Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Krabi Krabong


__ADS_3

"Siapa tua bangka bangsat ini sebenarnya? Jangan bohongi aku dengan mengatakan dia adalah sang Pendekar Topeng Seribu yang tersohor itu. Dari perawakan saja hanya orang bodoh yang bisa percaya bahwa dia adalah pendekar itu. Apalagi dari jurus dan perilakunya. Sama sekali tak sesuai dengan penggambaran yang biasa kita dengar dan ketahui," seru Pucok Gunong sang Harimau Belang kepada Nuruddi sang pemimpin pasukan Melayu Kesultanan Kedah yang mengganggu pertempurannya dengan para pendekar Siam tersebut.


Nuruddi tertawa dibuat-buat. "Kau ini dungu sepertinya. Bukankah pertarugan kalian tadi tidak menunjukkan bahwa kau sedang unggul. Kau benar-benar pandir kurasa namun di saat yang sama jemawa pula. Tidak kah kau sadar, kedatangan kami bersama si pendekar yang kau anggap tua bangka itu malah menyelesaikan semuanya? Dalam beberapa jurus saja, ia mampu membunuh hampir semua pendekar Siam dan sengaja menyisakan satu untuk memberitahu kan kabar ini kepada Ayutthaya dan orang-orang Siam," balas Nuruddi.


"Bedebah! Tentu saja ia bisa menghabisi sisa pendekar Siam. Mereka sudah cidera parah akibat pertarungan melawan aku dan para pendekarku. Orang-orang Burma yang menguasai ilmu tenaga dalam atau sihir sehingga mereka tak bisa merasakan sakit itu sudah dahulu dibubuh para prajurit Ayutthaya. Jadi, jangan membual dengan mengatakan bahwa tua bangka itu yang punya kerja," seru Pucok Gunong lebih ngotot.


Nuruddi mendekat ke arah pendekar muda itu. "Apa bedanya? Intinya para pendekar Siam telah mampus di tangan Pendekar Topeng Seribu yang memihak Melayu Kedah dan Malaka Pranggi. Kisah dan berita itu yang kini sudah terkabarkan di seantero tanah Siam bahkan sampai ke bumi Melayu."


"Keterlaluan kau Nuruddi! Kau memang menjadi pemimpin prajurit Kedah, tapi perihal rasa harga diri bangsa Kedah, aku pun tak kalah darimu. Bila hanya menyamar menjadi Pendekar Topeng Seribu dengan mengenakan sembarang topeng, aku pun juga bisa. Malah justru jauh lebih baik dibanding orang pendek dan tua bangka itu," ujar Pucok Gunong dengan penuh kekesalan dan amarah.


Dewa Langkah Tiga yang sedari tadi hanya berdiri mendengarkan kedua orang itu berbicara, kini tak tahan lagi. Ia mendekat secepat kilat ke arah Pucok Gunong dan membuat pendekar muda itu tersentak ke belakang karena terkejut dengan betapa cepat gerakan sang pendekar tua yang tak dikenal itu.

__ADS_1


"Aku tunggu cidera dan lukamu sembuh, anak muda. Aku bertaruh dengan nyawaku bahwa kau akan kukalahkan dalam kurang dari tiga jurus!" ujar Dewa Langkah Tiga. "Dan, kau harus ingat ini. Aku bukan tua bangka. Aku laki-laki separuh baya!" suara Dewa Langkah Tiga yang pelan dan datar itu entah bagaimana membuat kulit Pucok Gunong meremang ngeri. Tatapan mata pendekar yang menyamar menjadi Pendekar Topeng Seribu itu meruapkan hawa kesaktian dan kanuragan yang luar biasa. Pucok Gunong benci untuk mengakui bahwa ia merasa ketakutan dengan hawa laki-laki separuh baya itu. Sang Harimau Belang telah menjadi si kucing loreng.


***


Kittisak mendengus. Ia memegang daab kembar nya dengan kedua tangannya. Tubuhnya yang tak berpakaian, hanya selembar cawat, berpeluh. Ia menyilangkan kedua pedang di depan mukanya, mengangkat kaki kanan, kemudian melompat sembari memberikan sabetan bertenaga ke tiga arah mata angin dengan begitu cepatnya.


Kakinya bergantian diangkat, kemudian melompat sembari kanan tangan dan kirinya terus-menerus menyabetkan sepasang pedang daab bergagang panjang itu ke udara. Tubuh Kittisak salah satu punggawa Siam kerajaan Ayutthaya itu sebenarnya gempal dan tak seberotot para pendekar lain. Tapi, sangatlah bodoh menyepelekan dan menilai kesaktian seorang Kittisak hanya dari bentuk badannya. Ia adalah seorang pendekar dan tentara andalan Ayutthaya.


Bila ditilik dengan lebih seksama, gerakan jurus-jurus Kittisak yang bersudut sekaligus memutar itu adalah ciri khas dari silat bersenjata orang-orang Siam yang dkenal secara umum sebagai Krabi Krabong.


__ADS_1


Krabi Krabong sepanjang sejarah dianggap berkembang ke ratusan gaya dan jurus dan dipengaruhi banyak gaya silat beragam bangsa pula. Ilmu tongkat dari negeri Hindustan di wilayah Tamil bernama Silabam yang sudah digunakan bangsa Hindustan sejak abad ke-4 Sebelum Masehi itu, dianggap menjadi salah satu pengaruh utama. Maka, penggunaan pedang kembar Krabi Krabong ini juga berbagi ciri dengan silat orang-orang Bisaya, Kali, seperti jurus-jurus Katilapan.


Krabi Krabong juga berbagi ragam jurus dengan silat senjata orang Burma, Khmer dan Lao. Tidak hanya itu, semenjak kedatangan para ronin dan pembunuh bayaran Jepun ke Ayutthaya, Krabi Krabong pun dipengaruhi gaya berpedang para Samurai dengan katana nya.


Kittisak bergerak melompat-lompat dengan lincah. Sabetannya berlipat. Penggunaan bahu dan pinggul yang kuat membuat setiap serangan mewakili satu nyawa tercabut.


Di luar bangunan ketentaraan yang ia pimpin, rombongan berkuda baru saja sampai. Dua buah kereta kuda dengan belasan kuda dengan pasukan bersenjata di atasnya tentu disambut dengan tidak ramah oleh para prajurit Ayutthaya penjaga bangunan keprajuritan itu.


Tombak-tombak terjulur, busur terentang siap melepaskan anak-anak panahnya ke arah rombongan itu.


"Tunggu, tunggu. Kami datang dengan damai. Kami ingin bertemu dengan Tuan Kittisak," seru satu orang berkuda yang berada di paling depan rombongan.

__ADS_1


"Siapa kalian yang dengan lancang ingin menemui punggawa kerajaan Ayutthaya yang terhormat dengan berkuda dan menenteng senjata, hah?!" seruan balasan datang dari salah satu prajurit Ayutthaya.


"Tolong katakan bahwa abdi setia Ayutthaya, tuan tanah yang kaya raya dan terhormat namun rendah hati di hadapan kerajaan, sang Khun Wanchay Na Ayutthaya, datang ingin menemui yang terhormat tuan punggawa agung kerajaan Ayutthaya, Kittisak," ujar sang penunggang kuda yang berada di paling depan barisan rombongan tamu itu.


__ADS_2