Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Pertempuran Laut Dangkal Bagian Keenam - Lengah


__ADS_3

Makkawaru menyerang dengan lebih cepat dan keras kali ini. Harga dirinya harus direnggut kembali. Ia sudah membongkar pertahanan jurus-jurus Langkah Empat sang lawan. Maka ia tak memerlukan lagi urutan pertahanan Tuan Rajo Intan. Sekali dua saja pukulannya ditepis, maka sekali dua pula pukulannya deras mengenai sasaran di bahu atau dada. Langkah tiga dan langkah empat jurus Tuan Rajo Intan, nakhoda berdarah Rejang itu, patah di tangan jurus-jurus silat kaki bersilang pelaut pendekar Bugis ini.


Labussa tersenyum tipis. Para pelaut pendekar Bugis terlihat semakin percaya diri. Sebentar lagi mereka akan mendapatkan keinginan mereka. Sedangkan para pendekar dan awak kapal Minangkabau-Bengkulu-Rejang mulai terlihat khawatir, resah dan waswas.


Tuan Rajo Intan dan Makkawaru berdiri berhadap-hadapan, kembali ke keadaan semula, mempersiapkan kuda-kuda. Darah sudah mengental merembes di balutan kain luka bahu Tuan Rajo Intan.


Keadaan semakin menegang ketika kapal Minangkabau-Bengkulu satunya sudah merapat. Geladak bergetar pelan ketika kedua kapal bersenggolan. Papan-papan diselonjorkan bagi perpindahan para pendekar.


Orang-orang Bugis ikut meradang. Mereka meraba hulu badik, belati atau keris mereka.


Tuan Rajo Intan mengangkat tangan kanannya, memberikan tanda agar para pendekar dari kapal sebelah tidak gegabah melakukan tindakan apapun yang dapat memancing perselisihan yang lebih besar.


Para pendekar yang sampai ke kapal yang dinakhodai Tuan Rajo Intan yang semua telah meloloskan beragam senjata tadinya langsung paham apa yang dimaksud. Mereka memasukkan kembali senjata mereka ke sarungnya namun masih tetap awas dengan menempelkan tangan mereka ke hulu senjata.


Tuan Rajo Intan mengangguk ke arah lawan, menunjukkan bahwa mereka sudah bisa memulai kembali pertarungan tangan kosong satu lawan satu yang adil tersebut.


Makkawaru tersenyum kecil kemudian siap menyerang Tuan Rajo Intan kembali sebelum ia terkejut karena tinju lawannya sudah sejengkal di depan wajahnya. Tanpa ia sadari, Tuan Rajo Intan lah yang kini menyerangnya lebih dahulu, padahal ia berpikir bahwa jurus-jurus sang nakhoda adalah bertahan dan menjebak lawan, ia tak menyangka Tuan Rajo Intan kini menyerang pertama.


Makkawaru merunduk sembari mengangkat tangannya. Pukulan itu lolos menyerempet tangan yang digunakan sebagai penangkis, namun lutut Tuan Rajo Intan menghajar dadanya.


Makkawaru mundur. Berikutnya, langkah tiga Tuan Rajo Intan adalah sebuah serangan, sama seperti kedua langkah sebelumnya yang berupa tinju dan lutut. Makkawaru merasakan satu pukulan mengenai lehernya, namun tertahan telapak tangannya sebagai penangkis.


Tuan Rajo Intan menggunakan tiga jarinya: ibu jari, telunjuk dan jari tengah, mencengkram pergelangan tangan Makkawaru yang digunakan untuk menangkis serangannya ke leher tadi.


Langkah empat: ketiga jari meremas dan menekuk lengan Makkawaru, memelintirnya sehingga lengan tersebut terentang. Makkawaru merasa bahunya seperti hendak terlepas dari persendiannya, sebelum telapak tangan Tuan Rajo Intan mendarat telak ke dadanya.


Makkawaru terlempar ke belakang sejauh dua tombak, menubruk rekan-rekan Bugisnya. Ia bangun, menepis bantuan teman-temannya itu.


***


Tiga orang perompak bertopeng suku Mah Meri melompat-lompat di sepanjang tepian jung. Dari kapal milik mereka, para penembak membedili siapapun yang berani mendekat.


Ireng sadar akan sesuatu. Meriam! Ya, tiga orang perompak itu sedang mengincar meriam yang ada di jung tersebut. Ada empat meriam yang dimiliki jung Raja Nio ini setelah mengadakan perbaikan dan tambahan persenjataan selama berlabuh di pelabuhan Sukadana; dua di lambung kapal dan dua lagi di atas geladak.


Jelas, tiga orang ini cukup mengejar satu meriam saja untuk melaksanakan rencana jahat mereka.


Ireng melompat secepat mungkin. Dayung kayu di tangannya siap dipukulkan ke perompak paling belakang.

__ADS_1


Di balik topengnya, sang perompak sudah dapat melihat bergerakan Ireng yang berusaha mengejarnya. Ia berbalik dan berdiri menghalangi Ireng. Ia akan hentikan orang ini agar kedua rekannya dapat merebut salah satu meriam di atas geladak.


Pukulan Ireng berhasil dihindari dengan menunduk. Belatinya yang sudah terhunus ditusukkan ke arah perut Ireng.


Hampir saja!


Ireng berkelit sembari menyodokkan ujung dayungnya.


PAK!


Leher perompak bertopeng itu terkena serangan Ireng dengan telak. Ia terhuyung. Ireng tak mau membuang waktu, ia melompat tinggi sekali untuk membuat pukulannya menjadi sekeras mungkin.


DAR!


Bunyi tembakan bedil dari kapal perompak terdengar.


Ireng terlempar mundur.


Pe*luru tidak mengenai Ireng dan lurus menubruk sebuah lempengan baja di dekat ruang kemudi kemudian memantul ke arah perompak bertopeng yang hendak Ireng serang tadi. Mimi*s itu menembus topeng kayu dan melesak masuk ke dalam kepalanya. Perompak itu ambruk, tewas.


Ireng mencoba berdiri dan menyadai bahwa tubuhnya tadi ditarik oleh seseorang sebelum pelo*r timah itu menembus dadanya.


"Jayaseta? Engkau kah itu?" ujar Ireng.


"Ya, ini aku. Kita sementara harus membiarkan mereka menguasai meriam tersebut. Para penembak di bawah memiliki kemampuan yang baik sekali, seakan mereka dilatih oleh orang-orang bule sekaligus perwira kerajaan-kerajaan besar. Kita harus bersiap dengan apa yang akan terjadi sebentar lagi," ujar Jayaseta di balik topengnya.


Ireng mengangguk menunjukkan tanda setuju sekaligus berterimakasih karena gerakan gesit Jayaseta berhasil menyelamatkannya.


BUM!


Belum sampai satu tarikan nafas, bunyi ledakan meriam terdengar keras menggetarkan geladak dan memekakkan telinga.


***


Makkawaru memukulkan tangannya ke geladak kapal. Ia kembali kesal karena telah jatuh untuk kesekian kalinya. Sudah saatnya menyudahi pertarungan ini. Ada baiknya ia lumpuhkan nakhoda orang Rejang itu separah mungkin agar tak perlu repot-repot menghabiskan waktu lagi.


Namun ketika ia hendak melesat menyerang, semua orang kembali mendengar suara dentuman meriam. Semua mata mencari tahu darimana suara nyaring itu berasal.

__ADS_1


Tidak begitu jauh, mereka melihat sebuah jung besar mengeluarkan asap tebal dari geladaknya. Ada dua kapal yang hampir sama besarnya berusaha mengapit jung itu, dan salah satunya juga berasap di bagian geladaknya. Terlihat beberapa orang terlempar ke dalam laut.


Kapal yang terkena tembakan meriam tersebut kemungkinan besar adalah kapal milik tentara Kesultanan Johor-Riau.


Semua orang menjadi bingung dan berusaha berkutat dengan pikiran mereka sendiri.


Makkawaru melihat Tuan Rajo Intan lengah, sama seperti kebanyakan orang yang berjejalan di atas jung ini.


Tanpa menunggu kesempatan lain Makkawaru mencelat menyasar dagu dan dada Tuan Rajo Intan.


Sebagai seorang pendekar, bagaimanapun, dalam keadaan apapun, Tuan Rajo Intan harus sigap. Dari ujung matanya ia melihat bayangan cepat menuju ke arahnya. Ia berputar, menepis serangan itu sekaligus memberikan pukulan balasan.


BUG!!


BUG!!


Baik sang nakhoda maupun Makkawaru sama-sama terpental.


Rupa-rupanya tinju Makkawaru terlalu keras, apalagi Tuan Rajo Intan tidak dalam keadaan yang benar-benar siap. Maka tinju itu tetap menembus tangkisan punggung telapak tangan Tuan Rajo Intan dan mengenai dagunya. Sialnya, Makkawaru juga tak menyangka sang lawan sempat melakukan balasan pukulan berputar dengan punggung tangan tang terkepal ke rusuknya.


Tuan Rajo Intan kini tak bisa menahan amarah lagi. Ia sudah dikhianati dan dicurangi pelaut pendekar tengik itu ketika ia sedang tak memperhatikan apalagi bersiap. Walau rahangnya terasa sakit, hatinya jauh lebih terluka. Ia bangkit.


Begitu juga dengan Makkawaru yang sedari awal sudah kesal dan malu karena terus-menerus gagal mengalahkan lawannya dan ingin segera menguasai kapal ini. Ia bangkit pula.


Kedua pasang mata berkilat-kilat penuh amarah. Hanya sejenak sebelum keduanya kembali meluncur membenturkan kemampuan silat mereka ...


"Tunggu! Hentikan pertarungan ini! Kami sudah menemukan biang keladi permasalahan ini," seru seseorang yang langsung menarik perhatian semuanya.


Tujuh orang pendekar Minangkabau dan Bengkulu serta beberapa awak melemparkan tiga sosok yang ditengarai adalah para perompak dalam keadaan terikat dan luka-luka. Salah satu diantaranya masih mengenakan sebuah topeng. Semua orang di atas kapal mengenal topeng itu sebagai ciri khas milik sebuah suku pedalaman yang tinggal di daerah Selangor, Mah Meri.


***


Lopes Fransisco de Paula tersenyum kecil. Teropongnya ia genggam setelah melihat apa yang terjadi di depannya.


"Sebentar lagi mereka akan mulai bertanya-tanya. Yang cerdas dan cerdik pasti akan paham bahwa semua ini adalah jebakan semata. Yang paham namun serakah, tidak akan peduli dan akan tetap berusaha mengambil untung dari kejadian ini, seperti kedua kapal Johor dan Jambi yang memang saling bermusuhan itu," ujarnya tegas dengan bahasa Melayu yang sangat lancar dan fasih kepada nakhoda, awak dan para pendekar beragam bangsa di atas geladak kapalnya ini.


"Kita tinggalkan tempat ini. Kirimkan dua kapal penyerang kita!" perintahnya kemudian.

__ADS_1


Keadaan langsung riuh rendah, ramai dengan teriakan perintah dan jawaban yang saling bersahutan.


Layar dikembangkan, kapal bergaya pribumi ini menarik jangkar dan memutar haluan. Sedangkan dua kapal di belakangnya yang seakan tadi tak terlihat muncul dan melaju ke arah medan pertempuran. Dua kapal berukuran sedang itu memiliki kecepatan yang baik untuk ukuran kapal perang. Di dalamnya ada para penembak meriam dan bedil yang unggul serta pelempar bubuk api yang berpengalaman. Mereka berasal dari beragam bangsa di nusantara. Di setiap kapal dipimpin oleh masing-masing satu orang berkebangsaan Pranggi yang ahli dalam ilmu bubuk dan senjata api.


__ADS_2