Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Kitiran


__ADS_3

Jayaseta melemparkan belati Siam nya ke arah seorang perampok yang berniat sekali lagi menyasar seorang biksu Buddha Terawada. Bilah lancip itu meluncur lurus dan cepat menancap tepat ke dahi sang penyerang.


Begitu tiga rekannya sadar ada serangan perlawanan mendadak, mereka kini yang begitu terkejut.


Jayaseta mencabut belati tersebut dari jasad sang perampok kemudian langsung menyerang sisa teman-temannya.


Daab ganda tiga perampok yang tadi membacoki para biksu berdesing di udara. Tebasan-tebasan berselang-seling mereka dilakukan dengan sangat kasar.


Jayaseta sudah menduga jurus-jurus orang Siam ini memang memiliki ciri khas tersendiri. Tebasan pedang panjang mereka dilakukan dengan sudut-sudut menyilang dan panjang-panjang. Kerap kali untuk memperkuat daya serangan, tubuh mereka diputarkan. Bila kemampuan sang pesilat mumpuni, maka serangan-serangan semacam ini memang sangat berbahaya dan berdampak kematian pada musuhnya.


Jayaseta menyelip diantara bilah-bilah daab yang membabatnya bagai berpasang-pasang kitiran. Ketika lawan dibuat kebingungan ketika dua sampai tiga serangan dengan pedang kembar mereka, sosok dengan penutup mulut itu sudah berhasil menyobek kulit paha dan betis mereka dalam sekali tarikan nafas.


Teriakan kesakitan kini keluar dari kerongkongan para perampok, tidak hanya dari ketakutan para peniaga atau pelancong.


Ketiga perampok kehilangan keseimbangan. Seperti layaknya para pesilat Muay Boran di tanah Ayutthaya ini, mereka memerlukan gerakan mengangkat kaki seperti seekor ayam jago aduan.


Jayaseta sudah melukai mereka tepat di bagian bawah tubuh dalam sekali gerak. Ini dilakukan sembari menghindarkan diri dari setiap tebasan daab yang panjang dan ganda pula.


Gerakan Jayaseta yang lincah membuat belati yang jauh lebih pendek tetap dapat mengungguli tiga pasang daab yang panjangnya berkali lipat.


Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini, Jayaseta menderu maju, menjejak lutut satu perampok yang betisnya mengalirkan darah kental. Bunyi retak tulang tempurung lutut tidak tertutup oleh teriakan pilu sang perampok saking kuatnya. Sangat bisa dipahami karena Jayaseta sengaja menggunakan jurus Tendangan Guntur dari Selatan yang sudah mencapai taraf tinggi selama perjalanannya ini.

__ADS_1


Tidak hanya itu, jejakan Jayaseta langsung disusul dengan serangan lutut bergaya Muay Boran dan silat Tomoi yang baru saja ia pelajari ke arah perut perampok yang sama itu.


Hasilnya, sang perampok langsung tumbang ke tanah dengan wajah menubruk bumi. Entah ia tewas atau pingsan, yang jelas, sudah bisa diduga daya rusak serangan Jayaseta tersebut.


Nyatanya, ilmu silat yang dipelajari Jayaseta waktu demi waktu selalu tepat digunakan dalam pertarungan. Ia tidak mencoba-coba menggunakan jurus-jurus yang telah ia pelajari, sebaliknya kebetulan dalam kondisi tertentu, penerapan jurus-jurus baru tersebut ternyata tepat guna.


Jurus Tanpa Jurusnya selalu mampu menyerap gaya bersilat apapun.


Tanpa diduga, angin bertiup kencang dari arah sungai, membawa dedaunan kering dan bau anyir darah. Kain penutup mulut Jayaseta berkibar-kibar liat, bahkan ikut menggulung menutupi kepalanya, menyisakan sepasang mata yang menyembul dari sela-sela rekahan kain. Dedaunan kering dan debu berputar di sekeliling tubuh pendekar tak dikenal tersebut.



Dua perampok yang sama-sama menancapkan kedua daab mereka di atas tanah untuk menjaga keseimbangan tubuh akibat luka di kaki, saling pandang. Mereka jelas bingung dengan siapa yang sedang mereka hadapi ini, yang melukai kesemua dan membunuh dua dari mereka dengan beberapa kali gebrak saja.


Tapi tiada yang mampu menjawab itu semua. Hanyalah membuang banyak waktu untuk terus bertanya-tanya.


Kedua perampok itu mencabut pedang daab kembar yang tertancap ke bumi dan hampir secara bersamaan berlari maju menyerang Jayaseta dengan mengingkari rasa perih luar biasa di kaki mereka yang terus mengeluarkan darah.


Seperti yang Jayaseta duga, untuk memusatkan tenaga pada sabetan kedua pedang, serangan kedua perampok tersebut selalu dimulai dengan satu sabetan lurus dari satu tangan diikuti sabetan berputar tangan satunya.


Jayaseta sudah mengunci jurus-jurus mereka bahkan sebelum mereka memulai serangan.

__ADS_1


Jayaseta ikut memutarkan tubuhnya ke arah berlawanan, kembali menyelip diantara putaran-putaran sabetan daab musuh.


Ruang yang tercipta akibat pemahaman Jayaseta atas pola gerakan lawan itu digenapkan dengan tangan kiri yang menampar telinga satu penyerang untuk kemudian menanamkan belati Siam di lehernya.


Satu penyerang sedang dalam keadaan berputar sehingga memunggungi Jayaseta. Dengan kecepatan yang luar biasa, Jayaseta menyongsong lengan perampok tersebut, menangkap, mengunci kemudian mematahkannya.


Sudah bisa dipastikan jeritan kepiluan kembali menggema.


Jayaseta merebut salah satu daab dari lengan yang patah itu dan langsung menyabet putus kepala sang perampok.


Kepala tersebut jatuh lebih dahulu ke tanah sebelum tubuhnua menyusul ambruk ke bumi.


"Itu untuk para agamawan yang kalian bunuh," gumam Jayaseta.


Ia meraih satu daab lagi yang tergeletak di tanah serta langsung menghambur maju ke arah depan rombongan dimana para perampok masih memanen nyawa.


Suara teriakan pencegahan oleh Siam tak lagi didengar, apalagi digubris.


"Inilah susahnya berpergian bersama seorang pendekar," ujar Ireng lirih kepada Narendra, Katilapan dan Dara Cempaka. Ketiga orang tersebut tak menjawab namun saling meringis bertukar bahasa.


Lucunya, mereka sama sekali tak khawatir dengan keadaan Jayaseta. Yang mereka pikirkan hanyalah apakah rencana yang sudah mereka rancang akan bubrah dan runyam?

__ADS_1


__ADS_2