
Jayaseta berdiam diri dan menajamkan semua indranya. Tameng logam kecil digunakan sebagaimana mestinya untuk menutupi tubuhnya dari serangan lawan. Jayaseta sadar sekali bahwa orang yang dihadapinya ini adalah seorang pelempar senjata rahasia yang ulung. Ia sendiri adalah seorang pelempar yang mumpuni pula. Ia pernah menjajal penggunaan cakram, pisau terbang dan sampai sekarang ia masih memiliki kebiasaan melemparkan senjata untuk menyerang musuh atau sekadar membuyarkan pemusatan pikiran lawan.
Lâm sendiri sudah memersiapkan semuanya sebaik mungkin. Ia sudah paham siapa lawannya. Tidak masuk akal dan tidak mungkin sekali menghadapi siapapun yang bertempur menghadapi para perompak itu di dalam gelap. Lâm tidak terlalu peduli lagi apakah yang ia hadapi sekarang ini adalah seorang saja atau satu kawanan.
Para perompak lain berbaris di samping kiri dan kanan pemimpinnya. Dalam keadaan seperti ini, mereka baru sadar bahwa sang pemimpinlah yang menjadi andalan dan sumber kepercayaan mereka. “Apa yang harus kami lakukan, Lâm?” ujar salah satu bawahan yang berdiri tepat di samping Lâm.
“Sudah kukatakan, lebih baik kalian berdiri di sampingku. Siapkan tombak dan tameng kalian. Kemungkinan orang itu akan menyerang dalam gelap, tetapi selama kita tidak dalam keadaan berperang satu lawan satu, kita bisa saling melindungi. Jaga jarak dan tetap waspada!” perintah Lâm. Meski ia sedang memberikan perintah, sepasang matanya masih terus mencoba sebaik mungkin menangkap keberadaan Jayaseta.
SREK!
__ADS_1
Terdengar bunyi gesekan ranting dan pepohonan. Suara ini langsung saja memberikan hasil kepada sikap para perompak yang sedari awal sudah merasa khawatir bahkan takut. Mereka sudah dipertontonkan dengan pembantaian rekan-rekan mereka dari Annam yang telah terlebih dahulu tewas. Tidak lama mereka juga harus melawan musuh di dalam kegelapan yang dengan cepat dan cekatan juga berhasil melumpuhkan mereka satu persatu. Salah satu dari mereka langsung melemparkan lembingnya ke arah datangnya suara.
“Tunggu! Jangan gegabah!” seruan Lâmterlambat. Lagipula sang perompak sudah terlalu khawatir dirinya akan diserang.
Tombak itu meluncur laju ke suatu arah dan menghilang di balik kegelapan. Dari arah yang berbeda, satu sosok melesat cepat ke arah mereka yang tadi perhatiannya teralihkan.
Barisan para perompak kembali buyar. Mereka langsung saja melemparkan lembing-lembing mereka ke arah datangnya sosok tersebut. Tentu saja Jayaseta dengan cukup mudah menghindar, berguling ke samping dengan cepat atau menepis lembing-lembing itu sembari terus melaju ke depan.
Dengan dua kali gerakan, Jayaseta menghajar lutut seorang perompak dengan tinjunya, membuat tempurung lutut lawan retak dan disusul teriakan tertahan ketika Jayaseta menanamkan sikunya di tenggorokan musuhnya.
__ADS_1
Jayaseta sudah tak mungkin lagi ditahan. Ternyata, rencana Lâmuntuk mengincar Jayaseta langsung dapat dikacaukan oleh Jayaseta. Kini malah para perompak yang sudah ketakutan tadi kehilangan hampir semua tombak mereka. Jayaseta meluncur deras, berputar sekali dua, memberikan serangan dalam rupa pukulan-pukulan rendah yang dilakukan sebaik mungkin hingga tidak perlu mengulang dan memberikan lebih banyak serangan untuk melumpuhkan lawan. Rata-rata serangan pada kaki, paha dan disambung dengan ledakan tenaga ke arah atas membuat para perompak kocar-kacir.
Semua berjatuhan. Jayaseta bahkan tidak ragu menginjak tubuh musuh yang terpalang jatuh sehingga menuntaskan pekerjaannya. Tusukan tombak yang tersisa, belati yang baru dicabut dari sarungnya, serta serangan tangan dan kaki ala kadarnya, berhasil Jayaseta patahkan. Kegelapan membuat Jayaseta mampu memberikan serangan yang tepat guna dan tepat sasaran.
Lâm bersumpah serapah. “Bangsat! Bedebah! Mengapa kalian tak pernah mau mendengarkanku. Sekarang kalian lebih dahulu mampus!” serunya geram. Ia terpaksa kembali mundur mencari tempat yang terbaik untuk dapat terhindar dari serangan Jayaseta yang menderu-deru tersebut.
Mendadak, hanya dalam beberapa langkah ke belakang, Lâmmelihat bahwa langit merekah pelan. Ada sinar jingga yang sangat tipis menerobos masuk melalui dedaunan dan ranting-ranting. Telah subuh ternyata. Saat itu pula ia berhasil melihat sosok Jayaseta yang masih bergerak cepat menghajar tubuh-tubuh para bawahannya. Tidak terlalu terang memang, tapi cukup. Ia tak bisa melewatkan kesempatan ini.
Dua pisau rahasia meluncur dari kedua tangannya di saat yang bersamaan mengarah kepada Jayaseta sebagai sasaran utamanya.
__ADS_1