Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Nan Sarunai


__ADS_3

Jayaseta melihat sang Temenggung yang bertubuh kecil namun liat dengan otot-ototnya dalam usia tua ini berdiri di tengah lapangan. Di sekitarnya, di pinggir-pinggir lapangan yang dibuat menjadi semacam arena perang-perangan atau latihan beladiri itu Jayaseta dapat melihat beragam jenis senjata dan alat tempur.


Tombak, do, parang, termasuk perisai dan baju tempur. Pandangan Jayaseta kemudian menubruk satu bagian peralatan yang menyita perhatiannya.


Di salah satu pojok lapangan ada beberapa jenis topeng dan pelindung kepala prajurit pengayau, lengkap dengan pakaian dan tamengnya. Beberapa topeng itu memiliki bentuk dan jenis serupa, terbuat dari kayu, dihiasi dengan tanduk kambing atau domba. Bagian penutup dan pelindung kepalanya dari anyaman rotan, serabut kelapa dan lempengan bulat batok kelapa yang dijahit.


"Itu sebabnya mengapa kau dijuluki Pendekar Topeng Seribu, bukan, Jayaseta?" suara Temenggung Beruang menyadarkannya dari keterpesonaannya akan topeng-topeng perang tersebut.


"Tahukah engkau bahwa orang-orang Daya pernah beberapa kali memiliki kerajaan yang sama agung dan termahsyurnya dengan kerajaan-kerajaan di pulau Jawa atau Melayu, sebelum akhirnya terpecah-pecah menjadi beragam suku?" tanya sang Temenggung.


Jayaseta diam. Ia memang pernah mendengar satu dua hal mengenai sejarah kerajaan serta orang-orang Daya dan Melayu, namun tak banyak. Maka ia tak berani berkata-kata.


"Kau pernah mendengar tentang kerajaan Martapura, Kutai Martapura atau Kutai Martadipura?" lanjut sang Temenggung.


Melihat Jayaseta terlihat ragu, sang Temenggung bercerita bahwa memang orang-orang asli pulau Tanjung Pura ini telah memiliki catatan sejarah mengenai kerajaan-kerajaan besar pada masa agama Hindu masih berpengaruh di nusantara sebelum akhirnya agama Islam masuk.


Awalnya, seorang suku asli Tanjung Pura bernama Kundungga masih menjadi seorang kepala suku, namun kemudian daerahnya menjadi sebuah kerajaan besar yang dipimpin oleh seorang raja yang merupakan cucunya, bernama Mulawarman Maladewa. Kundungga sendiri kemudian diberi gelar Maharaja Kundungga Anumerta Dewawarman, yang memerintah tahun 400 Masehi. Daerah kerajaannya inilah yang menjadi cikal bakal kerajaan Hindu tertua di nusantara bernama Martapura atau juga dikenal dengan Kutai Martapura karena terletak di wilayah yang bernama Kutai, tepatnya berpusat di Muara Kaman.


Ketika pengaruh agama Hindu dari negeri Hindustan masuk ke pulau ini, putra Kundungga menamakan dirinya dengan corak Hindu pula, yaitu Maharaja Asmawarman dan mulai mendirikan kerajaan sebagai perkembangan dari sekadar kepemimpinan suku.


Kerajaan yang berdiri berabad lamanya ini berakhir saat rajanya yang bernama Maharaja Dermasatia terbunuh dalam peperangan di tangan seorang Raja ke-8, Pangeran Sinum Panji Mendapa dari sebuah kerajaan lain di wilayah Kutai pula bernama Kutai Kertanegara.

__ADS_1


Kerajaan Kutai Kertanegara ini juga adalah kerajaan orang-orang asli pulau Tanjung Pura yang bercorak Hindu pula.


Kerajaan Kutai Kertanegara berdiri pada awal abad ke-13 Masehi di daerah yang bernama Jaitan Layar atau Kutai Lama dengan rajanya yang pertama bernama Aji Batara Agung Dewa Sakti yang memerintah dari tahun 1300 sampai 1325 Masehi.


Kerajaan ini adalah bagian dari daerah taklukan kerajaan Majapahit di Jawa oleh Mahapatih Gajahmada di bagian pulau Tanjungnagara atau nama lain dari Tanjung Pura. Saat itu, pada tahun 1365 Masehi, kerajaan ini dinamakan Kute, beribukota di Jaitan Layar atau Kutai Lama.


Seperti kerajaan lain di pulau Tanjung Pura, karena pengaruh agama Islam dan para pendatang Melayu, Jawa, atau Cina, serta terutamanya penyebaran oleh Tuan Tunggang Parangan, seorang ulama Minang bersama temannya Datuk ri Bandang pada masa pemerintahan Raja Aji Mahkota yang memerintah dari tahun 1525 hingga 1589 Masehi, maka kerajaan tersebut akhirnya juga menjadi kerajaan Islam pada tahun 1575 Masehi.


Beberapa tahun sebelum Jayaseta sampai ke Sukadana, tepatnya tahun 1635 Masehi, Kerajaan Kutai Kertanegara menyerang kerajaan Kutai Martapura dan memenangkannya sehingga wilayah Kerajaan Kutai Kertanegara bertambah luas dan nama kerajaan pun bertambah menjadi Kerajaan Kutai Kertanegara ing Martapura sebagai bentuk penyatuan dua kerajaan.


"Tapi, jauh sebelum kerajaan Martapura atau Martadipura yang dikenal sebagai kerajaan Hindu tertua di nusantara itu berdiri, sudah ada kerajaan orang asli pulau ini yang jauh lebih tua bernama Nan Sarunai," Temenggung Beruang kembali bercerita.


Jayaseta seakan begitu tertarik dan terheran-heran dengan pengetahuan yang dimiliki sang Temenggung, sehingga ia kembali berdiri dalam diam.


Diduga kerajaan ini sudah berdiri tahun 242 atau 226 Sebelum Masehi, jauh melebihi tuanya kerajaan Kutai Martapura.


Kerajaan orang Maanyan yang berdiri berabad-abad itu juga menaungi kerajaan-kerajaan kecil lainnya, seperti kerajaan Tanjungpuri yang didirikan orang-orang Melayu pelarian dari Kerajaan Sriwijaya pada awal abad ke-11 Masehi menjelang keruntuhan kerajaan tersebut. Orang-orang Melayu tersebut juga nantinya bercampur dengan orang-orang Maanyan.


Kerajaan Nan Sarunai awalnya juga sebenarnya lebih diakui sebagai sebuah negara suku yang menaungi semua kelompok orang Maanyan. Namun kerajaan atau negara suku ini kemudian bertahan ratusan tahun dan berkembang menjadi sebuah kerajaan besar pada awal abad ke-12 Masehi saat dipimpin seorang raja bernama Raden Japutra Layar yang bertakhta sejak 1309 Masehi.


Sepeninggal Raden Japutra Layar, roda pemerintahan di Kerajaan Nan Sarunai secara berturut-turut dilanjutkan oleh Raden Neno yang berkuasa pada tahun 1329 sampai 1349 Masehi, kemudian Raden Anyan tahun 1349 sampai 1358 Masehi. Raden Anyan yang menyandang gelar Datu Tatuyan Wulau Miharaja Papangkat Amas disebut-sebut sebagai raja terakhir Nan Sarunai.

__ADS_1


Keruntuhan Kerajaan Nan Sarunai mulai terjadi pada masa-masa akhir pemerintahan Raden Anyan karena kerajaan ini pernah diserang oleh Majapahit pada tahun 1358 Masehi.


Atas perintah Raja Hayam Wuruk, pasukan Majapahit pimpinan Mpu Jatmika menyerang Nan Sarunai hingga takluk dan hancur lebur, sehingga orang-orang Maanyan juga tercerai berai, kembali ke masa purba sebelum disatukan di bawah naungan kerajaan Nan Sarunai.


Setelah menaklukkan Nan Sarunai, Mpu Jatmika membangun kerajaan baru di daerah itu bernama Negara Dipa yang bernaung di bawah kekuasaan Majapahit dan masih menganut agama Hindu. Nantinya, Negara Dipa pun menuai keruntuhan dan pada akhirnya, sejak tahun 1520 Masehi, digantikan oleh Kesultanan Banjar yang sudah memeluk Islam.


"Jadi, pada dasarnya, orang Melayu, orang Kutai atau orang Banjar sama-sama berasal dari satu garis keturunan orang-orang asli atau Daya. Namun karena perbedaan agama yang dianut serta pengaruh budaya yang datang dan bercampur, maka terjadilah perbedaan tersebut?" ujar Jayaseta.


"Aku tak menduga kau menyimpulkan demikian, Jayaseta. Ternyata kau juga telah banyak memahami beragam cerita dan sejarah," ujar sang Temenggung.


Temenggung Beruang memberikan isyarat kepada putranya yang kemudian datang memberikan perisai, topeng pelindung kepala dan sebilah do kepada Jayaseta.


Jayaseta menerima semua peralatan tempur itu ragu-ragu.


"Aku akan ceritakan lagi tentang banyak hal, sejarah dan segala perihal mengenainya, juga termasuk do yang kau pegang itu. Tapi sebelumnya, bukankah seorang pendekar sepertimu butuh ilmu?"


Jayaseta masih belum dapat mengerti maksud perkataan sang Temenggung, namun ia tetap memegang do dan perisai segi enam itu dengan erat.


"Kenakan topeng itu, Pendekar Topeng Seribu," ujar Temenggung Beruang. Ia sendiri telah mengenakan perangkat tersebut, sebuah topeng kayu bertanduk kambing, dengan pelindung kepala dari anyaman bambu dan rotan, serta bulatan-bulatan potongan tempurung kelapa yang dijahit rapat.


Jayaseta segera mengenakan topeng pelindung kepala itu pula karena sudah paham maksudnya.

__ADS_1


Udara gaib begitu terasa saat wajahnya tertutup topeng perang itu. Serasa tenaga menyebar ke seluruh tubuhnya, termasuk tulang, syarat bahkan pori-porinya.


"Kau akan menyaksikan ilmu silat orang-orang Kutai Martapura serta Nan Sarunai yang ratusan tahun telah membela dan mempertahankan tanah mereka dari serangan bangsa asing dan sesama anak negeri. Inilah silat kaum Daya, silat para pengayau!" Temenggung Beruang merendahkan tubuhnya, menarik do keluar dari sarungnya dengan begitu cepat dan melayang ringan menyerang Jayaseta.


__ADS_2