
Tersebutlah seorang Cina bernama Equa di Betawi. Walau ia berasal dari masa kerajaan Ming di Cina, namun pakaiannya sudah menunjukkan pengaruh Barat yang tinggi. Tak heran, karena ia telah dinasranikan secara resmi oleh pemerintahan Walanda dan mendapatkan nama Nasrani, Isaac.
Rambutnya dipotong pendek, serupa dengan gaya orang-orang Walanda. Ia mengenakan baju berkancing dengan bahan kaku, juga serupa dengan orang-orang Walanda, walau celana panjang longgar dan bungkus kakinya adalah ciri busana Cina pada masa kemaharajaan Ming.
Isaac Equa ditunjuk sebagai seorang tabib tahun 1635, sekitar dua tahun lalu, oleh Gouverneur-Generaal kompeni, yaitu sebuah jabatan tertinggi di pemerintahan kerajaan Walanda di nusantara, Anthony van Diemen.
Sebagai seorang tabib dan ahli obat yang menggabungkan cara pengobatan bule Barat dan Cina dan ditunjuk resmi oleh Walanda, maka ia juga mendapatkan gelar Meester. Meester Isaac lah panggilannya.
Ia diberikan tanah oleh pemerintah Walanda Betawi, di tepian timur sebuah terusan air buatan yang bernama Buitenkaaimansgracht, di luar tembok kota sekitar aliran Kali Ciliwung. Di sana memang letak orang-orang Cina tinggal di Betawi.
Tugas Meester Isaac adalah mengobati pejabat-pejabat Walanda, atau pegawai-pegawai yang tinggal di dalam tembok kota. Namun, sebagai Equa, ia tetap tinggal di lingkungan Cina yang juga tinggal dekat dengan para pribumi serta pendatang dari daerah, kota dan kerajaan lain yang datang pergi ke dan dari Betawi.
Maka, tak jarang Equa juga memberikan jasanya kepada orang-orang di sekitar tempat tinggalnya.
Orang-orang yang tinggal di luar tembok kota adalah orang-orang dengan beragam masalah yang sengaja dihindari oleh para pejabat dan perwira Walanda di dalam tembok.
Rumah yang didirikan untuk Equa hanyalah sebuah bangunan berdinding bambu dan dekat dengan rumah pelacuran dan kedai tuak. Setiap hari ada saja masalah yang ditimbulkan, sehingga Equa kerap mengobati luka-luka orang yang berkelahi atau korban perampokan.
Selain itu, tempat tinggal Equa dikelilingi oleh banyak orang miskin, para pedagang pasar kecil, serta pekerja kasar orang Walanda.
Walau ia dididik, dipengaruhi dan dipekerjakan oleh kaum bule Barat Walanda, bagaimanapun ia masih merupakan seorang Cina, yang bersama banyak orang Cina lain, datang ke Betawi di Nusantara dengan susah payah dan penuh pengorbanan. Ia dikelilingi orang-orang miskin, tidak hanya pribumi, namun juga kaumnya sendiri.
Maka, mengobati para fakir miskin juga merupakan bagian dari kewajibannya. Ia merasa perlu memberikan bantuan berdasarkan kemampuan dan keterampilan yang ia miliki. Bahkan, ia sudah memimpikan untuk memiliki semacam rumah pengobatan sendiri yang diperuntukkan bagi orang-orang miskin. Dengan bantuan orang-orang Cina yang sedikit lebih mampu dan ijin dari pemerintahan Betawi Walanda, ia berharap rumah pengobatan ini kelak dapat terlaksana. Kelak ia akan memberikan nama rumah pengobatan yang didirikannya ini dengan Yangji Yuan.
Dalam pekerjaannya, ia didampingi oleh dua orang pegawai pembantu; satu orang Cina bernama Yu dan satu orang pribumi Jawa yang dipanggil Ngalimin.
Yu bisa dikatakan adalah muridnya yang pertama, walau kebanyakan pekerjaannya adalah mengingatkan barang-barang baku pengobatan apa saja yang perlu dibeli atau dicari, namun, Yu sangat membantu dengan ingatannya yang tajam. Usia laki-laki itu 19 tahun.
__ADS_1
Ngalimin, seorang laki-laki Jawa berusia 25 tahun dan telah berkeluarga dengan dua orang anak laki-laki, baru bekerja dengannya kurang dari setahun, berbeda dengan Yu yang berangkat ke Betawi dari Cina bersama Meester Isaac atau Equa sejak ia di awal belasan tahun.
Ngalimin menarik perhatian Equa ketika ia menjelaskan tentang beragam jenis penyakit di pulau Jawa dan bagaimana orang-orang Jawa mengobatinya. Equa merasa mendapatkan banyak pelajaran dari pegawainya itu. Sebaliknya, bagi Ngalimin yang cerdas namun miskin itu, bekerja dengan Equa dapat memperbaiki keuangan keluarganya. Ternyata sebagai orang biasa yang paham pengobatan kraton, ia masih dapat berguna dan mendapatkan rejeki.
Tidak banyak warga biasa yang dapat membaca, terutama tulisan Jawa, kalau ia tidak pernah belajar atau bukan bagian dari keluarga kerajaan. Ngalimin sempat belajar membaca dari seorang abdi dalem kerajaan Mataram. Dengan kecerdasannya, ia segera dapat belajar dalam waktu singkat.
Maka ungkapnya kepada Equa, menurut Serat Primbon Jampi Jawi disebutkan beragam jenis tanaman yang berkhasiat untuk kesehatan dengan cara dibuatkan ramuan. Di antaranya adalah rimpang jahe, kencur, kunyit, kunci, lempuyang, sunthi, temulawak, bengle, dan dringo.
Ada pula bagian umbi tanaman yang biasa digunakan sebagai bahan racikan jamu seperti bawang merah dan bawang putih.
Selain umbi, kulit kayu atau kulit batang tanaman yang berkhasiat berasal dari kayu manis, secang, mesoyi, rasuk angin, dan kelembak.
Disebutkan pula bahan dari dedaunan yaitu pupus anggur, asam jawa kering kering, gondhangkasih, inggu prêman, jempinah, pupus kara, karandang, lampes, menirang, bawang Cina, pegagan, seruni, saraband, saga kering, walu, waru, dan trawas.
Lebih jauh dijelaskan untuk jenis bunga, buah, dan biji yang berkhasiat meliputi bunga cengkih dan waru; buah asam, kemukus, labu putih, pala, isi sawo; dan biji adas, jinten, kedhawung, ketumber, dan mungsi.
Equa memandang Ngalimin lekat-lekat sembari mengangguk-angguk tertarik dengan penjelasan Ngalimin. Ia melihat beberapa jenis tanaman dengan istilah berbeda yang khasiatnya juga serupa dengan pengobatan Cina.
Lebih jauh, Ngalimin menjelaskan bahwa dari cara-cara pengobatan untuk orang yang sakit, ada beberapa. Ada yang diminum diminum setelah diambil sarinya, dikunyah, ditempelkan pada dahi atau disebut pilis, dioleskan pada perut atau disebut tapel, dioleskan pada badan yang bernama parem, untuk merendam bagian badan atau rendhem, ditempelkan atau diteteskan pada bagian yang sakit, dan disemburkan ke bagian tubuh yang diobati.
"Siapa yang membuat aturan mengenai pengobatan ini, Ngalimin? Apakah ada semacam pembuktian bahwa obat-obat dan cara menyembuhkan orang ini bisa diterima orang Jawa?" tanya Equa suatu saat.
"Kau harus percaya, tuan Meester," jawab Ngalimin. "Jenis pengobatan ini sudah dipercaya sejak jaman kerajaan Majapahit. Dalam kitab undang-undang Majapahit yang bernama Kutaramanawa atau Agama, dari 275 pasal, ada pasal yang berisi hukuman bagi yang gagap mengobati apalagi sampai yang diobati meninggal. Ini tidak hanya bagi manusia yang diobati, namun juga hewan."
Equa terkesiap. "Ceritakan lebih jauh, Ngalimin."
"Apabila seorang tabib gagal mengobati hewan sehingga hewannya mati, maka ia akan didenda empat kali tiga atak, kurang lebih satu atak setara 200 picis uang tembaga Cina. Lalu, jika yang diobati manusia dan malah mati bukannya kembali sehat, maka sang tabib akan didenda selaksa dimana satu laksa setara dengan 10.000 picis. Kau bisa bayangkan bila yang diobati memiliki jabatan tinggi, bukan, tuan? Apabila yang diobati adalag seorang brahmana dan mati, maka ia diganjar hukuman mati oleh raja," ujar Ngalimin.
__ADS_1
"Maka jelas, pengobatan Jawa sejak jaman dahulu kala sudah dianggap sungguh-sungguh," lanjut Ngalimin.
Sebenarnya, Ngalimin sendiri juga tertarik dengan cara pengobatan yang dilakukan oleh orang-orang Cina.
Misalnya cara pengobatan bekam yang sampai di nusantara sejak kedatangan orang-orang Cina dan Arab yang berlabuh di kepulauan nusantara kerena jalur rempah.
"Lalu, bagaimana dengan ilmu tuan Meester yang menggunakan alat dari tanduk kerbau bule itu? Mengeluarkan darah kotor, begitu bukan, tuan?"
Equa tertawa ringan.
"Aku melihat kau, tuan, membungkus orang sakit, mencekik lehernya, menjungkirkannya ke bawah, mengguncang-guncangkan tubuhnya sehingga darah mengalir ke bagian kepala. Kemudian ...,"
"Menusuk dahinya, menempatkan secarik kain katun dan mengikatkannya di sekitar kepala?" potong Equa.
"Benar, tuan. Sampai orang-orang bule Walanda ketakutan melihatnya. Ngeri kata mereka."
Equa kembali tertawa renyah, "Yang kulakukan adalah pengobatan kuno Cina dengan cara mengeluarkan darah dari tubuh si orang sakit, dinamakan bekam. Aku membuang darah kotor yang menyebabkan seseorang sakit. Bila keadaannya begitu mengkhawatirkan, barulah aku menggunakan tanduk kerbau bule itu, setelah dipanaskan terlebih dahulu, meniup ke rongga tanduk dan segera menempelkannya ke tubuh. Ketika kulit telah terangkat, kemudian ditusuk dengan pisau bedah kecil agar darah kotor berisi penyakit dapat keluar dengan lebih cepat dan banyak," ujar sang tuan kepada Ngalimin.
Yu yang meski lebih muda beberapa tahun dibanding Ngalimin, tetap memiliki kecerdasan dan pengalaman yang tidak biasa. Ada alasannya mengapa ia dipekerjakan oleh Equa. Kali ini ia ikut unjuk suara, "Sebenarnya kakang Ngalimin, cara penyembuhan gaya Cina ini sampai ke nusantara sudah sejak kedatangan laksamana Cheng Ho pada awal abad ke-15 Masehi. Ada sekitar 180 tabib yang ikut serta dalam perjalanan ini. Tabib-tabib itu adalah para pegawai yang bekerja di semacam perguruan tabib di Cina bernama Taoyi Yuan yang terkemuka. Maka tentu saja, banyak pengaruh yang ditinggalkan para tabib itu dalam hal pengobatan, perawatan kesehatan sampai peralatan yang digunakan," ujar Yu.
Percakapan dan obrolan semacam ini lah yang kerap terjadi antara ketiga orang yang berkecimpung di dunia pengobatan tersebut.
Saat ini pun mereka sedang berbicara mengenai beragam cara, alat dan keterampilan dalam ilmu pengobatan Cina, Jawa dan Barat dalam mengobati penyakit dalam.
Mereka sedang dalam perjalanan untuk membeli dan mengambil bahan-bahan obat-obat di daerah sekitar hutan bukit bambu ketika mereka mendengar bunyi letusan bedil yang terjadi beberapa kali.
__ADS_1