Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Gerbang


__ADS_3

Pada tahun 1606 Masehi, Walanda pernah menyerang Malaka yang dikuasai Pranggi. Serangan pertama bangsa Walanda ini didukung sepenuhnya oleh Kesultanan Johor yang merupakan keturunan langsung dari Kesultanan Malaka yang direbut Pranggi. Hanya saja, Walanda gagal menundukkan benteng Pranggi di Malaka saat itu meski telah menyebabkan Pemimpin perang angkatan laut Afonso de Castro mengalami cedera parah.


Bagi Kesultanan Johor, penaklukkan Malaka sangatlah penting untuk menguasai perdagangan di dunia Melayu. Saat ini, Pranggi menjadikan Malaka sebagai gudang perdagangan laut serta penghubung niaga antara Hindustan dan Cina.


Kesultanan Johor telah membuat perjanjian dengan Walanda untuk mengusir Pranggi dari tanah Melayu. Perjanjian itu dibuat agar kelak Walanda yang mengambil alih pemerintahan Malaka, namun Walanda tidak akan menuntut wilayah lagi serta tidak akan berperang dengan negeri-negeri Melayu. Walanda akan juga membantu penuh perniagaan Kesultanan Johor agar menguasai perdagangan.


Tentu saja perjanjian semacam ini diharapkan sama-sama menguntungkan kedua pihak. Kesultanan Johor merasa bahwa dahulu, nenek moyang mereka adalah penguasa besar dunia Melayu. Ketika Pranggi datang, mereka harus mengungsi dan membangun kekuasaan lain di Johor. Nama Malaka memudar, begitu pula harga diri dan kekuatan mereka. Dengan ditaklukkannya Malaka kelak, walau dengan bantuan bangsa bule lainnya, makan Kesultanan Johor tak akan terganggu dalam penguasaan perdagangan dan pengembalian harga diri negeri. Permusuhan dan perselisihan mereka dengan negara-negara lain, Bengkulu misalnya, akan dapat dimenangkan.


Sasangka merasa bahwa hawa panas pertikaian itu sudah sangat terasa. Pasukan Pranggi dengan bedil dan pedang berjaga di garis pantai, tembok kota di bagian dalam dan luar, benteng bahkan pasar. Meriam-meriam di sudut kota dibersihkan terus menerus agar tidak macet dan dapat digunakan dengan baik.


Para prajurit pribumi dan dipekerjakan oleh Pranggi seperti orang-orang Flores, Timor atau Larantuka, ratusan jumlahnya yang terlihat - ribuan yang tak terlihat - juga berjaga-jaga dengan bedil, tombak, tameng dan pedang. Mereka terlihat bercampur dengan prajurit pribumi lain yang jumlahnya lebih sedikit seperti orang-orang Jawa dan Melayu.


Pemeriksaan bagi para pelancong dan pedagang sebelum masuk ke Malaka, terutama ke benteng kota, menjadi lebih ketat. Untuk saat ini, memang tak ada keperluan dan keinginan Sasangka untuk masuk ke dalam kota yang dilindungi tembok panjang tersebut.


Sasangka juga telah mendengar pertempuran di lautan dangkal di wilayah kepulauan Riau yang terjadi diantara beberapa bangsa sekaligus. Kapal yang ia tumpangi beruntung tak sempat terkendala dan terhalang oleh masalah tersebut. Kapalnya setengah hari jaraknya terlebih dahulu melewati  lautan dangkal kepulauan Riau tersebut.


Namun entah mengapa, gerak-gerik kelompok dari Betawi itu membuat Sasangka penasaran. Ia masih memiliki banyak waktu untuk mengerjakan tugas-tugasnya serta menunggu jadwal keberangkatan kapal yang mengangkut dirinya kembali ke Betawi. Para anggota kelompok Jawa dari Betawi itu ternyata masuk ke dalam benteng kota. Jadi, mungkin ia akan mencoba masuk ke dalam benteng kota dan mengikuti gerak-gerik orang-orang tersebut. Toh, segala surat ijin dan keterangan perjalannya lengkap. Ia memang datang ke negeri ini untuk berniaga, bukan?

__ADS_1


***


Jayaseta telah berpisah dengan Kakek Keling. Hanya saja, sang guru belum memutuskan hendak kemana dahulu ia pergi. Ia sedang mengurusi masalah di atas geladak mengenai para pekerja, budak dan awak. Ada banyak hal yang harus dibereskan di atas geladak terlebih dahulu sebelum memutuskan lebih jauh tentang nasib kapal tersebut. Belum lagi pada dasarnya, sang nakhoda, Jala Jangkung, masih hidup meski terluka cukup parah. Kakek Keling bahkan mengatakan bila jodoh kembali mempertemukan mereka - kalimat yang menjadi kegemaran kakek guru Jayaseta tersebut - mungkin mereka akan kembali bersinggungan di Malaka.


Kini, menjelang petang, Jayaseta, Datuk Mas Kuning, Katilapan, Narendra, Ireng, Siam, Ireng, Raja Nio serta seluruh awak kapal dan prajurit pengawal jung telah dapat melihat sinar-sinar obor dan berajam jenis pencahayaan bersinar terang dari pelabuhan Malaka. Sinar-sinar penerangan dari belasan jung raksasa, puluhan kapal sedang, ratusan kapal kecil danl lebih banyak lagi perahu layar dan bercadik. Kapal-kapal juga termasuk kapal-kapal perang milik pasukan angkatan laut Pranggi serta sekutu-sekutu pribuminya.


Nyala sinar penerangan juga mulai dihidupkan di perbukitan, meniti tembok benteng kota. Bayangan jejeran meriam terlihat mungil dari kejauhan.


"Nah, kita telah sampai di tujuan pertama, Jayaseta. Ingin hati aku membawamu dan rombongan kemana diperlukan, bahkan sampai langsung ke jantung Ayutthaya. Namun Datuk Mas Kuning mengatakan kalian perlu ke Malaka kemudian berjalan darat ke Pattani untuk sampai ke tujuan. Selain itu, jelas kau pun akan menentangnya, mengatakan tak mau menyusahkan orang lain," ujar sang nakhoda sembari tersenyum.


Raja Nio terkekeh, "Aku bangga dapat memberikan awakku untuk dapat membantumu, Jayaseta. Jangan terlalu dibebankan. Kau tak harus menjagai mereka. Mereka bukan bayi, mereka paham dengan akibat yang mungkin didapatkan ketika menemani seorang pendekar seperti dirimu menjelajahi negeri-negeri asing untuk keperluan yang tidak biasa pula."


Jayaseta mengangguk. Ia juga tak bisa mendebat hal ini. Dahulu biasanya ia bepergian sendirian sebagai seorang jaka lelana. Namun, tanggung jawab tak bisa dibuang begitu saja. Ia telah memperistri seorang Dara Cempaka, maka kewajiban sebagai seorang suami, apalagi ketika sang istri sedang dalam kemalangan dan kesukaran, adalah sebuah keniscayaan untuk mencarikannya penyelesaian.


***


Empatbelas orang yang kebanyakan adalah jawara Jawa dan sisanya Melayu dari Betawi, membagi kelompok menjadi tiga bagian. Mereka masuk ke dalam benteng kota Malaka secara terpisah dan berjarak agar tidak terlalu mencurigakan.

__ADS_1


Keris dan belati diselipkan dengan cara yang menonjol di pinggang mereka. Tentu saja, pada masa yang menegangkan antara Pranggi dan musuh-musuhnya dari Walanda, Johor dan Riau itu, penjagaan oleh para prajurit menjadi sangat ketat.


Enam orang prajurit Flores bersenjatakan bedil, beberapa tombak, melucuti senjata kelompok Betawi ini di luar gerbang utama.


Di atas gerbang berdiri pasukan Pranggi bersenjatakan bedil berdiri berdua-dua, dengan seorang pembantu pengisi pel*uru yang merupakan orang pribumi.


Di dalam benteng masih ada lagi beragam prajurit berpakaian seragam keprajuritan Pranggi yang mentereng serta penuh pula dengan perlengkapan persenjataan seperti bedil, pistol, pedang dan belati untuk setiap prajurit saja.


Prajurit bersenjata tombak panjang dan tameng berbaris dan berjalan mengitari wilayah tepi benteng, dan masih banyak barisan lainnya di dalam pemukiman.


Tentu saja, keempatbelas orang gerombolan jawara Jawa dan Melayu dari Betawi itu dapat masuk ke dalam benteng kota dengan tidak begitu sulit.


Memang senjata mereka dilucuti dan dititipkan di penjagaan. Ini sama sekali tidak mengejutkan. Pertama, semua laki-laki memang wajar membawa senjata kemanapun mereka pergi. Keberadaan anggota kelompok ini sama sekali tidak mencurigakan bagi para prajurit Pranggi, karena toh memang sebuah kewajaran siapa saja membawa senjata tajam, biasanya paling tidak bergaya belati. Terutama dalam keadaan semacam ini, pemeriksaan senjata untuk dititipkan memang bisa dipahami oleh siapapun.


Kedua, mereka sengaja menunjukkan senjata mereka dengan menonjol agar para prajurit Pranggi memusatkan pelucutan senjata pada senjata yang memang akan sengaja mereka titipkan. Karena, ketiga, senjata paku beracun rahasia yang merupakan senjata utama mereka diselipkan di kain penutup kepala dan di perkakas kayu yang mereka bawa. Para prajurit Pranggi mendapatkan alasan yang kuat bahwa mereka adalah para tukang kapal yang bekerja di galangan dan pelabuhan yang masuk ke kota untuk bertemu majikan mereka.


Sasangka beberapa tombak di belakang rombongan tersebut bahkan sudah berhasil menentukan dan menghitung siapa saja anggota kelompok jawara Betawi itu dan senjata seperti apakah yang mereka gunakan dalam pekerjaan mereka. Ia membenahi pakaiannya, dan masuk ke dalam benteng kota mengikuti para jawara dari Betawi tersebut.

__ADS_1


__ADS_2