
Tidak ada yang adil dalam sebuah pertarungan hidup dan mati kecuali merupakan sebuah perlombaan atau sayembara belaka.
Pembokongan, melempar senjata, atau mengeroyok adalah hal yang wajar. Ini bisa dimaklumi karena ketika seseorang dalam keadaan terancam nyawanya, maka ia juga harus siap mempertahankannya dan membalikkan keadaan.
Sesuai pengalaman Jayaseta sebagai seorang jaka lelana, pendekar pengeluana yang telah malang melintang di pulau Jawa, ia sudah melakukan banyak hal untuk melumpuhkan dan menghabisi lawan.
Ia melemparkan cakram dan pisau rahasia kepada musuh, bahkan ketika musuh sedang dalam keadaan tak awas.
Namun ia juga kerao dikeroyok, diracun dan ditipu oleh musuh. Banyak tindakannya adalah juga untuk menghadapi lawan yang menindas orang-orang yang lebih lemah seperti para petani yang tanpa ilmu kanuragan, perempuan muda yang rapuh, orang tua yang renta dan rentan atau para budak yang terpenjara.
Oleh sebab itu, ia sama sekali tidak merasa pertarungan ini tidak adil. Ia sudah berkelahi dengan para perompak bawahan Si Gelembung Lotong dan kini ia sudah mulai kehabisan tenaga untuk melawan sang ketua bajak laut tersebut.
Seluruh tubuhnya masih terasa panas terbakar akibat tinju yang dilontarkan Si Gelembung Lotong. Bagaimana tidak, bahkan gada yang terbuat dari kayu padat saja hancur dan terbelah dua menghadapi pukulannya.
Jayaseta masih bergulingan akibat disepak, dilutut dan disapu Si Gelembung Lotong sehingga tubuhnya terus roboh.
Jayaseta merobek baju sorjannya yang sudah sobek di bagian bahu dan tentu saja di beberapa tempat.
Semua orang sekarang dapat melihat tubuhnya yang dipenuhi bekas luka, terutama luka tusukan di atas lambung, tepat di bawah jantungnya.
Jayaseta kemudian berusaha berdiri sampai satu ketika berhasil, namun serangan datang berkali-kali dengan cepat namun tidak membabibuta, sebaliknya sangat tertata dan tertuju. Jayaseta mampu menangkis tiga tinju dan menepis satu serangan dengan tepi telapak tangan yang diarahkan ke lehernya, namun tinju menyamping bersarang tepat di rusuknya.
Bunyi berderak tulang patah.
Jayaseta terlempar menubruk para perompak yang terluka akibat sempat ia patah-patahkan tulang mereka.
Langsung saja, dengan rasa benci, para perompak terluka itu mendorong Jayaseta dengan keras ke arah Si Gelembung Lotong.
Tubuh sang Pendekar Topeng Seribu disongsong oleh tinju melingkar yang menghajar tengkuknya.
Jayaseta terjerembab ke lantai tertelungkup.
Darah dari mulutnya mengalir membasahi lantai papan dan mengotori dada telanjangnya.
Ledakan teriakan sorak-sorai perompak membahana. Sudah terlihat jelas para perompak merasa pemimpin mereka sedang unggul di atas awan. Sebentar lagi mereka akan mengecap kemenangan.
***
Selama beberapa kali pertarungan, racun tombak Kanjeng Kyai Ageng Plered selalu mencoba keluar mengambil alih tubuhnya. Belum lagi pertarungan yang terjadi antara racun kutukan Kanjeng Kyai Ageng Plered dengan tenaga rajah Nagataksaka dan Garuda Sentanu yang membuat tenaganya muncul berkali lipat.
Ada satu titik dimana ia merasa sakti tak terkalahkan oleh siapapun. Itulah sebabnya hampir selalu ia menang dalam pertarungan ketika racun tenaga dalam itu keluar menguasai dirinya.
Kali ini keadaan sudah mendesak. Beberapa tulang rusuknya patah. Tenaga dalam serangan Si Gelembung Lotong juga merusak bagian dalam tubuhnya.
Godaan sang racun untuk membantunya sangat luar biasa. Bila ia membiarkan racun itu mengambil alih tubuhnya, bukan saja Si Gelembung Lotong yang bisa dikalahkannya, sepasukan perompak lagi pun akan bisa ia musnahkan.
__ADS_1
Tapi ada satu sisi dalam dirinya juga merasa bahwa tenaga racun itu adalah hal yang selama ini ingin ia hilangkan dan kalahkan. Bilapun tenaga gelap itu membantu pertarungannya, itu adalah tipuan belaka. Ia akan habis dikuasai.
Lagipula, bagaimana ia bisa memasrahkan kemenangan pada kekuatan asing, sedangkan ia sudah menggembleng tubuh dan jiwanya dengan beragam jenis ilmu kanuragan dan gaya silat.
Bukankah itu berarti ia bukanlah seorang pendekar pilih tanding? Ia hanya menggunakan kekuatan asing di dalan tubuhnya, berkorban untuk kemenangan, namun perlahan dirinya juga digerus oleh kekuatan itu sendiri?
Tunggu, pikir Jayaseta. Seperti yang ia pikirkan sebelumnya, menggunakan dan memberdayakan apapun untuk melawan musuh dalam perihal mati hidup bukanlah sesuatu yang diharamkan.
Si Gelembung Lotong tak memberikan kesempatan bagi dirinya untuk bangun, bahkan setelah dirinya menghabiskan tenaga melawan perompak bawahannya. Sekarang, Si Gelembung Lotong seakan hanya memanen keuntungannya melawan Jayaseta.
***
Kuda-kuda kaki Si Gelembung Lotong memang diperkuat untuk berdiri tak tergoyahkan di atas papan dan geladak kayu oleh goyangan kapal yang tak pernah ajeg.
Belum lagi kemampuan kekebalan tubuhnya, membuat Si Gelembung Lotong menjadi bagai batu karang tak terpengaruh diterjang ombak.
Tapi bagaimana bila landasan dasar jurusnya ini dihancurkan? Bukankah setiap tendangan, sepakan dan sapuan yang dilontarkan Si Gelembung Lotong tergolong cukup lemah bila dibandingkan pukulan-pukulannya?
Jayaseta berusaha bangun. Topengnya menggenang oleh darahnya sendiri.
Melihat ini Si Gelembung Lotong berdecak kagum sekaligus kesal, mengapa pendekar yang satu ini masih belum benar-benar ia kalahkan. Pendekar bertopeng itu bahkan masih berusaha untuk bangkit.
Apa boleh buat, Si Gelembung Lotong harus menyelesaikan pertarungan ini segera.
Tanpa menunggu Jayaseta benar-benar berhasil bangun Si Gelembung Lotong melaju untuk menjejak punggung Jayaseta bagai menginjak seekor serangga saja.
Dengan tenaga yang tersisa Jayaseta memindahkan tenaga dalam ke tinjunya dan menghantamkan Bogem Watu Gunung ke pinggang musuh sebelum ia kembali jatuh terbaring.
BRAK!
Si Gelembung Lotong terpelanting ke samping dan ikutan rubuh.
"Ha ha ha ...," Si Gelembung Lotong kembali bangun. Tak terlihat ada luka apapun pada tubuhnya.
"Kau menghabiskan tenaga dalammu untuk menyerangku dengan serangan semacam itu? Percuma, kisanak. Kekebalanku tak tertembus. Kau tak bisa menggunakan tenaga dalammu untuk mematahkan tulangku seperti yang kau lakukan pada anak-anak buahku. Kau berhadapan dengan seorang pendekar dengan tingkatan berbeda!" ujar Siapa Gelembung Lotong tegas.
"Sudah cukup. Saatnya benar-benar menghabisimu, Pendekar Topeng Seribu!"
Setelah mengatakan hal ini, Si Gelembung Lotong kembali menyerang Jayaseta dengan penuh nafsu membunuh.
Jayaseta kembali mengangkat tubuhnya dan bersiap menyambut serangan tersebut.
BUG!
Jayaseta memukul tulang kering kaki kanan yang digunakan Si Gelembung Lotong untuk menendang Jayaseta.
__ADS_1
Seperti sudah diramalkan, serangan bertenaga dalam ini memang tak berpengaruh pada luka dalam atau luar tubuh Si Gelembung Lotong, namun jelas kuda-kudanya menjadi goyah.
Jayaseta meraung. Ia mencuri sedikit tenaga racun Kanjeng Kyai Ageng Plered yang bertarung dengan Nagataksaka dan Garuda Sentanu dan memindahkan ke kedua tangannya.
Darahnya mendesir, seakan ada yang berusaha keluar dari dalam tubuhnya. Setengah mati Jayaseta melawannya sekaligus menggunakan dan memanfaatkan tenaga tersebut.
Jayaseta berdiri setengah berjongkok, wajahnya memerah dan mendadak bengis.
Ia kemudian memukul keras paha kiri Si Gelembung Lotong dengan tinju kanannya.
BLAR!
Ledakan tenaga dalam jelas terlihat dari kerasnya pukulan tersebut.
Bukan bunyi berderak yang terdengar, namun bunyi teriakan Si Gelembung Lotong.
Kulao Bassi berbentuk bola besi sebesar satu ruas jari meloncat keluar dari dalam paha, menembus menyobek kulit dan jatuh di atas lantai papan. Darah mengucur deras dan membuat kuda-kuda Si Gelembung Lotong oleng.
Tidak sampai disitu, dengan tinju kiri, Jayaseta meledakkan tenaga dalamnya ke paha sisi yang lain.
BLAR!
Teriakan yang sama kerasnya terdengar dari mulut Si Gelombang Lotong.
Sebuah Kulao Bassi mencelat keluar dari paha bagian belakang, menyobek daging dan kulit disertai kucuran darah.
Si Gelembung Lotong jatuh berlutut kemudian bersimpuh. Kedua bahunya lunglai, sepasang matanya memandang ngeri ke arah Jayaseta bagai melihat malaikat kematian.
Wajah sang pencabut nyawa tertutup topeng Ireng Lokajaya yang menyembunyikan segala bentuk perasaan yang tak tergambar. Namun, darah menutupi mulut dan menghiasi sebagian besar topeng.
Sepasang mata yang terlihat di balik lobang di topeng itu memerah, bukan merah darah, namun merah api neraka.
Si Gelombang Lotong tak pernah merasakan ketakutan seperti ini, merayap di seluruh urat nadi, syaraf sampai ke sumsum tulangnya.
Jayaseta mengambil tenaga dalam dari kekuatan asing di dalam tubuhnya untuk menghancurkan pertahanan terakhir sang lawan, yaitu kedua kaki yang lemah dalam jurus-jurus sendengnya serta benda pendukung kekebalan di dalamnya, Kulao Bassi.
Jayaseta bernafas memburu bagai seekor harimau. Kedua tangannya terangkat membentuk sepasang cakar.
Dengan teriakan lantang membahana Jayaseta mengatupkan kedua telapak tangan tersebut dengan kepala Si Gelembung Lotong di tengahnya.
PRAK!
Kepala Si Gelembung Lotong, pemimpin perompak pendekar sakti dengan ilmu kebal hancur seketika menjadi gumpalan daging dan darah yang tak berbentuk lagi.
Tubuh tak bernyawa itu jatuh lunglai. Darah menyembur dari bekas tempat kepala seharusnya berada.
__ADS_1
Jayaseta meraung keras bagai seekor singa terluka.
Ia melompat mundur dan rebah, jatuh terduduk ke lantai. Ia kemudian bersila, menarik nafas panjang dan kembali melakukan pertarungan batin mengunci tenaga liar di dalam tubuhnya.