Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Bandar Niaga


__ADS_3

Pada jaman ini tidak ada yang benar-benar bisa disebut pengkhianatan dari seorang warga biasa. Pengkhianat ditujukan hanya bagi anggota keluarga dan pejabat kerajaan. Warga biasa hanya hidup mencari selamat, menuruti penguasa atau raja yang bertahta. Penguasa silih berganti dengan perang dan penundukan.


Setiap kekuasaan menggunakan cara apapun yang bisa dimanfaatkan untuk mencapai tujuan. Misalnya saja, orang-orang pendatang dari kerajaan bule di seberang lautan bisa saja menjadi musuh di masa depan, seperti kompeni Walanda, Britania Raya atau Pranggi.


Hal ini bisa dilihat dari hubungan antara Pangeran Jayakarta Wijayakrama, pemimpin Betawi sewaktu masih bernama Jayakarta, bersekutu dengan Britania Raya untuk melawan Walanda sebagai saingan dagangnya sebelum ditaklukkan oleh Walanda tahun 1619. Hubungan baik dengan negara mancanegara juga dapat ditelisik dari permulaan hubungan baik Mataram dengan Walanda melalui VOC pada tahun 1621 Masehi. Kedua pihak saling mengirim duta besar. Bahkan ketika Walanda berhasil mengambil Jayakarta dari tangan Banten dan sekarang bernama Betawi, Sultan Agung memanfaatkan hubungan baik mereka dengan meminta bantuan Walanda untuk menyerang Surabaya dan menghadapi persaingan usaha dengan Banten.


Permintaan menyerang Surabaya ditolak Walanda sehingga menimbulkan kemarahan Sultan Agung. Begitu juga dengan rencana besar Mataram untuk menaklukkan Banten akhirnya terganggu pula karena letaknya yang berada di ujung Barat pulau Jawa dihalangi oleh Walanda di Betawi. Maka serangan Mataram ke Betawi tahun 1928 dan 1929 menjadi hasilnya.


Badranaya, Abdul Gofur, juga adalah warga biasa. Wajahnya yang memiliki raut Parsi atau Timur Tengah masih bisa terlindungi dengan sisi Jawanya sehingga kurang ia lebih ia terlihat seperti warga pribumi Jawa saja.


Darah pengusaha mengalir deras dalam tubuhnya. Jadi, pergi ke berbagai tempat di Jawa untuk mencari jati diri sebenarnya termasuk usaha untuk menjadi kaya serta berhasil atau dihormati orang. Badra tidak peduli dengan siapa ia harus mengabdi dan bekerja sama, selama itu bisa membuatnya mencapai tujuan akhir atau pencapaian terbesar hidupnya. Maka, bekerja di Betawi juga bukan sebuah bentuk pengabdian pada bangsa bule Walanda.


Sesampainya di Betawi beberapa tahun yang lalu, negeri ini sudah mulai menunjukkan kekuatannya. Apalagi saat itu selang beberapa tahun sejak Betawi berhasil mempertahankan dirinya terhadap serangan kerajaan terkuat di Jawa, Mataram Islam.


Negara ini memiliki kehidupan keras bagi para pelancong dan pedagang. Hal ini dapat dimaklumi karena ketika Betawi masih bernama Sunda Kalapa dan menjadi bandar terpenting Kerajaan Pakuan Pajajaran, kawasan pelabuhan ini memiliki hubungan yang erat dengan beragam negeri seperti Palembang, Tanjungpura, Maluku, Gowa, Madura, bahkan mancanegara seperti negeri Hindustan dan Keling, Cina serta Ryuku di negara Jepun.


Kemudian sewaktu Betawi masih bernama Jayakarta, kawasan ini memiliki ciri khas pola tata kota seperti pusat kerajaan-kerajaan Islam di Pulau Jawa. Ada alun-alun, masjid-masjid, pasar-pasar, kampung Angke dan Kampung Cina yang diperkuat pagar kayu sebagai garis pertahanan kota.


Sudah ada pembedaan tata ruang dari kawasan yang ada di dalam dan luar benteng kota.


Dari bangunan badaniah contohnya, dapat dibedakan bangunan tata ruang dan


fungsi-fungsi bangunannya yang berada di dalam dan di luar benteng kota.


Kompeni Walanda kemudian menaklukkan Jayakarta dan memindahkan pusat pemerintahannya dari Maluku ke sana serta mengganti namanya menjadi Betawi. Ini dilakukan karena rempah-rempah tidak lagi menjadi barang dagang yang terlalu penting lagi di dunia. Betawi dipilih untuk memudahkan pengendalian perdagangan beras dan kayu yang banyak dihasilkan di pulau Jawa. Barang dagangan baru ini malahan menjadi keuntungan tersendiri bagi kompeni Walanda.


Kota Betawi menjadi kawasan niaga yang telah ramai dan Pasar Ikan menjadi bandar niaga yang merupakan gabungan dari perdagangan besar dengan perdagangan eceran baik asing maupun di dalam maupun sekitar kawasan itu sendiri. Setiap pagi sampai sore serta dilanjutkan sampai malam, pasar masih tetap dibuka untuk umum dalam melakukan kegiatan jual beli barang-barang dagangan.


Di Pasar Ikan ini nampaknya telah berkumpul ribuan orang dari penjuru dunia, terutama kaum perempuan yang membawa hasil bumi untuk diperjualbelikan. Di beberapa tempat di Pasar ikan tersebut dibangun tempat khusus untuk kedai yang biasanya terbuat dari bambu yang beratap ilalang dan fungsinya hanya sementara. Terkadang pasar ini hanya digelar di bawah pohon besar yang cukup lapang untuk berkumpul.

__ADS_1


Barang-barang yang biasanya didapati untuk diperjual belikan termasuk gandum atau biji-bijian, pakaian, kerajinan tangan, ikan, perajin kuningan, besi, dan barang-barang tembaga, kerajinan-kerajinan dari bangsa Cina, Hindustan, bule Eropah dan lain sebagainya.


Ada pula dijual jenis makanan matang dengan selera Jawa, Pasundan, Cina dan nusantara. Ada berbagai jenis buah-buahan serta sayur-mayur dengan harga yang beragam sesuai mutu barang dagangan. Jadi, perdagangan di pelabuhan ini timbul jika terjadi pertemuan antara penawaran dan permintaan terhadap barang yang dikehendaki.


Kaum perempuan setempat menjual lada dan bahan makanan kepada pembeli asing, sementara setiap kelompok saudagar asing mempunyai tempat untuk menjual barang-barang mereka. Ini sekaligus merupakan kegiatan perdagangan di Pasar Ikan yang menjadi sibuk setiap harinya untuk menjual bahan makanan seperti beras, sayuran, buah-buahan, gula, ikan dan daging, hewan ternak, lada atau cengkih. Selain bahan makanan dan rempah ada pula perdagangan senjata, perkakas dan barang-barang logam di Pasar Ikan tersebut.


Walau ramai, Pasar Ikan ini diatur oleh seorang Syahbandar yang mengadakan pengadilan apabila ada persengketaan dagang dari beragam orang dari penjuru dunia yang datang untuk berjualan dan melaksanakan usaha di Betawi.


Seorang Syahbandar bertugas di dalam untuk memantau kegiatan perdagangan lada, cengkeh dan kayu manis yang merupakan barang perdagangan ke luar daerah yang paling penting.


Betawi akhirnya perlahan-lahan menjadi pusat perdagangan dunia, bandar niaga, yang memperjualbelikan rempah-rempah dan bahan makanan, bahan pakaian, emas, serta kayu-kayu. Betawi menjual keluar kawasan barang-barang dagangan dari pedalaman yang juga didukung dari Sungai Ciliwung yang mengalir dari pedalaman ke kawasan niaga.


Dari Sungai Ciliwung dapat menunjang angkutan untuk mengangkut barang-barang dagangan ke arah kawasan niaga sehingga, seperti yang diinginkan kompeni Walanda, Betawi menjadi bandar niaga yang maju dalam jalur perdagangan antara Malaka dan Maluku, tempat kekuasaan Walanda sebelumnya.


Keadaan usaha dan perdagangan yang terjadi di Betawi ini menciptakan sebagian besar usaha dan keuangan negara bergantung pada pemanfaatan tenaga kerja paksa dan perbudakan. Bahkan separuh penduduk Betawi adalah budak yang didatangkan dari pasar perbudakan di negeri Hindustan, Mangkasar serta pulau-pulau bagian timur Nusantara. Apa boleh buat, hubungan Betawi dengan kawasan-kawasan lain di nusantara maupun mancanegara sudah terjadi sejak kawasan ini bernama Sunda Kalapa.


Budak-budak ini dimiliki oleh pribadi atau pengusaha-pengusaha yang bergerak si bidang pertanian. Hasil-hasil usaha para pengusaha pertanian ini yang berupa gula, beras, sayur-mayur dan buah-buahan diperjualbelikan di luar kota utama, atau diluar benteng Betawi.


Di kawasan luar kota ini pula terdapat usaha-usaha lain seperti pengangkutan barang dan makanan di pelabuhan, pengelolaan pergudangan serta perbaikan dan pemeliharaan kapal-kapal di galangan milik angkatan laut Walanda. Di dalam kota sendiri, kegiatan usaha dan keuangan terjadi dalam bentuk perdagangan melalui pertokoan dan pasar serta kerajinan tangan.


Badra sudah mencoba hampir di semua kawasan dan jenis pekerjaan, termasuk bekerja di pertokoan Cina di dalam kota. Tak heran ia cukup terampil dalam dunia perkapalan dan pelayaran. Ia juga tahu dengan baik keadaan di kawasan dalam dan luar kota Betawi.


Kerasnya Betawi bukan hanya dari segi kegiatan usaha dan keuangannya, namun juga kerasnya hidup dalam arti sebenarnya.


Sebagai sebuah kota sekaligus negara baru, Betawi dimusuhi banyak negara dan kerajaan lain di Jawa dan Nusantara, sekaligus dicintai beragam penduduk dari belahan dunia. Banyak yang datang ke negara itu untuk mendapatkan peruntungan, baik secara pribadi atau mengajukan kerjasama dengan sang penguasa melalui utusan kerajaan atau wilayah di bawah kerajaan lainnya.


Sebagai akibatnya tindakan kejahatan merebak di daerah ini. Beragam kejahatan seperti pembunuhan, pemerkosaan, penculikan, pencurian, peracunan, penyerangan, bahkan pertempuran antar kesatuan serdadu yang didatangkan dari daerah dan suku bangsa yang berbeda serta tawuran antar desa atau daerah di dalam dan luar benteng hampir selalu terjadi.


Keadaan ini membuat pemerintah kompeni Walanda memberikan hukuman-hukuman mengerikan yang tingkatnya bersaing dengan hukuman yang diberikan oleh Mataram.

__ADS_1


Ada dua kawasan utama di Betawi yang dijadikan tempat untuk melakukan hukuman mati dan hukuman-hukuman jenis lain. Kedua tempat itu adalah di depan kastil Betawi dan Balai Kota. Di sana, masyarakat awam dapat melihat secara langsung hampir tiap hari orang-orang dihukum. Ada tubuh narapidana yang dicap atau distempel dengan besi membara, telinga dan hidung mereka dipotong, digantung, badan mereka ditarik dan dipatahkan dengan alat atau menggunakan tenaga kuda, dipancung atau hukuman mengerikan lainnya.


Akibatnya di jalanan dapat dilihat bekas narapidana atau orang hukuman yang berjalan hilir mudik, meminta-minta atau menjadi gelandangan dengan tubuh cacat atau wajah tanpa hidung dan telinga.


Orang-orang Walanda menggunakan para algojo dari jawara dan pendekar pribumi yang dibayar dengan harga pantas atau orang-orang dari negeri Jepun.


Kerapkali pejabat dan petarung atau jawara bule Walanda sendiri ikut ambil bagian, hanya untuk bersenang-senang. Salah satunya adalah Devisser de Jaager, perwira dan jagoan tarung Walanda.


Cerita mengenai Devisser de Jaager sebenarnya diketahui Badranaya secara langsung karena ia pernah bekerja dengan orang bule ini selama beberapa bulan. Dari sinilah ia mengenal dengan baik permasalahan kepentingan antar negara dan kawasan dan peran Walanda di dalamnya.


Cerita mengenai Devisser de Jaager yang didengar Jayaseta dari kakek Keling dahulu ternyata bukanlah cerita sebenarnya, bahkan bisa dikatakan tidak mendekati sedikitpun. Tapi bukan berarti bahwa cerita tentang bahwasanya Devisser de Jaager mengalahkan gerombolan penyerangnya juga berlebihan, malah kejadian yang sebenarnya jauh lebih menghebohkan.


Ini bisa dikatakan seperti itu karena beberapa alasan. Pertama, kenyataannya de Jaager bukanlah satu orang saja, namun dua orang adik beradik bule Walanda yang sama-sama menjadi perwira tentara Walanda. Memang sang adik yang bernama Devisser de Jaager memiliki perawakan jangkung yang membuatnya terlihat menonjol. Mungkin dialah yang dikenal sebagai satu-satunya pendekar pedang asal Walanda tersebut. Namun sang kakak laki-lakinya, Sebastian de Jaager adalah seorang bule yang memiliki perawakan biasa saja.


Keduanyalah yang dikenal sebagai sepasang de Jaager, yaitu para serdadu Walanda yang tangguh karena memiliki kemampuan ilmu beladiri asal negara bule yang mumpuni. Pada kenyataannya mereka tidak sekadar melumpuhkan lima orang mantan prajurit Banten, namun mereka berhasil membunuh dua puluh penyerangnya.


Kedua, kenyatannya tidak hanya de Jaager bersaudara yang membunuh keduapuluh penyerangnya dengan tangan mereka. Konyol rasanya mendengar cerita seorang perwira prajurit Walanda berjalan-jalan seorang diri dan berhenti di kedai makan. Pastilah orang-orang bule yang memiliki jabatan penting pasti selalu dikawal oleh beberapa prajurit lain.


Memang itu yang terjadi, dua orang serdadu pribumi dari Ternate bersenjatakan senapan lontak dan kelewang tergantung di pinggang mereka beserta dua orang ronin atau Samurai tanpa tuan dari negeri Jepun bernama Takizawa Hideyoshi dan Mishima Koguro menyertai mereka.


Kedua orang Jepun tersebut adalah watari zamurai, yaitu para ronin yang menjual jasa mereka sebagai pembunuh bayaran, algojo atau tukang pukul dan pengawal siapa saja yang berani dan mampu membayar mereka dengan harga yang pantas. Sedangkan kedua prajurit Ternate yang menyertai mereka adalah dua orang prajurit khusus yang dilatih menembak dengan tepat oleh Walanda. Merekalah yang bertugas melindungi kedua perwira jago pedang tersebut.


Berbeda memang dengan kebanyakan tentara dan prajurit Walanda yang memusatkan perhatian mereka pada kelihaian perencanaan perang termasuk persenjataan maju serta perbentengan dimana mereka mempelajari siasat memenangkan perang dan menggapai kekuasaan, de Jaager bersaudara juga memperdalam ilmu kanuragan dan olah diri. Mereka sejatinya bukan hanya sekadar prajurit yang harus memiliki kemampuan berperang dan menaklukkan musuh.


Mereka juga bukan sekadar tentara Walanda yang masa kini sudah lebih banyak menggunakan persenjataan mutakhir seperti senjata api, meriam dan ilmu perbentengan yang sudah maju. Mereka merasa mereka sendiri adalah para pendekar yang haus akan pertarungan dan ilmu kanuragan. Mereka menempa diri mereka dengan ilmu pedang dan olah diri yang mumpuni.


Selama Badra bekerja di bawah de Jaager, ia memperhatikan banyak hal. Menurutnya Walanda pasti cepat lambat akan menjadi kuat dan bisa saja menaklukkan nusantara suatu saat nanti. Bukan tanpa sebab, setelah berhasil menghadang laju Mataram, Walanda nampaknya memiliki rencana-rencana besar yang terpusat di bawah satu tujuan, untuk kebesaran negara Walanda di Barat jauh sana. Sedangkan kerajaan-kerajaan di pulau Jawa, dari Mataram, Banten atau Cerbon terus saja saling serang dan selaku bermusuhan. Belum lagi kerajaan-kerajaan di seluruh nusantara.


Oleh sebab itu, Badra mengetahui dimana ia berada dan tujuan hidupnya. Sementara ini Walau Mataram masih merupakan kerajaan yang terkuat di pulau Jawa bahkan nusantara, ia harus mempersiapkan diri bilamana Walanda mengambil alih kekuasaan tersebut.

__ADS_1


Harusnya hidupnya aman-aman saja ketika berpura-pura menjadi seorang pemimpin gerombolan prajurit bawahan, sampai ia bertemu sang kemenakan. Sialnya lagi, ia sudah terlanjur menyayangi keluarga satu-satunya itu dan sekarang Jayaseta sudah menjadi bidikan Walanda dan terutama bekas tuan dimana ia mengabdi, adik beradik de Jaager.


Tidak bisa tidak ia harus melakukan sesuatu. Ia harus menghadap sang mantan tuan.


__ADS_2