
Lâm mengendurkan otot-otot di seluruh tubuhnya. Segela perhatian telah dipusatkan kepada sasaran yang kini masih saja berkelebat menerkam bagai seekor kucing hitam. Gerakan kacau dan risau rekan-rekan Lâmmenjadi sasaran empuk bagi sosok tak dikenal yang bergerak cepat dalam kegelapan tersebut. Lempengan logam di tangan kanannya dipegang dengan seksama, menantikan saat yang tepat.
“Sialan! Saat yang kutunggu-tunggu ini akan hilang dengan segera bila begini caranya,” ujar Lâm sendiri. Ia membatalkan rencananya ketika teriakan kembali terdengar dan seorang lagi bawahannya, salah seorang perompak Champa, tersentak mundur kemudian jatuh bergulingan ke belakang. Tombak dan tamengnya telah lama jatuh terlebih dahulu.
“Ah, bangsat!” sumpah Lâm. “Kalian semua, cepat mundur! Ikuti darimana seuaraku berasal!” seru Lâm. “Kemari … kemari …!” teriaknya lagi. Lâmmemutuskan untuk membantu rekan-rekannya sebelum semuanya habis satu-persatu seperti daun yang berguguran.
Semua perompak yang sebelumnya terkesan jemawa dan pongah karena dibakar nafsu untuk mengalahkan Jayaseta sang Pendekar Topeng Seribu, kini sadar bahwa tindakan mereka tidak menghasilkan apapun. Luka di tubuh mereka, dan kejatuhan rekan-rekan mereka di dalam gelap yang tak tahu rimbanya, bagaimana keadaan mereka sekarang, membuat secepat kilat pikiran mereka langsung menyambut suara sang pemimpin.
Dengan secepat kaki mereka melangkah dan sekuat tenaga mereka mendorong tubuh mereka menjauh dari ladang pembantaian. Tiga orang perompak berhasil mundur mendekat ke arah Lâm, sisanya masih begitu kesulitan.
“Kemari kalian! Dengan suaraku baik-baik. Jangan tinggalkan tombak dan tameng kalian apapun yang terjadi!” suara Lâm kembali terdengar.
__ADS_1
Ketika para rekan para perompak Champa itu tunggang langgang mundur mendekat ke arah suara perintah, sosok Jayaseta pun terlihat di mata Lâm. Pergerakannya terbaca oleh Lâm karena tidak terganggu oleh para anak buahnya yang kini meski kocar-kacir, sangat membantu Lâmdalam menyasar sang pendekar.
“Kau tak akan lolos kali ini,” gumam Lâmpada dirinya sendiri.
SYUT!!
Lempegan logam yang sedari tadi ada di tangan kanannya kini dilepaskan. Lâm melemparkan benda itu dengan keakuratan dan kecepatan yang nyata.
Lempengan logam yang ternyata adalah sebuah pisau rahasia itu menyobek angin malam dalam kepekatan menyasar tepat ke dada Jayaseta.
Lâm tersentak. Ia tak dapat melihat hasil dari seranganya tersebut, tetapi jelas pisaunya tak mengenai sasaran.
__ADS_1
Lâm meraba pisaunya kembali. Kini di tangan kanan dan kirinya sekaligus. Ia melihat ke sekeliling dan melihat rekan-rekannya yang tersisa bertaburan di dekatnya. Ada yang terduduk, berjongkok bahkan terssungkur.
“Bangun kalian semua! Kita tidak bakal bisa menghadapinya dengan cara seperti ini. Kegelapan membuatnya sulit untuk dilawan. Entah kesaktian macam apa yang dimilikinya, atau tipuan apa yang dilakukan Jayaseta dan rombongannya. Yang jelas, kita harus melawannya dengan caraku. Sekarang kita sudah tahu kurang lebih dia berada dimana. Sosok itu berada di depan kita semua. Maka kalian harus berdiri, pasang tameng dan persiapkan tombak kalian dalam bentuk lembing!” perintah Lâm dengan jelas.
Lâm hanyalah perompak biasa. Ia tak memiliki kemampuan khusus dalam bertarung. Ia bukan jenis perompak pendekar dengan kesaktian yang luar biasa, atau petarung dengan kegigihan serta kekuatan melebihi rata-rata. Tubuhnya cenderung kecil, serupa saja dengan kebanyakan orang Champa atau Annam. Namun, jelas ada alasan mengapa ia dijadikan ketua dan pemimpin beberapa orang Champa ini.
Lâm adalah seorang pelempar ulung. Keakuratan dan kemampuan tempurnya didapatkan dari cara melempar pisau serta pandangannya yang begitu jeli. Ia sangat membantu kelompok raksasa Dunia Baru dalam banyak tugas mereka di seantero nusantara dan mancanegara.
“Jaga kuda-kuda kalian. Jangan takut dan tegang. Lemparkan saja lembing kalian ketika melihat ada gerakan cepat yang mendekat ke arah kita. Tidak perduli jiga itu adalah salah satu dari kawan kita. Kita tak mungkin memberikan kesempatan bagi mereka untuk menyerang kita!” lanjut Lâm memerintah.
Tadi, serangan pisau lempar dari Lâm sebenarnya cukup mengagetkan Jayaseta. Ia tak tahu bahwa ada salah satu seorang perompak yang merupakan seorang pelempar senjata rahasia, dalam hal ini adalah seorang pelempar pisau.
__ADS_1
Hanya saja, angin desiran yang dihasilkan oleh lemparan pisau itu dapat terdengar baik oleh Jayaseta yang memang sedang menggunakan kemampuan indra pendengarannya dengan sangat terpusat. Jayaseta tidak menghindar, sebaliknya, ia memang tadinya berhasil merebut sebuah tameng dari perompak Champa dan kemudian menggunakannya untuk menangkis serangan tersebut.
Bahkan Jayaseta dan Lâm pun tahu, serangan lemparan pisau tadi hanyalah sebuah serangan percobaan. Lâm tidak benar-benar menggunakan seluruh kemampuannya. Ia ingin mencobai seberapa baik Jayaseta menerima serangannya, serta ingin membantu rekan-rekannya dengan cara membuyarkan perhatian Jayaseta.