
Nakhoda kapal orang-orang Minangkabau-Bengkulu sengaja memerintahkan para awak dan pendekar di atas geladak kapal untuk bersiap, membiarkan para bajak laut dan perompak merambat naik ke atas kapal.
Mereka akan menghadapi para penyusup terkutuk itu di atas kapal.
Benar saja, para perompak tak membuang waktu. Ketika telah berhasil memanjat badan kapal, mereka dengan ganasnya menyerang siapa saja yang ada di pandangan mereka. Awak kapal yang tak pandai bertarung untungnya langsung mundur menjauh sehingga tak sempat terkena serangan lawan. Akhirnya yang terjadi para perompak sekarang berhadapan dengan para pendekar.
Melihat para pendekar Minangkabau dan Melayu Bengkulu berdiri berkuda-kuda harimau silat cikak dan cekak di depan mereka, para bajak laut yang bertelanjang dada tersebut semakin terbawa semangat untuk menyerang membabi buta.
Badik, keris dan tumbuk lada ditusukkan lurus ke perut dan dada, sedangkan pedang dan kelewang menyasar leher dan kepala.
Para pendekar Hulubalang Harimau Laut berkelit lincah dengan mundur, menggeserkan kaki, memalingkan kepala atau meloncat ke belakang.
Babatan dan tusukan musuh lolos seluruhnya. Namun jelas ini malah membuat para perompak semakin blingsatan untuk kembali melakukan serangan mematikan.
"Perhatikan kemungkinan ilmu kebal mereka," bisik salah satu pendekar Hulubalang Harimau Laut kepada rekan di sampingnya. Pesan ini kemudian disampaikan secara berantai kepada para pendekar lainnya.
Peringatan ini sangat bisa dipahami mengingat para perompak atau bajak laut dikenal memiliki ilmu kekebalan dan kesaktian dengan kekuatan yang serupa.
Maka, serangan berikutnya juga masih tetap dihindari oleh para pendekar Hulubalang Harimau Laut sampai satu perompak hampir saja menusuk perut seorang pendekar Melayu Bengkulu yang dengan sigap menangkap lengan penyerang dengan tangan kirinya yang tak memegang sewar, kemudian memuntirnya serta memutarkan pinggul sedikit sehingga tubuh musuh terbawa permainan kuncian tersebut dan tumbuk lada yang ia genggam terlepas dari tangan. Sang pendekar Hulubalang Harimau Laut menggeser pinggul dan memutarkan tubuh lawan yang sepenuhnya sudah dalam kuasa sang pendekar tersebut. Lututnya menghujam lambung, ditambah siku yang menghajar tengkuk. Sang perompak jatuh tertelungkup di lantai papan geladak kapal. Sebagai penutup, dengan cepat bilah sewar ditebaskan ke punggung sang bajak laut.
Darah menciprat ke lantai. Nyawa sang bajak laut tak terselamatkan lagi dibawah kekuatan silat cikak.
"Ia tak kebal," batin sang pendekar Melayu Bengkulu tersebut. Tak diduga, pikirannya langsung disambut oleh anggota pendekar Hulubalang Harimau Laut lainnya.
Memang tak semua pembajak dan perompak di lautan memiliki ilmu kebal, meski mereka kemungkinan orang Bugis atau Mangkasara, namun paling tidak mereka juga memiliki kemampuan bertarung yang mumpuni. Sedangkan satu perompak yang tewas barusan ini terlihat tidak begitu susah untuk dikalahkan, baik dari ketiadaan ilmu kekebalan tubuh maupun jurus-jurusnya yang cenderung membabi buta.
__ADS_1
Tak lama semua pendekar langsung melakukan perlawanan yang serupa. Segala tikaman dan bacokan ditepis atau ditangkap. Kuda-kuda harimau yang rendah membuat para pendekar mampu membanting atau melontarkan tubuh musuh dengan mudahnya.
Beberapa melakukan kuncian lengan kemudian melemahkan musuh dengan lutut dan siku hanya dengan sekali putar. Setelah musuh takluk, sabetan sewar dan kelewang langsung dipapraskan ke leher, kepala atau dada. Silat cikak Melayu Bengkulu membuat para gerakan serangan perompak diatur dan dikuasai sehingga mereka terpental dan jatuh sebelum nyawa lepas dari raga.
Para pendekar Minangkabau juga serupa, namun mereka lebih berangasan dalam mencabik dan menyobek tubuh musuh dengan kerambit mereka. Ketika setiap tusukan dan tebasan musuh berhasil dihindari, dua tiga sabetan sekaligus tertanam di tubuh musuh bagai cakaran seekor macan. Tak heran, tubuh para perompak bagaikan karung pasir yang bocor akibat dicacah cakar.
Darah mengalir deras di atas geladak. Sudah dipastikan keunggulan mutlak ada pada pasukan pendekar Hulubalang Harimau Laut. Seluruh perompak tewas mengenaskan, tak tersisa.
"Coba lihat apa yang terjadi di sana!" perintah satu pendekar yang nampaknya merupakan ketua atau paling tidak yang dituakan dan dihormati diantara pendekar lainnya kepada seorang awak kapal sembari menunjuk ke arah kapal para pendekar Hulubalang Harimau Laut Minangkabau-Bengkulu satunya.
Yang diperintah langsung mengambil teropongnya dan mengeker ke arah kapal tersebut.
Benar seperti apa yang menjadi kecurigaan mereka. "Para perompak tidak banyak di sana, dan mereka memang terlihat bukan seperti bajak laut yang sakti, tuan!" seru sang awak. "Mereka begitu gampang dikalahkan. Beberapa bahkan sudah tewas. Nampaknya ... Tunggu ...," ujar sang awak tiba-tiba.
Ia melihat beberapa orang berenang ke kapal rekan mereka tersebut. "Ada beberapa perompak berenang ke kapal!" serunya. "Mereka membawa bungkusan panjang di punggungnya," tambah sang awak lagi.
Tepatnya ada delapan orang perompak yang membawa bungkusan panjang dari kulit yang kedap air. Di dalamnya mereka membawa senapan lantak atau bedil.
Dengan cekatan mereka naik ke atas kapal, merayap di dinding lambung kapal dengan cepat bagai cicak. Dengan sigap pula sesampainya di geladak, mereka membuka bungkusan kulit, mengeluarkan bedil dan langsung menembak ke arah para pendekar yang tak awas.
Tiga pendekar Minangkabau tewas di tempat ketika pel*or mimis bulat bersarang di kepala mereka.
Keadaan langsung menjadi sangat kisruh. Tiga penyusup berbedil itu langsung dengan cepat mengisi senapan mereka lagi.
Ketika para pendekar Minangkabau dan Melayu Bengkulu menyadari ini dan menyerbu bersama-sama, dua orang perompak muncul tiba-tiba dan melemparkan bahan peledak dari bubuk api. Sontak beberapa pendekar terlempar akibat ledakan tersebut. Api membakar menjilati geladak dengan teriakan beberapa awak dan pendekar yang terlahap bara.
__ADS_1
"Tuan, kita perlu menolong mereka!" seru sang awak yang masih memegang teropong di tangannya demi melihat kekecauan yang mengagetkan dari kapal rekan mereka. "Para perompak menyerang dengan bubuk api!"
Pranggi adalah kata pertama yang terlintas dalam pikiran para pendekar, awak bahkan nakhoda kapal Minangkabau-Bengkulu tersebut. Sudah nampak sekali arah permainan ini. Pertama, kapal-kapal perompak muncul di laut dangkal, dekat dengan kepulauan Riau yang memungkinkan banyaknya pihak yang terlibat bila terjadi perselisihan di laut. Kedua, penggunaan bedil dan bubuk api kemungkinan besar dipasok dari orang-orang bule penguasa Malaka tersebut. Ketiga, tipuan murahan adalah dengan mengirimkan perompak lemah yang tak berpengalaman maupun berilmu tinggi sebagai umpan. Mungkin mereka diiming-imingi bayaran yang tinggi untuk tak sadar mengorbankan diri mereka sendiri, selagi rencana busuk lainnya dilakukan.
"Bersiap semuanya! Kita akan membantu rekan-rekan kita di kapal itu," seru sang nakhoda.
Namun, sebelum nakhoda dan para pendekar Minang-Bengkulu yang berhasil menghabisi seluruh perompak yang datang ke kapal mereka tersebut memutar haluan dan mengembangkan layar, beberapa dari mereka sendiri secara mendadak terlempar oleh sebuah ledakan dahsyat di sisi kapal. Pecahan papan terbuncai ke udara.
Itu adalah sebuah tembakan meriam yang berasal dari kapal yang hendak mereka tolong.
Delapan bajak laut di kapal sebelah ternyata bukan orang-orang sembarangan. Rencana mereka begitu tertata dan gerakan mereka sangat gesit dan cekatan.
Ketika para pendekar di kapal itu memusatkan perhatian pada beberapa perompak mereka yang datang tiba-tiba dan menyerang dengan bedil dan bubuk api, sisa anggota bajak laut lain menyelinap dari sisi lain kapal, membunuh awak kapal diam-diam dengan memggorok leher mereka dari belakang serta merebut dua buah meriam. Dengan piawai, mereka langsung menggunakan meriam itu untuk menyerang kapal lainnya. dua orang lain juga menjaga meriam dengn dua pucuk bedil agar tak direbut kembali oleh awak atau para pendekar. Tidak hanya itu, tembakan juga diarahkan kepada kapal-kapal bercadik milik pelaut Bugis yang dari awal mengejar mereka.
Raja Nio dari kejauhan melihat kejadian yang menggemparkan nan rumit ini dengan khusuk. Ia kemudian memerintahkan si juru mudi untuk mempersiapkan sebuah gerakan muslihat bila suatu hal yang buruk terjadi. "Kita harus bersiap. Aku rasa ada yang salah dengan hal ini," ujar sang nakhoda dari Larantuka tersebut.
Benar saja, belum sempat para awak mempersiapkan layar, tali dan peralatan lainnya, satu kapal perompak yang tersisa dari keseluruhan tiga kapal berputar tegas dan mempercepat lajunya ke arah jung Raja Nio.
Empat kapal bercadik milik orang-orang Bugis yang semula mengejar tiga kapal perompak tersebut terpaksa mempertahankan diri dengan mengubah haluan menghindari tembakan meriam dari kapal Minangkabau-Melayu Bengkulu, maka dua kapal besar milik pelaut Melayu Johor-Riau dan Melayu Jambi kini yang saling kebut memperbutkan buruan satu kapal yang berlayar cepat ke arah jung Raja Nio.
"Jung kita akan dijebak dalam kisruh ini," ujar Narendra yang juga paham perihal laut dan perkapalan. Katilapan pun setuju dengan pemikiran sang rekan. Raja Nio langsung sibuk mempersiapkan kapal dan memerintahkan Siam serta Ireng untuk memperingatkan yang lain. Senjata para awak, budak dan prajurit pengawal telah dihunus.
Teriakan-teriakan semangat dan perintah bergemuruh. Dara Cempaka dan Jayaseta membuka pintu kamar mereka dan keluar, bergabung dengan Datuk Mas Kuning yang telah menghunus kerisnya. "Wajahmu pucat, Jayaseta. Aku percaya sekarang bahwa kau memang bermasalah dengan air dan laut. Lebih baik kau tak ikutan dalam perihal ini. Ada aku dan rekan-rekan pendekarmu di atas geladak," ujar sang Datuk.
Jayaseta tak benar-benar paham dengan apa yang terjadi selain ribut-ribut di luar. Ia lumayan menguras tenaga dalam ketika mengobati sang istri melawan sang racun sihir Cuca Bangkai yang tiba-tiba menyerang, serta memang laut tak pernah membuatnya benar-benar dalam keadaan yang sempurna.
__ADS_1
Jayaseta memandang sang istri, kemudian mengangguk ke arah sang Datuk dengan lemah dan pasrah.