Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Adat


__ADS_3

Sasangka merasakan ujung golok hanya berjarak dua ruas jari dari wajahnya. Namun itu sengaja dilakukan untuk mengambil kesempatan agar ia bisa membabat lengan penyerang.


CRAS!


Dua jari musuh terpapras. Golok jatuh disertai teriakan kesakitan sang jawara. Melihat rekannya yang terluka, kini jawara satunya yang menyerang. Jurus tiga langkah Sasangka terbukti ringkas dan tepat guna. Jawara satu ini juga tak bisa luput dari jurus-jurus Sasangka.


Lututnya disepak sehingga ia hilang keseimbangan. Sasangka kemudian membesetkan wedhung di bahu lawan. Luka memanjang membuat sang lawan juga berteriak keras sama seperti kawannya.


Dalam sebuah pertarungan yang melibatkan pengeroyokan, apalagi diantara para pendekar, jawara dan orang-orang yang memiliki ilmu beladiri, serangan secara bersamaan sangat tidak memungkinkan.


Walau para pengeroyok pada dasarnya lebih unggul secara jumlah, serangan secara bersamaan akan merugikan mereka sendiri. Setiap bacokan akan salip menyalip, dan bisa saja mereka sendiri saling melakui.


Para jawara ini sudah benar melakukan penyerangan silih berganti namun dengan cepat dan sambut-menyambut. Hanya saja, di tangan Sasangka, serang mereka tetap tak berarti. Jurus tiga langkah, tiga arah Sasangka ini memang dirancang untuk menghadapi lawan yang lebih dari satu.


Jawara yang putus jarinya menahan sakit namun tertutup oleh amarah yang membludak, sehingga dengan tangan kirinya ia melaju menusukkan kerisnya tepat ke arah perut Sasangka. Begitu juga kawan satunya yang dengan ceroboh, karena dilahap kemarahan yang sangat, juga menyerang secara bersamaan, juga dengan tusukan kerisnya.


Sasangka berkelit ke samping.


Kedua keris menancap pada perut kedua kawan jawara tersebut.


Sasangka tak menghiraukan teriakan kesakitan yang keluar dari mulut kedua kawan yang kebingungan pula karena keris mereka saling menusuk ke tubuh orang yang salah.


Dalam keadaan seperti ini Sasangka langsung membenamkan kedua wedhungnya ke punggung kedua jawara yang terlihat seperti kembar siam itu.


Kedua jawara tewas bergelimang darah dengan masing-masing senjata menempel di perut kawan.


Sasangka membersihkan wedhungnya dari darah lawan, mencabut satu wedhung lainnya di tubuh jawara pertama, membersihkannya pula dari darah dan memasukkan kembali ke sarungnya.


***


Dara Cempaka melihat para perempuan Daya sebagai perempuan-perempuan cantik luar biasa. Mereka berhias diri dengan tumpukan giwang lebar di cuping telinga mereka yang dipanjangkan. Makin panjang cuping telinganya, makin cantiklah ia. Memang benar itu adanya, pikir Dara Cempaka. Mereka cantik dengan cara mereka sendiri.

__ADS_1


Mereka juga menghias diri dengan gelang tangan dan kaki dari manik-manik bebatuan warna-warni, serta gemerincing lonceng menggantung di lingkaran mata kaki.


Dara Cempaka kini sudah berganti pakaian serupa dengan pakaian para gadis Daya tersebut, selembar kemben kain tenun berwarna wulung dan merah melingkari tubuhnya yang molek. Rambutnyapun disanggul bergaya gadis Daya dengan dua helai bulu burung mencuat indah dari gelungnya. Gadis-gadis tertawa-tawa malu-malu melihat perempuan Melayu itu. Mereka saling bisik menunjukkan persetujuan mereka bahwa Dara Cempaka menjadi semakin manis dan cantik dalam busana mereka.


Dara Cempaka berterimakasih atas kebaikan hati, keramahan dan penerimaan mereka.


Sudah dua hari Jayaseta diserang demam tinggi setelah upacara pengusiran kekuatan tenaga asing jahat dari dalam tubuhnya. Sejak saat itu, Dara Cempaka tak berhenti cemas walau Punyan dan Temenggung Beruang sendiri mengatakan bahwa ia akan baik-baik saja.


Meski benar, pada hari ketiga, demamnya menurun dan Jayaseta jarang mengigau, tetap saja kecemasan Dara Cempaka tak dapat reda segampang itu. Ireng dan Siam tak bisa berbuat banyak untuk menenangkan gadis tersebut.


Namun begitu, Jayaseta bisa dipastikan akan segera sadar dalam waktu dekat. Namun, sebelumnya, Dara Cempaka bersikeras untuk menjaga sang kekasih hati itu di sebuah ruangan khusus di bagian belakang kampung di bawah perbukitan.


Di sana, Jayaseta awalnya diurus secara bergantian oleh warga kampung. Namun, Dara Cempaka yang mengambil alih tugas mereka memberikan kuah rebusan daging dari mulutnya, serta obat-obatan bagi Jayaseta. Tentu, Temenggung Beruang akhirnya mengijinkannya.


Malam ini Jayaseta menunjukkan perkembangan baik. Dara Cempaka mengelap keringat dari tubuh telanjang Jayaseta yang penuh otot liat dan bekas luka di sana sini. Dara Cempaka menggenggam tangan dan jemari Jayaseta yang berkapal, kasar, dan tebal akibat latihan dan penggunaan senjata yang terus-menerus.


Dara Cempaka tak habis pikir, apa yang sudah dilalui laki-laki ini di dalam kehidupannya. Rasa cinta kasih dan sayangnya semakin membuncah, mengalahkan rasa khawatirnya melihat tubuh orang hebat yang terbaring lemah setengah tak sadarkan diri tersebut.


***


Wajah Almira menandang Jayaseta dengan penuh asmara yang membara. Dalam keadaan berbaring Jayaseta menelusuri kecantikan wajah istrinya yang tiada tara itu sedang menunduk memandangnya. Sepasang mata lebarnya, hidungnya yang mancung dan sepasang bibir basahnya yang merekah. Bagaimana mungkin Jayaseta tak menikmatinya?


Rasa rindu meluap-luap dalam jiwa Jayaseta. Ia menggenggam erat jari-jemari Almira yang lembut dan halus tersebut. Wangi tubuh sang istri telah masuk ke rongga hidungnya dengan membawa rasa cinta yang menggebu-gebu.


"Aku berhasil melepaskan diri dari racun kutukan itu. Tak akan ada lagi yang perlu kita khawatirkan. Akhirnya aku bebas dari bertahun kesengsaraan dan rasa amarah," ujar Jayaseta dengan mata yang berkaca-kaca. Ia kemudian memeluk Almira. Istrinya balas memeluk dengan erat.


Jayaseta melepaskan pelukannya dan kembali memandang Almira dengan lekat-lekat, "Aku merindukanmu," ujarnya.


Almira tersenyum lebar hendak menangis haru. "Aku juga merasakan hal yang sama," ujarnya menahan tangis bahagia.


Jayaseta melihat Almira dalam kecantikan dan pesona utuhnya. Tidak seperti yang biasa Jayaseta lihat, malam ini Almira hanya mengenakan selembar kemben kain yang melingkari tubuhnya. Rambutnya digelung tinggi sehingga Jayaseta dapat melihat leher, tengkuk dan dada bagian atasnya dengan jelas.

__ADS_1


Pandangannya kemudian diarahkan ke dada sang istri yang membulat indah, membusung dibalik kain itu.


Dada Jayaseta bergemuruh oleh berahi, rasa rindu serta asmara yang berkobar. Ia memegang kedua bahu Almira, membuat perempuan itu menunduk malu, menghindari tatapan mata Jayaseta. Kedua pipinya merona jambon.


Jayaseta menjadi semakin gemas, mengingat malam pertama perkawinan mereka. Ia mencoba mencium kening Almira. Sang istri menutup mata dan sedikit berusaha menghindar.


Apakah ini akibat dari lama tak bersua? Semua menjadi serba malu-malu dan kaku?


Tapi kecupan selanjutnya tak menyisakan ruang di wajah Almira. Kening, pipi, hidung, bahkan bibir dilumat oleh pendekar muda yang dikuasai rindu kesumat itu. Rasa senangnya atas kesehatan dan kebebasan ini bercampur dengan kerinduan yang membabi-buta.


Maka Almira tak bisa menolak lagi ketika Jayaseta membaringkannya, melepas kembennya sampai tak menyisakan sehelaipun penutup tubuhnya.


Almira juga terdiam ketika tubuh Jayaseta berada di atas tubuhnya, bergelora, hangat berpeluh, bergerak-gerak merapat dan kemudian memasuki tubuhnya.


Dara Cempaka merintih ketika kegadisannya direnggut Jayaseta dengan sebuah cara yang sama sekali tak ia duga sebelumnya.


Ia tak menangis walau dosa sudah tersemat dalam jiwanya. Entah siapa yang bersalah. Jayaseta merasa sedang bercinta dengan istri sahnya, sedangkan Dara Cempaka memberikan kesuciannya kepada laki-laki yang begitu ia cintai dan ingini. Dara Cempaka merasa mereka berdua sama-sama rela, bergelimang di dalam cinta yang tumbuh bercampur dengan rasa bahagia Jayaseta atas kemenangan dan kebebasannya dari racun kutukan tombak pusaka Kyai Ageng Plered.


Dara Cempaka paham sekali bahwa ini salah adanya, namun kenikmatan akan cinta yang berbalas, adalah dosa yang ia terima.


Tubuh Jayaseta yang meliuk-liuk di atas tubuhnya benar-benar membobol pertahanannya. Ia ingin menangis bahagia, namun tertahan oleh perasaan berdosa yang datang silih berganti sampai kedua anak manusia itu sama-sama melenguh dan mencapai puncak keagungan asmara.


***


Dari jauh, Temenggung Beruang melihat bangunan di bawah bukit, di belakang kampung yang jauh dari perkampungan penduduk itu.


Ia menarik nafas. Sebuah perasaan yang rumit, antara maklum dan tak bisa menerimanya. Bagaimanapun ada sebuah pelanggaran adat yang terjadi di depan hidungnya.


Temenggung Beruang pun merasa mengambil tanggungjawab dan menyumbang kesalahan karena telah membiarkan ini terjadi.


Ia menggeleng perlahan, namun ada sedikit sunggingan senyum dibalik raut wajah penuh pikiran rumit tersebut. Temenggung Beruang kemudian berjalan pelan meninggalkan pandangannya, menuju ke kampung.

__ADS_1


__ADS_2