Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Sàam Kûn-thâu


__ADS_3

Orang-orang Cina yang lebih dahulu berdiam di Betawi sebelum rombongan Souw Beng Kong dari Banten datang kebanyakan berasal dari daerah bernama Amoy di Cina yang berbahasa Hokkian.


Ilmu beladiri Cina Babah Lau yang aslinya berasal dari Kwangtung, dikembangkan sedemikian rupa sehingga memiliki ciri khas tersendiri, apalagi bercampur dengan ilmu silat orang-orang Cina Amoy yang berbahasa Hokkian dan silat dari pulau Jawa serta nusantara.


Para Cina Hokkian inilah yang awalnya memberikan istilah kuntao bagi jenis silat mereka ini.


Bisa dipahami karena kuntao dikenal dibawa oleh orang-orang Cina bagian Selatan yang bekerja sebagai pedagang dan buruh. Kehidupan yang keras dan penuh tantangan untuk menyebrang lautan menuntut mereka untuk menguasai ilmu beladiri.


Istilah kuntao berasal dari logat Hokkian yang secara harfiah berarti "jalan kepalan" meski bila diterjemahkan lebih tepat sebagai "seni pertempuran".


Kuntao yang diajarkan Babah Lau ke anak perempuannya, Siufan, diberi nama Kuntao Tiga Jurus atau Sàam Kûn-thâu.


Seperti semua jenis kuntao yang mula-mula ini, setiap keluarga atau kelompok masyarakat Cina mengajarkannya secara diam-diam dan rahasia, mengajarinya hanya bagi orang-orang dalam lingkaran mereka saja.


Kuntao mengambil dasar silat Cina yang beragam itu. Dari jurus-jurus yang mengambil gerak binatang seperti harimau, naga, belalang sembah, ular atau monyet sampai beladiri dengan mengambil gaya unsur-unsur alam seperti api, air, udara dan bumi.


Babah Lau menyesuaikan silat Cina itu dengan medan di nusantara. Gerakan silat Pasundan atau Jawa sewaktu ia tinggal di Banten dan Betawi membuat ia memutuskan untuk melebur gaya silat Cina dan nusantara.


"Kau mau mengajari aku?" tanya Sasangka kepada Siufan yang sudah semakin akrab dengannya hari demi hari.


Sifat Siufan yang lugas tanpa basa-basi, bahkan mengakui secara langsung bahwa ia memiliki perasaan tertarik yang sama dengan Sasangka, membuat Sasangka menjadi semakin tertarik dengannya.


Mereka bahkan tak perlu saling menutupi apapun.


"Kau bersungguh-sungguh, kakang? Jurus silat kuntao ku hanya tiga dan jelas tak sehebat jurus-jurus silatmu sebagai seorang pendekar," jawab Siufan.


"Tentu saja aku bersungguh-sungguh. Aku ingin mengenal jurus-jurus yang diajarkan oleh ayahmu, dan ... dan ... Agar kita bisa selalu bertemu," ujar Sasangka enggan memandang wajah ayu Siufan.


Sang gadis muda sendiri tersenyum sumringah.


Namun mendadak air mukanya berubah menjadi kecewa.


"Ah, aku rasa kau tak akan mampu, kakang," ujarnya datar.


Tentu saja jawaban sang gadis membuat Sasangka terperanjat. "Apa maksudmu, Siufan? Bukankah kau tahu sendiri siapa aku sebenarnya. Telah beberapa waktu ini kau paham bahwa aku, Sasangka, seorang pendekar yang telah melewati samudra ke berbagai tempat, menghadapi beragam jenis musuh, penjahat, perompak, bahkan pendekar lain? Apa kau menyepelekanku?"


"Bukan aku, kakang. Kau lah yang menyepelekan dirimu. Aku dengar kau begitu kecewa dengan kematian sahabat-sahabatmu. Kau sangat sedih hingga tak melakukan apa-apa selama ini. Kau biarkan tubuh dan otot-ototmu kaku. Bahkan aku mendengar kau seakan ingin berhenti menjadi seorang pendekar," jawab Siufan lugas.

__ADS_1


Kata-kata Siufan membuat Sasangka merenung. Gadis ini begitu lugas dan jujur. Ia terhenyak dan sadar dengan apa yang sudah ia lakukan terhadap dirinya sendiri selama ini.


"Kau banyak mendengar rupanya."


"Kakang Sasangka. Aku adalah anak dari penjual arak di Betawi. Tentu aku banyak mendengar pelbagai macam berita fan cerita. Kau tahu bukan bagaimana seorang pemabuk berceloteh?" jawab Siufan datar.


"Baiklah, Siufan. Aku sudah memahami inti perkataanmu semua. Aku berterimakasih atas ini. Kau sudah menyadarkanku atas segala kekeliruanku. Mulai hari ini, kau akan lihat bahwa aku akan kembali menjadi Sasangka seutuhnya."


Ucapan Sasangka bukan bualan belaka. Dalam waktu satu dua wulan, tulang pinggulnya membaik, sempurna sebenarnya. Begitu juga dengan luka tusukan di pahanya.


Ia sudah melatih jurus-jurus silat belatinya. Bahkan wedhung sudah terselip di pinggangnya kembali.


***


"Mengapa hanya tiga jurus?" tanya Sasangka di hari pertama ia telah kembali pulih dan berlatih bersama Siufan.


"Ayahku berkata, tiga adalah angka mendasar. Aku dilatih untuk bisa melawan tiga musuh sekaligus. Kau cukup berputar para satu poros, bergerak berputar dengan cepat seperti ini dan menyerang musuh dengan tinju, dan telapak tangan. Khusus telapak tangan, kita bisa memanfaatkan sisi telapak atau punggungnya pula."


Gerakan kuntao ini ternyata sederhana namun dilakukan dengan sangat cepat, seperti berlapis-lapis.


"Mengapa hanya tiga? Bagaimana bila kau dikeroyok lima atau sepuluh orang misalnya," tanya Sasangka sembari mengikuti gerakan Siufan.


Tentu saja, Sasangka paham. Segala kemampuan jurus tergantung pada si pengguna. Bukan berarti ada satu jenis gaya bertarung yang paling hebat diantara yang lain. Namun dengan gaya kuntao ini, Sasangka dapat memahami inti dari beladiri tersebut.


Sasangka melatihnya terus-menerus, kemudian mengamalkannya pada jurus belatinya.


Angka tiga adalah angka dasar.


Sebuah pemikiran yang aneh, namun entah bagaimana, ia menemukan pengejawantahan jurus kuntao tiga jurus ini dalam seni belatinya.


Siufan diam-diam tersenyum bangga akan perkembangan kekasihnya tersebut.


Selama berbulan-bulan keduanya semakin dekat saja. Sasangka pun semakin pulih dan menemukan jati dirinya.


***


"Kakang Sasangka. Kau harus mengajak kedua sahabatmu, Narendra dan Katilapan untuk pergi ke Semarang. Aku mendengar kabar yang bisa dipercaya. Sahabatmu, Jayaseta sedang dalam bahaya," ujar Siufan tiba-tiba di suatu siang dalam pertemuan mereka.

__ADS_1


Benar adanya bahwa berita yang didapatkan Siufan dapat dipercaya. Siufan adalah gadis cerdas yang kebetulan pekerjaannya di kedai arak ayahnya memberikan keuntungan mendapatkan banyak berita dan kabar dari dalam dan luar Betawi.


Mendengar nama orang yang sangat dikenalnya itu Sasangka tak menunjukkan gelagat apa-apa.


Ia hanya menjawab, "Ia seorang pendekar sakti dan tersohor, tentu ia selalu dalam bahaya. Tapi ia pasti bisa menghadapinya seperti biasa."


"Kali ini tidak, kakang. Jayaseta telah menikah di Semarang dengan seorang bernama Almira. Namun ia sendiri harus pergi berlayar ke Sukadana. Di kapal ia akan dibunuh oleh para perompak dan salah satu kembaran sakti dari Sang Penyair Baka yang bekerja untuk Kompeni Walanda. Masalahnya, istrinya akan dibunuh oleh kembarannya yang lain beserta para anggota kelompok Jarum Bumi Neraka. Kau tak bisa membiarkan hal biadab ini terjadi, bukan?"


"Jayaseta menikah? Dia akhirnya menemukan kebahagiaan bila begitu," ujar Sasangka acuh tak acuh.


"Ada apa denganmu, kakang? Kau tak mendengarkanku? Kalian harus menyelamatkan Almira!"


"Dengar Siufan. Jayaseta telah bahagia. Ia punya urusannya sendiri. Mengapa aku harus ikut campur?"


"Wah, kau masih mau seperti ini sampai kapan, kakang? Kau merajuk karena rekan-rekanmu terbunuh, dan kau menyalahkanya, bukan begitu? Kau iri dengan kehebatannya sebagai seorang pendekar yang sakti, bahkan iapun telah menikah. Seakan melupakan perjuangan dan pengorbananmu dan rekan-rekanmu, bukan begitu?"


Sasangka terhentak. Ia berusaha memegang lengan Siufan karena kesal. Namun sang gadis mundur setengah langkah, menepis lengan sang kekasih dan memberikan sebuah tamparan keras yang begitu cepat ke pipi Sasangka. Bahkan sebelum Sasangka sadar, Siufan menonjok dada dan perutnya.


Sasangka jatuh terduduk.


Siufan berpaling pergi. Sembari menjauh ia berteriak, "Aku mau kau kawini dengan syarat bantu Almira! Aku tidak mau punya suami pengecut dan bukan seorang pendekar!"


Langkah Siufan yang cepat membuat tubuh rampingnya menghilang hanya dalam dua tarikan nafas.


Serangan Siufan bukan serangan mematikan bagi seseorang semacam Sasangka. Namun kata-katanya yang benar-benar memukulnya.


Ia berdiri, mengibaskan celananya yang kotor oleh tanah sehabis jatuh terduduk, kemudian pergi untuk menemui Narendra dan Katilapan.


***


"Narendra, Katilapan. Jujur aku dahulu menyalahkan Jayaseta atas kematian teman-teman kita, Badra, Mahendra, Kesuma dan Karsan. Ketika kehilangan mereka, aku juga merasa kehilangan kehidupan. Lalu aku bertemu Siufan. Ia yang menyadarkan bahwa aku terlalu memikirkan diri sendiri dan menjadi seorang pengecut. Siufan memberikan aku hidup kembali, serupa dengan Jayaseta yang telah bertemu Almira.


"Hutangku dengan Jayaseta telah lunas. Aku sudah menyelamatkan istrinya dari para pengancam. Sekarang lah saat bagiku untuk mendapatkan kehidupanku sendiri. Almira untuknya, Siufan untukku. Aku harap kalian bisa mengerti bahwa aku tak akan ikut kalian ke Sukadana. Urusanku dengan Jayaseta telah selesai.


"Aku akan kembali ke Betawi. Sampaikan salamku untuk Jayaseta. Aku yakin ia baik-baik saja di sana."


Sasangka melihat ke arah kedua sahabatnya lekat-lekat. Ketiganya sadar ini adalah keputusan bulat yang tak mungkin dibatalkan lagi.

__ADS_1


Bertahun-tahun bersama bukanlah hal yang mudah untuk dilupakan. Namun setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Mereka sudah berpisah dengan teman-teman mereka dengan cara yang paling menyedihkan, maka perpisahan ini juga sama sekali tidak mudah.


Sasangka membalikkan badannya dan berjalan meninggalkan kedua sahabatnya. Ia sama sekali tak menengok ke belakang sampai bayangannya hilang dalam gelap malam.


__ADS_2