
Jayaseta benar-benar tidak suka dengan perilaku pengecut rombongan pendekar Kudangan ini. Ia sudah memutuskan untuk memberikan mereka peringatan dan pelajaran besar yang tak mungkin mereka lupakan seumur hidup mereka. Bukan karena mengganggunya sebagai seorang pendekar, namun lebihb kepada perilaku curang dan culas mereka.
Jayaseta bukan seorang pendekar biasa. Ia sudah malang melintang di dunia persilatan untuk waktu yang lama. Sulit mencari bandingan pendekar yang selalu bertemu dengan marabahaya setiap saat, bahkan ia telah terlibat peperangan dalam usianya yang masih sangat muda. Tidak main-main, ia membunuh beberapa orang prajurit istimewa Mataram dan Surabaya, melawan Pangeran Pekik pada pertarungan sungguh-sungguh perdananya.
Menghadapi keroyokan prajurit Daya Minang ini bukanlah menjadi kesukaran baginya. Ini sudah merupakan makanan baginya, malah dapat membuatnya semakin mendapatkan pengalaman.
Tanpa perlu pikir lagi, Jayaseta langsung menyerang seorang prajurit yang sontak kegelagapan melihat sosok dengan wajah tertutup topeng sarung itu. Hasilnya jelas, naibor nya lepas dari tangannya karena lengan dan kedua pahanya tergores dalam oleh belati Siam Jayaseta dalam sekali serang. Sang lawan tak sempat melihat kecepatan serangan Jayaseta, sang Pendekar Topeng Seribu yang tersohor itu. Terbukti sudah bahwa namanya bukan sekadar julukan belaka.
Melihat ini, para prajurit lainnya segera membentuk semacam gelaran pertarungan untuk mengepung Jayaseta. Namun, Jayaseta terlalu cepat dan tak bisa disudutkan. Baru saja seorang prajurit Kudangan yang memegang perisai segi enam besar terlempar ke belakang menubruk rekannya karena Jayaseta menendang keras tepat tamengnya. Gelaran kepungan pun bobol.
Belum sempat ia sadar apa yang terjadi, Jayaseta mencelat, mencengkram tangannya yang memegang tombak dan memelintirnya. Ketika tombak lepas dari tangannya dan jatuh ke tanah, Jayaseta menusukkan belatinya ke otot lengan atas lawan sehingga menembusnya. Teriakan keras sang prajurit langsung terhenti setelah Jayaseta menghadiahinya dengan sebuah tendangan keras lagi.
Tubuh sang musuh kembali menubruk temannya. Keduanya tak sadarkan diri saking kerasnya tendangan itu.
Jayaseta tak berhenti menggila. Ia mengaburkan jurus-jurus yang ia ketahui dengan langkah-langkah dan kuda-kuda silek harimau andalan sang Pendekar Harimau Muda Kudangan. Dua prajurit lagi tumbang karena Jayaseta meretakkan tempurung lutut dan membeset kedua betis prajurit satunya.
Sisanya terceraiberai bagai kumpulan semut yang bubar terkena curah hujan yang deras. Sial bagi mereka, Jayaseta tak menyisakan satupun dari mereka tanpa dilumpuhkan dengan luka berat, dari luka tusuk dan beset atau patah tulang.
Siam terkesima melihat kehebatan Jayaseta yang luar biasa. Belati pendeknya menjadi senjata tempur yang berbahaya di tangan lihai Jayaseta sang Pendekar Topeng Seribu.
Ireng dan Dara Cempaka lebih takjub ke hal lainnya, yaitu bahwasanya Jayaseta meredam kekuatan dan kesaktiannya begitu rupa sehingga para pengeroyoknya tak ada satupun yang tewas. Memang mereka terluka berat, rubuh bergelimpangan, namun nyawa masih melekat erat di tubuh mereka.
Ini juga dirasakan oleh Pendekar Harimau Muda Kudangan sendiri. Rasa terhinanya sudah tak mungkin bisa ditolak lagi. Jayaseta memainkan jurus-jurus silek harimaunya dengan gaya yang lebih sempurna, dengan tambahan unsur yang tak ia kenal. Jayaseta dalam hal ini meleburkan jurus yang diambil dan diserap dari dirinya menjadi jauh lebih cepat, keras dan berbobot.
Tiga pembantu dan pelayan sang pendekar Kudangan memegang erat gagang do dan naibornya. Mereka berdiri di depan tuan mereka yang sudah sama sekali tak mampu berdiri.
__ADS_1
Tanpa banyak kata, Jayaseta melemparkan belatinya dan berhasil menancap di tulang kering kaki kanan salah satu pelayan tersebut. Sebuah gerakan yang tak diduga-duga sebelumnya, bahkan tak terpikirkan oleh siapapun. Jayaseta memang sudah mempelajari jurus-jurus melempar senjata dan ini juga kerap dilakukannya.
Bedanya dengan pendekar lain, Jayaseta tak peduli benda atau senjata apa yang ada di tangannya, bila perlu melemparkannya, ia tak akan ragu sedikitpun.
Teriakan rasa sakit si pelayan bergabung dengan teriakan mengaduh para prajurit lain.
Tinggal dua pertahanan terakhir dari semua rombongan yang melengkapi diri dengan senjata.
Tangan keduanya bergetar memegang senjata tajam mereka, sedangkan mata mereka jelalatan memperhatikan anggota rombongan yang kesemuanya rubuh, dengan darah berleleran dan teriakan-teriakan memedihkan telinga.
Dengan sekali gerak, Jayaseta menanamkan tinjunya telak di dada seorang pelayan. Hanya sekali! Musuh langsung ambruk pingsan dengan tubuh kaku.
Maka, orang terakhir melepaskan senjatanya saking takutnya dan rubuh bersujud ke tanah. Jayaseta tak menghiraukannya, dan cenderung menatap Pendekar Harimau Muda Kudangan yang berusaha berdiri sebisa mungkin, sedangkan luka di pahanya menyengat.
"Pengecut!" seru Jayaseta.
"Kau tak pantas menyebut dirimu pendekar! Kau tak bisa berlaku adil dan ksatria. Masalahnya untuk orang jahatpun, kau juga tak begitu mumpuni. Entah kesaktian macam apa yang kau sombongkan, dan kepada siapa kau gunakan ilmu cetekmu itu untuk menindas?" ujar Jayaseta berusaha setegas mungkin agar sang lawan paham maksud dari ucapan-ucapannya.
Pendekar Harimau Muda Kudangan nampak ingin membalas perkataan Jayaseta dengan menunjukkan wajah geram.
Karena inilah Jayaseta tidak menerima percikan rasa kesal lawannya itu.
DAG!
Jayaseta memukul dada pendekar Kudangan tersebut dengan jurus tapak Buddha gubahan suku Hui Cina. Tak ayal tubuh sang pendekar terlempar ke belakang dan jatuh terduduk.
__ADS_1
Wajahnya yang awalnya masih mencoba beringas kini redup sama sekali. Darah keluar dari ujung bibirnya, sedangkan dadanya lebam.
"Dengar kalian semua! Berhenti mengikutiku apalagi mencari masalah dengan aku dan rombonganku. Bila kudapati kalian mempersiapkan kejutan licik lagi di depan sana, atau dimanapun kami berada, mereka akan berakhir lebih parah dari kalian. Dan yang paling jelas, aku bersumpah akan menghabiskan waktu untuk memburu setiap dari kalian dan tidak ragu untuk membunuh kalian!" seru Jayaseta, membuat setiap orang yang terluka menahan teriakan rasa sakit mereka.
"Aku akan biarkan satu orang saja tanpa terluka. Ia akan merawat kalian. Anggap saja ini adalah hari beruntung kalian," lanjut Jayaseta dengan suara lantang dibalik topeng dari sarungnya tersebut.
Dara Cempaka tersenyum lebar, diikuti oleh kedua awak jung Raja Nio. Mereka benar-benar diperlihatkan kembali dengan mutu seorang pendekar yang tanpa tanding ini.
Jayaseta juga sebenarnya paham bahwa rombongan ini memiliki kemampuan ilmu silat dan kanuragan yang masih dibawah suku Daya lain yang menyerangnya bersama Karsa beberapa waktu lalu. Karena lemahnya kemampuan mereka inilah Jayaseta tak hendak membunuh, meski kelicikan dan ketakmauan mereka untuk kalah membuatnya muak.
Ia masih berharap untuk memberikan mereka pelajaran saja, agar mereka masih bisa hidup dengan bijak. Lagipula akan terlalu banyak korban untuk pergi meminta bantuan seseorang. Itu bukanlah sebuah tindakan yang baik, pikirnya, tidak elok.
Jayaseta berbalik, menerima pandangan takzim dan kagum dari ketiga teman seperjalanannya, terutama Dara Cempaka yang menyelipkan rasa di balik setiap pandangannya.
***
Jayaseta kembali terdiam di tengah perahu yang ia naiki. Ia tadi sempat merasa nyaman berada di daratan, walau harus menghabiskan waktu dan tenaga melawan musuh yang datang tiba-tiba. Namun itu semua masih jauh lebih ringan dibanding harus berada di tengah perahu yang meluncur di atas air sungai.
"Aku malah berharap akan ada yang menyergap lagi sehingga pendekar Jayaseta dapat menghajar mereka," ujar Ireng sembari tertawa.
Gerombolan lawan kini diganti dengan pepohonan yang lebat dan subur. Jayaseta harus melawan ketakutan di atas perahu dengan hutan yang makmur, air yang mengalir deras dan ketidaktahuan atas apa yang akan terjadi.
Walau Dara Cempaka, Ireng dan Siam kini semakin merada bahwa Jayaseta adalah seorang pendekar yang bisa diandalkan, namun ia sendiri masih dalam keraguan ketika dihimpit di atas perahu ini. Berbeda dengan sewaktu di kapal besar atau jung, dimana ruang geraknya masih cukup luas dan ia masih bisa melakukan banyak hal, bahkan ketika harus berkelahi.
Nampaknya perjalanan masih akan cukup panjang. Mau tak mau ia harus melewati semua. Bukan sebagai seorang pendekar yang paripurna, namun sebagai manusia di dalam gelombang marabahaya.
__ADS_1