
Sepasang kaki Sudiamara yang telah dilapisi tenaga dalam itu membentur lengan Kesanga yang bebas. Tanah saja bisa bobol ketika dihajar tendangan Sudiamara, apalagi tangan manusia yang hanya terdiri dari kulit, daging dan tulang belaka.
BRAG!
Bunyi keras benturan dua lapisan kulit bertenaga terdengar keras, terlalu keras untuk bunyi yang dihasilkan dari dua bagian tubuh manusia.
Kesanga tersentak ke belakang sampai dua tombak jauhnya. Empat batang anak panah menyusul gerakannya. Dua batang kembali patah ditepis oleh pangkal cambuk panjang Kesanga, sedangkan dua lagi tidak mengenainya.
Salah satu prajurit yang sudah cukup dekat jaraknya dengan Kesanga mendapatkan sebuah kesempatan emas. Ia berteriak sekuatnya demi menguatkan tekad dan semangatnya pula. Ujung tombak yang berkilau tajam meluncur langsung tepat mengenai lambung Kesanga. Sang prajurit menjejakkan kakinya ke tanah dan mendorong tombaknya agar terus masuk ke dalam tubuh lawan.
Seperti yang seharusnya terjadi, kematian adalah sebuah keniscayaan bagi lawan dalam keadaan seperti ini. Namun, seperti sudah dijelaskan Sudiamara sebelumnya pula, Kesanga terbukti kebal. Tubuhnya memang terdorong ke belakang, tetapi lapisan kulitnya sama sekali tidak tersobek, tembus bahkan terluka saja pun tidak.
Kesanga menjejak tanah sehingga tubuhnya berhenti terdorong. Tangan kirinya menahan batang tombak kemudian ia sendiri mendorongkan tubuhnya ke depan dengan cepat.
PRAK!
Batang tombak patah sempurna jadi dua. Kesanga menghajar sang prajurit dengan tendangannya yang meski masih bisa ditangkis dengan tamengnya, tetap membuatnya terdorong ke belakang dengan jauh.
Sudiamara menatap ke arah Koncar yang berdiri tak percaya. Ketika Koncar akhirnya melihat ke arahnya, Sudiamara mengangkat dagunya mengejek, “Sudah kubilang, bukan?” ujarnya.
__ADS_1
Sudiamara melaju ke arah Kesanga sembari berseru kepada Koncar, “Tetap serang, Koncar! Aku yang akan menyelesaikannya.”
Sudiamara sudah menggenggam erat pedang luwuknya kembali. Ia melompat tinggi dan mencelat mumbul ke udara. Kedua kakinya yang menjejak bumi memang digunakan bagai pegas, melompat-lompat seperti kelinci sekaligus ganas dan bertenaga seperti seekor harimau. Macanputih meraung, kembali menjejakkan kedua kakinya bergantian ke arah Kesanga. Kali ini, Kesanga tak mampu menghalau serangan-serangan tersebut sehingga dadanya terkena sekaligus dua jejakkan Sudiamara sang Macanputih.
Tak pelak Kesanga terpelanting ke belakang lagi.
Hal ini membuatnya murka. Jelas, seperti kebanyakan pendekar yang memiliki kemampuan kanuragan ilmu kekebalan, Kesanga lebih merasa kesal karena tubuhnya terlempar atau terjerembab sedemikian rupa, bukan karena rasa sakit.
“Kesanga! Kalau bukan karena kekebalanmu itu, sudah dari awal kau kalah. Bahkan prajurit penjaga biasa pun dapat membunuhmu semudah itu,” pancing Sudiamara sengaja menghina kawan yang sekarang menjadi lawan
tersebut.
Kesanga menggetarkan cemetinya.
Sudiamara berkelit gesit, tetapi dua prajurit di belakangnya terjerat untaian cambuk tersebut sehingga terlontar dan terjerembab jatuh bergulingan di tanah.
Koncar meloncat lebih tinggi dari bahu dan menubrukkan tamengnya ke arah Kesanga, kemudian menusukkan kerisnya sampai tiga empat kali dengan cepat.
Kesanga tidak mau dianggap remeh dan sepele oleh para pendekar lain, terutama tidak oleh Sudiamara. Benar ia kebal, tetapi kemampuan silatnya harus menunjukkan bahwa tanpa kekebalan pun ia hampir tak bisa dikalahkan. Sialnya, ia memang sempat kecolongan juga tadi. Kata-kata Sudiamara sungguh membuatnya murka dan tersinggung. Harga dirinya mendadak jatuh berantakan.
__ADS_1
Kesanga melipatgandangan lecutan cambuknya dengan menambahkan kekuatan tenaga dalam. Cambuk tidak hanya berombak sekarang, tetapi juga berputar dan membelah kesana kemari dengan cepat serta tegas.
Tameng terkena benturan cambuk yang lagi-lagi menelisik melalui celah dan ruang sehingga tetap mampu mengenai tangan, bahu bahkan leher sang pemegang. Koncar terpaksa harus menghindar bergulingan ke belakang sampai beberapa kali. Serangan Kesanga memang terlalu mengerikan dan dahsyat, apalagi si pendekar cemeti itu kini sedang dibakar api kemarahan yang sama luar biasanya.
Para prajurit kembali mundur. Bukan saja karena harus menjaga jarak dan kuda-kuda mereka, tetapi memang mereka menjadi korban serangan sehingga berdampak pada diri mereka sendiri, terlempar jauh karena memang terkena serangan.
Hanya si Macanputih yang bergulingan paling dekat dengan sang lawan.
Sudiamara kembali melompat tinggi, seakan ingin kembali menjejak lawan, tetapi malah sebaliknya hanya menggelosor. Gerakan tipuan ini membuat serangan cambuk Kesanga lolos dari sasaran. Sudiamara yang menggelosor menghajar kaki Kesanga dengan keras sehingga lawan tersentak dan berputar di udara sekali sebelum jatuh terjerembab di tanah.
Tentu tidak ada luka yang seberapa di tubuh Sudiamara yang memang kebal itu. Namun jelas, rasa malu sudah bersarang semakin erat di dalam jiwanya. Kesanga sang pendekar Cemeti Sakti langsung bangun dan bersiap untuk membalas serangan Sudiamara, sang pendekar Macanputih sudah ada di depannya. Kecepatan Sudiamara dan si Macanputih memang sulit untuk dipercaya. Begitu pula ketika Sudiamara dengan cepat membabat menyilang ke dada Kesanga, menusuk perutnya bahkan menendang dan memberikan pukulan beruntun dengan tangan kirinya.
Kesanga bergulingan ke belakang.
Ia makin marah, tetapi pedang luwuk Sudiamara membabat lehernya. Kesanga tersentak ke samping. Lehernya aman, tak terluka sama sekali, sama seperti serangan-serangan sebelumnya. Namun, Macanputih tak berhenti, dia terus melancarkan serangan habis-habisan kepada sang lawan. “Kita lihat, dimana kelemahanmu, Kesanga. Kalaupun harus aku habiskan seharian penuh untuk membacokimu, akan aku lakukan. Sekalian menunjukkan kembali ucapanku bahwa ilmu silatmu tak seberapa, apalagi dibanding denganku, Kesanga. Kau hanya menghabiskan waktu di dalam hidupmu hanya untuk mempelajari ilmu kekebalan sehingga meremehkan ilmu kanuragan sepertiku,” seru Sudiamara.
Kesanga menanggapi kata-kata pedas dan menghina Sudiamara tersebut dengan kembali melecutkan cambuknya keras. Sudiamara sudah paham dengan pola jurus Kesanga. Awalnya, serangan-serangan cambuk panjang yang menjebak dan menipu sekaligus berbahaya serta mematikan itu sulit untuk ditebak arahnya, sekarang Sudiamara sudah mampu melihat dengan jelas kemana arah serangan demi serangan Kesanga.
Ia melompat, meloncat dan berguling cepat sebelum membabatkan pedang luwuk ke tangan kanan Kesanga yang memegang cambuk sampai tiga kali tebasan. Cambuk kesanga terlepas dari tangannya.
__ADS_1
“Sudah kukatakan, kau akan kalah, Kesanga. Segeralah pergi dari tempat ini. Kau masih belum mati sekarang, tapi jangan pikir aku tak akan dapat menemukan kelemahanmu sebentar lagi. Dibanding aku dipermalukan olehku di depan para prajurit penjaga biasa, lebih baik kau yang minggat segera. Mungkin lain kali bila kau masih penasaran, silahkan hubungi aku lagi untuk melanjutkan pertarungan kita. Dengan senang hati, kita akan menghabiskan waktu bersama,” ujar Sudiamara.
“Kau hanya memancing perasaanku agar segera menghentikan pertempuran ini, Sudiamara. Kau pun tahu di dalam hati bahwa kemungkinan untuk bisa mengalahkanku sangat kecil. Sekuat apapun serangan-seranganmu menembus pertahananku, kau masih tidak akan dapat membunuhku. Kau juga paham bahwa kelak kau akan kelelahan sehingga pada akhirnya, aku yang akan membunuhmu dengan mudah,” balas Kesanga. “Tapi, kau memang durjana yang beruntung. Aku sedang malas meladenimu, aku bosan. Yang penting, tujuanku selesai hari ini,” lanjut Kesanga. Ia bersiul kencang. Kuda yang tadi ditunggangi Kesanga mendadak berlari cepat ke arahnya. Kesanga melompat ke pelana kuda dan menyentak kekangnya. Kudanya melompat tinggi melewati kepala Sudiamara.