
“Duh, Gusti. Aku harap dia masih hidup,” gumam Almira.
Sudiamara dan Koncar yang pertama masuk ke dalam ruangan, diikuti oleh para prajurit. Sudiamara dan Koncar terbelalak matanya melihat apa yang sedang terjadi di tempat ini. Ruangan berantakan, dinding jebol dan terdengar erangan para prajurit di sekitar termpat itu.
“Cepat, bantu rekan-rekan kita. Juga di pekarangan depan,” perintah Koncar.
“Kau tak apa, nduk?” tanya Sudiamara. Ia masih berdiri di jalan masuk dan berjaga-jaga dengan kuda-kudanya. Pedang luwuk tergenggam di tangan kanannya dengan erat.
“Maukah kau lihat dia, Kakang? Aku benar-benar berharap Kakang Kesanga tidak … tidak tewas,” ujar Almira terlimat cemas dan khawatir.
Secara seragam dan bersamaan Sudiamara dan Koncar kembali memerhatikan sosok yang terbaring di lantai tak sadarkan diri. Jelas sekali itu adalah Kesanga. Yang membuat mereka bingung dan tak bisa berkata apa-apa adalah bagaimana mungkin pendekar yang tadi mereka lawan habis-habisan, bahkan membuat banyak prajurit terluka dan mungkin terbunuh, kini terbaring tak bertenaga? Darah mengalir dari berbagai luka di tubuhnya, termasuk wajahnya.
“Kau setuju denganku bahwa ia kebal, bukan?” tanya Sudiamara kepada Koncar. Koncar mengangguk pelan.
Sudiamara menatap Almira yang tangan kirinya mengelus perut buncitnya, sedangkan tangan kanannya menggenggam sebuah cemeti. Ia sadar bahwa ia terlalu lama melongo dan terperangah. Maka Sudiamara langsung mendekat ke arah Almira. Ketika disentuh, Almira langsung terasa lemas.
“Ampun, Kakang Sudiamara. Bagaimana nasib jabang bayiku bila ia sampai berhasil membunuhku. Kepala ini akan ia penggal, Kakang,” ujar Almira. Tubuhnya sudah menyandar pada Sudiamara saking lemasnya.
“Ayo, duduk dulu, nduk. Koncar, ambil kursi itu,” ujar Sudiamara.
Koncar yang aslinya tidak suka diperintah, demi melihat keadaan sang junjungan tanpa keberatan sama sekali langsung mengambil sebuah bangku dari kayu jati yang terlempar oleh pertarungan di dalam ruangan ini.
__ADS_1
Almira duduk dan mengatur nafasnya. Cambuk masih digenggam erat.
Koncar kini segera mendekat ke arah Kesanga dan memeriksa keadaannya.
“Orang ini masih bernafas, Nyai,” lapornya.
Almira menghela nafas panjang. “Duh, Gusti, terimakasih,” gumamnya.
Koncar memerintahkan para prajurit yang telah membantu rekan-rekan mereka untuk mendudukkan Kesanga dan mengikatnya di salah satu blandar saka guru atau tiang peyangga utama di dalam ruangan tengah itu.
“Ikat kuat! Ikat juga kedua tangannya dengan menggunakan tali yang ia bawa, siapa tahu itu juga jadi salah satu kelemahannya,” ujar Koncar sok tahu sekaligus berjaga-jaga. Bagaimana tidak, ia menjadi saksi kekebalan sang lawan dan betapa kuatnya orang tersebut. Keadaan Kesanga yang berkebalikan ini tentu sukar sekali untuk dapat diterima.
“Aku bahagia dan lega kau selamat, nduk. Tapi, bagaimana caranya?” ujar Sudiamara tak bisa lagi menahan rasa ingin tahu dan penasarannya.
Sudiamara mengernyit.
“Jadi, aku baru sadar bahwa yang kakang sebut sebagai Kesanga itu adalah murid dan salah satu abdi abah di masa lalu. Awalnya, aku juga ragu. Saat itu aku masih terlalu kecil ketika mengingat sosoknya. Aku juga sekadar coba-coba dengan cambuk milik abah ini. Kalau Kesanga bukanlah kakang Kesanga yang aku ingat dulu, aku sudah pasti mati, Kakang,” ujar Almira.
Sudiamara menyeret satu lagi kursi dan duduk di depan Almira.
“Kakang Kesanga adalah orang yang tangguh. Ia memiliki banyak mimpi dan keinginan. Maklum, ia juga sakti. Itu yang abah ceritakan kepadaku. Abah bahkan termasuk sering bercerita tentang Kakang Kesanga dibanding orang lain, maaf, termasuk Kakang Sudiamara. Tapi, jangan tersinggung, Kakang. Almarhum abah menceritakan mengenai Kakang Kesanga karena abah tahu pendekar itu berbahaya. Kemauannya terlalu kuat. Ia pun memang cerdas karena dengan cepat menguasai ilmu dan jurus-jurus cambuk gabungan abah. Sampai suatu saat, Kakang Kesanga memutuskan untuk berhenti melayani abah dan memusatkan perhatian pada olah kanuragan,” cerita Almira panjang lebar.
__ADS_1
“Dan, kau tahu, Kakang … Kakang Kesanga menuntut ilmu kekebalan itu di Blambangan sendiri, bukan di tempat asalnya, yaitu Tengger,” ujar Almira melirik ke arah Sudiamara.
“Ah, aku tak suka dengan ilmu hitam semacam itu, nduk. Tidak perlu menyindirku. Lihat, dia mati konyol hanya karena dicambuk dengan … dengan apa, nduk?”
“Cemeti dari kulit gajah, Kang,” jawab Almira sembari tersenyum kecil.
“Nah, cambuk gajah! Kalau dia mau melayaniku pun, dia pasti kalah. Asal kau tahu, nduk, dia melarikan diri tadi. Kau tanya Koncar,” jelas Sudiamara.
Mendengar ini Koncar mengangkat bahunya saja.
“Baik, baik, Kakang. Aku percaya. Yang jelas, Kakang Kesanga kemudian datang ke abah untuk menceritakan tentang apa yang ia punyai saat itu, dan apa kelamahannya. Abah berpikir saat itu Kakang Kesanga juga sedang ingin pamer,” jelas Almira.
Sudiamara sungguh menentang sindiran Almira yang sebetulnya bercada itu. Memang dalam budaya kependekaran orang-orang Blambangan, ilmu kesaktian tidak hanya dilihat dari kemampuan silat dan jurus-jurus hebat. Bahkan jurus-jurus bertenaga dalam pun dianggap tidak mencukupi sebagai bagian dari kehebatan sang pendekar.
Ilmu hitam seperti santet sangat lah dikenal oleh warga Blambangan. Dengan tujuan balas dendam, orang yang memiliki kemampuan ini dapat membunuh orang yang diinginkan dari jawak jauh. Ini disebut dengan santet merah. Selain itu ada pula santet kuning sebagai pelet atau ilmu pengasihan serta santet putih sebagai pelancar usaha. Saudagar Amir, abah Almira, juga sempar ditawari santet putih untuk memperlancar usaha mereka di Blambangan.
Almira tersenyum memikirkan hal ini. Tentu saja sang Saudagar Amir yang asal Arab dan beragam Islam itu menolaknya, pelan tetapi mentah-mentah.
Ilmu kekebalan juga tentu merupakan ilmu yang hampir wajib hukumnya bagi para prajurit dan pendekar Blambangan, atau paling tidak melengkapi kemampuan ilmu silat mereka.
“Entah sudah berapa pendekar yang berilmu kebal sudah kubunuh atau kukalahkan, nduk. Bila memang kemampuan ilmu kebal itu niscaya dan begitu hebatnya, orang-orang Blambangan tidak akan kalah dari Majapahit, prajurit-prajurit Majapahit sendiri tidak akan kalah dari orang Demak, atau orang-orang Blambangan pasti bisa menundukkan Mataram. Kekebalan mereka selalu memiliki kelemahan yang sepele, tidak boleh dipukul menggunakan bambu misalnya. Atau disiram tanah kuburan. Atau diludah di mata. Atau … dicambuk dengan cemeti berbahan kulit gajah. Seorang pendekar sejati tidak akan bermasalah dengan hal-hal semacam itu, mereka mampu mencari jalan keluar dan mengambangkan kemampuan silat mereka,” tentang Sudiamara.
__ADS_1
“Aduh, Kakang Sudiamara. Aku percaya, aku percaya. Aku hanya bercanda tadi. Berkat Kakang dan Koncar lah aku dan jabang bayi Kakang Jayaseta ini dapat selamat, meski aku juga turut berduka cita atas korban pengawal-pengawal kita. Masalah ilmu silat dan kanuragan, aku benar-benar menyerahkan kepada kalian,” ujar Almira.
Koncar maju mendekat. “Tapi, apakah kita sadar bahwa Nyai lah yang menyelesaikan pertarungan? Aku curiga, jangan-jangan, jabang bayi di dalam perut Nyai adalah seorang calon pendekar ulung? Ia yang mendorong Nyai untuk mengambil tindakan tersebut,” ujar Koncar bersemangat.