Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Ceruk


__ADS_3

“Aku tidak tahu apa kau dapat memahami bahasaku wahai si Petir Berkulit Pucat," Jayaseta memandang Devisser de Jaager yang memang dikenal dengan julukan kependekarannya tersebut.


Jayaseta kemudian memandang sang saudara tua, Sebastian de Jaager yang sudah menggenggam saber nya dengan kuda-kuda ilmu pedang khasnya. "Tapi kalian jelas paham bahwa aku disini tidak sekadar untuk jajal menjajal ilmu, tapi sudah barang tentu untuk membunuh kalian atas nama darah orang-orang yang telah kalian bunuh. Tidak seorangpun dari kita yang berjalan keluar dari bukit ini dengan sehat sentosa,” ujar Jayaseta mantap di balik topengnya.


Tanpa diduga si Petir, Devisser de Jaager, menjawab dalam bahasa Melayu bercampur bahasa Jawa dan Walanda dengan suaranya yang berat, “Ik pun memiliki tujuan yang serupa. Sudah cukup lama seorang pendekar bertopeng mengganggu kepentingan kompeni. Walau Ik salut dengan sepak terjang kowe, tapi semuanya harus berhenti sekarang,” ujarnya dengan mantap. Walau tubuhnya jangkung, namun ia memiliki suara yang dalam dan berat.


Di balik topengnya Jayaseta tersenyum. Tangan kirinya menggenggam erat gagang keris Kyai Pulau Bertuah yang dihiasi darah Hidyoshi. Ia telah mencabut keluar keris itu dari dagu jasad Hideyoshi dan  menggenggam erat di samping tubuhnya. Sedangkan tangan kanannya masih pula menggenggam erat dao milik almarhum Abun.


Devisser De Jaager pun sudah paham bahwa tidak perlu bagi mereka untuk panjang lebar lagi berucap kata. Ia sudah mencabut pedang panjangnya, rapier.


Sang saudara tua menahan adiknya. Ia menunjukkan saber miliknya yang bilah tipisnya melengkung dan berkilat-kilat terkena cahaya matahari pagi yang dengan malu-malu menembus melalui sela-sela dedaunan dan ranting-ranting pohon di sekeliling mereka.


Dalam bahasa Walanda yang terdengar seperti orang berkumur-kumur itu, Sebastian mengatakan kepada Devisser untuk tidak menyerang satu-persatu. Keduanya akan saling melengkapi bila menyerang berbarengan. Apalagi melihat sepak terjang Koguro dan Hideyoshi yang tidak bekerjasama dengan baik sehingga menewaskan keduanya.


Devisser de Jaager mengangguk. Ia kemudian berdiri di belakang sang saudara tuanya, membentuk kuda-kuda dengan rapier terentang panjang di depannya dan belati tergenggam di tangan lainnya.


Sebastian de Jaager mempersiapkan kuda-kuda jurus pedang dari Jermanianya pula. Berbeda dengan sang adik, ia tak mencabut belatinya, namun tangannya yang bebas menyentuh pinggulnya, semacam berkacak pinggang.


Logam keperakan dengan pelindung jemari serta rumbai yang menggantung di pangkal gagang sabar Sebastian de Jaager terpampang jelas di mata Jayaseta. Namun ada hal yang unik lagi, dimana sepanjang bagian pangkal bilah pedang tersebut terdapat semacam ceruk kecil yang memanjang sampai bagian yang melengkung.


“Bersiaplah kowe!” ujar Sebastian de Jaager menggetarkan udara. Suaranya hampir serupa dengan sang adik dan ia juga ternyata mampu berbahasa Melayu.


***


Dari awal Jayaseta tak berharap adik beradik de Jaager akan bermain adil. Mereka tak akan dengan bodohnya menantang Jayaseta untuk bertarung murni sebagai bagian dari adu kesaktian dan jurus berpedang.


Jayaseta adalah buronan kompeni, salah seorang pendekar yang mengganggu usaha dan rencana-rencana Walanda di bumi Jawa. Jadi sudah barang tentu kematian Jayaseta mutlak adanya. Badra sudah menjadi bukti kelicikan mereka.


Tanpa perlu memintapun, Jayaseta sudah barang tentu pasti melibatkan para anggota prajurit pengawal kapal, para rekan Badra dan sahabat-sahabat barunya dalam pertarungan ini. Ini sudah menjadi masalah pribadi tidak hanya baginya, namun kepada para sahabat-sahabat sang paman yang telah banyak melalui beragam hal bersama.


Mereka mengendap-endap menyebar di balik semak belukar dan pepohonan bambu di bukit tempat Jayaseta dan utusan Walanda itu bertarung.

__ADS_1


Benar saja, sudah ada belasan prajurit pasukan bawahan de Jaager yang terdiri dari beberapa orang bule Walanda dan sisanya adalah pasukan pribumi. Para pasukan ini juga merunduk-runduk beberapa tombak jauhnya, juga di balik pepohonan. Mereka bersenjatakan kelewang dan pedang, serta senapan lantak.


Pasukan ini sudah diperintahkan de Jaager untuk serempak menyerang Jayaseta, membokongnya, dengan tembakan dan menghabisinya dengan serangan tiba-tiba bila serangan pertama de Jaager bersaudara belum berhasil membunuhnya.


Pasukan dibawah perintah Walanda ini sebenarnya sudah hampir tak sabar menyerang ketika melihat kematian Koguro dan Hideyoshi, namun dari jauh Devisser de Jaager masih sempat memberikan perintah melalui aba-aba agar menahan diri.


Rencana de Jaager ini nampaknya akan terganggu karena di belakang pasukan pembokong itu sudah berdiri para prajurit yang telah merentangkan busur dan menghunus belati mereka.


***


Sebastian de Jaager memulai serangan pertama. Ia nampak menggetarkan sabernya serta membabatkan ke arah Jayaseta membelah dari bawah ke atas. Yang aneh adalah jarak mereka berdua sebenarnya cukup jauh. Tidak mungkin rasanya pedang itu dapat mencapai sasaran dengan jarak sejauh ini, namun yang terjadi di luar dugaan.


Entah ilmu apa yang dipakai Sebastian de Jaager, karena Jayaseta yang sedang bersiap menanti serangan tiba-tiba terlempar ke belakang. Ia jatuh terduduk.


Sebuah ledakan dengan letupan-letupan kecil menghajar tubuh Jayaseta. Asap mengepul dari beberapa bagian bajunya yang terbakar.


Ia kaget bukan kepalang. Segera saja ia mematikan api yang masih membakar kain bajunya. Kulitnya pun tentu saja tak sempat terhindar dari ledakan dan lalapan api sehingga luka bakar di beragam sisi.


Ia tersandung jasad Hideyoshi sehingga kembali jatuh berguling ke belakang. Namun, tusukan rapier Devisser sudah lolos, tidak mengenainya.


Bukan pula ini berarti Jayaseta aman. Ketika ia terjatuh, Sebastian maju, mengambil pistol dari pinggang sang adik dan langsung menembakkan ke arah Jayaseta yang berusaha berdiri.


***** kompeni ditahan dengan sisi bilah dao, membuat Jayaseta terjengkang ke belakang walau berhasil berdiri. Dao lepas dari tangannya.


Melihat tembakannya gagal, Sebastian de Jaager melakukan gerakan serupa dengan serangannya yang pertama, yaitu menggetarkan sabernya lagi dan menyabetkan pedang tersebut ke arah Jayaseta walau Jayaseta tidak berada dalam jarak serang.


Sama seperti serangan pertama, kali ini pun ilmu aneh saber Sebastian de Jaager itu kembali digunakan.


Dengan cepat, tanpa mau masuk ke lubang yang sama, Jayaseta menyilangkan keris Kyai Pulau Bertuah di dadanya. Ledakan kembali meletup. Jayaseta terdorong kembali ke belakang untuk kesekian kalinya.


Hanya saja beruntung kali ini, ledakan tersebut tidak sampai membakar dada Jayaseta karena beberapa bagian ledakan berhasil ditutupi oleh kerisnya.

__ADS_1


***


Satu anak panah melesat dari busur Karsan dan menembus leher seorang serdadu pribumi Walanda yang sedang membidik Jayaseta dari balik pepohonan. Serdadu tersebut jatuh tewas tanpa suara.


***


Jayaseta berpikir keras. Ilmu apa ini?


Sebastian de Jaager seperti mengeluarkan semacam tenaga dalam sehingga sabetan pedangnya dapat membakar musuh yang berada jauh dari sasarannya. Seakan-akan pedang mengeluarkan gelombang tenaga dalam panas yang meledakkan.


Untuk menjawabnya Jayaseta harus bisa terhindar dari serangan Sebastian de Jaager dahulu. Untuk itu Jayaseta kemudian berguling kesamping, berdiri, kemudian menunduk dan melontarkan tubuhnya ke depan, menusukkan kerisnya ke arah dada Sebastian de Jaager. Ini dilakukan tanpa menunggu serangan musuhnya, karena dengan selalu bergerak seperti inilah Jayaseta dapat terhindar dari sasaran ledakan saber Sebastian de Jaager.


Namun begitu serangan Jayaeseta tidak bisa dikatakan gampang untuk dilakukan. Devisser de Jaager si Petir yang jangkung begitu handal memainkan rapiernya sehingga serangan Jayaseta menjadi urung dilakukan. Kerisnya terlalu pendek untuk berhadapan dengan gabungan saber dan rapier.


Walau paham bahwa serangannya terhadap kedua de Jaager berhasil digagalkan, Jayaseta tetap melakukan pola yang sama. Ia berguling ke samping atau kedepan dan dengan cepat melontar ke arah de Jaager. Pertarungan adu jarak pun tak terhindarkan.


Jayaseta mencoba mempererat jarak dan tak berhenti bergerak untuk menghindari ledakan jarak jauh Sebastian de Jaager sekaligus tusukan panjang-panjang si Petir, sembari mencoba terus menyerang mereka dengan tusukan-tusukan keris Kyai Pulau Bertuah atau mencari celah dalam gabungan kekuatan dua adik beradik ini.


Langkah-langkah keduanya yang panjang-panjang dan saling silang memang cocok dengan tusukan dan tebasan saber dan rapier. Berbeda dengan jurus-jurus pedang para pesilat Bhumijawa, Madura, Bali atau Hindustan yang diketahui dan dihadapi Jayaseta dimana biasanya gerakan berputar lebih sering digunakan, jurus pedang de Jaager bersaudara lebih menekankan kepada langkah kaki maju mundur yang gesit serta penggunaan siku dan pergelangan tangan dalam memainkan senjata mereka. Gerakan jurus-jurus mereka juga tidak basa-basi.


***


Kesuma memanjat sebuah pohon rimbun dengan perlahan, hampir tak terdengar. Kemampuannya memanjat harus diacungkan jempol. Tangan dan kakinya menempel seperti tokek pohon. Belatinya ia gigit untuk memudahkan kedua tangan dan kedua kakinya menempel pada pohon.


Mahendra dan Sasangka malah sebaliknya, merayap pelan sekali seperti seekor kucing hutan yang akan menyerang mangsa.


Tiga orang pasukan bule kompeni Betawi yang memegang senapan dan hendak membidik Jayaseta bergerak perlahan melewati Mahendra dan Sasangka di bawah serta Kesuma di atas pohon. Kesuma menggenggam belatinya kemudian menciptakan bunyi berdecak bagai cecak dari atas pohon sebagai tanda bahwa mereka akan menyerang bersamaan.


Dalam hitungan ketiga dari decakan tersebut Kesuma melompat turun dari pohon tanpa suara. Belatinya ia tusukkan ke leher satu prajurit yang tidak sempat paham apa yang terjadi karena tusukan di lehernya mencegah suaranya untuk keluar dan malah memaksa nyawanya yang keluar dari tubuhnya.


Dua serdadu lain yang sadar belum sempat melakukan apa-apa karena tanpa mereka sadari, Mahendra dan Sasangka dari arah bawah sudah membabatkan belati mereka ke leher. Kedua serdadu bule tumbang sembari memegang leher mereka.

__ADS_1


Kesuma, Mahendra dan Sasangka memegang tubuh para prajurit yang tumbang sehingga mayat mereka jatuh tanpa suara.


__ADS_2