
Jayaseta menderu dengan cepat. Ia terpaksa harus menggunakan tenaga dalam lagi untuk menunjang ilmu peringan tubuh. Jayaseta benar-benar tidak terlalu suka terus-terusan menggunakan tenaga dalamnya. Ia lebih percaya kepada kemampuan badiniah dan ketrampilan raganya ketimbang harus terus-menerus mengeluarkan tenaga dalam yang memerlukan usaha dan pemusatan pikiran yang lebih. Namun, kali ini ia harus mendapatkan sosok pemimpin perompak Champa yang melarikan diri tersebut. Bila tidak, perjalanannya akan semakin terancam marabahaya.
Jayaseta menyibak dedaunan, ilalang dan ranting-ranting pepohonan. Tubuhnya bak melayang terbang, melompat dari satu batang pohon ke pohon lainnya dengan begitu cepat.
Sebenarnya bahkan tanpa dihadang sang sosok tak dikenal pun, jiwanya belum tentu selamat mengingat Jayaseta melaju dengan begitu gesit dan cepat bagai menyelip diantara angin saja.
Beberapa langah kemudian Jayaseta berhenti. Ia telah mengendus sesuatu yang tidak biasa di tempat ini. Ia melihat ceceran dan lelehan darah yang menempel di dedaunan. Kepekaan kependekaraan Jayaseta langsung bekerja. Ia melihat sekeliling dan meneliti sekitar. Beberapa ranting patah dan dedaunan terkoyak. Jayaseta semakin menajamkan panca indranya, kemudian menyibak tetumbuhan lebat di sekitarnya.
Ia masih sangat hati-hati untuk tidak mendapatkan serangan mendadak dari lawan yang tersembunyi, atau kemungkinan apapun yang terjadi.
Sosok tubuh sang pemimpin perompak Champa didapatkan telah terbaring di sela-sela pepohonan dan akar tanaman. Tubuhnya dalam keadaan yang sangat memprihatinkan. Lehernya terkoyak begitu lebar bagai diserang binatang liar sehingga darah seakan telah habis kering tertumpah ke tanah. Begitu pula dengan dadanya yang hancur jebol berantakan bagai digodam dengan palu baja yang begitu berat. Perimpin perompak Champa yang Jayaseta kejar itu ternyata telah tewas. Kematiannya dilakukan oleh orang lain dan kini yang menjadi pertanyaan terbesar Jayaseta.
__ADS_1
Siapa gerangan yang melakukan hal ini, dan mengapa? Tidak hanya tewas dibunuh, jasad Lâm nampak diseret dari tempat kejadian dan dibuang ke tempat tersebut. Itu bisa dilihat dari ceceran dan lelehan darahnya. Nampaknya ada orang yang ikut campur urusannya dengan para perompak.
Suara gemerisik terdengar. Jayaseta berbalik arah dan siap menyerang bayangan satu sosok yang muncul tiba-tiba di belakangnya.
“Jangan serang kami, Tuan Jayaseta!” seru Ireng. Kedua tangannya disilangkan ke depan wajah untuk melindunginya dan ia mundur selangkah.
“Ireng?!” ujar Jayaseta.
Tak lama muncul pula satu sosok di belakang Ireng menyusul kehadirannya.
“Tuan Jayaseta, kau kah itu? Kami menemukan mayat orang itu tadi. Apakah dia salah satu dari para perompak Champa, tuan?” ujar Siam.
__ADS_1
Jayaseta menarik nafas. Ia memandang kedua temannya itu, kemudian ke mayat Lâm. “Bagaimana ceritanya kalian bisa sampai ke sini?” tanya Jayaseta.
“Ah, kami sengaja mendahului robongan kita, tuan Jayaseta. Narendra, Katilapan dan yang lainnya berjaga-jaga bersama para pemburu Thai. Ketika kami sampai di tempat ini, sosok itu sudah tewas,” ujar Siam kemudian. “Benar ‘kan, Ireng?”
“Iya, benar, tuan Jayaseta. Kami juga sebenarnya diminta untuk memastikan keberadaan tuan Jayaseta agar bisa menjelaskan pula dimana rombongan kita berdiam. Agar tidak menjadi kesulitan untuk menemukan mereka. lagipula, dalam keadaan seperti ini, siapa saja bisa dicurigai. Bukankah begitu, tuan Jayaseta? Lanjut Ireng.
Jayaseta mengangguk. “Baiklah, aku paham. Kita sudah selesai dengan mereka, para perompak kelompok Dunia Baru tersebut. Orang-orang Annam dan Champa terpaksa aku habisi dibanding kita akan terus dirongrong oleh mereka. sekarang sebaiknya kita kembali dan melanjutkan rencana dan perjalanan sebelum siang menjelang. Kita harus mencari tempat yang baik untuk menginap karena siang akan segera datang. Aku tidak mau menghadapi masalah lagi hari ini, sudah cukup. Sebisa mungkin kita menghindar,” ujar sang pendekar.
Ireng dan Siam mengangguk mantap kemudian berbalik arah.
Jayaseta memerhatikan mereka berdua. Masih ada banyak pertanyaan sebenarnya tentang kejadian hari ini. Kedatangan kedua abdi itu jelas mengagetkannya. Mengapa keduanya sampai perlu menyusulnya, bahkan mendahuluinya. Padahal, mereka bisa saja benar-benar mencari letak pertempurannya. Keduanya juga sedari awal, sewaktu mereka masih di pulau Tanjung Negara, menawarkan diri mereka untuk selalu mengikuti perjalanannya. Tidak seperti Narendra dan Katilapan, sebenarnya, bila dipikir-pikir, Jayaseta tidak mengetahui banyak latar belakang kehidupan keduanya.
__ADS_1
Di balik topeng baja tipis pasukan Thai nya, kening Jayaseta mengkerut ketika melihat ke arah dua orang abdi yang berjalan mendahuluinya tersebut. Ada darah kering di ujung jari-jari Ireng.