Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Korban Pertama


__ADS_3

Ringkikan kuda terdengar beserta derapnya yang menyibak keheningan malam. Para prajurit telah bersiap menyambut apa yang akan datang ke hadapan mereka. Busur meregang, anak panah terentang. Para prajurit penjaga tempat tinggal Almira berada di titik yang dapat terlihat, dan bukannya bersembunyi di sudut-sudut tembok tertentu. Mereka diminta untuk memusatkan perhatian di gerbang depan. Koncar awalnya menolak permintaan dan perintah Sudiamara sebenarnya. Ia masih merasa bahwa mereka tetap memerlukan rencana cadangan bilamana Kesanga dan dua orang pengikutnya akan menyerang dari sudut dan sisi lain bangunan untuk menipu atau  pengecoh para penjaga.


Sudiamara bersikukuh. “Kalian tidak mengerti apa-apa mengenai Kesanga. Sudah kukatakan berkali-kali bahwa Kesanga adalah seorang pendekar paling sombong yang pernah kukenal. Ia jemawa, meski bukan berarti ia bodoh. Ia menginginkan dunia melihatnya dari depan, di saat yang sama ia tak mau menghadapi lawan begitu saja seperti orang dungu dan nekat. Ia tetap memerlukan rencana. Kebetulan ia memang termasuk cerdas.”


“Jadi, maksudmu kita harus dengan bodohnya menjaga gapura dan menunggu ia datang dengan busur terentang, dan berharap ia tidak tahu apa yang akan kita lakukan? Mengapa semakin lama kau semakin memuji orang itu?” ujar Koncar tidak setuju.


“Kau dengar aku tidak, Koncar? Kesanga tidak bodoh. Aku tidak tahu apa dan bagaimana caranya ia masuk melalui pintu depan atau melalui gapura utama. Itu yang harus kita siasati. Tetapi dengan nyawaku, kujamin Kesanga dan kedua budaknya itu akan masuk melewati gapura itu,” balas Sudiamara menunjuk lurus ke arah gapura yang tersinari cahaya obor.


Malam telah semakin larut ketika dua prajurit berteriak-teriak melaporkan bahwa ada tiga ekor kuda dengan penumpang di atasnya melaju cepat ke arah bangunan hunian yang ditempati Almira.


Kini, saatnya sudah tiba bagi darah untuk tertumpah.


“Jaga perhatian kalian. Pusatkan pada gerbang!” perintah Koncar sembari berlari kesana kemari dengan tombak dan tamengnya.


Seekor kuda menembus malam. Angin yang dihembuskan dari lari sang kuda mengenai obor, membuatnya bergoyang-goyang liar.


“Seraaang!” teriak Koncar memberikan perintah.


Belasan anak panah melesat dilanjutkan dengan tembakan anak panah kedua dari setiap prajurit yang telah melepaskan anak panah pertama. Desingan anak panah yang melaju membelah udara menancap di tubuh kuda yang tak bersalah itu. Mata, kepala, punggung, paha dan kakinya dihujani anak panah. Sang binatang berkaki empat itu tersentak jatuh dengan keras, bergulingan beberapa kali sebelum kemudian mengejang mati.


Tidak ada siapapun di atas pelananya.

__ADS_1


Kuda kedua masuk. Ringkikan dan derapnya kembali membuat para prajurit yang semula terpana melihat pemandangan di depannya kini kembali awas.


“Seranggg!” kembali seruan perintah Koncar terjadi sebagai bentuk naluri kependekarannya.


Lagi-lagi belasan anak panah menancap di daging seekor kuda tanpa penunggang yang menggelosor mati sia-sia. Puluhan anak panah sudah dilepaskan tanpa hasil sampai teredengar ringkikan kuda yang ketiga kali. Anak panah hampir terlepas dari gandewa ketika semua mata kembali melihat tiada apa-apa di atas pelana.


Kuda tersebut terus berlari ke arah para prajurit yang mulai mengendurkan pegangannya pada busur. Ketika para prajurit tersadar, semua sudah terlambat.


Ada satu sosok tak dikenal bergelantungan di bawah kuda. Dengan begitu cepat sosok itu berguling, melepaskan cemeti dan mencambukkannya dari jarak yang cukup jauh.


CTAR!


CTAR!


Ujung cemeti menghajar wajah, membelit leher dan menjatuhkan gandewa mereka. Sang sosok bercemeti itu juga mampu memainkan jurus-jurus berjarak sehingga setiap pecutannya sama sekali tidak bisa dibalas dengan serangan jarak dekat maupun tembakan anak panah. Para prajurit penjaga berjatuhan, bergulingan, bahkan beberapa tersentak dan jatuh terjerembab.


Koncar mengangkat tombak dan tamengnya dan berseru kepada para prajurit penjaga yang berada di belakangnya untuk membantu para prajurit. Dua prajurit telah langsung berlari ke arah para prajurit pemanah yang sedang berjatuhan dicambuki, tetapi bahu Koncar ditahan Sudiamara. “Jangan tertipu, Koncar. Bertahan!” serunya.


Koncar dan beberapa prajurit yang mendengar Sudiamara mencegah kepergian mereka ini mendadak berhenti dan mengurungkan tindakan mereka. Benar saja, dua orang sosok bercemeti tiba-tiba sudah berada di dalam pelataran ketika semua pandangan tertuju pada kuda terakhir yang masukdan kekacauan yang terjadi dikarenakan serangan sang sosok itu kepada para pemanah.


Dua pendekar bercemeti itu berlari cepat dan bergerak gesit. Wajah mereka tertutupi kekelaman malam. Cemeti sudah dicambukkan membuyarkan prajurit.

__ADS_1


“Lemparkan tombak kalian! Angkat tameng dan hadapi lawan!” seru Koncar begitu mengetahui bahwa pasukannya telah terbagi dan terpecah menjadi dua.


“Koncar, kau hadapi orang yang menyerang para pasukan pemanah. Aku tak yakin ia adalah Kesanga yang asli. Tapi kita sama sekali tak tahu mana yang asli karena memang itulah kegunaan dua orang bawahannya. Yang jelas, para pasukan pemanah sudah benar-benar kesulitan karena tak menyangka akan diserang dan tak sempat membalas serangan,” ujar Sudiamara.


Koncar tak lagi mengangguk dan langsung menderu ke arah para bawahan prajurit pemanahnya.


Sudiamara mencabut pedang luwuk Blambangan dan bergerak cepat meski tak menderu secepat Koncar. Ia masih memperhatikan dengan baik kedua lawannya disana.


Dua pendekar cemeti memutar-mutarkan pecut mereka seperti angin ****** beliung, bagai angin puyuh. Ketika para prajurit menyerang, satu pendekar memecutkan serangannya, memapras wajah, bahu dan punggung lawan dalam sekali sabet. Ketika prajurit lain ingin mencoba dari satu sisi berbeda, giliran pendekar yang memutar-mutarkan cemetinya yang melakukan serangan. Intinya, kedua pendekar saling mengisi jurus-jurus berpasangan ini.


“Bangsat! Kita lemparkan saja tombak ini seperti perintah Koncar,” ujar salah satu prajurit.


Sudiamara mendengarnya dan berteriak lantang, “Jangan melemparkan tombak kalian! Jaga jarak saja!”


Terlambat. Satu tombak sudah dilepaskan dan meluncur tajam ke arah sasaran. Dua pendekar yang menggunakan cambuk seperti sebuah benteng yang sulit ditembus membelit batang tombak yang dilemparkan ke arah mereka, kemudian dengan sekali sentak memutar tubuh dan melemparkan batang tombak itu kembali kepada sang pelempar.


Desingan batang tombak malah melebihi kecepatan ia dilemparkan sebelumnya. Ujung lancip senjata itu menembus kerongkongan prajurit yang melemparkannya tadi. Tubuhnya berdemum terlentang ke bumi tak bernyawa. Kepalanya terangkat karena tersangga oleh tombak yang menancap di tanah melalu lehernya.


Korban tewas pertama dari pihak Almira. Darah menggenang di pelataran tanah rumah sang Nyai.


Sudiamara meludah ke tanah, kemudian berlari secepat angin ke pusat pertempuran. Tubuh gempalnya meloncat-loncat dalam gerakan yang tidak masuk akal untuk laki-laki dengan bentuk tubuh seperti itu. Rupa-rupanya Sudiamara menggunakan tenaga dalam dan jurus-jurus peringan tubuhnya untuk membuat gerakannya melayang seringan kapas.

__ADS_1


“Kesanga! Dimana kau? Jangan menjadi pengecut. Aku disini untuk siap kau hadapi. Sembilan Pendekar Dunia Baru mana yang paling pantas mendapatkan gelap pendekar?” tantang Sudiamara.


__ADS_2