
Para perompak merasakan tenaga yang luar biasa besar menghantam tubuh mereka dengan keras dan cepat. Terlalu keras dan terlalu cepat, sampai tidak ada satupun korban dan sasaran serangan itu yang dapat menahan dan sempat mengelak. Tiga tubuh terlempar bagai daun kering, menubruki teman-teman mereka.
Teriakan rasa sakit bertemu dengan derak patah tulang terdengar jelas. Jayaseta masih menderu. Kedua tangannya laksana gada baja yang memukuli lawan dengan begitu entengnya. Lembing-lembing bambu yang digunakan untuk menahan serangan bagi beberapa perompak yang masih sempat melihat datangnya serangan, ternyata juga patah dan bobol. Tinju Jayaseta tetap masuk menerobos pertahanan dan mengenai dada, bahu atau perut mereka.
“Lawan! Keluarkan senjata kalian!” teriak sang pemimpin ketika sadar bahwa pertarungan telah dimulai.
Belati dihunus. Para anggota perompak mundur, membuka barisan agar tidak menumpuk dan memberikan jeda serta ruang agar dapat melihat gerakan dan datangnya musuh dengan baik.
“HEYAAA!” sang pemimpin memulai dengan menusukkan tombak bambu runcingnya ke arah Jayaseta yang bergerak melucur, memutar. Jayaseta membiarkan ujung lembing bambu runcing melewati wajahnya seruas jari saja jaraknya. Setelah itu dengan gerakan menyamping, jari-jari kirinya membentuk cakar, campuran cakar harimau, elang dan naga, kemudian meraih batang lembing yang terjulur tersebut serta menghancurkannya dalam sekali remas.
Batang bambu tersobek panjang terus sampai membuat sang pemimpin perompak melepaskan lembing itu bila tidak mau telapak tangannya ikut tersobek. Sayang, meski ia berhasil melepaskan pegangannya pada batang bambu yang telah hancur itu, dadanya tidak bisa terhindar dari tendangan menyamping Jayaseta yang terlalu cepat untuk ia sempat pahami.
__ADS_1
Tubuhnya tersentak dan tersungkur ke belakang, terduduk di atas tanah di dekat aliran air yang memebentuk anak sungai kecil.
Jayaseta memang nampaknya sengaja melumpuhkan sang pemimpin perompak dahulu. Tendangannya itu adalah bagian dari Jurus Tanpa Jurusnya yang disesuaikan dengan keadaan dan keperluan, sehingga hasilnya seperti yang dapat dilihat sekarang. Sang pemimpin kelompok terduduk tak dapat bergerak. Tubuhnya secara hancur lebur dan kaku luar biasa. Kesempatan ini digunakan Jayaseta untuk kembali berputar dan bergerak cepat menghajar lawan, dengan kedua tangan kosongnya.
Silat Melayu telah melebur di dalam Jurus Tanpa Jurusnya. Jayaseta tidak lagi menggambarkan gerakannya dalam pemaknaan jurus-jurus tertentu lagi. Jari-jarinya membentuk beragam jenis kepalan dari beragam jurus, atau membuka membentuk telapak, atau menyikut bagai silat Tomoi, atau mencakar bagai silat gungfu. Apapun itu, semua digunakan dengan berdayaguna sehingga mampu menyelesaikan pertarungan dengan cepat dan tepat.
Belati yang menusuk-nusuk bagai deru hujan diarahkan ke tubuh Jayaseta mampu dihindari dengan sedikit usaha. Tidak hanya tubuh Jayaseta yang luwes menghindari serangan-serangan itu, tetapi ia tak membuang-buang kesempatan sembari langsung memberikan pukulan dan tendangan ke arah lawan setiap kali selesai menghindar dan berkelit dari serangan.
Jayaseta menjejak kaki penyerang, tidak untuk melumpuhkannya sementara, tetapi sungguh-sungguh mengalahkannya. Itu sebabnya kaki yang diserang langsung patah dalam sekali jejak saja. Jayaseta mendupak dada musuh sehingga terlontar ke belakang, menubruk teman-temannya, kemudian langsung melaju menggunakan
Tataran belasan bahkan lebih dari dua puluh penyerang berantakan. Mereka tak menyangka sama sekali bahwa mereka sedang menghadapi mahluk yang kemampuan kanuragannya terlalu diatas. Jayaseta sudah menjadi sosok yang tercipta dari goresan luka dan petaka. Ia menjelma menjadi tokoh yang ditatah dari kekuatan dan kanuragan,
__ADS_1
pengalaman dan pertempuran. Jurus-jurus yang ia pelajari tidak sekadar terhapal dan terajarkan, melainkan terlebur dan tergubah oleh kemampuannya sendiri. Kekuatan adalah bagian dari dirinya, dan silat adalah nafasnya.
Jayaseta menumpukan tenaga dalam di kedua telapak tangannya. Tiga belati sedang dalam perjalanannya meluncur dengan tujuan mencabik-cabik dagingnya. Jayaseta dapat melihat serangan-serangan para perompak ini semudah melihat seekor cicak merayap di dinding. Ia mengelak dengan langkah gabungan silat Melayu dan Mangkasara dimana dengan tubuh memutar merendah dan kuda-kuda kaki bersilang, tiga serangan itu lolos di atasnya.
Dengan kuda-kuda rendah itu pula, Jayaseta berputar kembali ke arah sebaliknya. Bagai tiupan angin puyuh, sang pendekar memberikan dua pukulan keras, melemparkan dua penyerang dengan keras.
“Hah! Tuan Jayaseta sedang mengamuk!” seru Ireng terlihat girang.
Ireng tak salah. Jayaseta memendam tenaga dan nyali di atas sungai selama ini. Ia menginginkan semua orang yang sedang merencanakan apapun itu untuk mengalahkannya untuk berpikir kembali setelah ini. Ia memusatkan perlawanannya untuk menghabisi musuh dengan cepat, menggunakan tangan kosong.
Ia bahkan termasuk boros dalam menggunakan tenaga dalamnya dalam setiap serangan. Tidak diragukan lagi, para perompak yang terlempar tadi bagai binatang yang ditiup kitiran angin lesus, pastilah tak mungkin lagi selamat nyawanya.
__ADS_1
Di dalam hati, Jayaseta juga cukup khawatr bila sampai orang-orang ini tahu bahwa ia memiliki kelemahan bila sedang berada di atas air. Ini jelas sangat mungkin mengingat mereka tahu banyak hal tentang dirinya. Jadi, keputusan untuk turun ke darat harus dibayar dengan tindakannya menghajar para musuh dengan cara yang mengerikan dan mengirimkan rasa takut pada musuh.