Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Pertempuran di Sungai Bagian Kedelapan: Hitam Jahanam


__ADS_3

Orang-orang Champa dan Annam berasal dari kerajaan yang mahir berperang di atas sungai dan perairan. Kerajaan Champa bahkan di masa keemasannya dahulu memiliki seribu kapal besar untuk menjaga wilayahnya. Kerajaan Đại Việt mengirimkan lima ribu galai, atau kapal sungai berdayung untuk menyerang Champa pada


tahun 1465 Masehi.


Maka kekhawatiran Yu bisa dimaklumi. Ia melihat perahu-perahu perang beragam ukuran milik para perompak Đại Việtdan Champa itu seakan belum sepenuhnya digunakan dengan baik. Mereka sengaja mengancam kapal Lan Xang di depan dan menahan kapal-kapal yang lain yang hendak melewati sungai ini. Tiga kapal dagang yang dinakhodai orang-orang Cina, sudah dua yang jelas tak bisa digunakan. Satunya, sudah kehilangan jumlah awak yang lumayan banyak. Mereka mendayung mundur dan memutuskan tak bisa ikut lagi bertempur.


Orang-orang di wilayah mancanegara ini memang dikenal memiliki kebudayaan sungai dan perairan yang kental. Para pemimpin, raja, pangeran atau tuan tanah kerap memberikan perahu dan kapal sebagai hadiah atau upeti bagi pemimpin lain. Itu yang dilakukan oleh wangsa Nguyen di Đại Việtkepada wangsa Trinth di selatan: memberikan kapal-kapal dari kayu sebagai bentuk upeti. Apalagi pembuatan kapal perang yang memerlukan waktu yang luar biasa cepat. Mereka cakap membuat kapal dan menggunakannya untuk peperangan.


Yu langsung berlari kembali ke arah tadi ia datang untuk segera mengabarkan kepada Pratiwi dan Fong Pak Laoya untuk segera menuntaskan pertarungan dan meninggalkan kapal. Namun, itu sebelum apa yang ia lihat saat ini.

__ADS_1


“Seperti yang sudah kuduga! Tak mungkin orang Champa, apalagi para perompak, tak ada satupun yang memiliki ilmu kekebalan,” seru Fong Pak Laoya kepada Pratiwi.


Sang Laoya baru saja mengalahkan lawannya hanya dalam dua jurus tadi. Sewaktu sang pemimpin perompak yang tinggal seorang diri saja menyerang dengan dua sabetan menyilang cepat ke arah Fong Pak Laoya yang dengan jurus gerakan keseimbangan Yin dan Yang dihindari dengan luwes tetapi tegas. Balasannya yaitu sebuah jurus rendah memapras pinggang dengan pedang serupa lecutan cemeti dan diakhiri dengan sekali memutar tubuh kemudian menambahkan kekuatan hentakan pukulan ke arah punggung.


Kedua serangan itu mengenai telak ke sasaran. Namun, tidak ada yang terjadi selain musuh yang tersentak belaka. Tidak ada luka di kulit telanjang sang pemimpin yang hanya mengenakan selembar cawat dan hiasan dada dan bahu tersebut.


Pratiwi yang melihat kejadian ini, meski sudah diserukan oleh sang Laoya bahwa musuh ternyata memiliki ilmu kekebalan, tetap saja langsung meluncur menyerang. Sepasang belati berupa keris dan belati Champa itu berseliweran cepat saling menyilang sebelum sampai di sasaran sebagai bentuk pengganggu perhatian.


“Sudah kukatakan, Pratiwi. Ia kebal,” seru Fong Pak Laoya yang terlihat santai.

__ADS_1


Pratiwi sendiri yang kesal langsung mundur dan menjaga jarak. Sang pemimpin perompak menunjukkan wajah bengisnya. Ia tidak tertawa seperti ciri-ciri umum penjahat yang memiliki kemampuan serupa. Pedang di tangan kanannya diangkat, siap untuk membacok.


Sialan! Pikir Yu.


“Lebih baik kita tinggalkan saja dia. Kapal sudah terbakar. Nakhoda sudah mati bersama para penjaga. Awak dan budak sudah tak kita lihat keberadaannya. Mereka semua meloncat ke sungai dan mungkin sudah berenang ke tepian!” seru Yu terlihat khawatir.


“Ah, sebentar dulu, Yu. Pratiwi, engkau mundur dahulu. Lihat apa yang akan aku lakukan. Kau terutama, Yu. Perhatikan baik-baik apa yang akan terjadi. Ilmu pengobatan mutakhirmu itu tidak ada apa-apanya dengan ilmu gaib nenek moyang kita,” balas sang Laoya dengan nada yang santai.


Fong Pak Laoya mengambil selembar kertas kuning dari balik jubah sutranya, kemudian melukai salah satu jarinya dengan jian lenturnya sebelum memasukkan kembali senjata itu ke sabuk kulitnya. Darah dari luka di jarinya langsung digunakan untuk menulis mantra dengan aksara Cina kuno. Fong Pak Laoya merapal mantra pelan, semacam berkumur-kumur, tetapi dengan cepat. Ia mengangkat kertas kuning dengan mantra dari darah itu ke atas dan berseru keras, “Aku tahu siapa engkau di dalam sana. Jann sang hitam jahanam! Dua adanya! Kalian memang sudah melayang di muka bumi, berenang di permukaan lautan dan berdiam di hutan-hutan dan gunung-gunung jauh sebelum manusia tercipta oleh sang sumber cahaya, sumber kebajikan dan sumber kekuasaan. Kalian berusaha mengambil kembali kekuatan dan hak yang kalian anggap kalian miliki sebelumnya. Namun, aku disini

__ADS_1


adalah ciptaan paling mulia dari sang pusat cahaya. Maka enyahlah!”


__ADS_2