Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Jung


__ADS_3

Jayaseta merasa dirinya sebagai seseorang yang memikirkan dan mementingkan dirinya sendiri. Terlalu banyak sudah korban tewas maupun terluka akibat segala kepentingannya. Apakah ia adalah pemikat ajal bagi siapapun orang yang ada di dekatnya?


"Lalu, kakang berpikir bahwa akupun akan terancam mengalami nasib buruk karena menjadi orang yang paling dekat dengan kakang, istri kakang?" ujar Almira di sebuah malam kurang lebih dua bulan setelah pernikahan mereka.


Jayaseta tak bisa memungkiri kecantikan sang istri yang tiada duanya. Tak henti-hentinya ia mengagumi pesona perempuan yang sudah resmi menjadi miliknya itu.


Pernikahan mereka diselenggarakan dengan cara sangat sederhana. Mereka mengundang seorang penghulu untuk mengawinkan mereka, sang paman Almira dari Kota Gede di Mataram sebagai saksi - yang tertawa bangga karena berhasil menghantarkan Almira sampai ke pernikahannya, serta para pengawal sang 'Nyai' Almira sebagai undangan.


Padahal Almira sudah bisa digolongkan sebagai saudagar kaya raya, namun ia sepenuh hati memahami bahwa Jayaseta bukan laki-laki biasa. Pernikahan mereka tak perlu menarik banyak perhatian, yang penting hubungan mereka sah adanya.


Jaka Pasirluhur atau dikenal dengan nama julukannya, Sang Kudi Langit tentu turut hadir. Ia tersenyum sumringah selama acara pernikahan tersebut.


Setelah sadar dari mabuknya tempo hari, Jaka Pasirluhur merasa bersalah sekaligus konyol karena sudah melakukan kesalahan. Kesalahan pertama tentunya karena ia mabuk di kala tugas, yang kedua jelas karena lancang menantang Pendekar Topeng Seribu yang sakti nan tersohor tersebut. Celakanya, sang pendekar ternyata adalah kekasih hati sang Nyai, juragannya sendiri.


Hukuman berupa pemotongan bayaran dan larangan minum tuak dapat diterimanya dengan lapang dada. Bahkan luka di kepalannya akibat tiga batang rautan bambu tajam yang sempat menancap di sana malah menjadikannya bangga merasa mendapatkan pelajaran yang berharga dalam hidupnya.


Para pengawal Almira yang merupakan orang-orang Banyumas ini pada dasarnya adalah orang-orang rendah hati, lugas namun berani. Maka tak heran bila Jaka Pasirluhur juga bertindak ksatria dengan mengakui kekalahan dan kesalahannya.


Setelah keduanya resmi menikah dan menjadi pasangan suami istri, Jayaseta dan Almira benar-benar menikmati hari-hari mereka. Sang Nyai meringankan tugas pegawai dan anak-anak buahnya. Ia bahkan kerap membebastugaskan sementara para pegawai hanya untuk mereka dapat menikmati hari-hari di Semarang.


Jaka Pasirluhur sangat maklum bahkan tersenyum tipis ketika Nyai nya itu bangun lebih siang daripada hari-hari biasa dengan wajah cerah disusul sang suami juga dengan wajah bersinar.

__ADS_1


"Kau tak menyesal telah menerima pinanganku, Almira? Aku bukan seorang pengusaha seperti dirimu dan keluargamu. Hidupku selalu dinaungi pertempuran dan perjalanan. Aku akan kerap meninggalkanmu dalam jangka waktu yang lama untuk keperluan yang mungkin tidak benar-benar kau pahami," ujar Jayaseta masih berbaring sembari memperhatikan tubuh molek sang istri yang berbalut selimut.


"Kakang Jayaseta, apakah kakang mendapatkan penyesalan yang terlihat dariku selama pernikahan kita ini? Apakah aku mengeluh, bertanya-tanya bahkan merayumu dengan manja agar tak meninggalkanku?"


Jayaseta menggelengkan kepalanya pelan.


"Aku bahagia, kakang. Tak pernah sebahagia ini sejak abahku wafat. Kakang yang mengembalikan rasa bahagiaku berkali lipat," ujar Almira.


"Aku merasakan hal yang sama, Almira. Aku juga tak pernah sebahagia ini. Oleh sebab itulah aku tak mau kehilanganmu seperti aku kehilangan orang-orang terdekatku."


Almira tersenyum manis, "Jangan khawatir, kakang. Istrimu ini adalah seorang perempuan mandiri. Aku bukan perempuan yang merengek dan menguntitmu kemana saja. Ikutilah jalanmu sebagai seorang pendekar dan sembuhkanlah racun kutukan itu. Aku sudah menjadi milikmu selama-lamanya, aku tak akan kemana-mana selama kau simpan aku di hatimu, kakang," ujar Almira sembari memeluk sang suami.


***


Hari yang dinanti telah tiba. Ia berdiri di depan sebuah pelabuhan di Semarang dengan hiruk-pikuk yang sudah biasa ia alami namun tidak pernah menjadi akrab. Pengamatan Jayaseta akan keadaan di pelabuhan ini membuat darahnya mendesir, mengingat banyak kejadian di masa lalu. Perlahan ia menarik nafas dan berusaha menghilangkan sebuah pikiran yang lewat mengenai bahwa ia akan terkatung-katung lagi di tengah samudra tanpa tepian selama berhari-hari.


Ia harus menundukkan racun kutukan tombak pusaka Kanjeng Kyai Ageng Plered yang sudah terlanjur masuk ke dalam tubuhnya. Ia ke Sukadana untuk menyelesaikan apa yang sudah dimulai. Dengan penundukan racun kutukan Kyai Plered, Jayaseta dapat melanjutkan hidupnya dengan lebih bergairah.


Dengan hilangnya racun Kyai Plered yang merasuk ke dalam jiwanya, Jayaseta juga akan dapat lebih tenang sebagai seorang pendekar yang tidak perlu khawatir dalam tugas-tugasnya. Racun tersebut tidak akan semena-mena muncul ke permukaan dan tidak dapat membuatnya melukai orang-orang yang tidak bersalah. Ia juga dapat berpikir serta memutuskan segala hal dengan jernih.


Jayaseta akan menumpang sebuah Jung Jawa milik seorang saudagar Cina, dinahkhodai oleh seorang pria dari kerajaan Larantuka. Jung ini besarnya menyamai Jung tentara yang berisi pasukan tempur Mataram yang sedang dalam masa tugas ke Sukadana.

__ADS_1



Jayaseta sudah terlanjur memiliki nama yang begitu besar di pulau Jawa. Maka dari itu, ia tidak mau mempersulit dirinya sendiri dengan bepergian mengenakan pakaian yang bisa membuatnya gampang dikenali. Apalagi dengar-dengar masyarakat Sukadana sedang berselisih dengan Kesultanan Mataram yang menaklukkan kerajaan mereka beberapa tahun sebelumnya.


Maka dari itu, Jayaseta menolak busana khas rakyat Mataram yang disodorkan Almira, yaitu dua lembar baju lurik, pakaian berlengan panjang dan berkancing di bagian dada serta bercorak garis-garis. Pakaian ini awam dikenakan masyarakat di Mataram sampai ke Tuban. Almira memberikannya lurik dengan corak lajuran, yaitu corak garis-garis panjang searah helai kain.


Selain itu ada sehelai lurik lagi dengan corak cacahan, yaitu dengan corak garis-garis yang lebih kecil. Sepengetahuan Jayaseta, lurik ini dibuat dari lawe, atau benang dari tumbuhan perdu yang awalnya berwarna dasar hitam dan putih. Lurik yang Jayaseta kenakan berwarna nila dan hitam yang dihasilkan dari tarum, pewarna kain.


Jayaseta memilih mengenakan beskap atau surjan berwarna gelap yang sebenarnya berbahan dan berjenis sama dengan lurik serta mengenakan iket seperti yang biasa ia kenakan, yaitu seperti orang-orang Blambangan atau masyarakat Jawa di bagian timur, namun dengan gaya Mataram. Kain iket atau udeng ini sebenarnya berbentuk segi empat dengan corak batik Mataram yang kemudian dilipat separuh membentuk segitiga dan diikatkan menutupi kepala sebatas dahi. Sedangkan rambut panjangnya ia gelung atau kuncir dan disimpan rapi di bagian belakang kepala dan ditutupi oleh kain iket itu sendiri.


Dahulu, ketika Jayaseta masih tinggal di Giri, banyak santri yang memutuskan memangkas rambut mereka lebih pendek dan menutupi kepala mereka dengan sorban. Jayaseta sendiri memiliki pengaruh kebudayaan yang luas di dalam keluarganya, maka dari itu walau ia adalah seorang muslim, penggunaan pakaian dari beragam pengaruh Parsi dari kakeknya, Cina dari ayahandanya dan Jawa dari darah campuran ayah dan ibunya membentuk gaya berbusana Jayaseta saat ini.


Perpisahan dengan Almira tidak terjadi dengan mengharubiru. Almira melepas kepergian suaminya dengan pelukan dan kecupan tulus. Hatinya begitu luas sehingga tidak berat hatinya berpisah dengan sang suami. Ini membuat hati Jayaseta mencelos dan berbangga memiliki istri sehebat Almira.


"Kakang sudah membuktikan bahwa kakang kembali untuk menikahiku, maka aku percaya kakang akan kembali lagi ke Mataram setelah urusan jalan takdir kakang terpenuhi," ujar Almira.


Sedangkan Jaka Pasirluhur memberikan kudi andalannya kepada Jayaseta, "Pendekar, tidak baik seorang laki-laki pergi menyeberang samudra tanpa senjata. Ambillah kudiku ini. Aku tahu, engkau adalah pendekar pilih tanding, jadi senjata apapun tak masalah ketika ada si tanganmu. Tapi berikanlah aku hormat dengan membawa kudiku ini menemani perjalananmu," ujar Sang Kudi Langit.


Pelabuhan semakin memarak oleh sahutan-sahutan para awak kapal. Kapal tentara Mataram ternyata berangkat dahulu, sedangkan dua hari kemudian Jayaseta akan menaiki kapal Jung raksasa yang mengapung-apung mengerikan di hadapannya. Perutnya mendadak mengkerut dan mual, padahal ia sama sekali belum menginjak papan geladak kapal. Hari-hari berikutnya akan menjadi mimpi buruk bagi Jayaseta di tengah samudra.


Tanpa sepengetahuan sang Pendekar Topeng Seribu, sepasang mata milik seorang laki-laki setengah baya sedang mengekorinya dari atas geladak kapal.

__ADS_1


__ADS_2