberikan tembakan. Jangan lemah semangat. Memang mereka kebal, tapi tembakan bisa buat mereka sedikit surut dan melemahkan. Akan kucoba menahan mereka sebisa mungkin. Bila pentungan sudah tuan kumpulkan, bantu aku menyerang mereka. Aku khawatir mereka masih memiliki kejutan yang tak kita tahu."
Jayaseta kemudian langsung menghambur maju menyerang para perompak yang jumlahnya dua kali lipat daripada sebelumnya itu.
Para bajak laut ini jelas juga bukan orang-orang bodoh. Mereka sudah memahami dengan baik bahwa serang pertama mereka sudah berhasil dipatahkan. Mayat-mayat rekan-rekan mereka tergeletak mengenaskan dalam kubangan darah mereka sendiri.
__ADS_1
Serangan kali kedua ini harus dapat menghabisi semua halangan yang ada. Siapapun yang menghabisi rekan-rekan mereka juga harus segera menyusul ke alam baka.