
Yu dan sepupu jauh perempuannya berjalan berdampingan. Mereka hendak mengambil arak khusus di rumah Lau Siufan yang dibuat untuk pengobatan dan kesehatan tubuh. Yu sudah memesannya jauh-jauh hari demi keperluan rumah pengobatan Meester Equa.
Yu mencium bau arak dari mulutnya sendiri setiap ia berbicara. Udara sudah tidak terlalu panas karena telah menjelang sore.
Yu meyakinkan diri sendiri untuk tidak berpaling ke arah biasanya Pratiwi berlatih. Ia sedang malas dan lelah selalu memerhatikan dan memerdulikan perempuan yang sama sekali tak peduli dengannya tersebut.
Namun, Pratiwi bukan tak memerhatikan Yu. Hanya saja, Pratiwi memiliki keperluan khusus terhadap tabib Cina itu.
Itu sebabnya sekarang terlihat jelas Pratiwi berdiri di tengah jalan setapak di depan pandangan Yu dan Lau Siufan dengan berkacak pinggang.
"Mabuk arak di siang bolong rupanya kau," ujar Pratiwi ketus.
Tadi sewaktu bercerita habis-habisan pada Lau Siufan, Yu memutuskan untuk tak terlalu ambil pusing lagi dengan perhatian Pratiwi yang mustahil untuk didapatkan.
Lau Siufan sendiri berusaha mati-matian menyembunyikan kenyataan sebenarnya bahwa ia tahu siapa Pratiwi, apa yang dilakukannya dan bahwasanya gadis muda itulah yang melukai kekasihnya, Sasangka, serta rekan-rekannya, bahkan membunuh sisanya yang lain.
Lau Siufan juga pada dasarnya enggan ikut campur urusan sang sepupu jauhnya betapapun khawatir ia sebenarnya. Sang sepupu mabuk kepayang seakan dipelet saja, dan ia jatuh cinta pada orang yang sangat berbahaya.
Jadilah Lau Siufan mencoba sebisa mungkin membantu sepupunya itu agar melupakan rasanya para Pratiwi. Ia sendiri kemudian mengaburkan cerita sebenarnya dengan Sasangka karena ia tak ingin Yu mengetahui hubungan antara semua ini, meski awalnya secara tulus ia juga ingin berbagi.
Yu bagai laki-laki tanpa harga diri yang mau saja mengemis perhatian dari seorang perempuan yang unggul dari semua sisi, kekuatan dan kuasa serta pesona.
"Tugasmu untuk menyembuhkan luka dalam belum tuntas. Aku masih belum dapat menggunakan tenaga dalamku. Ini membuat segala pekerjaanku terhambat," ujar Pratiwi kembali.
"Aku sudah katakan, pengobatan tusuk jarumlah yang aku kuasai. Aku bisa memberikanmu obat-obatan yang kau perlukan untuk membantu kesembuhanmu, tapi aku tak memiliki kemampuan yang cukup cakap perihal luka dalammu," ujar Yu.
"Kau pikir aku tahan selalu bersamamu? Aku sudah muak melihatmu dari hari pertama. Bila tidak karena tanggungjawabmu menyelesaikan pengobatanku, aku sudah enyah jauh-jauh dari pandanganmu," balas Pratiwi dengan meninggikan suara.
Kata-kata Pratiwi menembus relung-relung hati Yu, menusuk bagai mata panah, merobek bagai kuku macan. Begitu menyakitkan, walau Yu dari awal sudah sadar bahwa rasanya bertepuk sebelah tangan. Tapi mendengarnya secara langsung, menamparnya berkali-kali.
Lau Siufan tak tahan melihat sepupunya menjadi terhina seperti ini. Ia maju selangkah mendekat ke arah Pratiwi, "Maaf, nisanak. Namun apa yang membuat luka yang kau derita menjadi tanggung jawab saudaraku ini?"
Pratiwi tersenyum melecehkan. Ia berbicara, namun tak sudi memandang wajah Lau Siufan, "Ia yang menemukan dan menyelamatkanku pertama kali, ia yang merawat lukaku, maka ia yang harus menyelesaikannya."
"Bukankah nisanak yang harusnya berterimakasih karena akibat tindakan saudaraku ini, nisanak masih hidup?"
"Perempuan kurang ajar!" Pratiwi akhirnya memandang tajam ke arah Lau Siufan. "Kau sudah lancang berani berbicara denganku, malah sekarang barani menyalahkanku?"
"Sudah cukup, A Mui. Dia benar. Aku harus menyelesaikan pengobatan. Bagaimanapun aku adalah seorang tabib," Yu menggenggam lengan atas Lau Siufan dan meminta pengertiannya.
Lau Siufan menggeleng-gelengkan kepalanya geram. "Kau sendiri yang mengatakan bahwa tidak akan merendahkan diri seperti budak cinta lagi, bukan? Sekarang mengapa kau bertindak seperti ini, Ko?" ujar Lau Siufan setengah berbisik dengan sebal.
Yu menggeleng lemas. "Mungkin memang sudah nasibku seperti ini, A Mui."
Lau Siufan menepis genggaman lemah sepupunya. Ia maju kembali selangkah ke depan, semakin dekat dengan Pratiwi. "Maaf, nisanak. Seperti yang nisanak lihat sendiri, saudaraku sedang mabuk arak. Pikirannya mungkin sedang ikut terganggu. Paling tidak biarkan aku mengantar ia pulang ke rumah pengobatan. Mungkin lain waktu nisanak dan Ko Yu bisa berbicara lagi."
__ADS_1
Pratiwi meludah ke tanah. "Lancang ...," ujarnya di bawah nafas. Pratiwi kemudian maju cepat dan bermaksud menggeser tubuh Lau Siufan agar tak menghalangi jalannya. "Akan kuseret sendiri laki-laki itu," ujar Pratiwi sembari memegang bahu Lau Siufan.
Yang dipaksa bergeser menepis pegangan Pratiwi dengan gerakan bahu yang cepat, setelah itu langsung memasang kuda-kuda kuntau.
Sepasang mata Pratiwi mendelik murka, penuh amarah. "Mau cari mampus kau, hah?!"
Pratiwi tak menyangka sosok perempuan Cina di depannya dengan berani menantangnya mentah-mentah. Pratiwi tak pernah mendengar kata tidak dalam hidupnya. Untuk memaksakan kehendaknya, ia bahkan bertarung dengan mendiang ibunya, Sarti, dan kedua kakek kembarnya. Apalagi cuma perempuan rendah ini.
Tak perlu basa-basi, Pratiwi berniat memberikan pelajaran yang tak akan bisa dilupakan oleh perempuan itu.
Ia maju dengan cepat dan meninju Lau Siufan ke arah dadanya.
Terlalu lama memulihkan keadaan tubuh serta tak bertarung, membuat Pratiwi menjadi kurang peka. Kependekarannya sedikit tergerus oleh rehat yang berkepanjangan sehingga ia tak sadar bahwa sedari awal orang yang ia hadapi sudah mempersiapkan diri dengan sebuah kuda-kuda.
Lau Siufan pandai bersilat.
Dengan mudah, Lau siufan sedikit bergeser menghindari tinju itu dan memberikan sebuah sepakan ringan ke pinggul Pratiwi.
DES!
Pratiwi oleng, hampir saja ia jatuh. Yu berteriak tertahan. Namun ia tak bisa bisa mencegah kedua wadon sakti ini untuk bertarung.
Suhu panas pertarungan ilmu beladiri sudah terlepas ke udara, terlambat untuk menahannya kembali.
Amarah dan kekakuan gerakan membuat Pratiwi sekali lagi kehilangan sedikit ketajamannya.
Dua serangan beruntun dapat dihindari Lau Siufan.
Namun, keberingasan dan pengalaman nyata Pratiwi mencabut nyawa manusia semudah mengedipkan mata adalah hal yang tak dikenal baik Yu maupun Lau Siufan.
Itulah sebabnya ketika Pratiwi mengubah serangan menjadi lebih mematikan, Lau Siufan terpaksa ikut mencoba melakukan serangan.
Pratiwi terbiasa menyelesaikan pertarungan dengan senjata tajam, kedua keris tanpa luknya, yang cepat dan ringkas. Tanpa senjata, gerakan dan tujuannya sama, membunuh.
Kedua telapak tangannya dibuka. Kedua sisinya digunakan serupa belati yang membabat dan menusuk.
Tiga tebasan tangan Pratiwi menubruk lengan Lau Siufan yang merasakan nyeri di sekitarnya.
Lau Siufan memainkan jurus-jurus Sàam Kûn-thâu nya dalam satu poros.
Serangan Pratiwi semakin mengganda, menjadi enam serangan yang terdiri dari tebasan dan tendangan keras.
Lau Siufan mampu melihat jurus-jurus sang lawan namun toh tetap keteteran sehingga tendangan juga mengenai bahunya. Ia mundur beberapa langkah dan langsung memasang kuda-kudanya kembali.
Pratiwi meraung maju, Lau Siufan tak tinggal diam. Ia ikut maju menyongsong serangan dengan memukulkan tinjunya. Tinju itu berhasil menembus pertahanan Pratiwi dan mengenai dadanya, namun ia sendiri terjatuh karena dua tendangan telak menghajar tubuhnya.
__ADS_1
"Dua kali kau menyentuhku, bang*sat!" ujar Pratiwi mengetahui bahwa sudah dua pukulan Lau Siufan mendarat di badannya.
"Cukup, Pratiwi, cukup A Mui!" teriakan setengah mabuk Yu tak menghasilkan apa-apa karena Lau Siufan harus mati-matian bangun dengan gempuran serangan Pratiwi.
Memang Sàam Kûn-thâu Lau Siufan bisa dikatakan manjur menolak pukulan dan tendangan Pratiwi yang bagai hujan itu. Namun keberingasan dan kecepatan Pratiwi masih di atas dirinya.
Keuntungan didapatkan karena Pratiwi tak dapat mengeluarkan secuil tenaga dalampun. Bila ia mampu mengalirkan tenaga dalam murni ke seluruh tungkai kaki dan tangannya, maka gerakan meringankan tubuh Pratiwi tak bisa dibendung. Kurang dari sepuluh jurus dan dua gebrakan yang mengenai telak Lau Siufan, bisa saja merobohkannya, bahkan membunuhnya.
Hanya saja, melihat betapa serangannya masih tertahan oleh musuhnya, membuat Pratiwi menjadi semakin marah.
Lau Siufan menggeser sabetan telapak tangannya, menepis tendangannya dan mundur ketika Pratiwi meloncat dan memberikan tendangan panjangnya dari udara.
Pratiwi mengubah jari-jarinya yang merapat menjadi meniru bentuk cakar macan.
Ia mengalirkan tenaga dalamnya ke kesepuluh jari-jarinya tersebut serta ke kedua kakinya.
Dengan satu tolakan, Pratiwi melompat begitu ringan dan cepat dan menyasar kepala sang lawan. Ia hendak mencabik kepala dengan rambut hitam kelam itu bagai mengoyak daun pisang saja.
Lau Siufan terkejut tak menyangka mendapati serangan kilat ini. Sudah tak mungkin untuk menghindar.
Iapun terpaksa menahan serangan Pratiwi dengan ikut memberikan balasan.
BRET!
Cakar Pratiwi menyobek baju dan lengan Lau Siufan, menghadiahi dengan empat luka goresan memanjang yang mererah oleh darah.
BUG!
Tinju Lau Siufan juga ternyata berhasil mendarat di dada Pratiwi.
Pratiwi jatuh rebah ke tanah. Mulutnya mengeluarkan darah dan ia tak sadarkan diri.
"A Mui ... !!"
Ia mendekat ke arah Lau Siufan dan melihat lukanya.
"Aku tak apa, Ko. Luka gores biasa. Cepat kau lihat perempuan itu. Ia nampaknya nekad mengeluarkan tenaga dalam."
Yu sejenak terlihat ragu. Apakah ia benar-benar harus menolong Pratiwi untuk kedua kali dalam keadaannya yang berada diantara hidup dan mati ini? Apakah ia kembali menjadi budak perempuan tak berperasaan itu? Lalu bagaimana dengan Lau Siufan yang beberapa saat lalu mengatakan bahwa ia harus berani mengeyahkan perasaan cintanya pada Pratiwi, namun kali ini ia bahkan meminta dirinya untuk menyelamatkan Pratiwi yang sudah habis-habisan menyerang dan bahkan ingin membunuhnya.
"Aku minta kau menghindari dirinya, Ko, bukan membunuh atau membiarkan ia mati. Kau sendiri yang mengatakan bahwa kau adalah seorang tabib, bukan?"
Setengah mabuk setengah sadar, Yu terperanjat. Ia melihat sekali lagi luka sepupunya, "Kau yakin kau tak apa-apa, A Mui?"
"Ah, sudahlah. Kau terlalu mabuk nampaknya, aku yang akan menggendong perempuan itu ke rumah pengobatan."
__ADS_1