Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Harimau Putih Menggasak Bumi


__ADS_3

Sudiamara bangun secepat yang ia bisa tepat ketika gelombang cambuk hendak menghajar dirinya untuk kedua kalinya. Tali cambuk memapras tanah, bergelombang bagai beberapa kali pukulan sekaligus. Sungguh Sudiamara tak menyangka bahwa Kesanga menggunakan cambuk panjang dan jurus yang juga tak dapat ia duga. Awalnya Sudiamara sudah mencoba merancang dan merencanakan serangan dan perlawanan terhadap teman kependekarannya itu. Nyatanya ia tertipu beberapa kali.


“Hentikan tindakanmu, Kesanga. Sudah cukup. Aku tak akan membiarkan kau untuk meneruskan tujuanmu malam ini,” seru Sudiamara.


Kesanga, berwajah cenderung lembut tetapi memiliki sudut mata dan pandangan tajam serta licik, tak menunjukkan perasaan sama sekali. Ia menggetarkan cambuknya lagi, tetapi bukan untuk menyerang Sudiamara, melainkan menggertaknya.


Kesanga mendengus. “Jenaka sekali, Sudiamara. Harusnya kau yang sadar untuk minggat dari tempat ini, pergi dari hadapanku. Kau sudah membuat tiga pengikutku tewas. Kau tahu berapa lama yang aku butuhkan untuk membentuk mereka. heh? Kau membuatku memboroskan sumber,” ujar Kesanga. Cambuknya tak berhenti bergelombang di atas tanah atau udara. Kesanga memainkan cambuk panjangnya itu seperti seekor binarang menggerak-gerakkan ekornya.


“Kita bisa melakukan apa saja, Kesanga. Tapi bukan hal pengecut dan tidak ksatria semacam ini. “Almira sedang hamil, membunuhnya hanya akan mengerdilkan sikap kita sebagai pendekar,” ujar Sudiamara.


“Tahu apa kau soal jiwa kependekaran, hei Macanputih? Kau ingat kita bekerja untuk siapa? Kau paham bahwa sampai kapanpun, walau kita disebut sebagai sembilan pendekar, tetap saja kita adalah budak dari kekuatan-kekuatan yang jauh lebih besar dari kita sendiri?” balas Kesanga sang Cemeti Sakti.


Sudiamara tertawa mengejek. “Dan kau menyebut dirimu dengan sang Cemeti Sakti? Menggelari kependekaranmu untuk membuktikan kepada dunia bahwa kaulah yang terkebat, di saat yang sama kau merasa bukan siapa-siapa melainkan hanya budak?”


Kesanga menggertakkan rahangnya, kemudian kembali menyerang Sudiamara.


CTAR! CTRARARAT!


Gelombang pecut menciptakan bunyi yang menggema di udara. Ujung pecut menjilati angin dan badan cambuk mengitari Sudiamara bagai angin lesus.


Sudiamara berjumpalitan sampai tiga kali. Tubuh gempalnya bergerak begitu gesit seperti seekor harimau. Namun, tetap saja, tak pelak, serangan semacam itu tidak selalu dapat terus-terusan dihindari. Sudiamara mendapatkan bahunya terluka oleh sabetan cambuk.


“Mau berapa lama kau bertahan, Sudiamara? Minggirlah dari hadapanku sekarang juga. Kelak kita akan berjalan bersama seperti dulu bersama teman-teman pendekar kita yang lain. Kita akan menikmati keagungan kita tanpa ada yang mengganggu, Sudiamara!” seru Kesanga.

__ADS_1


“Tak ada keagungan, Kesanga. Aku berhenti dari keanggotaan Sembilan Pendekar Dunia Baru! Keputusanku semakin bulat ketika mendengar langsung dari mulutmu sendiri bahwa kau selama ini sudah berpikir bahwa kita adalah budak mereka saja!” balas Sudiamara.


Sudiamara mengerahkan tenaga dalam di kedua kakinya, kemudia melompat tinggi. “Giliranku, Kesanga. Kau mungkin masih ingat jurus Macan Putih Menggasak Bumi?”


Lompatan tinggi sang pendekar gempal dari Blambangan itu kemudian diserahkan kepada hukum alam. Tubuhnya yang berat meluncur turun sama cepatknya ke bawah. Bagai seekor macan putih yang melompat tinggi ke udara untuk menunjam ke bawah menerkam mangsa, Sudiamara meluncur ke arah Kesanga menembus kerumitan pecutan jurus payung pertahannya.


Yang menarik dari jurus macan Sudiamara ini adalah, bukannya menggunakan tangan sebagai cakar seperti umumnya beragam jurus harimau, baik dari Jawa ataupun Melayu, Sudiamara menitikberatkan pada kedua kakinya. Itupun bukan jurus-jurus tendangan, melainkan semacam jejakkan.


BLAR!


Tanah pelataran menjadi sasaran serangan Sudiamara, melontarkan tanah dan pasir serta kerikil yang ia injak sehingga berhamburan. Kesanga berhasil menghindar dari serangan itu dengan berguling ke samping.


“Aku dengar kau kebal, Kesanga! Tapi tak kukira kau takut dan gentar pula pada seranganku,” ejek Sudiamara.


Sudiamara mendadak sadar dengan ucapan lawannya tersebut. Tanpa ia sangka, ketika Kesanga menghindar tadi, helai cambuknya berada dalam pola dan letak tertentu di tanah, dan Sudiamara tepat berada di tengahnya.


“Rasakan Jerat Ekor Nagaku, hei Macanputih!” seru Kesanga.


Sudiamara kembali terlambat untuk menghindar. Kesanga kembali menyentak cambuk panjangnya. Gelombang tapi cambuk bergelora dengan begitu cepat, menggulung kedua kaki sampai pinggang Sudiamara sedemikian rupa. Sekali sentak lagi tubuh Sudiamara terangkat ke udara dan berputar hebat. Kesanga memainkan tubuh gempal berat lawannya itu bagai bermain gasing saja.


Sudiamara melayang di udara sebelum kembali jatuh berdebum di bumi dengan kepala terlebih dahulu. Tubuhnya terasa remuk sehingga ia mengerang. Luka sobek menghiasi kaki dan pinggangnya.


Sebuah jurus yang luar biasa. Orang biasa tanpa tenaga dalam dan keterampilan ilmu kanuragan yang terkena jurus ini mungkin telah patah seluruh tulangnya, serta mati kehabisan darah oleh luka sobek dimana-mana.

__ADS_1


Sudiamara tak berhasil bangun. Ia merasakan kepalanya luar biasa pusing meski sekuat tenaga untuk dapat segera menggunakan kuda-kudanya lagi. Ia bisa saja kembali pulih, tetapi akan membutuhkan waktu, padahal, ia tahu pasti Kesanga sedang berancang-ancang membabat habis tubuhnya. Kali ini mungkin lehernya yang akan menjadi sasaran, dan ia tak akan mampu menahannya. Nyawanya sudah diujung tanduk.


SYUT! SYUT! SYUT!


Desiran angin terdengar sampai tiga kali. Tiga anak panah dilepaskan. Salah satunya malah dilakukan oleh Koncar di sisi jauh.


Tiga anak panah menggagalkan serangan pamungkasan Kesanga. Sang Cemeti Sakti terpaksa memutarkan cemetinya untuk menggugurkan ketiga anak panah tersebut.


“Serang lagi! Hujani dengan anak panah. Kalian, ikut aku! Angkat tameng kalian, kita menyerang serentak!” perintah Koncar sembari menyerahkan busur panah yang ia pakai tadi ke anak buahnya.


Anak panah kembali beterbangan disusul dengan teriakan perang. Koncar dan anak buahnya yang masih bertahan berlari maju dengan tombak, keris dan tameng ke gelanggang pertempuran.


Sudiamara langsung menggunakan kesempatan ini untuk mengalirkan hawa murni ke seluruh tubuhnya, memulihkan luka-luka, terutama rasa pening di kepalanya. Tak lama ia sudah mulai dapat melihat dengan jelas ketika Koncar meloncat menusuk Kesanga dengan kerisnya.


Kesanga berkelit, kemudian berkelit lagi dari serangan tombak dua prajurit yang menusuk secara bersamaan.


CTAR! CRATATATAR!


Dua prajurit tadi tersentak karena pecut menghajar ke arah mereka. Tameng di depan dada sempat menahan serangan tersebut, meski mereka terdorong ke belakang. Beberapa prajurit lain yang sudah ikut maju bergantian


menusuk dengan keris dan tombak ke arah Kesanga. Tak diduga, mereka berhasil masuk mendekat dan mempersempit jarak serang Kesanga. Yang diserang menghindar dengan gesit, kemudian sempat kembali menyerang dengan pecutnya yang bergelombang. Sekali sentak saja, dua tiga serangan mengarah kepada para penyeranganya.


Untungnya, Koncar dan anak buahnya menahan serangan itu dengan tameng mereka, meski sedikit banyak lengan mereka terluka pecut atau sedikti tersobek. Koncar sendiri sudah merasa berada dalam jarak yang tepat. Ia terus memberikan perintah kepada anak buahnya untuk mundur, maju, menahan dan menyerang. Sampai saat ini, semuanya berjalan baik.

__ADS_1


“Bagus, Koncar!” seru Sudiamara. Ia kembali mengalirkan tenada dalam ke kedua kakinya, kemudian meloncat ke udara dan menyerang Kesanga dengan jurus Macan Putih Menggasak Bumi.


__ADS_2