
Punyan melompat dan menendang tameng musuh sehingga lawan terlempar beberapa tombak jauhnya dan menubruk pepohonan di belakangnya. Dorongan itu begitu keras sehingga.benturan dengan batang pepohonan tersebut mematahkan tulang punggung musuh. Dua penyerang di kiri dan kanannya yang muncul tiba-tiba menyerang dengan tombak. Punyan menunduk dan mengangkat tamengnya, menepis kedua tombak tersebut.
Dengan gerakan yang luar biasa gesit gabungan antara seekor burung dan kera, Punyan menyapu kaki satu lawannya sampai tumbang, kemudian kembali melompat dan membabatkan do nya ke lawannya yang lain.
Beberapa jari orang yang diserang putus sampai tombaknya terjatuh, serta tengkorak kepalanya terbelah, terbuka pecah terbabat ujung do Punyan. Sedangkan, prajurit lawan yang terjatuh karena kakinya disapu Punyan berusaha bangkit, tapi terlambat. Punyan menunduk menebas kakinya yang tak terlindungi tameng. Darah tumpah dari luka tersebut.
Dalam keadaan oleng dan kesakitan itulah, Punyan menderu, melompat lagi dan menebas lengan atasnya. Setelah itu serangan Punyan tak terbendung lagi sehingga punggung dan pundak musuh habis tersobek do.
***
Jayaseta diserang empat orang sekaligus. Mereka bersenjatakan do dan tombak, serta memegang tameng di tangannya. Dua prajurit yang memegang do memutar-mutarkannya, dan keempatnya juga melangkah berputar mengitari Jayaseta.
Jayaseta kemudian melihat api mengepul di udara dari bagian belakang perkampungan.
Dara Cempaka!
Ia sadar. Jayaseta mencium bau tipuan di sini. Maka ia tak mau berlama-lama. Tepat ketika satu orang memutuskan mecoba menusuknya dengan tombak sembari berlari maju, Jayaseta mengerahkan tenaga dalamnya ke kaki.
Ia melompat setinggi kepala musuh dan menjejaknya. Bunyi tulang tengkorak retak terdengar keras.
Di udara Jayaseta membabatkan do nya turun ke prajurit lainnya yang menahannya dengan tameng.
PRAK!
Begitu kerasnya sabetan Jayaseta, membuat tameng kayu itu hampir terbelah. Kemudian, Jayaseta memburu orang yang sama.
PRAK!!
Kali ini, tameng itu benar-benar terbelah bersama dengan dada sang empunya. Mandau mantikei pertama itu menjadi sangat berbahaya di tangan Pendekar Topeng Seribu tersebut.
Tak perlu lama, Jayaseta menebas menyamping ke pengeroyoknya yang tinggal dua itu.
Kesaktian Jayaseta terlalu di atas mereka. Tameng terlepas dari pegangan musuh. Dan sebelum ia berusaha menahan serangan Jayaseta dengan do nya, Tendangan Guntur dari Selatan mematahkan tulang dada dan rusuknya. Tak berhenti disitu, Jayaseta masih melanjutkan serangan dengan membabatkan mandau melepas kepala dari tubuh musuhnya.
Prajurit terakhir mencoba menjadi pintar. Ia mundur dan melindungi dirinya baik-baik dengan tameng segi enamnya.
__ADS_1
Jayaseta menghambur maju bagai seekor badak. Tangan kirinya yang tak memegang senjata membentuk tinju dan meledakkan tenaga dalam dalam bentuk Bogem Watu Langit.
BLAR!!!
PRAK!!!
Tameng kayu lawan hancur berantakan. Serpihannya menancap ke dada, leher bahkan wajahnya. Namun, tanpa pecahan tameng itupun, pukulan tenaga dalam Jayaseta telah menghancurkan jeroan lawan.
Jayaseta bergegas lari ke arah asap, dimana Dara Cempaka menginap bersama warga lainnya.
***
Yulgok menggerakkan tubuhnya berputar setengah lingkaran ketika serangan tombak mengarah ke dadanya. Setelah berhasil menghindar, ia kembali berputar setengah lingkaran sembari meloloskan jingum dari sarungnya dan menebas ke arah musuh. Sang penyerang kehilangan satu tangan, terpapras putus oleh jingum Yulgok. Teriakan kesakitan musuh terhenti ketika dengan paduan jurus Tatsumi-ryū Hyōhō dan penggunaan Ssangsudo, Yulgok maju menebas lehernya.
Dua orang lagi menyerangnya dengan teriakan perang. Dua orang ini adalah pemuda warga biasa, yang kemampuan silatnya tak sehebat warga prajurit terlatih. Namun serangan mereka yang tiba-tiba tetap saja membahayakan Yulgok yang mundur cepat dan mencabut do yang tergantung di pinggang kanannya.
Jurus pedang ganda, panjang dan pendek, hasil dari gubahan katana dan wakizashi ini membuat kedua penyerang membatalkan serangan dan mempersiapkan kembali langkah mereka.
Yulgok merentangkan kedua tangannya, mengundang musuh dalam perangkat jurusnya.
Kedua pemuda itu langsung menyerang tanpa pikir lagi. Yulgok menarik satu kaki ke belakang, memutar tubuhnya sedikit dan menyambut serangan serentak itu dengan kedua pedangnya.
Musuh yang tak terkena serangan pertama tadi sudah terlanjur merasa diberi angin, tetap melanjutkan serangannya. Di sinilah seni Tatsumi-ryū Hyōhō. Yulgok berputar sepenuhnya sehingga serangan musuh lolos sejengkal saja dari tubuhnya sehingga do di tangan kirinya berhasil menebas punggung sang penyerang.
Keduanya terluka parah. Dalam tiga kali gerakan menebas dengan jingum dan do nya, Yulgok menyelesaikan pekerjaannya.
***
Penglima Asuam bersama ketiga pengawalnya mengobrak-abrik rumah betang untuk mencari Temenggung Beruang. Setiap mereka melihat satu atau dua penduduk, tua, muda, maka do akan menyabet, mencincang tubuh orang malang itu sampai darah mengalir keluar bagai air terjun dan nyawa terbang dari badannya.
Tapi Temenggung Beruang belum terlihat.
"Beruang! Keluar kau! Nyata-nyata kau adalah pengecut sejati. Tak kau lihatkah kampungmu hancur lebur dan kepala wargamu kujadikan cinderamata?! Akan diletakkan dimana muka tuamu itu bila kau masih terus saja bersembunyi?!" teriak sang Panglima.
Dari atap rumah betang, tepat diatas rombongan Panglima yang sedang berteriak-teriak penuh tantangan tersebut, Ireng dan Siam mengendap-endap.
__ADS_1
Siam memegang belati Siam di tangan kiri dan Kelewang yang diberikan Jayaseta kepadanya. Ireng sendiri hanya bersenjatakan keris luk sembilan yang telah terhunus.
Keduanya serempak meloncat ke bawah, menyergap dan menghujam tiga pengawal di belakang Panglima Beruang yang tak awas.
***
Dua orang prajurit Biaju menyeret Dara Cempaka yang terikat dan setengah sadar. Salah satu yang menyeret memutuskan mengangkat tubuh gadis manis nan ramping itu ke punggung dan membopongnya.
Ada belasan prajurit Biaju lainnya yang berkeliaran di sekitar mereka, membakar bangunan, menculik dan menangkap perempuan dan anak-anak, membunuhi pemuda dan orangtua serta melawan beberapa prajurit benteng.
Belum ada tanda-tanda bantuan datang dari prajurit benteng yang terpusat di bagian dengan kampung, melawan dua puluhan Biaju yang bertugas sebagai pengecoh.
Hampir bisa dipastikan bahwa rencana matang ini akan menghasilkan sebuah keberhasilan manis, terutama ketika belasan orang yang bertugas di garis belakang benteng dan perkampungan ini melihat tambahan bantuan masuk melalui celah rongga benteng.
Pendekar Harimau Muda Kudangan masuk bersama para pengikutnya dengan telah meloloskan semua senjata mereka dari sarungnya.
***
Kumang dan Jipen mengendap-endap dari bangunan ke bangunan yang mereka begitu kenal dengan baik. Mereka sudah sampai ke bagian tengah kampung yang ramai oleh para prajurit mempersiapkan senjata.
Ada keributan dan kericuhan di sana. Beberapa ingin membagi pasukan dengan jumlah yang lebih besar di bagian depan kampung, sedangkan sisanya demi melihat asap mengepul di belakang kampung, di bawah bukit, bersikeras ingin memusatkan pasukan di sana.
Jipen tersenyum puas.
Ia kemudian menarik lengan kakaknya, "Kita harus terus berjalan mencari Punyan," bisiknya kepada sang kakak.
"Kumang, segera berlindung. Suamimu sedang bertempur di garis depan. Jangan pula lari ke belakang. Jipen, lindungi kakakmu itu," ujar salah seorang warga prajurit kepada mereka berdua yang kedapati merunduk-runduk.
Tentu sang prajurit tak curiga kepada keduanya karena kampung mereka sedang diserang, maka tak heran penduduk desa dan para budak juga ikut bersembunyi.
"Dimana apai, Temenggung Beruang? Tidakkah ia ikut bertempur, paman?" kali ini Kumang yang bertanya. Selain rasa penasarannya atas ketiadaan sang kepala suku itu, Kumang juga ingin menghindari kecurigaan sang prajurit.
"Temenggung sedang membutuhkan waktu untuk memanggil arwah leluhur untuk membantu kita memenangkan pertempuran ini. Untuk itu kami harus mencegah musuh sampai Temenggung muncul," ujar sang prajurit yang kemudian bergabung dengan yang lain.
Keputusan telah diambil. Pemusatan pasukan tetap di depan, membantu Punyan sang anak kepala suku dan Jayaseta, sang pendekar. Sedangkan di belakang, hanya dikirim sedikit prajurit, mengingat juga sudah ada beberapa prajurit dan pemuda di sana. Ini jelas sebuah kesalahan besar mereka tak paham dengan apa yang sebenarnya terjadi. Hampir semua prajurit di belakang kampung sudah meregang nyawa.
__ADS_1
Jipen memandang wajah sang kakak dan tersenyum ke arahnya. "Mari, kak. Kita harus ke depan. Masih belum ada yang tahu kejadian yang sebenarnya. Kita bisa mencapai tempat dimana Punyan berada. Kita akan menipunya dan kau lah yang nanti akan memiliki keistimewaan untuk membunuhnya," ujar sang adik yang ditimpali dengan senyum licik namun setuju Kumang yang sayangnya begitu cantik tersebut.
Kedua kembali bergandengan berlari pelan mengendap-endap menuju ke garis depan pertempuran.