
Jayaseta mengikuti arah tarikan jala yang melingkupi tubuhnya. Kail-kail besi masih mengait ke balik kulitnya, darah pun mewarnai jalan dari cincin-cincin besi tersebut. Bila tak ia ikuti tarikan keras Jala Jangkung sang nakhoda pendekar, bisa-bisa kulitnya akan sobek.
Di depannya, Jala Jangkung sendiri telah meluruskan tembak brongsong nya dan siap menyambut mangsa.
Jayaseta menyembulkan tongkat rotannya melalui sela-sela jaring. Tangan satunya yang bebas menggenggam untaian cincin besi jala.
Jala Jangkung tak bergerak, hanya tangan kirinya yang menarik Jayaseta ke arah tombaknya.
Tombak dengan kaitan itu kemudian meluncur lurus langsung mengarah ke bagian atas tubuh musuh.
Jayaseta berekelit. Mata tembak menubruk jaring cincin besi jala. Jala Jangkung menarik dan menusukkan kembali sampai dua kali berturut-turut dengan cepat. Jayaseta berkelit, membuat kulitnya semakin koyak oleh mata kail.
Inilah rupa-rupanya jurus Tombak Kilat Pelebur. Tusukan yang cepat bak kilat, merupakan akibat padu padanan dengan sasaran yang tertarik ke arah Jala Jangkung.
Jayaseta langsung paham ciri jurus ini. Maka pada tusukan yang keempat, Jayaseta kembali berkelit, nakun kemudian menyelipkan tongkat rotannya di bagian belakang pengait tombak dan menguncinya.
Jayaseta kemudian berputar dengan cepat ketika Jala Jangkung tak dapat menarik kembali tombaknya. Kali ini Jala Jangkung yang malah tertarik ke arah Jayaseta.
Dalam putaran yang cepat itu, Jayaseta berhasil meloloskan jala cincin besi dari tubuhnya meski dengan mengorbankan beberapa bagian kulit yang terkoyak.
Jala Jangkung hampir saja terpelanting oleh tarikan dan gerakan jurus menghindar, mengunci sekaligus meloloskan diri Jayaseta yang luar biasa rumit dan aneh, namun terbukti sangat berdaya guna.
Jayaseta sudah kembali berdiri dengan kuda-kuda santainya. Tangan kirinya yang bebas menghapus darah yang keluar dari beragam sudut tubuhnya. Ia memandang Jala Jangkung. Pandangan keduanya berserobok. Jala Jangkung memegang tombaknya dengan erat serta memperhatikan jalanya.
Baru kali ini ada lawannya yang bisa lepas dari jalanya. Ia pernah menghadapi lawan dengan kemampuan baik sehingga sulit sekali untuk menjebaknya dengan jala. Orang itu bergerak cepat dan hampir tak dapat diramalkan pergerakannya. Namun, ketika ia telah berhasil dijaring, tak butuh waktu lama untuk menuntaskan pertarungan dengan jurus Tusukan Kilat Pelebur melalui tombak brongsong berkaitnya.
Tapi, Jayaseta jelas bukan salah satu dari lawan-lawannya yang lalu. Tak ambil pusing lagi, Jala Jangkung kembali bersiap menyerang.
__ADS_1
Pandangannya lurus mengunci mata Jayaseta. Ia tak mau Jayaseta tahu kapan ia akan melepaskan jalanya kembali. Jurus Tusukan Kilat Pelebur sebenarnya adalah satu bagian dengan jalanya. Kedua senjata menyerang cepat bagai kilat dan melebur menjadi satu kesatuan.
Jayaseta paham ini.
Ia bergerak maju ke depan lebih dahulu, mengagetkan Jala Jangkung. Semula sang nakhoda pendekar beranggapan bahwa lawannya akan menunggu serangan darinya dan mencari cara agar dapat menghindari lemparan jala agar tak terjebak kembali. Nyatanya, Jayaseta memutuskan untuk menyerang terlebih dahulu.
Jala Jangkung mundur namun kemudian menusukkan tombaknya. Jayaseta berkelit dan berputar, namun tetap berusaha mendekat.
Jala Jangkung kembali mundur namun ke arah samping kiri. Sembari mundur ia menusukkan lagi tombak dan menariknya cepat ketika mata tombak brongsong itu tak berhasil mengenai sasaran, berharap kaitannya dapat menyobek tubuh musuh.
Namun seperti biasanya, Jayaseta mampu berkelit berputar-putar sehingga serangan tarikan tombak itu juga gagal.
Jayaseta kemudian tak mau menunggu gerakannya terus menerus disambut serangan tusukan jurus Tombak Kilat Pelebur yang cepat itu.
Jayaseta memutuskan melakukan sebuah gerak tipuan dengan berpura-pura akan maju, namun menahan langkahnya, mundur dan berguling ke samping dengan cepat. Ia melemparkan batang rotannya ke arah kaki lawan dalam keadaan jongkok.
Kemampuan ilmu lempar Jayaseta sudah disepuh lama, maka batang rotan itu menghajar mata kaki sang nakhoda dengan keras.
Jala Jangkung jatuh berlutut. Jayaseta meloncat seperti terbang, menggunakan Tendangan Guntur dari Selatan tepat ke kepala musuh.
Jala Jangkung mengangkat lengan kirinya secepat mungkin. Tendangan Jayaseta menubruk jala cincin besi namun menembus ke bahu sang nakhoda.
Jala Jangkung menggelinding ke samping sampai tiga kali. Bahunya serasa retak. Ia mengeluh, karena tidak hanya karena tendangan itu, namun kail-kail besi juga menancap di beberapa bagian di bahu dan lengannya.
Kakek Keling terkekeh dan memandang ke arah Datuk Mas Kuning, "Aku rasa anak itu sedang pamer kepadaku, Mas Kuning. Jurus lemparan dan tendangannya itu berasal dariku," ujarnya kembali terkekeh.
Datuk Mas Kuning hanya tersenyum. Namun kemudian ia membalas, "Kau boleh bangga pernah menjadi gurunya, Bharata. Tapi tak mungkin lebih bangga dari aku yang menjadi kakek menantunya," ujar Datuk Mas Kuning yang kini balas terkekeh.
__ADS_1
Kakek Keling langsung terdiam. Wajahnya terlihat bingung dan ia mengernyitkan keningnya, "Apa maksudmu, Mas Kuning?"
Datuk Mas Kuning tak membalasnya. Ia masih terus terkekeh, membuat Kakek Keling menjadi semakin penasaran dan sedikit kesal.
Dalam pada itu, Jayaseta sudah kembali memungut batang rotan nya. Jala Jangkung menarik paksa jala yang menjadi senjata makan tuan itu. Ia berteriak kesakitan sekaligus geram. Darah perlahan mengucur dari luka-luka kecil namun menyakitkan tersebut. Ia tak menyangka bahwa tendangan Jayaseta begitu keras, bertenaga dan cepat. Ia meludah ke lantai, menggerak-gerakkan bahunya yang terasa kebas sekaligus ngilu itu. Gemerincing cincin-cincin besi dari jalanya terdengar kembali.
Jayaseta tak menunggu waktu lagi, ia menyerbu menyerang. Sang nakhoda mundur, menaikkan jalanya sebagai tameng, dan menarik tombaknya sebagai pertahanan dan serangan balasan. Ia menduga Jayaseta akan melemparkan batang rotannya kembali.
Tapi ia lagi-lagi salah besar.
Jayaseta melompat dan memukulkan rotannya ke jala lawan. Dua kali dari atas, dua kali menyilang dan dua kali menyamping ... Dengan cepat.
Hempasan rotan menghajar lengan dan bahu bahkan dada Jala Jangkung di balik pertahanan jalanya tersebut. Ogah menjadi bahan bulan-bulanan, Jala Jangkung menusukkan tombaknya. Jayaseta bergeser. Mata tombak lolos. Namun ketika Jala Jangkung menariknya, Jayaseta menahan tombak itu dengan menyelipkan rotan di belakang pengait. Jayaseta berputar dengan memainkan pinggulnya kemudian menyentakkan lengannya.
Jala Jangkung terbanting. Tombaknya lepas, begitu juga dengan jalanya.
"Nah, itu gaya silat gayong dariku, Bharata," seru Datuk Maa Kuning keras ke arah Kakek Keling. Ia tidak hanya terkekeh, namun tertawa lantang.
"Kau masih belum menjawab pertanyaanku, Mas Kuning. Apa yang kau maksud kakek mertua Jayaseta?" balas Kakek Keling yang hanya dijawab dengan tawa yang lebih keras.
Sedangkan Jayaseta yang melihat bahwa musuhnya telah terbanting terpelanting, kemudian mencoba berdiri, langsung kembali menerkam.
Jayaseta memapras bahu kiri dan kanan, dada, paha, lutut dan tulang kering Jala Jangkung dengan kecepatan luar biasa. Khusus untuk kaki, Jayaseta mengerahkan sedikit saja tenaga dalam melalui tangan kanannya dan menyabet sampai empat kali ke betis dan punggung kaki Jala Jangkung.
PRAK, PRAK, PRAK, PRAK!!!
Teriakan perih nan memilukan keluar dari mulut Jala Jangkung sang nakhoda pendekar jala dan tombak berdapur brongsong pengait menggema di angkasa. Tubuh sang nakhoda rubuh.
__ADS_1
Katilapan mendadak bersorak. "Kalau itu dariku ... Dariku ...," ujarnya sembari menepuk-nepuk dadanya bangga. "Sundang Majapahit namanya!" teriaknya. Rupa-rupanya Katilapan memperhatikan percakapan saling pamer dan bangga kedua guru Jayaseta tersebut tadi, dan ia tak mau kalah. Beberapa orang, termasuk Kakek Keling dan Datuk Mas Keling melihat ke arah si pemuda pendekar itu dan menggelengkan kepala mereka hampir serentak.
Di sisi lain, Jayaseta dengan gesit meraih tombak sang nakhoda yang terlempar di lantai geladak kapal. Ujung matanya telah melihat wajah pucat pasi sang bule Pranggi. Perwira prajurit bule itu sudah mengarahkan kedua pistol nya ke arah dirinya. Jayaseta mengangkat tombaknya sejajar dengan kepalanya, kemudian siap melesatkan ke arah sang bule.