
Jayaseta bergeming dengan gemuruh derap kaki kuda dengan pasukan perampok yang bersenjata lengkap di atas pelananya.
Melihat kedatangan pasukan dadakan musuh, Narendra dan Katilapan langsung pasang badan. "Ini sudah keterlaluan. Kita sudah terlanjur basah. Siapkan senjata kalian. Kita akan bantu Jayaseta," ujar Katilapan sembari meraba ginuntingnya.
Narendra pun sudah mempersiapkan tombak pendek bermata trisulanya, tepat ketika Dara Cempaka menyentuh bahunya. "Abang Narendra, tunggu sejenak. Kita tak tak bisa ikut pertarungan ini."
Sontak Narendra memandang ke arah istri sahabat pendekarnya itu. "Apa maksudmu, Dara? Puluhan perampok berkuda itu sedang menyerang kita," balasnya.
Sebagai jawaban, Dara Cempaka mengarahkan pandangan ke Jayaseta yang terlihat sedang memberikan tanda dengan tangannya. Tanda itu jelas menunjukkan agar rombongannya tak ikut masuk ke dalam pertempuran.
Bahkan Siam dan Ireng pun memerhatikan gerakan tanda Jayaseta dari kejauhan.
"Sialan kau, Jayaseta. Apa sebenarnya niatmu?" gumam Narendra. Tapi ia melepaskan pegangannya pada tombak trisulanya. Semua kini sadar bahwa Jayaseta pasti telah memiliki pertimbangan tertentu, tak peduli seberapapun nekad dan sembrono tindakannya. Bukan kali ini mereka menjadi saksi kehebatan silat Jayaseta mengalahkan keroyokan, atau pendekar macam apapun. Memercayainya sekali lagi tak akan merugikan.
Mereka pun bergeming.
Jayaseta di sisi lain, setelah berhasil membuat rekan-rekannya yakin untuk tak turun tangan langsung dalam pertempuran ini, langsung saja memalingkan wajah ke arah tampang-tampang beringas yang melaju dari atas kuda ke arahnya.
Ya, ia memang memiliki rencana.
Jayaseta berlari menyongsong musuh yang terus berderap begitu laju. Dengan satu hentakan kakinya saja tubuh Jayaseta melambung tinggi. Ia menjejakkan kedua kakinya ke dua pengendara kuda terdepan.
__ADS_1
Hasilnya, kedua perampok itu terpelanting jatuh berdebum dan berguling-guling ke tanah. Jayaseta menghentakkan kakinya lagi, melompat tinggi lagi menyelip ke tengah rombongan berkuda dan menghajar dada seorang pengendara kuda dengan keras, membuatnya juga terpelanting jatuh dan terinjak kaki kuda di belakangnya.
Untuk menghindari hal yang sama terjadi pada dirinya, Jayaseta berteriak-teriak kencang membuat binatang-binatang itu meringkik kacau. Ia juga terus bergerak, memutar, melompat, menendang atau memukul lawan dari balik debu. Satu dua pengendara kuda kembali jatuh.
Menyadari kegesitan dan keganasan lawan, para pengendara kuda melemparkan lembing mereka.
Jayaseta menepis, berguling, dan menangkap satu tombak.
Dengan sebatang tombak di tangannya, pendekar bertopeng itu menyelipkannya diantara kaki kuda yang berderap.
Kuda melenting dan berpuntir jatuh bersama pengendaranya, membuat keadaan menjadi semakin ricuh.
Jayaseta masih mengganas. Ia terus saja bermain di selipan ruang. Melompat, berguling, menangkis atau menghindari sodokan tombak dan lemparan lembing. Ia sempat juga merebut daab lawan dan memutarkannya untuk membuyarkan tatanan serangan lawan berkuda.
Ini jelas bukan perkara gampang sebenarnya. Pertama, penyerang dengan kuda biasanya berada dalam keunggulan karena menyerang dari atas. Derap kaki kuda juga dapat membunuh musuh. Apalagi kuda bergerak dengan cepat. Kedua, ini adalah kali pertama Jayaseta berhadapan dengan para pendekar berkuda dan dalam jumlah yang tak sedikit.
Namun, berperang dengan rombongan pasukan berkuda, Jayaseta memiliki banyak keunggulan, selain memang ia bukan seorang pendekar biasa. Para perampok ternyata harus menyesuaikan cara bertarung Jayaseta yang hanya seorang diri itu. Gerakan Jayaseta yang tak terduga dan berkemampuan silat yang tinggi juga semakin mempersulit serangan mereka. Dan, Jayaseta memang merencanakan semuanya dengan cepat dan baik.
Ia sadar bahwa ia bukan seorang dewa. Seberapapun hebatnya ia, melawan puluhan pasukan berkuda, ia bisa saja kelelahan, ceroboh dan tewas seketika. Terlalu mustahil untuk menggunakan tenaga dalam terus menerus untuk melompat-lompat dan memberikan serangan berupa tinju dan tendangan. Maka, ia akan membuat pasukan ini tertahan di bagian depan, memporak-porandakannya dan mengusir mereka. Itu rencana sederhananya.
Namun, jelas ini bukan perkara gampang dan mudah untuk dilakukan.
__ADS_1
Para perampok yang terjatuh dari kuda, ada yang masih bisa bangun untuk menyerang Jayaseta dari atas tanah.
Satu perampok bangun dan meraih tombaknya. Tombak itu memiliki bentuk yang cukup mengerikan dan dirancang untuk sebuah peperangan dari atas kuda. Kelak Jayaseta akan paham bahwa tombak yang bernama ngao itu merupakan senjata rampasan dari prajurit Ayutthaya.
Tombak itu memiliki mata sepanjang sebuah daab yang sama melengkung tapi memiliki pengait di pangkal bilahnya. Jayaseta juga sempat melihat ngao dengan mata tombak yang bagian belakangnya mencuat dan bergerigi. Ia menduga tombak jenis ini memang digunakan untuk menyodok dan menusuk musuh dari atas kuda.
Yang tak Jayaseta tahu, ngao utamanya juga digunakan oleh pasukan gajah.
Perampok dengan ngao itu maju menerjang Jayaseta dengan mata tombak menusuk ke arah depan. Jayaseta sendiri masih harus menghindari dari tusukan daab dan tombak-tombak lainnya dari atas pelana kuda. Daab yang ia genggam masih terus diputarkan menghalau serangan musuh sembari bersiap menghadapi ngao yang meluncur ke arahnya.
________________________________________________
Para pembaca yang budiman, di kesempatan kali ini saya ingin mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir dan Batin. Mohon maaf karena penulis kerap jarang update cerita disebabkan satu dan lain hal. Namun, percayalah bahwasanya penghargaan dan kesetiaan para pembaca takkan luput dari perhatian penulis. Terimakasih atas kesetiaan para pembaca dan sekali lagi maaf atas kekurangan penulis selama ini. Tetap ikuti perjalanan Jayaseta ππ»ππ»π
__ADS_1