
Jayaseta dan rombongannya kembali menaiki perahu selama beberapa hari. Mereka tidak bisa berhenti karena khawatir akan dikejar pasukan atau kumpulan pendekar lain yang berhubungan dengan Dunia Baru bisa saja nekat terus mencari masalah dengan dirinya.
Di atas perahu ini, mau tidak mau Jayaseta menjadi seorang manusia biasa, malah bagai barang selundupan belaka. Dia bisa gagah, berwibawa dan menakutkan di atas tanah, tetapi di atas air, Jayaseta harus sadar diri. Dara Cempaka berkali-kali harus menenangkannya bila perahu mereka digoyang arus besar, misalnya mendekat pertigaan atau perempatan dan tikungan sungai dimana arus memang sangat kuat. Dengan sedikit geli dan gemas, Dara Cempaka memeluk sang suami dan memberikannya ketenangan.
Sebaliknya, ketika mereka harus menginap di daratan, Jayaseta yang telah menjadi seorang pendekar kembali, menggunakan tenaga dalam murninya untuk membantu membuat Dara Cempaka merasa nyaman. Dara Cempaka memang tidak merepotkan sama sekali. Selain karena Jayaseta tidak pernah lalai dalam memberikan perawatan dengan tenaga dalamnya, sang perempuan muda itu juga tidak pernah mengeluh. Perjalanan untuk mengobati penyakitnya ini sangat ia sadari bahaya dan permasalahannya. Oleh sebab itu, mengeluh cengeng bukanlah pilihannya. Dara Cempaka bangga dapat menjadi seorang istri Jayaseta yang dapat membuat laki-laki pendekar itu nyaman dan tidak melulu khawatir.
Namun, Dara Cempaka tidak tahu bahwa Jayaseta pun sejatinya sedang dikelilingi pikiran yang membelenggu otaknya. Almira. Nama itu membuatnya begitu khawatir terutama ketika Siam menyebutkannya.
Ia tak mau begitu saja percaya dengan ancaman Siam. Para pendekar dari Dunia Baru semuanya penuh kelicikan. Ia juga paham dengan beragam kelicikan yang dilakukan orang untuk mendapatkan keinginannya. Mungkin dengan menggunakan nama Almira, Jayaseta akan hilang kendali dan pada akhirnya merugikan dirinya sendiri. Meski ia tidak segampang itu dapat dikalahkan karena pemusatan pikirannya terganggu, tetap saja tak pelak, ia terlanjur memikirkan beragam kemungkinan buruk itu.
“Istrimu punya banyak prajurit, Jayaseta. Waktu aku, Katilapan dan Sasangka membantu Almira, kami jadi saksi lapisan pertahanan para pengawal. Memang, saat itu lawan yang mereka hadapi bukan sembarangan, tapi sekarang, pastilah mereka sudah banyak belajar dari kejadian-kejadian sebelumnya. Mereka makin sadar seberapa penting menjaga Nyai mereka itu,” ujar Narendra suatu kala ketika mereka memiliki waktu berdua.
Jayaseta pun memikirkan kemungkinan baik tersebut. Bagaimanapun Almira memiliki Jaka Pasirluhur pula yang bisa menjadi mata tombak pasukan-pasukannya. Bila tidak, toh mungkin mereka telah memutuskan sesuatu untuk menghindari masalah ini. Pikir Jayaseta.
“Ah, aku iri denganmu, Jayaseta. Kau memiliki dua istri yang sama cantik dan sama hebatnya. Ada dua yang kau khawatirkan. Kalau aku? Bahkan diriku sendiri tidak aku pikirkan,” lanjut Narendra.
Jayaseta tersenyum, paham bahwa Narendra bercanda sembari menghiburnya.
__ADS_1
“Lalu, kau yakin tak mau melengkapi istrimu dengan dua perempuan lagi? Satu dari Siam, satu lagi mungkin Champa, atau Cina, atau kau mau yang berkulit pucat macam orang-orang bule Walanda atau Pranggi? Empat sekalian, pas buatmu, wahai raja kecil, Pendekar Topeng Seribu yang tak terkalahkan,” canda Narendra.
Jayaseta tak tahu harus membalas apa. Ia hanya tertawa.
“Jangan cuma tertawa kau, Jayaseta. Nanti diam-diam kau beristri lagi,” lanjut Narendra belum mau menyerah.
“Aku pikir malah kau yang dapat istri orang Siam, Kang. Kulihat kau tertarik melihat perempuan-perempuan berambut cepak yang dicukur sama dengan laki-laki di tempat ini. Jujur, mereka banyak yang cantik. Kau juga sudah berlayar sampai ke penghujung bumi, mana mau kau dengan perempuan Jawa, Pasundan, Madura atau Melayu berambut panjang dan digelung. Bosan kau dengan mereka, Kang,” balas Jayaseta.
“Ah, lihat, lihat. Pendekar ini sudah pandai bercanda rupanya. Aku kalah jauh dibanding dirimu, Jayaseta. Ilmu kanuragan aku kalah, soal pasangan apalagi. Soal pengalaman, ini buktinya kau sedang meniti petualangan. Aku ikut kau saja, Jayaseta,” ujar Narendra. Ia memang bercanda, tetapi sebenarnya ucapannya berasal dari dalam hatinya yang jujur. Jayaseta selalu menjadi panutan dan tokoh yang ia abdi.
Narendara dan Katilapan juga menjelaskan kepada Jayaseta bahwa sungai-sungai kecil ini kelak akan menuju ke sungai utama, Chao Phraya, yang pada akhirnya menuju ke pusat negeri dan ibukotanya, Ayutthaya. Bisa dikatakan bahwa Ayutthaya adalah sebuah kerajaan yang dapat dituju dari berbagai arah karena aliran sungai memang mengarah kesana.
Beberapa kali mereka berhenti di pemukiman warga, terutama yang memiliki pasar. Dara Cempaka dan Ireng yang menggunakan kemampuan berbahasa mereka, meski terpatah-patah, untuk berbicara dengan para penduduk dan penjual. Narendra dan Katilapan sendiri kerap memberikan bantuan. Ada kosakata tertentu yang mereka dapatkan selama bekerja sebagai pengawal kapal dan jung dagang di masa lalu.
Jayaseta sangat bersemangat tatkala sudah masanya untuk membeli makanan, bukan sekadar bahan makanan, di sebuah tempat. Apakah itu kampung, pasar atau pinggiran kota di bagian pesisir.
Sejatinya, rombongan ini pun paham bahwa makanan-makanan orang-orang Siam di kerajaan Ayutthaya ini memiliki hubungan dan persamaan dengan jenis makanan di Kamboja, Melayu dan tentunya nusantara. Sama seperti orang-orang Jawa, penggunaan bumbu dan rempah dipelajari oleh orang Siam dari Hindustan, selain kemudian mendapatkan pengaruh dari pedagang-pedagang serta tamu asal Cina.
__ADS_1
Pengaruh orang bule dimulai tahun 1511 Masehi ketika suruhan kenegaraan dari Pranggi datang ke Ayutthaya. Dikenallah di kerajaan sebuah makanan bernama foi thong, yang digubah dari fios de ovos Pranggi.
Ada pula makanan-makanan yang dibawa oleh Maria Guyomar de Pinha, seorang perempuan yang berdarah campuran Jepun, Pranggi dan Hindustan dari Bengal yang lahir di Ayutthaya. Ini mengingat ada wilayah tempat tinggal orang-orang Jepun dan Pranggi yang berdekatan di dekat ibukota negara. Ia adalah istri dari Constantine Phaulkon, seorang bule Yunani yang dijadikan penasehat raja Narai yang kelak menjadi raja Siam dan mencapai keemasannya. Saat ini, Narai masih merupakan putra mahkota.
Maria Guyomar de Pinha lah yang kelak memperkenalkan cabai yang dibawa dari Amerika sejak abad ke-16 Masehi lalu. Cabai dibawa oleh orang-orang Pranggi dan Espanyola yang menjajah Kolombia di benua Amerika saat itu. Mereka membawa dan memperkenalkan tomat, jagung, pepaya, terong, labu dan kacang-kacangan sebagai pertukaran dengan bahan makanan dari Siam.
“Aku tak yakin kau mampu makan yang sepedas itu, Jayaseta. Makanan dari cabai ini,” ujar Katilapan menantang Jayaseta sembari menunjuk pada satu tempat penuh dengan makanan berwarna merah terang.
Memang cabai baru dibawa oleh orang Espanyola ke nusantara sekitar abad ke-15 Masehi oleh Ferdinand de Magellan, dimana orang itu tewas di negeri darimana Katilapan berasal.
Jayaseta mengangkat kedua bahunya, memandang Dara Cempaka yang tersenyum jenaka. “Kau mau coba, Dara?”
“Adik ikut abang saja,” jawabnya.
Jayaseta meminta Ireng untuk membeli makanan tersebut.
__ADS_1