
Kekuatan setan macam apa yang sebenarnya sedang mereka hadapi ini? Batin para perompak Annam dan Champa. Mereka melihat sekeliling dimana bisa dikatakan semua orang penyerang terbaring berantakan bagai daun kering yang berjatuhan, di wilayah daratan bersungai kecil itu.
Sepuluh orang dari lebih dari dua puluh orang berhasil bangun dan berdiri di atas kedua kaki mereka, termasuk sang pemimpin yang sebelumnya terduduk kaku untuk beberapa lama. Sisanya tak terlihat lagi gerakan mereka sama sekali, entah tewas entah tak sadarkan diri. Namun, melihat sepak terjang Jayaseta dengan jurus-jurusnya yang luar biasa itu, tidak sulit melihat bahwa para korban kemungkinan memang telah tewas sama sekali.
"Aku tak peduli kalian paham dengan ucapanku atau tidak. Tapi lebih baik kalian lupakan saja mimpi kalian untuk mengalahkanku, menundukkanku atau sekadar melukaiku. Apapun tujuan kalian, siapapun kalian sebenarnya, tak menjadi soal bagiku sama sekali. Aku hadir di bumi mancanegara ini karena memiliki keperluanku sendiri, jadi jangan campuri. Tapi, kalau kalian memang berniat menyetorkan nyawa kalian, siapalah aku yang berhak mencegahnya. Aku hanya bisa melaksanakan apa yang kalian inginkan," ujar Jayaseta.
Memang, tidak ada satupun anggota perompak yang memahami apa kata Jayaseta itu. Mereka malah memusatkan perhatian mereka kepada Jayaseta untuk bersiap menyerangnya kembali.
"Lupakanlah. Dia adalah sang Pendekar Topeng Seribu yang termahsyur itu. Kalian sudah melihat serangannya tadi. Hanya dalam beberapa gebrak saja kalian kocar-kacir. Ia bahkan melakukannya dengan tangan kosong. Jadi, ada baiknya kalian pergi dan menyelamatkan hidup kalian sendiri," seru Siam dalam bahasa Siam. Ia yakin pasti paling tidak salah satu dari perompak ini paham bahasa Siam, mengingat mereka semua berada di tanah Ayutthaya.
Benar saja, rata-rata dari para perompak itu nyatanya memang memahami bahasa Siam.
__ADS_1
Sang pemimpin meludah ke tanah. Ia melihat ke arah Siam dam berseru dalam bahasa Siam, "Kita lihat apa dia bisa terus-terusan menggertak kami dengan memainkan jurus-jurus itu? Cepat atau lambat, satu tusukan bakal membunuhnya," ujar sang pemimpin congkak.
Siam mengangkat tangan pasrah dengan kesombongan perompak itu. Ia berteriak ke arah Jayaseta, "Tuan Jayaseta. habisi saja mereka. Mereka memang berniat menghabisimu."
Itu sudah bisa dipastikan. Sepuluh perompak yang bisa dikatakan masih sehat itu sudah menggenggam beragam jenis belati itu telah siap menyerang Jayaseta kembali.
"Aku akan selesaikan ini cepat," ujar Jayaseta yang ditujukan untuk rombongannya.
Namun, sama seperti aturan hidup dan nasibnya sebagai seorang pendekar, ia akan mengikuti bagaimana arus mengalir. Ia akan selesaikan pertempuran ini secepatnya, memberikan mereka mempelajari sesuatu dari perbuatan mereka yang dengan sembrono menantang sebuah kekuatan besar.
Tanpa menunggu kesempatan lagi, Jayaseta meluncur maju dengan begitu mendadak. Ia mengincar dua perompak paling depan yang jelas tak menyangka akan serangan tiba-tiba itu.
__ADS_1
Kuda-kuda dan persiapan kedua perompak yang berdiri paling depan tersentak kaget dan tentu saja membuat kuda-kuda mereka yang telah dipersiapkan menjadi buyar.
Jayaseta menghajar kaki seorang perompak, membuatnya terpelanting ke depan dengan sebelumnya berputar ke udara sekali sebelum tubuhnya ambruk ke tanah dengan keras. Satu perompak lain diserang Jayaseta dengan menghajar dadanya dengan keras. Saking kerasnya, tubuh perompak itu terlempar ke belakang menubruk teman-temannya yang lain.
Lagi-lagi, ini adalah sebuah cara, ciri khas Jayaseta, untuk mengaburkan tatanan dan gelaran perang musuh.
Pertempuran kembali pecah, tapi bedanya, kini Jayaseta sama bernafsunya dengan para penyerangnya. Para perompak menginginkan nyawanya demi pengakuan dan sebuah pencapaian. Membunuh seorang Pendekar Topeng Seribu ternyata memang sangat membanggakan, apalagi setelah menyaksikan sendiri kehebatan sosok tersebut. Jayaseta, sebaliknya, ingin memberikan pelajaran bagi para penantangnya.
Setelah gelaran perang dan tatanan para perompak buyar, Jayaseta menunduk maju dan menggunakan serangan lutut serta sikunya. Gerakan jurus-jurus bersudut tajam ini serupa dengan silat Tomoi atau Muay Boran, tetapi seperti biasa, Jayaseta membawanya ke ranah lebih luas dan berbeda.
Silat orang Bugis dan Mangkasara terlihat jelas pada kuda-kuda rendahnya. Rupa-rupanya, perjalanan lama di atas lautan dan sungai tidak membuntukan pikirannya. Ia sengaja menerapkan silat yang baik sekali ketika digunakan di atas geladak yang bergoyang-goyang ke atas tanah.
__ADS_1
Akibatnya, siku dan lutut menghujam tubuh musuh dengan mulusnya, sedangkan tubuh Jayaseta sulit ditebak pergerakannya. Ini karena Jayaseta menggunakan langkahnya yang bergoyang-goyang bagai berada di atas laut atau sungai. Tusukan belati menyasar udara kosong, sedangkan perut dan dada mereka tertembus siku dan lutut Jayaseta yang sama tajamnya dengan ujung tombak.