Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Sundang Majapahit


__ADS_3

Katilapan tersenyum. Rajah di seluruh tubuhnya terpapar sinar mentari. Otot-otot liatnya menggeliat, terutama di bagian lengan kanan yang menggenggam satu batang rotan. Tangan satunya lagi yang bebas ikut terangkat sebagai senjata kedua.


Jurus-jurus Kali Bisaya nya sebentar lagi akan dikeluarkan kembali melawan orang-orang bawahan pemerintah bule Walanda ini.


Katilapan jelas bukan orang sembarangan. Dalam usianya yang sudah matang ini, ia sudah menimba banyak ilmu dan pengalaman. Ilmu silat Kali nya juga bisa dikatakan sudah sangat mumpuni. Namun, pertemuan dengan seorang Jayaseta, pendekar muda dari tanah Jawa, membuatnya merasa bahwa menjadi jumawa adalah sebuah kesalahan besar seorang pendekar.


Seorang pendekar bisa kalah, bisa menang dalam sebuah pertarungan. Lebih jauh lagi, seorang jagoan kerap harus membunuh atau menyelesaikan perjalanan kependekarannya dengan tewas di tangan jagoan lain. Pertarungan dengan Jayaseta di atas kapal dalam pertemuan pertama mereka, memberitahu pada Katilapan, bahwa sehebat-hebatnya seorang pendekar, ia tak boleh selesai menimba ilmu dan mengembangkan kemampuannya, baik ilmu kanuragan, kepekaan, keterbukaan pikiran, kesabaran dan kedewasaan diri.


Maka, disinilah ia sekarang. Katilapan yang diam-diam juga sebenarnya menguasai jenis silat Kali lain selain Kali Bisaya.


Nama silat itu adalah Sundang atau Kali Majapahit.


***


Pada masa kerajaan Medang atau kerap juga disebut Kerajaan Mataram lama, daerah-daerah serta kerajaan-kerajaan di negeri di mana Katilapan berasal, sudah saling bekerjasama.


Dijelaskan dalam sebuah prasasti bernama Mantyasih tahun 907 Masehi, bahwa raja kerajaan Medang pertama, yang kerajaannya disebut secara lengkap sebagai Rahyang ta rumuhan ri Medang ri Poh Pitu, yaitu Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya, telah bekerjasama dengan daerah-daerah seperti Tundun, Pailah, Binwangan, serta Puliran.


Selain kerajaan Tundun yang merupakan salah saru dari tiga kerajaan kuno di negeri dimana Katilapan tinggal, Medang juga bekerja sama dengan dua kerajaan lainnya, yaitu Namayan dan Maynila.


Seperti diketahui, ilmu silat Kali Bisaya sangat dipengaruhi oleh silat kerajaan Sriwijaya di pulau Samudra Melayu, atau disebut juga Swarnadwipa pada masa lampau. Namun, setelah Sriwijaya runtuh karena persaingan dan penguasaan oleh kerajaan di pulau Jawa, yaitu Singasari dan kemudian Majapahit, ilmu silat Kali juga terpengaruh karena hubungan yang telah cukup lama dengan orang-orang Jawa sejak masa kerajaan Medang atau Mataram kuno.


Kerajaan Majapahit memamg mengajarkan gaya dan ilmu berperang yang unggul sampai-sampai prajuritnya sulit sekali untuk dikalahkan musuh.


Salah satu gaya silat yang hebat di jaman Majapahit itu diberi nama Sundang Majapahit yanh diajarkan dan diperkenalkan oleh Mahesa Anabrang yang merupakan salah satu pentolan Kerajaan Majapahit masa awal, yakni jaman dipimpin Raden Wijaya.

__ADS_1


Dulunya, ia adalah senapati kerajaan Singasari yang ditugaskan menjalin persahabatan dengan kerajaan Malayupura melalui tugas Pamalayu. Kemudian pada perkembangannya, ia dan pasukan Singasari malah menaklukkan seluruh wilayah Melayu pada tahun 1288, termasuk Jambi dan Sriwijaya.


Di pulau Melayu, Mahesa Anabrang menggabungkan seni bela diri ketentaraan yang dimiliki oleh Kerajaan Singasari dan Kerajaan Dharmasraya orang-orang Minang. Penggabungan dua seni tempur ini akhirnya melahirkan Sundang Majapahit.


Berbekal ilmu Sundang Majapahit, seorang prajurit perang bisa menggunakan gaya patahan yang digabungkan dengan dengan beberapa senjata. Seorang prajurit dapat menggunakan Sundang Majapahit dengan menggunakan pedang di tangan kanan dan keris di tangan kiri.


Tentu saja Katilapan terkejut luar biasa ketika mengetahui sang pendekar muda, Jayaseta, mampu menguasai jurus-jurus tempur dengan dua senjata berbeda di kedua tangannya. Padahal, Katilapan yakin, Jayaseta belum mengenal ilmu kanuragan kuno yang amat mematikan ini.


Sundang Majapahit ini memiliki gaya pertarungan yang terbagi menjadi beberapa unsur. Unsur pertahanan disebut dengan Sundang Gunung. Untuk menyerang dan menaklukkan, digunakan Sundang Kali dan Sundang Laut. Ada pula gaya Sundang Angin yang digunakan untuk bentuk penyusupan. Sedangkan yang terakhir adalah Sundang Matahari yang digunakan untuk melindungi raja beserta keluarganya dengan memanfaatkan gaya berkelompok dari pasukan khusus kerjaan.


Kelima unsur Sundang Gunung, Kali, Laut, Angin dan Matahari tersebut dapat digabungkan satu dengan yang lainnya. Keseluruhannya mempunyai tujuan dan penggunaan tersendiri yang akan membantu memenangkan sebuah pertarungan.


Masalahnya, konon tidak banyak yang bisa menguasai bela diri ini. Tidak sembarang orang yang mampu mempelajari Sundang Majapahit, lantaran saking saktinya. Mahesa Anabrang sendiri lantas menurunkan ilmunya tersebut pada keturunannya yang bernama Adityawarman.


Dari Adityawarman inilah Sundang Majapahit kemudian disebarkan ke pasukan-pasukan Kerajaan Majapahit, juga kerajaan bawahannya seperti Dharmasraya yang ada di pulau Melayu, Bugis Gowa, dan Sulu di negeri asal Katilapan dan diberi nama Kali Majapahit di sana.


Katilapan mempelajari Kali Bisaya sekaligus Kali Majapahit bergaya Sundang Laut. Serangan bergaya patah-patah, pendek-pendek namun cepat, akan sangat berguna menghadapi para pasukan bersenjata senapan dan senjata tajam lainnya di medan berhutan ini.


Katilapan bergerak cepat, tongkat rotannya membabat musuh yang berusaha menyerangnya dengan tujuan membunuh. Tangannya yang bebas menjadi senjata pula.


Bila dalam jurus-jurus Kali Bisaya tangan yang bebas berlaku sebagai pembantu tangan yang memegang senjata; seperti menepis dan menangkis serang lawan serta mengunci dan merebutnya, tangan yang bebas dalam Kali Majapahit ikut memukul, menusuk, membobol atau menampar lawan layaknya senjata utama.


Sudah dipastikan, serangan Narendra yang panjang-panjang, gesit serta penuh kelincahan, bersatu dengan jurus-jurus Katilapan yang bisa dikatakan hampir berkebalikan, pendek dan cepat, makin membuat bingung musuh.


Dalam beberapa gebrakan, musuh kocar-kacir. Peluru tak sempat diisi ke dalam senapan karena trisula Narendra mengunci dan merampasnya. Katilapan melengkapi dengan membabat jari dan tangan, bahu serta kepala.

__ADS_1


Inilah salah satu ciri khas ilmu Kali dari Bisaya dan Kali Majapahit di Sulu, serangan dilakukan pada semua anggota tubuh, tidak terkecuali. Bahkan serangan ke pergelangan tangan - bagian tubuh yang paling dekat dengan sumber serangan - akan menjadi mematikan bila dilakukan dengan tepat.


***


Jayaseta menghambur maju. Ia melompat sekali kemudian memantulkan dirinya dari tanah sekali lagi untuk mempererat jarak antara ia dan Sebastian de Jaager. Ia juga sempat melemparkan sekali lagi sebuah pisau rahasia ke arah Sebastian de Jaager yang gelagapan karena sebelumnya telah begitu murka sekaligus terkejut karena tanpa ia sadar ia telah dilukai.


Oleh sebab itu satu pisau yang sedang terbang meluncur ke arahnya ia tangkis sebisanya. Tidak ia pedulikan tangan kanannya yang terluka. Pisau pertama yang menancap tak terlalu dalam karena tersangkut di penutup tangan dari kulitnya, namun tak pelak membuat gerakan tangannya sangat terganggu.


Untungnya lagi, dengan kemampuan kepekaan yang dilatihnya dengan baik, pisau rahasia lain yang dilemparkan Jayaseta berhasil ia tahan dengan sabernya.


Sang adik, Devisser de Jaager jelas tak bisa tinggal diam. Ia meluncur maju menusukkan rapiernya ke arah Jayaseta yang terlihat lebih memburu sang saudara tua.


Namun, Devisser de Jaager salah besar. Tak ada batasan dalam Jurus Tanpa Jurus Jayaseta, semua bisa saja dilakukan sesuai dengan keadaan pertempuran.


Jayaseta melemparkan keris Kyai Pulau Bertuah ke arah Devisser de Jaager yang tentu terkejut, tak menyangka senjata berjenis belati itu digunakan dengan cara seperti itu.


Devisser undur selangkah dan berguling mundur. Lemparan keris tak mengenai tubuhnya, tapi bukan itu rencana Jayaseta.


Dengan tangan kosong, Jayseta telah berhasil mendekat ke arah Sebastian de Jaager. Rupa-rupanya, tanpa senjata di tangan membuat gerakannya lebih cepat dan tak terbatas. Dengan keris, ia harus menusuk, dengan dao ia harus menebas. Dengan tangan kosong, Jayaseta menggenggam saber Sebastian de Jaager pada bagian fortenya yang tidak tajam. Satu tangannya lagi menghantam pergelangan tangan Sebastian de Jaager dengan sedikit tenaga melalui Bogem Watu Gunung.


Saber terlepas dari tangan Sebastian de Jaager dengan teriakan tertahan karena tangan dimana pisau rahasia Jayaseta tertancap itu telah hancur dan patah.


Jayaseta menggenggam gagang saber milik Sebastian de Jaager itu, meenggetarkannya serta menebaskan ke arah sang pemilih, tepat di dada.


DAR!!

__ADS_1


Bunyi ledakan keras terdengar bersamaan dengan teriakan Devisser de Jaager, sang adik. Sebastian de Jaager tak sempat lagi berteriak karena nyawanya telah pergi dari dadanya yang hangus terbakar oleh bubuk api dari senjatanya sendiri.


__ADS_2