
DAR!
DAR!
DAR!
Tiga sampai empat kali bunyi letusan senjata api tidak pelak mengejutkan para petarung: Sasangka, Jaka Pasirluhur dan Arthit yang sedang bertempur saling pandang dengan cepat, kemudian melihat ke sekeliling dengan awas. Kuda-kuda kembali mereka kembangkan, akan tetapi kali ini, tidak untuk saling menyerang, melainkan mempersiapkan diri dari apa yang akan dihadapi.
Sekitar sepuluh orang, berseragam tentara asing, menyeruak dari rerumputan dan pepohonan . Senapan di tangan mereka digenggam dan moncongnya diarahkan tepat kepada ketiga pendekar. Kesemuanya adalah orang bule.
__ADS_1
Pada abad ke-15 Masehi, orang-orang bule Pranggi memimpin beragam penjelajahan mendunia ke nusantara, membuka penjelajahan lain untuk bangsa-bangsa bule lainnya. Pranggi bertujuan untuk berdagang dan membuka jalur laut ke pulau rempah-rempah yang terkenal dan termahsyur agar dapat memperoleh kekayaan dan kejayaan.
Bahkan, negeri bule ini telah sampai pada tahun 1511 Masehi ke negeri Siam, seratus tahun lebih dahulu dibanding orang-orang bule lainnya.
Tahun itu, Afonso de Albuquerque merebut Malaka yang merupakan pusat pusat utama perdagangan di wilayah tersebut. Dengan melakukan itu ia dan pasukannya juga sekaligus membebaskan beberapa orang Pranggi yang telah ditahan di sana, salah satunya adalah seorang penjahit bernama Duarte Fernandes. Fernandes telah belajar bahasa Melayu dan dipilih oleh Albuquerque untuk memimpin tugas kenegaraan ke Siam karena Malaka adalah negara bawahan Siam.
Dan begitulah pada tahun 1511 Masehi, seorang penjahit Pranggi tiba di Ayutthaya. Duarte Fernandes datang dengan agak sederhana di atas sebuah kapal jung Cina, sebagai utusan pertama dari negeri bule. Dia diterima Raja Ramathibodi II dengan mempersembahkan sebilah pedang emas dalam sarung bertatahkan berlian serta surat sopan yang membenarkan atas penaklukan Pranggi atas Malaka. Nampaknya orang asing yang aneh ini menyenangkan Raja yang dengan senang hati menerima penaklukan Malaka oleh Pranggi. Fernandes kembali ke Malaka bersama seorang utusan Siam dengan hadiah-hadiah mewah untuk Raja Pranggi.
Selama hubungan awal antara Siam dan Pranggi ini, masing-masing pihak telah mempertimbangkan satu sama lain dan mempertimbangkan tujuan dan kepentingan mereka. Orang Siam memahami bahwa Pranggi memiliki kepentingan perdagangan dan mencari untung, sementara Pranggi menyadari bahwa yang paling dicari oleh orang Siam adalah kepemilikan senjata dan pengetahuan serta peralatan ketentaraan canggih yang mereka miliki.
__ADS_1
Meskipun pedagang Arab sebelumnya telah membeli senjata dan meriam ke Siam, Pranggi tidak hanya menawarkan perbaikan terbaru dalam peralatan dan pengetahua ini tetapi juga orang Pranggi sendiri untuk mengajarkan penggunaan dan cara membuatnya. Pranggi sendiri akan mendirikan pabrik pengecoran senjata di Ayutthaya. Bahkan sebelum perjanjian persahabatan ditandatangani, Raja Ramathibodi II menyewa sekitar 100 tentara Pranggi untuk berbaris ke utara ke Lampang untuk memberi pelajaran kepada Raja Chiangmai yang telah mencaplok Sukhothai dan Kamphaeng Phet.
Sejak saat itu, tentara bayaran Pranggi menjadi bagian penting dari tentara Siam dan pengawal pribadi Raja.
Seperti diketahui, orang-orang Pranggi juga memiliki perkampungan atau tempat tinggal orang-orang Pranggi di bagian Selatan ibukota Ayutthaya.
Itu sebabnya, tak heran mendapatkan para pasukan bule Pranggi ikut campur dengan masalah keamanan apapun yang terjadi di wilayah negeri Siam. Namun, entah persoalan kenegaraan apa lagi yang begitu rumit sampai-sampai para prajurit Pranggi yang sesungguhnya adalah pasukan kelas atas yang disewa sebagai pasukan pribadi raja sedang berada di tempat ini, mencampuri urusan perkelahian biasa yang mungkin cenderung masuk dalam ranah kejahatan dibanding keamanan kerajaan dan negeri.
Arthit tersenyum. Ia senang bila ternyata apa yang sedang ia lakukan sekarang ini mendapatkan perhatian besar dari kerajaan. Berarti, apa yang ia hadapi ini adalah sesuatu yang besar dan pantas. Ia sudah lapar dan haus akan pertarungan akbar yang mungkin akan menyempurnakan pencapaiannya sebagai seorang pendekar.
__ADS_1
Sasangka dan Jaka Pasirluhur yang meski sadar bahwa perjalanan mereka akan selalu mendapatkan masalah dan tantangan, saat ini terlalu bingung dengan kerumitan permasalahan kenegaraan ini. Namun, bagaimanapun, ketiganya tahu bahwa mereka tak bisa berdiam diri dengan ancaman todongan senapan yang terarah kepada mereka.