
Salam Pendekar!
Mencari referensi sejarah dan penggambaran detil kehidupan masyarakat dan kerajaan di Kalimantan di masa lalu (terutama abad ke-17 dan sebelumnya) tidak semudah dan selengkap referensi sejarah Jawa ataupun Sumatra.
Cerita-cerita mengenai suku Dayak misalnya, masih diselimuti misteri dan bercampur dengan mitos serta legenda. Tak jarang penjelasan sejarah sekalipun kerap dimulai dengan frasa, 'Pada masa lalu ...,' atau 'Di masa lampau ...,' atau juga 'Pada masa kolonialisme ...,' yang tidak merajuk pada tahun atau abad tertentu.
Ini menyulitkan penulis untuk mendapatkan gambaran spesifik mengenai pakaian, daerah, bangunan, kebiasaan, nama dan sebagainya.
Penulis sendiri cukup beruntung karena bertempat tinggal di Kalimantan, persisnya di Kalimantan Barat, sehingga memudahkan dalam interpretasi daerah, cuaca, kebiasaan, pola pikir sampai jenis makanan pada masa tersebut. Penulis juga pernah beberapa kali mendatangi situs-situs sejarah seperti keraton, rumah adat serta melihat jenis-jenis senjata yang digunakan pada jaman dahulu. Dari pengalaman inilah, penggambaran akan sedikit terbantu.
Bantuan referensi lain yang sederhana namun sangat memberikan bantuan yang berharga adalah channel YouTube. Kayong TV misalnya, merupakan sebuah Channel sejarah yang apik, berlatar belakang content sejarah-budaya kabupaten Ketapang (termasuk Sukadana di dalamnya), namun juga mengembangkan sayap ke semua hal yang berhubungan dengan sejarah Kalimantan Barat.
__ADS_1
Maka, berdasarkan alasan-alasan serta isu-isu di atas, penulis juga memutuskan untuk menggunakan sumber-sumber sejarah Kalimantan abad ke-18 sampai 19 dan menginterpretasikannya sendiri sesuai dengan kemungkinan yang ada dari sumber-sumber tersebut. Ini karena ada kemungkinan, tidak ada perbedaan yang begitu jauh antar masa tersebut dalam penggambaran dan keadaan masyarakat (teknik ini digunakan juga oleh Seno Gumira Ajidarma dalam trilogi silat Nagabumi nya), meski penulis tetap sebisa mungkin berpatokan pada tahun-tahun utama dan mutlak yang tertuang di dalam catatan sejarah.
Mohon maaf bila penjelasan dan penggambarannya kurang akurat, tidak mendetail dan mungkin sekali tidak tepat, penulis bertanggungjawab penuh atas kealpaan dan kebodohan tersebut.
Penulis juga memerlukan masukan, kritikan dan pujian (biar makin percaya diri juga ππ) dalam penulisan, sumber sejarah, maupun cerita, walau toh bagaimanapun unsur fiksi, fantasi dan imajinasi tetap berada di garis yang paling depan.
Berikut sekelumit referensi yang penulis gunakan dalam penulisan episode di Sukadana (masih akan terus bertambah, terutama ketika memasuki kehidupan masyarakat Dayak):
Bock, Carl. 1882. The Head-Hunters of Borneo. London: Sampson Low, Marston, Searle, & Rivington.
Hasanuddin. 2016. Politik dan Perdagangan Kolonial Belanda di Pontianak. Patanjala, 8(2). 203 - 218
Pradjoko, Didik and Bambang Budi Utomo. 2013. Atlas Pelabuhan-Pelabuhan Bersejarah di Indonesia. Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
__ADS_1
Risa. 2014. Islam di Kerajaan Sambas antara Abad XV - XVII. Studi Awal tentang Islamisasi di Sambas. Jurnal Khatulistiwa - Journal of Islamic Studies, 4(2).
Tasanaldy, Taufiq. 2012. Regime Change and Ethic Pilitics in Indonesia. Dayak Politics of West Kalimantan. Leiden: KITLV Press.
SELAMAT MENIKMATI.
*Catatan kecil:
Setelah Sukadana (dan perjalanan ke beragam daerah di Kalimantan), Jayaseta akan melanjutkan perjalanan ke Malaka (Malaysia) - yang terkenal dengan silat Melayu dan Tomoi nya - serta kerajaan Ayutthaya/Ayodya (Thailand) - dengan beragam jenis gaya pertarungan yang disebut Muay Boran (bentuk klasik, kuno dan tradisional dari Muay Thai/Thai Boxing).
Tetap setia ikuti perjalanan Jayaseta ya, dear readers. ππ»ππ»ππ»
__ADS_1