
Para pembedil mendadak kegelagapan karena serangan tiba-tiba seseorang yang mendahului serangan tembakan mereka. Apalagi yang menyerang bukan berasal dari kelompok yang hendak mereka tembak. Serangan tersebut berasal dari awak kapal ini sendiri.
"Bang*sat! Siapa yang melakukannya?!" ujar salah seorang pembedil asal Ambonia melihat salah satu rekannya tewas di tempat, sedangkan satu lagi sedang sekarat meregang nyawa karena tangannya sudah puntung dan terus mengeluarkan darah dengan derasnya.
"Sebelah sana! Tembak ... Tembak!" teriak salah satu anggota regu penembak lainnya menunjuk ke arah sang pelempar cakram yang diketahui dan dikenal baik oleh Jayaseta sebagai Kakek Keling, salah satu guru ilmu kanuragannya sewaktu masih merasa di Giri Kedaton yang berasal dari negeri Hindustan.
Tak pelak, tembakan langsung meletus memekakkan telinga dan membuat udara penuh dengan asap putih kental.
Kakek Keling berguling-guling dengan lincah, kemudian melemparkan cakramnya. Lempengan pipih bulat nan tajam itu meluncur menubruk dua moncong bedil. Meski tak merusakkan senjata api itu dan tak membunuh musuh, perhatian para penembak menjadi berantakan. Moncong bedil bergeser dan tubuh penembak menubruk rekan di sebelahnya, dan seterusnya.
Ini memberikan kesempata bagi Jayaseta, Datuk Mas Kuning, Narendra dan Katilapan untuk bergerak cepat menghindari tempat yang dapat dijadikan sasaran.
Selain itu, masih ada kejutan tambahan.
Dua orang awak yang berasal dari Bali dengan gesit melompat dan memanjat ke lantai atas. Dengan begitu cekatan keduanya sudah mencabut dua bilah belati bernama pisau tiuk dan siap menghujamkan ke tubuh musuh.
Dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk menembak ini, para pasukan pembedil memutuskan untuk meloloskan pedang bergaya Pranggi dari sarung yang menggantung di pinggang mereka. Pedang panjang itu hampir serupa dengan rapier, namun sedikit lebih lebar dengan tangkupan serupa mangkuk sebagai penutup dan pelindung jari.
Dua pendekar Bali menusukkan pisau tiuk mereka dengan cepat. Keduanya berusaha menggunakan ruang dan waktu sebaik mungkin sebelum para penembak berhasil kembali mempersiapkan bedilnya.
Pisau tiuk menyabet lengan, bahu dan dada para penembak. Satu orang Flores sudah berhasil mencabut pedang Pranggi nya dan menusukkan ke arah kedua penyerang Bali.
__ADS_1
Suasana kisruh dan padat di geladak atas itu membuat setiap serangan menjadi merepotkan. Dalam hal ini jelas para penembak kurang beruntung. Serangan tusukan si penembak Flores dapat dielakkan, bahkan ia sendiri harus menanggung akibatnya. Tangannya yang terulur langsung terbeset pisau tiuk. Karena kesakitan, tubuhnya oleng, menubruk barisan penembak lain yang menumpuk di belakangnya, kemudian jatuh ke geladak bawah. Tubuhnya terhempas dan kemungkinan besar tewas, atau paling tidak dalam keadaan terluka parah.
***
Kakek Keling memandang Jayaseta. Yang dipandang langsung melepaskan topengnya. Wajah sang murid terlihat begitu terkejut sekaligus gembira. Rasa rindu sekaligus penasaran jelas tergambar di sana.
"Kakek Keling, bagaimana bisa ...," pertanyaan Jayaseta menggantung di udara.
"Sudah, nanti saja ceritanya. Aku juga punya banyak pertanyaan buatmu, Jayaseta, si Pendekar Topeng Seribu," ujar sang guru sembari terkekah. Pandangannya juga menumbuk sepasang mata sahabat lamanya, Datuk Mas Kuning. "Ah, kau, Mas Kuning. Masih digdaya juga kau nampaknya," ujar Kakek Keling.
Datuk Mas Kuning tersenyum, "Namun sama sekali tak sebanding dengan kemampuan muridmu, Bharata," balasnya.
"Baiklah, nampaknya cukup dulu kangen-kangenannya. Nanti kita sambung lagi. Biarkan aku dan kedua temanku dari Bali itu mengurusi para cecunguk Pranggi itu. Kalian jaga-jaga di bawah sini saja karena sudah bertempur dari tadi," ujar Kakek Keling. Ia tak mengindahkan keberatan empat orang pendekar yang naik ke kapal ini. Sebaliknya ia langsung meluncur naik ke geladak atas, membantu kedua 'teman' dari Balinya.
***
Sekarang keadaan malah lebih mencekam bagi de Paula. Para awak yang berasal dari budak Nias mulai bergerak. Mereka mengambil beragam benda yang bisa dijadikan senjata.
Awalnya mereka memang tak mau ikut campur, toh mereka dari awal dibeli sebagai budak, bukan pegawai bebas. Para pendekar Nias memiliki kehidupan yang cukup layak dibandingkan mereka karena para jawara itu memiliki kemampuan beladiri yang bisa digunakan untuk membuat mereka memiliki tingkat dan derajat yang lebuh tinggi. Namun, lihatlah sekarang. Hidup para pendekar Nias itu sama saja, bahkan lebih buruk dari mereka.
Para pendekar Toba, Aceh, Mangkasara dan Bugis, serta Nias telah berjatuhan. Mungkin sudah saatnya membedakan diri mereka sendiri.
Para awak yang berada di lambung kapal sebagai para pendayung sudah mendorong jalan naik ke atas. Mereka menghajar tuan mandor mereka yang selalu pemerintah dengan kasar, kejam dan keji. Kumpulan budak-budak Nias pendayung ini mendengar dengan jelas bahwa di geladak, kemenangan ada di pihak para pendekar yang datang menyambangi kapal ini.
Begitu juga para awak yang tadinya bekerja menggulung tali tambang dan mengatur layar bersama dua orang Bali dan Kakek Keling yang tak mereka tahu adalah para pendekar pula, segera mengambil kapak, pisau, parang, kayu pentungan pemukul, bahkan belati dari para pendekar kapal yang kalah atau tewas.
__ADS_1
Semuanya merengsek maju, menjaga dari bawah siap menyerang ke atas.
Kakek Keling melompat gesit. Jurus-jurus Tendangan Guntur dari Selatan yang masih 'asli' memporakporandakan para penembak. Bedil mereka berjatuhan. Dalam ruang sempit itu, dua orang Bali juga mahir sekali memainkan pisau tiuk sehingga pedang Pranggi tak bekerja dengan baik.
Kakek Keling dengan tangan kosong merubuhkan para penembak dengan menendang mereka sampai jatuh ke geladak bawah. Di sanalah, tubuh mereka dirajam dan dicincang oleh para awak Nias yang telah gemas dengan keadaan mereka ini.
De Paula menjadi sangat pucat. Kedua tangannya yang memegang pistol bergetar.
"Berhenti semuanya!" tiba-tiba sang nakhoda yang berdiri di depan de Paula berteriak nyaring. "Hentikan pertempuran ini. Sudah cukup korban berjatuhan untuk hari ini. Jangan buat geladak kapalku berwarna merah," serunya lagi.
Entah mengapa, mungkin karena kekuatan teriakan sang nakhoda yang dilapisi tenaga tertentu atau memang karena suaranya yang penuh wibawa dan kuasa, yang jelas mendadak semua orang berhenti dari apapun yang mereka lakukan, termasuk serangan para awak Nias, serta pertempuran dua pendekar Bali bersama Kakek Keling menghajar para pasukan penembak.
"Namaku Jala Jangkung, sekali lagi, Jala Jangkung. Aku nakhoda kapal ini yang bertanggungjawab penuh atas nyawa awak dan para pendekar prajuritku di atas geladak," serunya. Ia berpaling memandang de Paula, perwira bule yang memiliki kekuasaan dan uang itu meringkuk bagai pengecut.
Jala Jangkung kemudian memandang ke arah para pendekar yang mengalahkan pendekar-pendekar unggulannya. "Aku pikir, engkau lah dia yang mereka kenal sebagai Pendekar Topeng Seribu. Aku benar-benar tak menyangka kapalku ini akan disinggahi pendekar sakti pilih tanding nan tersohor tersebut," ujarnya merujuk pada Jayaseta.
"Aku akan biarkan kau dan rekan-rekanmu mengambil alih kapal ini den mendapatkan kabar serta penjelasan apapun yang kalian inginkan, termasuk jiwa tuanku ini, de Paula dari Pranggi, bila engkau berhasil mengalahkanku," ujar sang nakhoda. Tentu ucapannya membuat de Paula terkejut dan gusar. "Apa maksudmu, Jala Jangkung? Jangan lupa kau berada bersama siapa sekarang ini. Aku adalah tuanmu, aku yang membiayai semua kebutuhan kapalmu," jelas de Paula.
"Tuan, bukan saatnya untuk memainkan peran sombong dan berkuasamu itu sekarang. Kau mau mati?" balas Jala Jangkung, membuat de Paula langsung terdiam mendengar kata 'mati'.
"Hah, kau jenaka sekali," ujar Katilapan. "Masih berusaha menawar? Bukankah kau lihat sendiri bahwa sebentar lagi toh kapal ini akan dikalahkan. Untuk apa kami perlu tawar-menawar?"
"Tak apa Kakang Katilapan. Ia seorang nakhoda. Ia hanya ingin menunjukkan tanggung jawabnya. Aku akan layani tantangannya," ujar Jayaseta pelan pada Katilapan.
Ia kemudian berteriak keras pada sang nakhoda, "Pilih senjatamu tuan nakhoda. Kalau aku kalah, apalagi sampai terbunuh, kami akan angkat kaki dari kapal ini. Namun, aku perlu peringatkan kepada tuan. Aku akan menggunakan tongkat rotan, bukan senjata tajam agar tak perlu membunuhmu dan mendapatkan penjelasan langsung dari tuan. Namun bukan berarti tuan tak akan terluka. Aku hanya akan memperingatkan tuan bahwa aku akan mematahkan kedua kaki tuan nakhoda," ujar Jayaseta dingin.
__ADS_1