
Menurut pengamatan Baharuddin Labbiri, akhirnya Jayaseta melakukan kesalahan pertama: ia meniru jurus-jurus Silat Tomoi Baharuddin Labbiri.
Pendekar ini melompat bagai terbang kemudian menghujam tajam menukik ke bawah bagai seekor burung elang. Ia memberikan serangan siku yang kekuatannya dibebankan pada seluruh tubuhnya. Bila mengenai musuh, maka tak terbayangkan kerusakan yang terjadi.
Jayaseta memang memutuskan untuk tidak menahan-nahan serangannya karena paham bahwa yang ia hadapi sekarang memiliki ilmu kanuragan yang mumpuni. Jayaseta belajar bahwa ilmu silat yang digunakan Tun Guru Baharuddin Labbiri ini hampir sama sekali berbeda dengan silat nusantara lainnya. Serangan dengan siku dan lutut dimaksudkan sebagai senjata yang mematikan karena dua bagian itu adalah bagian tubuh yang terkeras dari tubuh manusia.
Awalnya Jayaseta hendak menggunakan Jurus Tanpa Jurusnya untuk memahami gerakan lawan dan meleburkannya, menggunakan celah dan kelemahan gerakan lawan untuk kepentingannya. Tapi, sisi lainnya yang selalu bersemangat dengan ilmu-ilmu baru serta kepercayaan dirinya yang tinggi, Jayaseta memutuskan meniru jurus lawan.
Baharuddin Labbiri tentu bukan sembarang lawan. Dengan mudah ia menahan serangan Jayaseta. Satu lututnya menekuk ke perut, punggungnya membungkuk dan kepalanya bersembunyi di balik kedua lengannya yang menutupi kepala.
Siku Jayaseta bagai menubruk sebuah batu karang. Baharuddin Labbiri menahan serangan Jayaseta yang diselipkan tenaga dalam itu bagai seekor kura-kura di dalam cangkangnya.
Jayaseta tersentak karena lawan tidak menghindar dan serangannya tak memberikan dampak apapun.
Jayaseta kembali meniru jurus-jurus Silat Tomoi. Ia menggunakan permainan pinggul untuk menendang lurus ke samping tubuh Baharuddin Labbiri dengan keras. Jurus ini memungkinkan sebuah tendangan dapat dilepaskan sekeras dan secepat mungkin.
Baharuddin Labbiri menekuk lututnya kembali, membungkukkan punggung dan menurunkan siku. Tendangan Jayaseta menubruk sebuah benteng. Sang guru berdarah Bugis itu bergeming.
__ADS_1
Jayaseta berputar hendak menyerang ke arah kepala lawan dengan bagian belakang sikunya.
Serangan ini terbaca dengan mudah. Baharuddin Labbiri menunduk sembari memberikan satu tinju lurus ke pinggang Jayaseta.
BUG!
Mengenai telak.
Jayaseta tersentak mundur ke samping. Baharuddin Labbiri melaju. Satu tinju mengenai rahang Jayaseta, siku ke dada, lutut ke perut dan terakhir satu sepakkan keras ke betis Jayaseta membuatnya terjengkang dan jatuh berdebum ke bumi.
***
Meski ada yang beranggapan bahwa sang laksamana tidak benar-benar berlabuh di nusantara, hanya memberikan perintah dari atas kapal, tak pelak kisah sejarah ini membuktikan hubungan awal orang-orang Cina dengan Riau.
Ratusan tahun kemudian, tercatat sebuah perkampungan orang Cina di Pulau Penyengat. Mereka disana diduga bekerja sebagai pedagang dan petani. Hanya saja, mereka tak tinggal lama di Pulau Penyengat karena secara bersama-sama dan berbondong-bondong, orang-orang Cina tersebut pindah ke Senggarang. Perpindahan tersebut diterima dengan baik oleh penduduk asli. Bahkan perkawinan anak seorang Kapitan Cina dimeriahkan dan dihormati oleh tokoh setempat.
Di Senggalarang didirikanlah sebuah tempat peribadatan dan pemujaan orang Cina. Di tempat ini, ada beberapa pengurus. Ada pula seorang tokoh yang dikenal sebagai seorang tabib sekaligus Laoya. Ia singkatnya dipanggil sebagai Feng Laoya. Nampaknya namanya hanyalah sebuah panggilan atau gelar yang kurang lebih berarti 'burung api'.
__ADS_1
Pagi ini ketika sedang sembahyang, Feng Laoya melihat dengan mata batinnya, asap hio membentuk bayangan tiga sosok manusia yang berpendar tidak utuh. Namun Feng Laoya paham bahwa ketiga sosok itu terdiri dari dua orang laki-laki dan satu orang perempuan.
Ia tersenyum. Jalan hidup dan nasib memang susah ditebak. Selama ini di Kampung Cina Sanggalarang, ia mengabdikan diri membantu orang-orang Cina petani maupun pedagang dalam hal perhitungan hari baik mereka untuk melakukan kegiatan sehari-hari. Begitu pula masalah kelahiran, pernikahan, maupun kematian, Feng Laoya selalu menjadi bagian dari upacara dan pemberkatan setiap tingkat kehidupan manusia tersebut.
Tapi apa yang ia lihat sekarang di dalam batinnya adalah sesuatu yang lain. Ada hal besar, melebihi kepentingan orang-orang Cina warga Kampung Cina Senggalarang di daerah Kepulauan Riau di bawah kekuasaan Kesultanan Johor-Riau ini.
Di seberang lautan, tiga orang memutuskan untuk pergi berlayar bersama menuju Riau. Benang-benang takdir lah kelak yang akan mengikat ketiganya dengan Feng Laoya. Fong Pak Laoya dan Feng Laoya adalah dua kutub yang saling menarik. Bersama keduanya, sepasang laki-laki dan perempuan, Yu dan Pratiwi, mungkin menemukan langkah dan tujuan hidup mereka.
------------+++++++++++++++-------------
Salam Pendekar.
Para pembaca yang budiman, kembali bertemu dengan perjalanan Jayaseta mengelilingi Nusantara dan Mancanegara.
Dalam kesempatan ini saya ingin menyampaikan bahwa akan ada sedikit perubahan penyajian Bab dalam novel ini. Setiap Bab akan ditulis lebih ringkas dibanding sebelum-sebelumnya, namun dijadikan dua atau tiga bab dalam sekali Update. Hal ini dimaksudkan agar setiap Bab menjadi lebih tertata dan tak terlalu menumpuk. Semoga pemilihan gaya penulisan seperti ini dapat diterima dengan baik oleh para pembaca sekalian.
__ADS_1
Terimakasih 🙏🏻🙏🏻