Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Budak


__ADS_3

Lima orang perempuan muda duduk di atas tandu yang masing-masing diangkat oleh empat orang budak. Perempuan-perempuan muda ini adalah perempuan-perempuan pribumi yang dipaksa berdandan ala perempuan-perempuan kompeni.


Baju mereka lebar dan bertumpuk-tumpuk. Kerah busana mereka bagai leher kadal terbang yang terbuka. Sedangkan wajah para perempuan itu tak kalah menornya. Warna merah bukan hanya di gincu, tetapi juga di pipi. Rambut mereka digulung sedemikian rupa seperti kubah-kubah bangunan kompeni. Beberapa mengenakan penutup kepala seperti caping pak petani yang lebar namun berwarna-warni.


Di depan, samping dan belakang rombongan tandu tersebut tersebar orang-orang bersenjata tajam. Sangat tidak sebanding dengan jumlah tandu yang mereka sertai. Terhitung tigapuluh lima orang dengan golok dan pedang menggantung di pinggang mereka.


Kata-kata kasar terus berhamburan bagai butiran padi yang dilesung. Kata-kata kasar ini ditujukan bagi para budak yang mengangkat tandu-tandu tersebut. Mereka memaki para budak yang terlihat sudah kelelahan mengusung tandu.


Mereka berjalan pelan di sebuah jalan di luar benteng Betawi. Jalan itu sebenarnya cukup indah karena selain disampingnya mengalir aliran sungai dengan beragam jenis perahu berujung melengkung, kanan kirinya juga ditumbuhi pepohonan besar yang membuat jalan tersebut terasa rindang. Seperti namanya dahulu, Sunda Kalapa, pohon kelapa yang tinggi dan rapat juga bertebebaran di mana-mana. Jayaseta ingin sekali sedikit menikmati perjalanan ini bila tidak diganggu pemandangan yang membuat hatinya gusar tersebut.


Sudah seperti yang diduga, Jayaseta memang sangat peka terhadap segala bentuk ketidakadilan dan kesewenang-wenangan. Budak dari Jawa, Madura, Ambonia, bahkan sampai Keling sebenarnya sudah sangat awam digunakan oleh para saudagar kaya, kerajaan atau Kompeni pada masa itu. Namun Jayaseta tidak pernah melihat kewajaran dalam praktik perbudakan dimana manusia merasa lebih tinggi tingkatannya dibanding manusia lainnya dan merasa berhak memperbudak orang lain.


Selama perjalanan, Jayaseta sudah sering melihat para budak diperlakukan tidak manusiawi. Berkali-kali ia ikut campur menghajar rombongan yang memperlakukan budak-budak mereka semena-mena. Tentu saja kali ini kejadian yang ada di depannya bukanlah pengecualian.


Awalnya ia sama sekali tidak ingin ikut campur terhadap rombongan ini. Tapi sekali lagi, naluri keadilannya bekerja. Pasti ada sesuatu yang salah dengan rombongan ini. Selain kata-kata kasar yang keluar dari mulut rombongan tersebut, tidak sedikit Jayaseta melihat pukulan-pukulan dan tendangan kecil menghantam tubuh-tubuh para budak. Mereka dianggap terlalu lamban membawa tandu dan sepertinya telah begitu lelah.


Jayaseta berjalan di belakang sejarak dua lima enam tombak dari rombongan tandu tersebut sampai satu tandu tiba-tiba miring dan rubuh ke tanah. Perempuan muda yang ada di tandu tersebut tidak ikut jatuh terjerembab, ia malah baik-baik saja karena langsung bangun dan berdiri. Ia bahkan langsung membantu salah satu budak yang nampaknya begitu kelelahan. Budak ini berusia cukup tua, walau tubuhnya masih menunjukkan otot-otot yang terbentuk dengan baik.


Dua orang pengawal bersenjata mendekat dan dengan kasar menarik lengan sang perempuan muda yang tadi menolong budak yang terjatuh. Sedangkan satu orang lagi langsung menendang tubuh sang kakek.


“Cepat bangun tua renta!” ujar si penendang.


Jayaseta masih berusaha menahan untuk menghampiri dan membalas menghajar orang yang menendang tersebut sampai ia sadar bahwa ia mengenal dengan baik si penendang itu. Dua buah gagang pedang mencuat di punggungnya. Masih terlihat luka goresan rotan Jayaseta di keningnya. Suara Kangsa pun sangat Jayaseta kenal.


Detik itu pula Jayaseta menghambur dari tempatnya!


Ia mendadak kesal dan amarah memburu dadanya. Ia merasa kesalahan terbesarnya adalah membiarkan orang-orang itu hidup. Lima Iblis Pencium Darah harusnya ia habisi sedari mereka berada dalam pertarungan. Ia malah sibuk mempertanyakan perilaku dan sikapnya sebagai pendekar terhadap para penjahat ini. Inilah akibatnya karena melepas para penjahat yang kemudian akan melakukan kejahatan lain.


Dengan geram Jayaseta mengambil dan mengenakan topeng Hanuman dan melemparkan buntalan berisi pakaiannya ke tepian jalan. Suaranya langsung menggema, “Kurang ajar, tidak tahu diuntung kalian semua!” ucapnya.


Jayaseta sadar, kata-katanya aneh. Lebih menyerupai kata-kata para begal. Namun ia sengaja mengucapkan ini untuk menunjukkan kemarahannya. Jelas saja Kangsa terkejut dan melihat ke arah datangnya suara. Jayaseta kemudian menjadi semakin geram melihat kemunculan dua orang lain yang juga sangat ia kenal, Damar dan Parta. Kedua orang itu awalnya sama kagetnya dengan Kangsa, namun kemudian ketiganya menyeringai jahat.


Seperti awal pertemuan mereka, Parta selalu yang memulai percakapan. Awalnya Jayaseta berpikir memang Parta lah yang merupakan pimpinan Lima Iblis tersebut sebelum tahu kemampuan Sarti yang sebenarnya.


“Kita bertemu lagi Pendekar Topeng Seribu,” ucap Parta dengan sengaja membesarkan suaranya agar semua orang disitu tahu.


Tak pelak, semua orang dalam rombongan itu berkalut. Mereka langsung menghadap ke belakang dimana Jayaseta sudah berdiri dengan geram. Tandu-tandu langsung diturunkan dan para perempuan berkumpul menjadi satu di belakang tiga puluhan laki-laki bersenjata lengkap yang juga langsung menghunus senjata mereka. Sedangkan para budak juga berkumpul di satu tempat, bersama sang kakek yang nampaknya masih merasa sakit akibat tendangan di perutnya tadi.


“Kami akui bahwa kami waktu itu kalah. Orang ini adalah seorang pendekar ternama yang berhasil membunuh Sarti dan Tiang Goan,” ucapnya lebih kepada para pasukan bersenjata rombongannya.


Suara “Ahhh” dan “Oooo” bergemuruh. Sudah tidak bisa dikesampingkan lagi kebesaran nama Pendekar Topeng Seribu. Apalagi ia sudah menghabisi dua orang pendekar yang jelas sangat dihormati rombongan ini.


“Kalian harus lihat baik-baik orang ini. Di balik topengnya, ia adalah seorang pemuda yang masih belia. Namun ilmu kanuragannya sangat luar biasa. Ini kesempatan kalian untuk membalas kematian kedua ketua kalian. Kalian juga akan mendapat nama bila bisa membunuh sang pendekar di tempat ini. Aku akan memberikan hadiah yang tidak akan kalian bisa bayangkan. Bahkan kompeni pun akan memberikan kekayaan yang melimpah bila orang ini ******,” ucapan Parta membakar semangat para pasukan.


“Bunuhhh! Habisi!” ujar para prajurit dengan membara.


Jayaseta menggeleng-gelengkan kepalanya, namun ia juga tersenyum di balik topengnya.


“Haha … sebenarnya aku ingin tertawa terbahak-bahak. Andai kalian melihat lima orang pimpinan kalian sudah kuhajar habis-habisan. Mereka bisa berdiri di sini juga kerena aku yang mengampuni nyawa mereka,” ujar Jayaseta dengan sedikit terkekeh. Ucapan ini juga ditujukan pada orang-orang bersenjata bawahan Parta, Damar dan Kangsa.

__ADS_1


Sedikit banyak ucapan ini mempengaruhi mereka. Jayaseta tahu ketiga Iblis Pencium Darah yang tersisa pasti merasa malu dan bingung menyembunyikan muka mereka di hadapan para bawahannya.


“Bajingan kau! Itu salahmu sendiri yang dungu tidak membunuh kami. Kelemahanmu lah yang sok berprikemanusiaan,” kali ini Damar yang berucap dengan kalap.


“Ini adalah pekerjaan kami. Kau lah yang sedari awal sok kuat mencampuri urusan orang. Kita lihat apa kali ini kau masih bisa sok di hadapan tiga puluh lima orang, heh?!” Damar melanjutkan ucapannya.


“Baik. Kesalahan utamaku adalah melepaskan kalian hidup-hidup. Tapi kalian sendiri yang meminta agar kali ini tidak kuampuni, maka aku akan penuhi,” jawab Jayaseta datar.


“Aku, si Pendekar Topeng Seribu, bersumpah tidak akan melepaskan siapapun dari kalian semua disini hidup-hidup. Segera enyah dari tempat ini selagi kalian bisa dan masih ingin hidup. Tapi tidak untuk Kangsa, Damar dan Parta,” ujar Jayaseta.


Ucapan ini sontak mempengaruhi gerombolan. Semua saling berpandangan dan mencoba memutuskan untuk bertarung atau menyelamatkan nyawa. Bagaimanapun mereka terpengaruh cerita dan kenyataan bahwa mereka akan berhadapan dengan seorang yang terkenal sakti seantero tanah Jawa.


Sedangkan pada budak menegakkan punggung mereka. Mata mereka berbinar ketika mendengar orang bertopeng itu mengakui bahwa dirinya memang benar adalah si Pendekar Topeng Seribu. Tentunya mereka telah banyak mendengar kisah kepahlawanan sang pendekar yang membela orang-orang yang ditindas.


“Dungu kalian! Kalian berjumlah lebih tiga puluh orang yang bersenjata lengkap. Kalian pikir dia dewa? Kita akan cincang dia habis-habisan. Lagipula kita berada di belakang kompeni. Bahkan Sultan Agung saja tidak dapat menembus benteng kompeni,” sekarang Kangsa yang berkacak pinggang dan berteriak kepada bawahannya.


Kata-kata Kangsa kali ini cukup mengena ternyata. Bawahannya yang semula berpandang-pandangan mulai tersulut semangatnya. Apalagi mengingat hadiah yang akan diberikan oleh tuan mereka dan kompeni. Sudah terbayang baju-baju indah, emas dan perak, roti buatan kompeni yang lembut dan harum, belum lagi kemungkinan mendapatkan perempuan-perempuan cantik sesuai yang mereka inginkan.


Seketika semua mengangkat pedang ke angkasa dan berteriak-teriak bersemangat. Mereka langsung menempatkan diri dengan kuda-kuda dan siap menyerbu ke arah Jayaseta. Jayaseta pun sudah siap. Ia langsung melepas cambuk rantai di pinggangnya. Ia tidak mau berlama-lama menghadapi para pengeroyoknya. Akan ia habisi mereka secepat mungkin, tanpa ampun.


“Jangan katakan aku tidak memperingatkan kalian. Aku sudah bersumpah bahwa tidak akan ada yang lolos dengan nyawa masih menempel di badannya,” ujar Jayaseta keras-keras.


Tetapi tiba-tiba pula Jayaseta dikagetkan dengan desingan anak panah yang terlontar ke arahnya. Untung Jayaseta bukan pendekar biasa. Sekali sentak cambuk rantainya menggugurkan dua buah anak panah. Melihat itu, semangat masa sudah tidak bisa dihentikan lagi. Mereka secara hampir bersamaan langsung menyerbu seperti ombak menerjang karang.


Jayaseta kembali memutar otak dan sedikit terkejut karena tidak menyangka ada beberapa pemanah dalam pasukan ini. Ia ceroboh tidak memperhatikan masing-masing orang dalam rombongan ini. Mungkin suara dan wajah Kangsa berhasil membuatnya gagal menahan amarah dan menghindari kecerobohan.


Jayaseta memutar cambuk rantainya memababat siapapun yang lewat.


Cambuk rantainya membabat udara.


TRANG


Pedang dan golok pun tak bisa terhindar lagi dari benturan dengan cambuk rantai. Benturan ini mengakibatkan percikan api dan tangan-tangan yang bergetar. Para penyerang yang pedang dan goloknya tersambar dan terbentur cambuk rantai Jayaseta yakin tangan mereka pasti kesemutan.


Benar saja, hanya dalam tiga jurus Jayaseta berhasil menyambuk dua orang tepat di bahu. Kemampuan silat Jayaseta jauh melewati musuh-musuhnya. Ujung cambuk besi yang tajam tersebut menusuk-nusuk dengan ganas. Jarak cambuk rantainya yang panjang mampu memberi jarak yang sulit ditembus oleh musuh-musuhnya. Tiga Iblis yang masih berdiri menyaksikan pertempuran ini mau tidak mau harus mengakui bahwa jurus-jurus Jayaseta dalam menggunakan cambuk rantai milik Tiang Goan malah berada di atas Tiang Goan sendiri.


BRET! BRET! BRET!


Tiga orang lagi terluka di bahu dan leher akibat putaran rantai cambuk seperti gulungan angin yang menghajar puncak pepohonan kelapa. Bahkan satu orang berhasil menjadi korban keganasan Jayaseta. Satu garis melintang dari punggung, bahu hingga lengannya menjatuhkannya ke tanah.


Jayaseta kemudian memutarkan badannya sedikit rendah sembari masih memutarkan senjatanya. Kemudian dalam sekejap satu orang tumbang ke tanah dengan leher yang nyaris putus. Cakram menancap tepat di lehernya. Korban pertama di gerombolan ini yang mati. Rupanya sembari merendah tadi Jayaseta sempat mengambil cakram dari atas kepalanya.


Tanpa bisa dicegah, cambuk rantai Jayaseta tidak hanya berputar dan menyambar, cambuk rantai itu juga menusuk-nusuk bagai ekor naga yang tajam. Bandul logamnya yang tajam bagai tombak berusaha menyelinap diantara pedang dan golok puluhan musuh.


Jayaseta mendapatkan irama melawan semua musuh-musuhnya. Semakin banyak yang menyerang, semakin bagus pikir Jayaseta. Musuh yang banyak akan menumpuk-numpuk. Mereka yang merasa gemas dan geram akan berusaha menyerang, membacok musuh dengan ganas. Sebagai akibatnya serangan mereka malah tidak dapat mengenai musuh dengan baik.


Tiga orang anggota Lima Iblis Pencium Darah yang tersisa masih belum masuk ke dalam pertempuran. Mereka memerhatikan dengan seksama pertarungan antara Jayaseta dan anak buah mereka. Padahal sudah sedikitnya sepuluh orang terluka, satu orang tewas dan sisanya masih kesulitan mendekati Jayaseta.


Saat itulah Parta memerintahkan dua orang yang tidak ikut ke pertempuran, karena mereka membawa busur dan puluhan anak panah di belakang punggung mereka, untuk meninting Jayaseta. Tak berapa lama dua anak panah lagi langsung melesat ke arah Jayaseta.

__ADS_1


Cambuk rantai ia putar kembali, dua anak panah tersebut gugur ke tanah. Namun Jayaseta kehilangan langkah dan kuda-kuda sehingga tiga orang berhasil masuk mendesak Jayaseta. Pedang mereka berputar-putar dan mengejar tubuh Jayaseta.


Dua anak panah melesat lagi. Jayaseta tidak sempat memutar cambuk rantainya. Ia berkelit dan melenting ke udara sekali. Anak panas lolos dan menancap di dua buah pohon di belakang Jayaseta.


Menurut Jayaseta kedua pemanah tersebut adalah pemanah yang terampil. Mereka berani melepaskan anak-anak panahnya padahal banyak teman-teman mereka yang ada di pertarungan. Mereka tidak takut untuk mengenai rekan-rekan mereka. Pastilah kemampuan mereka diatas rata-rata. Walau sampai saat ini belum satu anak panahpun yang berhasil menyentuh Jayaseta, bukan tidak mungkin mereka akan terus-menerus berani melepaskan panah mereka sedangkan Jayaseta akan menjadi kesulitan.


Jayaseta kemudian berputar lagi dan menghempaskan cambuk rantainya keras-keras. Dua orang yang berada di depannya terpelanting ke samping. Satu orang terluka di bagian wajah dan satu orang lagi di bagian leher. Saat itulah ada ruang terbuka diantara Jayaseta dan para pemanah yang sudah siap untuk melepaskan panah mereka lagi. Jayaseta paham ini, ia malah sengaja memancing untuk membuka dirinya agar menjadi santapan anak panah-anak panah yang haus darah.


Ketika dua anak panah melesat lagi, Jayaseta membelitkan cambuk rantainya ke kaki salah satu pengeroyoknya. Dengan tenaga dalam yang dialirkan ke lengannya, ia menghentakkan cambuk rantainya sehingga tubuh orang yang terbelit terangkat dengan keras ke depan tubuh Jayaseta. Dua anak panah menancap keras ke dada dan pinggang orang tersebut. Sudah pasti, kedua pemanah memberikan hadiah kematian bagi teman mereka tersebut.


Keduanya tercengang, namun tak lama karena sebuah cakram melesat ke arah mereka. Mereka kaget bukan kepalang dan langsung mengangkat busur mereka untuk melindungi diri. Satu busur patah menjadi dua bagian dan cakram memotong tangan kiri salah satu pemanah, sama seperti busurnya. Teriakan mengiringi rebahnya satu pemanah ke bumi.


Dengan ini Jayaseta berhasil membuka kepungan para penyerangnya karena perhatian mereka terpecah. Jayaseta melakukan penyerangan, bukan saja pertahanan yang sepertinya acak. Ia ternyata bisa saja menyerang siapapun dalam keadaan apapun. Bahkan ketika ia sedang terdesak, ia bisa saja menghambur dan melawan kembali dengan sama kerasnya. Sama sekali sulit ditebak.


Jayaseta pun menghambur ke arah ketiga Iblis Pencium Darah dan melecutkan cambuknya. Ketiganya terkaget karena tak disangka mereka langsung menjadi sasaran serangan. Padahal dari awal mereka sedang memerhatikan jalannya pertarungan. Senjata ketiganya terangkat menyambut serangan Jayaseta. Pertarungan dahsyat mereka tak dapat terhindarkan lagi.


Satu hal lagi yang sama sekali tidak Jayaseta perhatikan dan duga. Para budak demi melihat pertarungan ini seperti terangkat semangatnya. Mungkin karena sudah lama geram atas tindak-tanduk para majikan dan tuan mereka yang semena-mena, mungkin juga merasa memiliki harapan. Bagaimanapun orang yang membela mereka adalah Pendekar Topeng Seribu yang sudah tersohor karena kebaikan hatinya membela kaum yang lemah.


Tanpa diperintah, bahkan tanpa senjata, para budak yang bertelanjang dada itu menyerang membabi-buta pasukan yang bersenjatakan pedang dan golok yang tajam.


Jayaseta panik. Ia kemudian berteriak kepada para budak, “Berhenti, jangan serang mereka …”


Terlambat, tiga orang budak meregang nyawa karena tusukan pedang, walau satu orang pengawal bersenjata juga ikut tewas dengan mengenaskan menjadi bahan keroyokan para budak. Peta pertempuran sontak berubah.


Bukan lagi Jayaseta melawan para pengawal tandu, tapi para budak juga ikutan bertarung. Mereka menggunakan apa saja untuk dijadikan senjata, golok yang direbut dari pengawal yang tewas, batu bahkan kayu dari tandu yang dipatah-patahkan.


Ini tidak bisa dibiarkan. Darah akan terciprat dari kedua belah pihak, padahal Jayaseta sedang mencegah kematian para budak.


Jayaseta kembali buyar pikirannya. Kuda-kudanya melemah sehingga beberapa kali senjata ketiga Iblis Pencium Darah hampir mengenainya. Belum lagi beberapa pengawal juga sudah ikut serta menyerangnya. Terpaksa ia memutar-mutar cambuk rantainya lebih keras dan lebih cepat. Sialnya bukan keadaannya yang ia khawatirkan, tapi keadaan para budak yang dari sudut matanya terlihat mulai berguguran.


Jayaseta berguling ke belakang dua kali sambil menghantamkan satu Tinju Besi kearah satu pengawal yang menghadangnya dengan pedang. Pengawal itu mundur dengan darah keluar dari mulutnya. Ia terluka parah, namun Jayaseta enggan menghentikan serangannya. Ia langsung memutar cambuk rantainya dan melecutkan ke sang pengawal.


Ujung cambuk rantai yang tajam melesak menembus leher sang pengawal. Darah langsung mengucur dari luka tersebut disertai suara tercekat. Dengan sekali hentak, tubuh pengawal tertarik dan menubruk tiga Iblis Pencium Darah dan beberapa pengawal yang ikutan menyerangnya.


Dalam kesempatan ini, Jayaseta meraba kepalanya. Mengeluarkan cakram terakhir yang sompel di salah satu sisinya karena ***** Sarti tempo hari. Kemudian cakram tersebut ia ikatkan di ujung cambuk rantainya. Sekarang sang cambuk sudah memiliki dua ujung yang berbahaya, lempengan cakram dan ujung rantai yang lancip.


Dengan senjata barunya Jayaseta menghambur ke arah para budak yang sedang bertempur dengan para pengawal. Cambuk rantai berputar lagi bagai badai. Lima jurus, dua orang pengawal tergeletak dengan luka di tengkorak kepala mereka dengan darah yang mengalir deras keluar seperti air terjun. Nyawa mereka tak terselamatkan.


Tiga Iblis Pencium Darah melihat ini tidak mau tinggal diam lagi. Mereka mencoba mengejar Jayaseta. Namun para budak sudah tidak terkendali karena melihat teman-teman mereka terluka dan mati serta mengingat penderitaan mereka selama bekerja dengan para tuan dan saudagar kompeni. Mereka mencoba menyerang ketiga Iblis itu pula.


Naas tentunya bagi mereka, tiga Iblis terlalu kuat. Ketiganya hanya mengibaskan toya, cabang dan pedang kembar, dan semua budak yang menghalangi terhempas bagai daun berguguran. Entah bagaimana keadaan mereka sekarang.


Jayaseta semakin panik melihat ini. Cambuk rantai dengan dua mata tajamnya masih terus mencari mangsa, namun perhatiannya sudah terbelah. Saat itulah sekali lagi sebuah anak panah melesat dan berhasil menancap di bahu kanannya. Pegangannya melonggar. Ia masih dapat menangkis serangan-serangan golok dengan memegang cambuk rantai dengan kedua tangannya. Namun satu tendangan berhasil masuk menghantam pipinya hingga ia sedikit terdorong ke samping.


Satu anak panah lagi melesat, satu lagi, satu lagi. Jayaseta menghindar mati-matian dengan gerakan Jurus Tanpa Jurus miliknya. Semua lolos, namun nyeri di bahu kanannya merasuk terus ke dalam. Ia memutarkan sekali lagi cambuk rantainya sekeras tenaga. Kepala salah satu pengawal yang nekad menyerangnya lepas dari badan dan tergeletak di tanah dengan mata melotot.


Tiba-tiba Jayaseta merasa lututnya goyah, pandangannya memudar. Ia jatuh berlutut dan cambuk rantainya terlepas dari tangannya.


Anak panah itu beracun!

__ADS_1


Segera ia memusatkan tenaga dalamnya ke bahu dan jantung untuk memutus reaksi racun ke dalam tubuhnya.


__ADS_2