
Jaka Pasirluhur bertarung dengan gerakan nyeleneh, kadang terlihat kikuk dan tak terukur serta tak teratur. Namun, seorang pendekar sejati pasti paham bahwa jurus-jurus pendekar buntung bertopeng itu nyatanya sangat indah. Langkah-langkah anehnya menyaru dengan goyangan kapal sehingga semakin memantapkan setiap serangan dan hindaran.
Penyerang orang-orang Champa yang membobol masuk sampai ke geladak buritan banyak yang terluka, tewas atau terlempar kembali ke sungai. Hal ini membuat prajurit Lan Xang memiliki semangat dan harapan. Mereka mempertahankan kapal dengan memainkan irama yang pas.
Bila penyerang berhasil naik ke atas kapal, sebisa mungkin mereka akan melukainya, tetapi tidak ngeyel untuk menyerang. Karena, di tengah buritan, sang pendekar tak dikenal siap dengan senjata kudhi di satu tangannya. Bahkan ada empat prajurit Lan Xang yang membantu menghalau musuh dengan tusukan-tusukan mematikan. Ini membuat Jaka Pasirluhur dapat menyelesaikan pertarungan dengan lebih cepat dan berdaya guna.
Sang nakhoda kapal memutuskan mempercepat laju kapalnya, menubruki sampan-sampan para perompak.
Jaka Pasirluhur yakin mereka bisa mengatasi serangan membabi buta tersebut bila para prajurit paham dengan apa yang harus mereka lakukan. Sepanjang pemahamannya, bagian haluan kapal juga melakukan perlawanan yang sengit. Ia tidak melihat ada perompak Đại Việt atau Champa berhasil mengalir naik ke ruangan nakhoda.
__ADS_1
Masalahnya, untuk berapa lama? Bagian tengah kapal tidak dijaga dengan baik. Bila ia terus-terusan menghalau buritan kapal, para perompak akan mencoba bagian lain, yaitu bagian pusat. Bila sudah tertembus, ia tak yakin ia mampu melawan puluhan orang perompak yang akan terus-menerus naik ke kapal.
Bukan tanpa alasan, orang-orang Champa terkenal pada abad ke-5 Masehi telah berlayar mencapai negeri Hindustan. Raja Champa, Gangaraja, mungkin adalah satu-satunya raja di wilayah nusantara dan mancanegara yang berhasil mencapai Jambudwipa atau nama kuno untuk negeri Hindustan saat itu.
Jadi, bisa dikatakan orang-orang Champa ini adalah pelaut ulung. Tak heran bila sekejap lagi mereka mampu menaiki kapal ini sepenuhnya. Belum lagi pengalaman pengalaman bangsa mereka yang terus-terusan berperang dengan negeri Kamboja, atau melawan serangan bangsa terdekat mereka, Đại Việt.
Tunggu. Lalu, mengapa orang-orang Champa ini malah bekerjasama dengan perompak Đại Việt yang merupakan bangsa penakluk mereka untuk menyerang kapal ini? Pikir Jaka Pasirluhur.
Jaka Pasirluhur menghambur cepat menghadang para perompak pemanjat. Gerakannya luwes, lompatannya ringan dan gesit. Caranya menjejak tepian kapal dan geladak kemudian melontarkan dirinya ke tengah kapal begitu tepat guna. Pengalaman buruk yang menimpa salah satu tangannya malah diam-diam menciptakan kemampuannya yang sekarang ini.
__ADS_1
Dua orang Champa dan Đại Việt baru saja naik. Keduanya menggenggam belati. Belati yang mereka gunakan tersebut bergaya Cina. Tidak hanya satu, tetapi sepasang.
Jaka Pasirluhur enggan berlama-lama. Ia malas mengagumi bilah senjata tajam yang memang harus ia akui indah tersebut.
Ia meluncur kemudian meloncat rendah memapras panjang menyamping langsung ke arah kedua perompak tersebut. Yang diserang ternyata masih cukup peka. Mereka mundur dan berguling ke belakang. Jaka Pasirluhur maju kembali dengan cepat dan menjekakkan kakinya ke dada perompak yang baru saja bangun. Tendangan itu begitu tepat dan keras, membuat sang korban tersentak mundur ke belakang, tersandung tepian kapal dan jatuh ke laut. Kejatuhannya menubruk beberapa perompak Champa dan Đại Việt lain yang sedang merambat naik, ikut menjatuhkan mereka.
Perompak satunya yang sadar rekannya terjatuh dan membawa serta perompak lainnya menjadi geram. Ia menyerang dengan dua belatinya, menyeruduk bagai seekor banteng dengan sepasang tanduknya.
Jaka Pasirluhur menyongsong serangan itu dengan masuk ke ruang di tengah dua belati yang direntangkan ke depan. Ini jelas mengagetkan sang penyerang yang berpikir bahwa Jaka Pasirluhur hanya akan mundur dan mengelak. Sebaliknya, Jaka Pasirluhur menggunakan siku dari tangannya yang buntung untuk menghajar dada lawan.
__ADS_1
Orang Đại Việt itu terhenti di tengah jalan. Kedua tangannya yang memegang belati terentang, membuka ruang lebih besar bagi Jaka Pasirluhur untuk menyerang dengan kudhinya, tepat di dada, menyobek kulit dan daging serta mengirimkannya ke akhirat.