
Bukan hanya Jipen dan Kumang yang merupakan budak, dan bekas budak, masih ada belasan orang lagi yang selama tinggal di kampung dibawah pimpinan Temenggung Beruang ini bekerja tanpa bayaran, terus-menerus melakukan pekerjaan rumah tangga, ladang atau pembangunan hanya demi makan dan keselamatan mereka sendiri.
Sekarang mereka bebas. Hanya saja, kurang dari separuh jipen atau para budak yang memutuskan untuk menggunakan kebebasan mereka sebaik-baiknya, pergi meninggalkan kampung. Sisanya, merasa tak memiliki kehidupan dan masa depan lagi, selain dendam kesumat karena tercerabut dari asal mereka.
Kini para jipen yang tersisa mengambil parang mereka, beberapa memungut do atau tombak dari prajurit Daya kampung yang telah tewas.
***
Do Temenggung Beruang masih menderu-deru dengan cepat, membabat kesana kemari. Sang pemilik ajian gaib itu sendiri berdiri di tengah tanah lapang mengangkat kedua tangannya, mengatur terbangnya do dari sana.
Para prajurit Biaju seperti bertarung sendiri, sibuk menahan kibasan do dengan perisai atau menghindar sebisa mungkin. Kembali, korban bertambah dua, tewas terbacok do di beberapa bagian tubuh mereka. Ini tak mungkin berjalan terus seperti ini, atau sebentar lagi, bisa-bisa semua prajurit Biaju akan tewas begitu saja.
"Lawan aku, Beruang! Aku di sini. Aku lah lawan sejatimu!" teriak Panglima Asuam menggema. Do kembali ke tangan Temenggung Beruang.
Panglima Asuam langsung muncul sesegera mungkin dan secepat yang ia bisa begitu mendengar kemunculan Temenggung Beruang beserta sepak terjangnya memporakporandakan prajurit-prajurit Biaju.
Panglima Asuam jelas jauh lebih muda dari Temenggung Beruang. Usianya diperkirakan akhir empat puluhan tahun, menghadapi sang Temenggung yang sudah bisa dikatakan sepuh dan tetua.
Namun, apalah arti umur. Bukankah jelas-jelas diketahui bahwa Temenggung Beruang adalah seorang pendekar dan petarung yang sangat berbahaya?
Panglima Asuam mengambil sesuatu dari kantong kulit di pinggangnya, memasukkan ke mulut, mengunyahnya sembari menggumamkan mantra.
Para prajurit Biaju mundur, paham akan apa yang sedang terjadi. Pertarungan antar dua pemimpin yang sakti itu tak bisa dihindarkan.
***
Siam dan Ireng keteteran menghadapi para pengeroyoknya. Keduanya terluka di beberapa bagian di tubuh mereka. Bila mengingat bahwa Panglima Asuam tak sudi mencurahkan darah mereka, itu sudah merupakan keberuntungan yang luar biasa. Alasan lain adalah saat tiba-tiba seorang prajurit Biaju datang berteriak-teriak mencarinya dan mengatakan mereka telah menemukan Temenggung Beruang yang saat itu sedang membuat pasukan kocar-kacir.
Maka, Ireng dan Siam ditinggalkan oleh sang Panglima. Dalam hitungan beberapa tarikan nafas, keduanya sudah pasti akan tewas dikeroyok dan dicincang habis.
Saat itu lah Jayaseta datang dan membalikkan keadaan. Sosok pendekar pilih tanding yang mengenakan topeng itu bergerak dengan begitu gesit, menyobek perut satu prajurit dan menorehkan luka membujur dan menyilang di dada dua prajurit lagi. Sisa tiga prajurit berlari mundur menghindari keganasan Jayaseta.
"Ireng, Siam, tolong bantu aku mencari Dara. Aku harap ia tak terluka atau tertawan oleh musuh. Maaf harus membuat kalian menjadi repot kembali," pinta Jayaseta.
__ADS_1
Ireng dan Siam jelas sama sekali tak keberatan dengan permintaan sang pendekar. Baru saja orang ini menyelamatkan nyawa mereka, tentu membantunya adalah sebuah keniscayaan. Apalagi terutama hal ini berkaitan dengan Dara Cempaka.
***
Do yang terbang ke arahnya ditepis dengan tangan kiri yang telanjang. Do tersebut terpental tanpa melukai sama sekali tangan yang menangkisnya. Rupa-rupanya Panglima Asuam telah merapal ilmu kekebalan dan memancing tenaga dalam gaib tersebut menggunakan bahan yang terkandung dalam tanaman yang sedang ia kunyah tersebut.
Do kembali melayang ke tangan Temenggung Beruang yang memandang lurus ke arah lawannya dengan kedua bola matanya yang seputih tulang.
Panglima Asuam juga terlihat menjadi lebih ganas dibanding sebelumnya. Wajahnya memerah dan mulutnya terus mengunyah.
Ia memberikan tanda kepada prajuritnya yang langsung datang dan menukar do sang Panglima dengan sebuah senjata lain.
Nama senjata itu adalah Parang Pandat, meski ada pula yang menyebutnya dengan Kamping, Parang Pandat atau Do Tangkitn.
Bila dibandingkan dengan do, jelas salah satu senjata tajam orang Daya ini cukup berbeda. Parang Pandat memiliki bilah yang pendek, berat, bersisi tajam satu dengan gagang terbuat dari besi atau tanduk rusa. Sedangkan senjata yang diberikan oleh prajurit Biaju ini terbuat dari besi.
Jenis pedang ini tidak memiliki pelindung gagang sejati atau sebenar-benarnya, melainkan sebuah palang kecil terbuat dari besi atau tulang yang dibuat menyilang di tengah gagangnya.
Setelah merasakan genggamannya pada Parang Pandat ini sudah kokok, sang Panglima melesat maju menyerang dengan cepat ke arah Temenggung Beruang.
Pertarungan ini memiliki kecepatan dan kekuatan yang tak bisa digambarkan. Kedua licin bagai belut namun liat dan kuat bagai badak.
Panglima Asuam membabat dada, leher dan kepala Temenggung Beruang, dan sebaliknya.
Dua sampai tiga serangan awal dihindari oleh Temenggung Beruang dengan berkelit cepat. Parang Pandat menderu-deru, bahkan memberikan bunyi yang benar-benar dapat didengar oleh semua orang yang ada di sekitar medan pertarungan.
Temenggung Beruang awalnya masih belum memberikan serangan balasan, sampai sabetan keempat dan kelima mengenai lengan atas dan bahunya.
TAK!!
TAK!!
__ADS_1
Parang Pandat seakan membabat batu gunung. Kulit keriput sang Temenggung tak terluka sama sekali. Kekebalan ternyata juga bukan hal yang tidak awam dan lumrah bagi kedua pemimpin kelompok ini.
Temenggung Beruang akhirnya tak mau repot-repot menghindari serangan Panglima Asuam. Ia membiarkan dua bacokan lagi bersarang di tubuhnya. Balasan sang Temenggung akhirnya membentur pinggang dan bagian bawah tubuh Panglima Asuam.
Dalam tiga jurus, keduanya sama-sama jual beli sabetan dan bacokan senjata tajam. Percikan api terlihat ketika sekali dua bilah besi bertubrukan.
Secara kasat mata dapat dilihat bahwa kedua petarung berada dalam dunia yang berbeda. Para prajurit membayangkan akan butuh kurang dari dua jurus bagi mereka yang tak berilmu kebal sebelum tubuh mereka terpotong-potong dan tewas dalam beberapa bagian.
Hanya saja, bagi orang yang berilmu rendah, pertarungan saling bacok ini seperti seimbang saja, dimana kedua petarung tak tertembus senjata masing-masing sehingga akan sulit untuk bisa dilihat siapa yang lebih unggul.
Padahal, Temenggung Beruang jelas lebih unggul. Serangan do nya menyasar ke beragam bagian di tubuh Panglima Asuam. Kekuatan serangan dan ketepatan sang Temenggung membuat Panglima kepayahan. Walau tubuhnya kebal, ada bagian tertentu dari tubuhnya yang merupakan sebuah kelemahan, yang sedang dicari Temenggung Beruang.
Sang Panglima sendiri merasakan Parang Pandatnya hanya menyabet dan mencoba memotong bongkahan batu gunung, sama sekali tak dapat menembusnya.
Benar saja, Panglima Asuam hilang keseimbangan dan memilih untuk berguling ke belakang secepat mungkin. Darah berceceran dari luka di paha bagian dalam nya. Itulah letak kelemahan sang Panglima.
***
Beberapa perahu jukung merapat ke tepian sungai tak jauh dari benteng kayu ulin dengan perlahan.
Para penumpangnya turun dengan membawa beragam persenjataan, termasuk beberapa pucuk senapan lontak yang telah diisi. Para penggunanya adalah orang-orang Jawa yang terlatih dengan baik menembak dan mengisi senapan dengan p*eluru hanya dalam satu tarikan nafas.
Orang-orang ini, termasuk belasan orang Jawa lainnya yang bersenjatakan tombak, golok, pedang dan keris di pinggang mereka langsung berlarian ke arah belakang benteng kayu ulin untuk masuk dan ikut andil dalam pertempuran.
***
"Sial, kita ditipu mentah-mentah!" ujar salah satu pemimpin pasukan Daya yang sudah terlanjur berada di wilayah depan benteng. Di sana mereka hanya menemukan mayat beberapa prajurit Biaju dan sedikit warga yang menjadi korban.
Sang pemimpin pasukan ini mendapatkan laporan dari dua prajurit Daya yang ditolong Jayaseta dan diminta untuk melaporkan kepada para prajurit yang lain bahwa memang pertarungan sejatinya ada di belakang kampung, di bawah bukit, tempat para warga tinggal.
Tak lama mereka melihat Punyan muncul dari balik pepohonan. "Benar, kita harus kembali ke belakang. Aku rasa pasukan musuh sudah memenuhi bagian dalam benteng kita. Ini semua karena kita telah dikhianati oleh orang dalam, para budak," urai Punyan.
Tak ada waktu untuk terkejut dan bertanya. Semua sudah jelas untuk saat ini bahwasanya mereka harus membantu garis belakang. Segala pertanyaan bisa dilakukan nanti, bila mereka masih hidup.
__ADS_1
Puluhan prajurit ini berbalik arah dan berlari secepat mungkin ke sana. Punyan menarik nafas panjang dan menyusul mereka.
Di balik pepohonan, di dekat gundukan tanah, tubuh molek Kumang yang sudah tak bernyawa terbaring. Punyan meletakkan tubuh itu disana dan hendak menguburkannya sebagai istri, bukan budak atau jipen, setelah semua ini berakhir dan kampung dapat berhasil ia rebut kembali.