Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Desas-Desus


__ADS_3

Fong Pak Laoya mengawinkan Yu dan Pratiwi dengan cara Cina. Upacara sederhana menghormati kepada Tuhan atau dewa, leluhur, orangtua dan kedua mempelai. Hari baik sudah ditentukan sang Laoya. Tanpa banyak pernak-pernik dan macam-macam, perkawinan ini dilakukan dengan khusuk, mengingat baik Yu maupun Pratiwi sekarang adalah dua orang pengembara yang bisa dikatakan jauh dari sanak saudara dan handai taulan. Bahkan kakek Pratiwi yang harusnya bersama mereka pun tak tahu rimbanya, paling tidak itu anggapan Pratiwi. Maka, sang Laoya merasa tak perlu berlama-lama melakukan upacara yang terlalu rumit dan berbelit-belit. Toh intinya, kedua orang ini telah resmi menjadi sepasang suami istri.


"Minumlah obat ini dahulu, Pratiwi. Setelah itu kau bisa beristirahat," ujar Yu kepada Pratiwi di bilik mereka malam setelah upacara pernikahan mereka. Fong Pak Laoya dan Yu meminum arak sembari mengobrol panjang setelah acara perkawinan. Saat ini sang Laoya adalah tetua dan keluarga baginya, karena memang di tengah hutan belantara ini hanya ada mereka bertiga.


Mendengar ini Pratiwi tersenyum sinis. Yu sudah tak heran dengan tabiat, perilaku dan sifat gadis yang baru saja resmi menjadi istrinya ini.


Pratiwi tetap meminum obatnya. Dua bongkahan obat sebesar seruas jari kelingking dengan rasa pahit yang luar biasa berhasil ia telan.


"Kau sungguh-sungguh ingin membiarkan aku untuk istirahat malam ini, Yu? Kau baru saja mengawiniku siang ini. Mana rasa hormatmu pada istrimu ini?" seloroh Pratiwi.


Yu tercekat. Ia tak menyangka Pratiwi berkata selugas itu. Ia bahkan tak bisa berkata-kata untuk membalas perkataan Pratiwi tersebut.


Pratiwi tak membiarkan Yu terlalu lama bengong tak mampu menjawab. Ia berdiri kemudian melepaskan satu persatu kain yang membebat tubuhnya sampai sama sekali terlepas. Pratiwi kini sama sekali telah polos. Tubuh mungil nan padatnya telah menjadi sasaran pandangan Yu yang sudah terlanjur tak bisa lepas menikmatinya.


Pratiwi membaringkan tubuhnya di atas balai-balai dan berdiam di sana. Matanya sayu memandang Yu, mengundang sang suami untuk memiliki tubuhnya malam ini.


Di sisi yang lain Yu sudah enggan untuk sungkan lagi. Sudah terlalu lama ia menahan rasa pada gadis berkulit gelap nan ayu itu. Kini, Pratiwi tak lagi membuatnya menahan diri. Yu melepaskan segala hasrat yang terkunci lama. Pratiwi adalah miliknya hari ini dan seterusnya.


Tak bisa dibayangkan apa yang Yu rasakan ketika tubuhnya masuk menyatu ke dalam tubuh sang istri. Dunia serasa terserap bersamanya. Ia terlalu menginginkan Pratiwi, maka ini lah hadiah semesta untuknya. Kenikmatan tiada tara bercampur rasa cinta dan kasih yang meluap-luap.


Lucunya, Pratiwi merasakan hal yang sama. Seberapa pun ia berpura-pura tak begitu acuh, namun tubuhnya berkata sebaliknya. Bahkan ia harus mengakui meski secara kanuragan Pratiwi sudah berpengalaman dan unggul di atas musuh-musuhnya, apalagi Yu, di atas balai-balai ini, ia tak berkutik. Akhirnya semalaman ini Pratiwi mengaku kalah dan membiarkan tubuhnya menjadi sasaran serangan Yu.


Perjalanan kedua insan manusia ini kelak akan menjadi bagian penting dalam jalinan takdir yang saling bersilang dan berkesinambungan dengan tokoh-tokoh penting dalam kisah ini. Pengembaraan keduanya yang akan dimulai ke Riau dengan tujuan menyembuhkan Pratiwi bukanlah sebuah perjalanan satu arah dan kembali. Ada terlalu banyak hal penting dalam catatan nasib yang harus mereka genapi.

__ADS_1


***


"Kisanak, pendekar itu luar biasa. Kami belum pernah melihat kehebatan orang semacam dia. Sungguh beruntung kami mendapatkan tontonan dan pelajaran semacam ini," ujar salah satu murid Baharuddin Labbiri yang mendadak mendekat ke arah rombongan Jayaseta. Kali ini Katilapan lah yang pemuda itu ajak bicara.


Katilapan tersenyum penuh makna. "Ah, engkau tak salah, kawanku. Jayaseta memang seorang pendekar pilih tanding. Kita akan lihat lagi bagaimana caranya menghadapi seorang pendekar murid andalan guru kalian, Harimau Pattani," ujar Katilapan tak menutupi kebanggaannya.


"Nah, kami pun jelas ingin menunggu bagaimana ia menuntaskan kakak seperguruan kami yang guru anggap sebagai pendekar-pendekar andalannya," sambut sang pemuda.


Pemuda lain, juga murid silat Baharuddin Labbiri ikut ambil bagian dalam percakapan ini. "Apakah saudara pendekar itu memiliki gelar?" ujarnya.


Katilapan baru saja hendak menjawabnya dengan gamblang ketika tiba-tiba ia sadar bahwasanya Jayaseta sendiri belum memperkenalkan dirinya dengan jelas dan resmi kepada semuanya. Mana mungkin ia yang dengan lancang melakukannya terlebih dahulu.


"Ah, untuk urusan itu, kawanku, biarlah sang pendekar sendiri yang kelak mengatakan kepada engkau bila ia memang menghendakinya," balas Katilapan berusaha bijak.


"Ah, andai pendekar ini berhadapan dengan Pendekar Topeng Seribu, entah seperti apa jadinya," ujar pemuda kedua yang nimbrung percakapan Katilapan dengan pemuda pertama tadi.


Katilapan mengernyitkan keningnya. "Kalian pernah mendengar mengenai Pendekar Topeng Seribu?" tanya Katilapan penuh selidik karena penasaran.


"Siapa yang tidak, kisanak?" balas pemuda yang sama dengan santai.


Katilapan tak bisa menahan senyuman. Andai mereka tahu siapa gerangan orang yang sedang mereka pantau kesaktiannya itu.


"Lantas mengapa engkau berpikir bahwa rekan pendekarku itu pantas berhadapan dengan Pendekar Topeng Seribu?" tanya Katilapan masih penasaran.

__ADS_1


"Begini, kisanak. Sebenarnya kami juga agak bingung dengan perilaku, perangai dan tindak tanduk pendekar tersohor itu. Desas desus mengatakan bahwa Pendekar Topeng Seribu adalah seorang pendekar pilih tanding yang bertarung melawan orang-orang jahat, dari perompak perampok, jawara dan pendekar aliran sesat serta para penjajah negeri bule," ujar sang pemuda polos.


Katilapan tak bisa membenarkan seluruhnya. Agak sulit untuk menjelaskan dan membedakan pendekar lurus dan sesat serta penjajah. Dunia terlalu rumit untuk dipahami dengan hitam dan putih. Tapi toh Katilapan mengiyakan dan mengangguk. "Benar. Aku dengar memang begitu adanya. Lalu, apa yang salah dengan kabar mengenai Pendekar Topeng Seribu itu?" tanya Katilapan lebih jauh.


"Nah, begini kisanak," kali ini pemuda pertama yang ikut nimbrung. "Berita terakhir mengenai sang pendekar adalah bahwa ia kedapatan berada di pihak Pranggi Malaka. Bukankah hal ini begitu aneh? Apakah Pendekar Topeng Seribu terlibat urusan kenegaraan?" ujarnya.


Katilapan tak bisa menahan rasa penasarannya. Ia baru saja akan bertanya lebih jauh ketika ternyata Narendra menguping dan merebut kesempatan Katilapan. "Maksud engkau bagaimana, kawanku?" tanya Narendra dengan menggebu, membuat Katilapan terkejut.


"Begini, kisanak sekalian. Sehari yang lalu, benteng kota Malaka diserang para penyusup yang kemungkinan berasal dari Betawi. Tentu kisanaka sendiri merasakan ketatnya penjagaan di pelabuhan bukan?"


Katilapan dan Narendra mengangguk hampir bersamaan.


"Itu karena kota kebobolan. Ada beberapa orang yang membakar gudang senjata dan bubuk api. Mereka bahkan menyerang para prajurit bule Pranggi dan pribumi. Korban berjatuhan. Namun bukan itu pokok ceritanya."


"Kekacauan tidak akan segera reda dan korban berjatuhan tak akan sedikit tanpa kedatangan sosok Pendekar Topeng Seribu," potong pemuda lainnya.


Katilapan dan Narendra saling pandang dengan heran dan tak percaya. Mereka baru saja sampai di negeri ini. Mereka yakin Jayaseta selalu bersama mereka dan tak terlibat pertarungan apapun sebelum tanding adu kanuragan sekarang ini.


"Pendekar Topeng Seribu yang memang hebat itu membabat habis semua penyusup. Para pendekar pentolan mereka juga dikalahkan telak. Itu bukan hal yang aneh, bukan? Tapi alasan sang pendekar membela Pranggi, menggagalkan serangan mendadak penyusup yang bahkan prajurit dan pemerintah Pranggi sendiri tak tahu itu sama sekali tidak masuk akal dan mencurigakan. Apa gerangan maksud sang pendekar? Sudahkah ia berpihak? Mungkin pertanyaan kami dapat ia jawab ketika harus tekuk lutut di tangan rekan pendekar kalian tersebut," lanjut sang pemuda setengah bercanda.


Kali ini bukan Katilapan dan Narendra saja yang saling berpandangan penuh kebingungan. Bahkan Dara Cempaka dan sang Datuk yang akhirnya mendengar percakapan ini menjadi sama bingungnya.


Pasti ada suatu hal yang tidak beres di sini. Mungkin bahkan ketidakberesan ini akan mempengaruhi dunia persilatan nusantara, apalagi bila kisah cerita mengenai Pendekar Topeng Seribu membela Pranggi ini tersebar - bila memang cerita itu memiliki pengaruh yang kuat - maka bakal ada sebuah hasil yang besar yang bakal terjadi.

__ADS_1


Datuk Mas Kuning, Dara Cempaka, Katilapan dan Narendra masih menyisakan kepingan dan bongkahan besar pertanyaan di dalam batin mereka meski kini semuanya berpusat pada Jayaseta yang telah siap melayani pertarungan dengan pendekar selanjutnya, Harimau Pattani.


__ADS_2