
Para pemanah dan penembak kesulitan membidik Jayaseta yang bergerak bagai burung alap-alap, kecepatannya luar biasa. Ia membongkar segala jenis pertahanan lawan.
Bukan sekali ini Jayaseta menghadapi musuh yang banyak dan berkemampuan ilmu kanuragan pula. Bahkan waktu lebih muda dari usianya sekarang saja, ia telah menghadapi keroyokan pasukan Surabaya dan Mataram, apalagi kali ini, ketika ia telah banyak makan sama garam dunia persilatan.
Jayaseta berguling, melompat dan meloncat trengginas, menendang, menyepak dan membabat musuh. Keramaian para prajurit bubar laksana semut terkena api. Tameng para prajurit itu digunakan sebaik mungkin untuk sebisanya menahan serangan-serangan sang pendekar.
Jayaseta menderu bagai angin ****** beliung. Mencelat kesana kemari. Membuat para prajurit seperti anak-anak ayam yang ketakutan, lebih banyak menahan serangan atau menghindar dibanding mencoba-coba memberikan serangan balasan.
Benar saja, akibatnya, tiga orang prajurit terkapar dengan cepat ketika Jayaseta menembus pertahanan mereka dengan menebas kaki hingga hampir putus, menusuk bahu melewati perisai dan meretakkan tulang kepala dengan tendangan melompatnya.
Panglima Asuam melihat ini sebagai sebuah kerugian besar. Orang penting di tubuh lawan sedang terkapar menunggu ajal menjemput, tapi dalam sekejap saja ia sudah kehilangan tiga orang lagi dengan mudah di tangan seorang pendekar saja.
"Panah, tembak dia!" perintah sang Panglima kepada para penembak, pemanah dan penyumpit. Perintah ini jelas bukan sebuah perkara mudah.
Jayaseta bergerak terlalu lincah sehingga bidikan ke arahnya juga akan terlalu sulit. Namun bagaimanapun serangan dari para pengguna senjata jarak jauh itu tetap dilakukan bila tak mau para prajurit menunggu dihabisi.
Anak panah terlepas. Jayaseta menghindar, berguling. Anak panah lolos menyasar udara kosong. Anak panah terakhir ditepis Jayaseta dengan mandaunya dan terkirim ke paha salah satu prajurit Daya.
Begitu juga dengan serangan sumpit. Jayaseta berhasil berkelit bahkan sempat menarik tubuh seorang prajurit Biaju untuk dijadikan tameng. Bertambah lagi korban dari pihak lawan.
Namun tambahan serangan senapan bagaimanapun merepotkan dan menyusahkan Jayaseta. Bunyi keras menggelegar serta asap tebal bed*il bersahutan membuatnya berjumpalitan menghindar.
Serangan ini membuahkan hasil. Dua pel*uru menyobek kulit bahu dan kakinya, meskipun keduanya hanya menyerempet tubuhnya, menyisakan luka yang tergolong kecil bagi seorang pendekar. Namun paling tidak ini menunjukkan bahwa Pendekar Topeng Seribu kesalahan menghadapi serangan senjata jarak jauh ini.
Sebagai akibatnya, jelas, para penembak, pemanah dan penyumpit terus mencari celah untuk menghabisi sang pendekar.
__ADS_1
Jayaseta berguling kembali, menghindari anak panah dan jarum sumpitan. Kepekaan kependekarannya dan ketepatan gerakannya yang sudah diasah dengan baik membuatnya mampu menangkis dua pe*luru dari lima tembakan yang diarahkan kepadanya. Benar-benar membuat para prajurit terkaget-kaget.
Panglima Asuam terlihat mengamati pertarungan ini dengan kesal. Kemenangan sudah di depan mata dan ia masih harus mengurusi hal semacam ini.
"Ada yang sudah menemukannya?" ujar sang panglima tiba-tiba kepada beberapa prajurit di sekitarnya.
Tak lama seorang prajurit datang dengan terseok-seok. Meski ia mennyelipkan sebilah do di pinggangnya, nampaknya orang ini tak berencana turun langsung berperang. Tubuhnya terlihat lemah dan bagian wajahnya terluka. Diketahui beberapa bagian tulang di tubuhnya patah, termasuk di bagian wajahnya. Namun ia masih sangat sanggup menyeret satu karung berisi sesuatu yang jelas tak ringan itu.
"Aku mendengar beberapa orang sudah mendapatkannya. Mereka sedang dalam perjalanan kemari, Panglima," ujar orang itu yang tak lain dan tak bukan adalah prajurit Daya yang sempat dihajar Jayaseta sehingga pingsan di lumpur rawa-rawa ketika Jayaseta akhirnya berhasil membunuh Karsa. Kini ia membawa karung yang berisikan tubuh tanpa kepala Karsa.
Benar-benar kebetulan pula, dua orang prajurit lagi datang menghadap Panglima Asuam. Salah satunya membawa kepala Karsa yang masih utuh, belum menunjukkan tanda-tanda kebusukan.
***
Jayaseta memutar-mutarkan mandau dengan memainkan pergelangan tangannya dan menyadari bahwa para prajurit lawan undur diri. Perisai memang masih terangkat di depan tubuh mereka, tombak juga tetap diarahkan ke depan. Namun langkah mereka mundur perlahan.
Itulah alasan mengapa prajurit lawan memutuskan untuk mundur sejenak dan melihat keadaan. Namun begitu, sedikit banyak bahkan tanpa kedatangan bala bantuan, prajurit-prajurit Daya yang telah sadar bahwa mereka telah dikelabui ini, para prajurit Biaju juga sudah kesulitan memberikan perlawanan kepada Jayaseta.
Punyan memandang sekeliling. Ladang yang hancur ditebas dan terinjak-ini, bangunan kandang dan perumahan yang hancur atau terbakar, mayat-mayat penduduk yang tergeletak tanpa nyawa dan kepala, perempuan dan anak-anak yang ditangkap terikat di batang-batang pepohonan membuat hatinya mencelos. Apalagi akhirnya kemudian ia melihat sang apai terbaring di tanah bermandikan darah.
Punyan menghambur ke arah sang apai yang hampir tak sadarkan diri itu. "Apai ...!!"
Temenggung Beruang tersenyum mendapati putranya datang, ditemani beberapa anggota prajurit kampungnya. Kepalanya disangga dengan kayu.
"Apai, bertahanlah. Kita akan rebut kembali kemenangan dan mengusir mereka untuk selamanya," ujar Punyan.
__ADS_1
Temenggung Beruang terbatuk. Ia mencoba melepaskan kalung cakar beruang, namun terlalu sulit baginya sampai Punyan membantunya.
"Aku tahu kau pasti dapat memimpin orang-orang kita mengusir mereka. Namun sekarang bukan waktunya bagiku lagi. Sudah saatnya bagimu melanjutkan perjuangan dan kepemimpinan kampung, Punyan," ujar sang Temenggung sembari memberikan kalung kuku beruang tersebut.
"Tidak, apai. Kau pasti bisa untuk sembuh dan memimpin kembali ...."
Kalimat sang putra terputus karena Temenggung Beruang mengangkat tangannya. "Sudahlah, cukup Punyan. Kau tahu pasti apa yang terjadi denganku. Tapi jangan khawatir, Jayaseta memintaku bersumpah agar tak mati dahulu. Aku bisa lakukan itu untukmu. Menangilah peperangan ini, Punyan. Aku masih ingin melihat sepak terjang kalian," ujar Temenggung Beruang lemah, namun masih dapat berbicara dengan cukup jelas.
Punyan menarik nafas dan mengangguk. Ia tahu sekali dengan apa yang terjadi. Sang apai sudah terluka cukup parah dan ia memang tak akan mampu bertahan hidup lama. Ketimbang menghabiskan waktu berusaha menenangkan sang apai, lebih baik ia menyelesaikan pertarungan untuk membebaskan kampung, menyelamatkan penduduk dan menghabisi para penyerang selagi sang ayah masih dapat melihatnya.
Ia mengenakan kalung yang diberikan ayahnya, berdiri, kemudian berjalan ke depan, ke sisi Jayaseta. "Kita habisi mereka sekarang, Jayaseta. Anggap kau hutang dengan ayahku karena membantumu sembuh," ujar Punyan berbisik.
Jayaseta memandang ke depan, kemudian berpaling ke arah Punyan. "Kau mau menghadapi sang pemimpin gerombolan itu?" ujar Jayaseta sembari menunjuk ke arah Panglima Asuam.
Punyan mengangguk mantap.
"Baiklah. Aku akan menghadapi tokoh lainnya, tepat disebelah pemimpin mereka. Aku baru sadar bahwa seharusnya aku membakar saja tubuhnya. Kini aku harus kembali menghadapinya lagi," ujar Jayaseta juga terang-terangan menudingkan jari telunjuknya ke arah Karsa yang perlahan berdiri. Kepalanya sudah kembali tersambung dengan tubuhnya. Walau sedikit linglung, namun Karsa perlahan tampak mulai menguasai keadaan. Ia memandang Jayaseta dengan berang.
"Dengar aku baik-baik!" teriak Punyan kepada para pasukannya, namun sengaja dikatakan dengan nyaring agar didengar musuh pula. "Kita akan habisi orang-orang yang menginjakkan kaki di tanah kita dengan lancang. Kita bebaskan semua warga kita dan kita berikan mereka sangsinya. Ingat, jangan sisakan satupun! Tidak ada tawanan, tidak ada budak hari ini!"
"Wuuuu ... Auu ... Auuu ... Kyaaakk ... !!" teriakan perang menggema dari mulut pasukan Daya di belakang Punyan.
"Tapi serahkan nyawa penglima perang mereka di tanganku. Jangan ada yang menyentuhnya. Aku sendiri yang akan melepaskan kepala dari tubuhnya?" lanjut Punyan. Terdengar lagi teriakan bersemangat para prajurit dibawah Punyan tersebut. Mereka juga memukul-mukulkan do dan tombak ke perisai kayu mereka, memberikan rendah riuh suara perang.
"Karsa milikku, Punyan," ujar Jayaseta pelan. Punyan memandang Jayaseta, tersenyum kecil dan mengangguk.
__ADS_1
"Terimakasih Jayaseta. Bila kita berdua masih hidup, kita akan menjadi saudara untuk selamanya," tegas Punyan.
Perlahan juga didengar tiga orang pemuda memainkan bebunyian dari satu bangunan yang tak tersentuh pasukan musuh. Bebunyian alat-alat tetabuhan tersebut memberikan daya gaib bagi para prajurit Daya kampung ini, seakan mengundang kembali para dewa dan roh leluhur, bukan untuk membantu mereka, melainkan menyaksikan betapa berani, hebat dan membanggakan para pemuda dan prajurit kampung ini menyerahkan nyawa mereka kepada Jubata dan melawan musuh yang datang.