
Para warga sibuk mempersiapkan segala sesuatu di rumah betang utama di kampung di balik benteng dari kayu ulin tersebut.
Mereka mempersiapkan makanan yang ditanggung halal oleh Temenggung Beruang, berupa daging pelanduk, dua ekor kambing yang sedang dibakar, dan beragam jenis ikan sungai. Bau wangi dan aroma lezat makanan menusuki hidung Jayaseta dan rombongannya.
Ingatan Dara Cempaka yang kuat membawanya kembali ke masa kecil. Bangunan inilah dimana ia beserta rombongan kerajaan Sukadana dijamu oleh Temenggung Beruang dan warganya. Bangunan tinggi dari kayu dan kokoh itu dibangun jauh dari kandang babi dan anjing yang kerap berkeliaran di kampung.
Dara Cempaka kembali merasa bahwa jamuan yang tiba-tiba ini tak kalah heboh dengan masa lalu sewaktu ia dan Sang Datuk berkunjung ke tempat ini.
Bahkan alat-alat berirama langsung ditabuh. Dua gadis penari Daya melenggak-lenggokkan tubuh mereka ditemani bunyi petikan sapek dan balikan atau kurating, dentuman gong atau agukng, pukulan entebong yang mirip sekali dengan gendang di pulau Jawa, serta kelincahan bunyi sollokanong atau klenang.
Jayaseta merasa sangat tidak enak karena tiba-tiba terjadi penyambutan semacam ini, seakan ia adalah orang penting dari sebuah kerajaan.
"Kau tak perlu merasa tak nyaman, Jayaseta ... Itu namamu, bukan?" ujar Punyan yang kini terlihat sifat aslinya, ramah dan bersahaja. "Kedatanganmu menandakan bahaya sedang jauh. Maka warga kampung ini tanpa diperintah merayakannya. Kau lihat kedua penari itu? Mereka kerap menghibur warga setiap keadaan kampung aman dan damai. Tidak sekadar perayaan panen raya atau kedatangan orang penting," jelas Punyan.
Penjelasan Punyan tak membuat Jayaseta lebih tenang, berbeda dengan Ireng dan Siam yang terlihat sekali menikmati penyambutan ini, apalagi berhari-hari mereka harus berada di atas perahu, mendayung, dan bertanya-tanya tentang masalah apa lagi yang akan mereka hadapi. Meski mereka jelas sangat rela dan penuh kesadaran ikhlas menemani Jayaseta, tetap saja mereka benar-benar menikmati hidangan yang ada di depan mereka.
Dara Cempaka, gadis itu, bukan orang yang awam dalam hal penyambutan dan pesta. Ia bagaimanapun masih berdarah ningrat, pejabat dan abdi dalem kerajaan Melayu Sukadana. Maka, ia cukup tenang ketika akhirnya semuanya berakhir dengan baik.
Punyan memperhatikan Jayaseta dengan seksama. Ia tersenyum, Jayaseta dapat menangkapnya. "Maaf kalau aku merasa tidak nyaman, Punyan. Mungkin sudah kebiasaan dan sifatku yang kurang sering berada di dalam keramaian dan perayaan," ujar Jayaseta.
Ia kemudian memandang ke sisi lain rumah betang, sang kepala suku, Temenggung Beruang mengangguk ke arahnya, menunjukkan pemahaman yang mendalam, meski hanya memandang dari kejauhan dan tak terlibat percakapan dengan mereka, kemudian masuk ke dalam.
Jayaseta kembali memandang Punyan, kemudian mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Dari atas sini ia bisa melihat permohonan lebat, perumahan dalam perkampungan, bukit di belakang kampung termasuk ladang padi dan tanaman lainnya, serta benteng kayu tinggi yang mengitari perkampungan sejauh mata memandang.
__ADS_1
Tiba-tiba Jayaseta tersenyum. Perasaan tak nyamannya berubah menjadi sebuah ketertarikan. "Punyan, bila aku boleh menebak, benarkah jurus yang tadi kau gunakan ditiru dari gerakan seekor jenis kera?"
Punyan terhenyak, kemudian tertawa. "Wah, wah ... Kalau bukan pendekar, siapa lagi orang yang mampu menebak sebuah jurus silat dan tertarik membahasnya walau tadi ia diserang dengan jurus tersebut," Punyan menepuk pundak Jayaseta. Tindakan ini langsung mencairkan rasa tak nyaman Jayaseta hampir sama sekali. Sikap bersahabat Punyan yang berbeda sekali dengan sebelumnya, atau seperti pikirannya terdahulu bahwa orang-orang Daya penuh dengan budaya mengayau dan saling berperang, rasa-rasanya tidak tepat lagi. Kini ia berdiri berdampingan dengan seorang pemuda sakti yang bersikap dan bersifat layaknya pemuda lain.
"Untuk menjawabnya, kau harus bertarung lagi denganku. Tapi tenang, itu semua nanti setelah urusanmu dengan apai ... Maksudku, ayahku, sudah selesai," ujar Punyan bersemangat.
"Punyan, aku benar-benar berharap ayahmu dapat membantuku. Orang lain boleh melihat diriku sebagai seorang pendekar yang mandraguna dan pilih tanding, namun aku sebenarnya memiliki kelemahan dan masalah yang cukup besar," ujar Jayaseta.
Raut wajah Punyan langsung terlihat prihatin. "Tak perlu kau ceritakan itu kepadaku dulu, Jayaseta. Ayahku pasti dapat menolongmu. Andaikata kau butuh bantuanku atau warga kampung ini, kami juga akan siap," tegas Punyan.
"Mari kita bicarakan hal-hal mengenai ilmu kanuragan kembali," ujar Punyan kembali bersemangat. "Bagaimana engkau dapat membaca pergerakan jurus-jurusku? Kau bahkan dapat melemahkan serangan tenaga dalamku. Itu bukan perkara mudah. Jujur, aku tadi sempat tak terima, karena dalam pertarungan tangan kosong, jurusku yang bernama Bangkui Sakti Memecah Buah itu tak pernah lolos dari sasarannya," lanjutnya.
Jayaseta tersenyum simpul, "Itu karena jurus-jurusku tak berjurus. Aku mempersiapkan diri dengan segala apa yang terjadi, sehingga gerakanku baik pertahanan maupun serangan tak terpenjara oleh jurus tertentu. Sikap silatku akan menyesuaikan dengan serangan menggunakan jurus apapun."
"Kau terlalu berlebihan, Punyan. Tapi aku setuju, ada baiknya bila waktunya tepat, kita dapat kembali berbagi ilmu," ujar Jayaseta kali ini dengan senyum lebar dan lepasnya.
***
Dua jung besar dari Betawi siap berangkat ke Sukadana di pulau Tanjung Pura. Satu jung berisi prajurit Walanda dan para pejabat benteng yang ditugaskan mengurusi perdagangan di Sukadana. Satunya, yang akan berangkat esok hari, berisi para pedagang, budak dan pekerja bangunan.
Dua orang itu memilih untuk berlayar dengan kapal yang kedua. Mereka bahkan tidak mau terlihat para pasukan Walanda yang terdiri atas orang-orang bule, Ambonia dan Jawa.
Yu mengenakan pakaian bergaya Melayu yang biasa dikenakan orang-orang di Betawi. Rambutnya tidak digulung seperti orang Cina Ming biasa, namun dibungkus dengan penutup kepala seperti orang-orang Jawa atau Banten. Pratiwi sendiri tidak sulit untuk menyamar sebagai seorang laki-laki, anak buah sang tuan Cina. Tubuhnya yang ramping memudahkannya menyembunyikan sepasang payuda*ranya dibalik baju lengan panjang bergaya Jawa atau Banten tersebut.
__ADS_1
Tak banyak yang mereka bawa, namun Yu dipastikan memiliki banyak bekal berupa keping-keping uang yang telah ia tabung lama. Pratiwi tak perlu khawatir kekurangan uang atau keperluan, Yu yang menanggungnya semua.
Mereka sedang melarikan diri dari para prajurit atau serdadu Walanda karena dianggap sebagai pemberontak dan penjahat.
Melarikan diri ke Sukadana, jelas memiliki alasan yang lain. Yu ingin membawa Pratiwi mencari kabar tentang hidup sang kakek, Karsa, selain, mungkin sekali Pratiwi bersungguh-sungguh ingin membunuh Jayaseta, orang yang dahulu ia cintai.
Yu tak pernah berniat membantu Pratiwi dalam hal ini, tapi toh Pratiwi dalam keadaan seperti ini tak mungkin mampu mengalahkan sang pendekar, itupun bila mereka bisa menemukan laki-laki itu di pulau yang begitu luas dan lebat dengan hutan.
Yu hanya membawa Pratiwi demi kepentingannya sendiri sepertinya. Menyenangkan hati Pratiwi sama saja menyenangkan dirinya sendiri. Ia juga merasa sudah terlanjur basah dalam usaha merebut hati Pratiwi.
Kini mereka berlayar berduaan, keduanya saling membutuhkan, walau Yu tak yakin apakah karena Pratiwi hanya mau tak mau, atau benar membutuhkannya. Yu tak peduli lagi, ia sudah kepalang basah untuk semua ini. Ia bahkan sudah membunuh orang. Tak ada bedanya dengan jawara dan pendekar-pendekar yang dari awal dahulu tak benar-benar ia hormati karena mungkin bertentangan dengan sifat pekerjaannya sebagai tabib yang mengobati, bukan melukai atau mencelakai.
Pratiwi duduk bertekuk lutut bersender di tepian geladak jung. Ia banyak diam setelah terakhir kali bertarung di Betawi. Kekuatannya masih tak pulih seutuhnya, walau dengan menjadi lebih tenang dan tertib meminum obat serta menjalani pengobatan Yu, keadaan jasmaninya berangsur membaik.
Yu masih melihat seorang gadis yang luar biasa memesona dalam diri Pratiwi, bahkan ketika ia mengenakan pakaian bergaya laki-laki. Saat itu memang tidak mudah bagi seorang perempuan untuk bepergian ke luar daerah dengan kapal. Jalan satu-satunya adalah dengan menyamar sebisanya. Lagipula mereka toh memang sedang dikejar orang-orang Kompeni.
Pratiwi terlihat jauh lebih kalem dan damai. Yu merasakan perasaan yang begitu rumit mengenai hal ini, kerena bagaimanapun Pratiwi tetap sulit dibaca, bagai batu karang yang berdiri tegak diterjang ombak.
Melihat Yu memperhatikannya, Pratiwi bangun berdiri kemudian menatap laut yang tak bertepi. Yu mendekat ke arahnya.
Tanpa memalingkan muka ke arah Yu, Pratiwi berkata, "Sesampainya di Sukadana, aku mau kau mengawiniku. Itu juga bila kau masih berminat. Aku tak akan mengucapkannya dua kali, Yu."
Yu tak dapat berkata apa-apa. Seakan ombak besar datang menggulungnya dan membuatnya tengelam ke dasar lautan terdalam.
__ADS_1