Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Jigen


__ADS_3

Hideyoshi kemudian langsung berdiri dan dalam kuda-kuda battojutsu nya kembali. Ia melihat ke arah mayat rekannya yang tertelungkup bermandikan darah. Hideyoshi balas memandang de Jaager bersaudara, memahami apa yang tadi terjadi. Tanpa kata ia berdiri tegak. Menghunus wakizashi dan dengan cepat mendekat ke arah tubuh Jayaseta yang terlentang di tanah. Sudah saatnya ia mengahabisinya.


Wakizashi memang sering digunakan untuk ‘menyelesaikan’ pekerjaan algojo Jepun dengan memenggal kepala sang musuh dan memastikan kematiannya. 


Meski tak tampak semacam rasa sedih, kecewa dan marah di raut mukanya, bukan berarti tewasnya Koguro tak memberikan sedikitpun kesan bagi Hideyoshi.


Kematian Koguro sudah tidak perlu disesali terlalu lama. Jalan pedang adalah jalan pendekar yang memang harusnya berakhir dengan kematian. Ia juga tidak peduli dengan apa yang dilakukan de Jaager tersebut. Ini tidak ada hubungannya dengan menyelamatkan nyawanya. Tanpa tembakan itupun, Hideyoshi merasa masih mampu melawan sang jagoan.


Namun langkah pasti Hideyoshi ke arah Jayaseta untuk memastikan kematian pendekar muda itu terhambat.


Ia tersentak.


Tubuh Jayaseta yang dikiranya sudah terluka atau bahkan mungkin sudah tewas, kini bangun berdiri dengan cepat. Tidak ada tanda-tanda bahwa sosok itu terluka dengan parah.


Dua buah pisau terbang rahasia dilemparkan ke arah Hideyoshi. Namun ia berhasil menangkis serangan tiba-tiba itu dengan wakizashi nya.


TRANG! TRING!


Ini adalah bukti kepekaan yang luar biasa dan terlatih dari seorang ronin.


SLEP!

__ADS_1


Sayangnya, ternyata ada satu pisau lagi yang tidak dapat dihindarinya. Pisau itu menancap dalam di bahu kirinya. Pekikan tertahan keluar dari mulut Hideyoshi. Kekagetan itu terlalu cepat dan tak diduga. Padahal meski serangan itu tiba-tiba, ia merasa sudah berhasil menahannya. Tapi jelas lawannya kali ini bukan orang sembarangan. Ia sudah berhasil membunuh sang rekan dan sahabatnya. Lalu, Bagaimana ia dapat lolos dari ***** de Jaager? Apakah ia memiliki ilmu atau jimat kekebalan? Pikir Hideyoshi.


Pertanyaan iu terjawab ketika Jayaseta melemparkan sesuatu lagi ke arah Sebastian de Jaager setelah melemparkan pisau rahasia ke arah Hideyoshi. Sebastian de Jaager juga ternyata berhasil menangkis benda yang dilemparkan oleh Jayaeta itu dengan pistol di tangan kirinya. Pistol itu terjatuh ke tanah karena kuatnya lemparan tersebut. Pistol tersebut ternyata rusak parah dan tak dapat digunakan kembali.


Benda yang Jayaseta lemparkan adalah semacam lempengan logam berbentuk segi empat selebar telapak tangan.


Itulah lempengan besi buatan Sukadana yang luar biasa baik hasil tempaannya sehingga sangat kuat bahkan ketika menahan *****. Jayaseta rupa-rupanya menyelipkan lempengan logam bekas tameng tubuh Pratiwi tersebut di balik bajunya sendiri sehingga nyawanya terselamatkan, kemudian menahan diri untuk tidak menunjukkan bahwa ia tidak apa-apa.


Lempengan itulah yang ia rebut tempo hari saat bertempur melawan Pratiwi. Beragam serang senjata tajam tak mampu menembus lempengan besi itu.


Jayaseta perlahan memungut dao dan kerisnya kembali, memandang kedua pasang de Jaager yang sekarang telah menghunus saber, rapier dan belatinya. Pandangannya sekarang seakan berkata, “Sama sekali belum usai.”


Pasangan de Jaager juga seakan paham bahwa pertarungan ini memang belum selesai. Mereka berdua harus menunggu giliran melawan Jayaseta. Ia harus menuntaskan pertarungan ini dengan Takizawa Hideyoshi yang sudah mencabut pisau rahasia yang menancap di bahunya. Adik-beradik itu undur diri namun masih bersiap-siap dengan kejadian apapun yang akan datang.


Kedua pendekar ini kembali menyerap daya alam raya. Hideyoshi menyerap ki nya, memusatkan pikiran dan perasaannya untuk menyelesaikan pertarungan ini. Segala beban harus ia singkirkan. Amarah dan dendam harus ia hanyutkan ke samudra jagad yang tak bertepi. Ia mengendurkan pegangan pada gagang katananya. Kedua matanya memandang santai ke arah wajah Jayaseta yang tertutup topeng.


Ia tidak penasaran, ia tidak jengkel, bahkan ia tidak peduli dengan siapa di balik topeng tersebut. Ia tidak mau menghabiskan segala pemusatan pikirannya pada hal-hal yang tidak perlu. Intinya ia akan menghabisi si Pendekar Topeng Seribu ini dengan sekali tebas. Jurus andalan terakhirnya dari rangkaian Battojutsu yang ia sebut sebagai Jigan no Battojutsu yang kurang lebih berarti Jurus Pemancung Mata Memandang Bumi. Satu tebasan memotong kepala musuh dan dengan cara tertentu membuat kedua mata kepala korban menghadap ke bawah, ke arah bumi.


Sebuah jurus yang mengerikan.


Hanya saja, berbeda dengan Jayaseta sendiri yang sudah melalui segala perasaan dan pengalaman kehilangan dan amarah itu semua. Bila Hideyoshi menyerap ki semua mahluk, menggunakan ki tersebut untuk mendukung pertarungannya, sebaliknya, Jayaseta melepaskan semua ki. Ia lebih dua tingkat di atas Hideyoshi.

__ADS_1


Walau ia bukan seorang Samurai, namun sebagai orang berdarah Jawa dan diasuh dalam nilai-nilai legawa dan nrima membuat pelepasan adalah sebuah hal yang niscaya. Kehilangan sesuatu adalah wajib hukumnya. Nyawa sudah pasti hilang ditelan Batara Kala. Jayaseta melepaskan segalanya bukan untuk menang, tapi untuk menjalankan suratan nasib yang telah digariskan Yang Maha Kuasa. Bakan tak dirasakannya lagi denyutan rasa sakit di luka bahu sabetan katana Hideyoshi.


***


Hideyoshi menghentakkan kaki kanannya, ia meluncur deras ke arah Jayaseta. Jigan no Battojutsu adalah sebuah ilmu ganas yang sangat licik.


Dari namanya saja orang akan berpikir bahwa leher adalah incaran utama tebasan katana Hideyoshi. Padahal inilah yang sebenarnya terjadi: Hideyoshi melesat maju, namun ketika tepat setengah depa jaraknya dengan Jayaseta ia berhenti tiba-tiba. Jayaseta sendiri yang menyongsong Hideyoshi sudah lebih dahulu menebaskan dao nya. Katana Hideoyoshi terhunus, namun bukan dalam keadaan menebas.


Ia meredam lajunya secepat kilat untuk menghindari tebasan dao Jayaseta dan sedikit saja bergeser ke samping. Sisi tajam katana ada di atas, sedangkan ujung lancipnya menusuk tulang iga Jayaseta dengan begitu cepat menembus sampai punggungnya. Ini sama sekali bukanlah sebuah jurus tebasan yang ditujukan ke arah leher, namun sebuah jurus tusukan cepat ke tubuh lawan!


Dari samping adik-beradik de Jaager melihat bilah katana menusuk menembus dada Jayaseta.


Sayangnya itu tidak terjadi!


Jayaseta mengepit bilah katana di bawah lengannya, sedikit di bawah ketiaknya.


Kedua mata Takizawa Hideyoshi membelalak seakan berkata, “Bagaimana mungkin ia bisa lolos dari jurusku ini?”.


Walau dao Jayaseta tak mengenai sasaran dan jurus tipuan Hideyoshi seakan berhasil mengelabui Jayaseta, namun berkat Jurus Tanpa Jurus nya yang menekankan pada gerakan jurus yang disesuaikan dan berjalan secara alami dan naluriah, Jayaseta lah yang berhasil menipu Hideyoshi dengan menyerahkan ki nya sendiri. Hideyoshi salah menilai gerakan Jayaseta karena kepasrahan dan penyerahan diri dalam budaya orang-orang Jawa yang tak bisa Hideyoshi pahami.


Hideyoshi kemudian hendak menarik katanya ke atas untuk melepaskan jepitan lengan Jayaseta sekaligus memotong tangan itu.

__ADS_1


Tapi, Jayaseta jauh lebih cepat. Gerakan Jayaseta berikutnya membuat keris Kyai Pulau Bertuah menembus dagu dan menusuk otak Hideyoshi melalui celah di kedua tangannya yang menggenggam erat katana yang terjepit di lengan Jayaseta.


Hideyoshi ambruk! Darah mengucur dari luka tusukan keris tersebut. Matanya redup menghadap ke arah bumi; Jigen.


__ADS_2