Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Keyakinan


__ADS_3

Silahkan meragukan bagaimana alam, dunia dan semesta bekerja. Toh mereka tak memedulikan apapun dan siapapun. Mereka akan melakukan apa yang harus dilakukan dengan cara yang paling aneh dan tak dapat diterima oleh pemikiran dan akal manusia. Tidak ada namanya kebetulan, semua adalah suratan Ilahi. Paling tidak, itulah bagaimana satu titik bertemu titik lain dalam guratan nasib dan takdir.


Jung yang dinaiki Jaka Pasirluhur berada tiga hari di belakang kapal yang dinaiki Yu, Pratiwi dan Fong Pak Laoya. Kedua kapal ini sama-sama bertolak ke Malaka. Jaka Pasirluhur jelas sedang menuju ke pulau Melayu. Ia memutuskan untuk berangkat ke Malaka dengan alasan bahwa berita terakhir yang berhembus menceritakan tentang sepak terjang Pendekar Topeng Seribu di Malaka, setelah sebelumnya pemberitaan tentangnya beredar di sepanjang laut kepulauan Riau. Gampangnya, Jayaseta pastilah berangkat dari Sukadana di pulau Tanjung Pura, melalui kepulauan Riau, kemudian berhenti di Malaka.


Lalu, bagaimana dengan rombongan Yu, Pratiwi dan Fong Pak Laoya?


Riau sedang panas dan berapi. Wilayah-wilayah nya diserang oleh pasukan Jambi di bawah kepemimpinan dan perintah Datuk Meghak Bulunyo Megha. Pertarungan di laut tempo hari membuat Jambi meradang tidak terima. Tidak hanya laut, pesisir dan darat pun menjadi ladang peperangan.

__ADS_1


Feng Laoya, terpaksa pula harus pergi dari kampung Cina di Senggarang. Salah seorang keluarganya di Kampung Cina di Kampung Tengkera memberikan kabar yang sampai ke telinganya beberapa hari sebelumnya bahwa ia diminta datang ke sana. Keadaan ketatatanegaraan yang panas membakar membuat beberapa keluarga Cina terancam dalam hal perdagangan dan usaha mereka. Kemenakan jauh Feng Laoya dikabarkan kemasukan penunggu pulau sehingga kerap kesurupan. Feng Laoya sendiri berpikir bahwa kemenakannya itu mungkin hanya tertekan oleh keadaan sehingga pikirannya terganggu. Ia hampir saja menolak untuk perginke tempat keluarganya itu karena berencana menunggu tanda-tanda gaib dan ilahiah yang dikirimkan kepadanya. Tapi, di sisi lain, ia pun harus tetap berangkat ke Malaka karena bagaimanapun ia adalah seorang tabib dan laoya yang memiliki kewajiban menjawab panggilan, apalagi panggilan itu berasal dari keluarganya sendiri.


Di saat yang sama, kapal yang dinaiki Yu, Pratiwi dan Fong Pak Laoya harus membanting kemudi dan tak bisa berhenti di pelabuhan Riau akibat peperangan yang terjadi di laut dari ukuran kecil sampai besar-besaran melibatkan banyak kapal dan prajurit.


"Apa yang harus kita lakukan, Laoya?" ujar Yu terlihat cukup cemas ketika nakhkoda jung mereka mengatakan bahwa mereka tak mungkin bisa mendekat ke Riau, apalagi sampai bersandar di pelabuhannya. Mungkin membutuhkan beberapa hari sampai keadaan kembali mereka tak peduli siapa yang memenangkan pertempuran - dimana lebih sering pertempuran di laut antar orang-orang Melayu ini hanya merugikan kedua belah pihak.


Tapi jelas mereka tak bisa menunggu selama itu. Mereka tak bisa menjamin apa yang akan terjadi pada kapal mereka. Bisa saja mereka akan terjebak peta pertempuran, menjadi korban atau hal-hal buruk lain seperti para perompak laut yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan dan mengambil untung atas keadaan ini.

__ADS_1


"Tapi, Laoya sendiri yang mengatakan bahwa tujuan utama kita adalah Riau. Bila kita harus pergi sampai ke Malaka, apa jadinya? Bukankah itu berarti menjauhkan kita dari tujuan semula? Bagaimana dengan Pratiwi?" laki-laki itu terlihat sekali kecemasannya yang semakin meningkat.


Fong Pak Laoya melirik ke arah Yu yang menunjukkan wajah bersungguh-sungguh namun muram. Ia kembali memandang lautan lepas. "Bukan begitu cara alam dan semesta bekerja, Yu. Kau terlalu lama mempelajari pengobatan berdasarkan apa yang terlihat, apa yang terasa dan apa yang teraba. Masih banyak hal di luar sana yang membutuhkan lebih dari itu dalam pemaknaannya."


Yu memandang lekat-lekat Fong Pak Laoya. Wajahnya menunjukkan kebingungan dan pertanyaan.


"Ah, gampangnya, kau tak usah terlalu pusing dengan ini, Yu. Kita akan menemukan apa yang kita cari. Bila kau masih tak dapat meraba makna perjalanan ini, aku jelaskan secara sederhana. Di Malaka pun banyak kelompok-kelompok Cina. Kita bisa mencari seorang Laoya di sana," tukas Fong Pak Laoya tanpa memalingkan wajahnya dari lautan.

__ADS_1


"Laoya ... Engkau yakin kita akan menemukan seorang Laoya yang pandai mengobati Pratiwi? Engkau saja tidak mampu mengobati istriku, malah kita mencari sesuatu yang tidak pasti juntrungannya," ujar Yu masih dengan keraguannya.


Fong Pak Laoya tersenyum. "Keyakinan, keyakinan, Yu," ujarnya pendek.


__ADS_2