Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Gandhewa Pamenthaning Cipta


__ADS_3

Ada beragam jenis senjata belati yang dikenal di nusantara maupun mancanegara. Belati adalah senjata tajam yang pada dasarnya kegunaannya untuk menusuk atau menikam, meski bisa juga digunakan untuk menyabet, memotong bahkan dilemparkan. Keris Jawa, Tatar Sunda, Bali, Madura, Melayu; badik Bugis, Mangkasar, Luweh; atau rintjong orang Kesultanan Aceh adalah sedikit contoh belati.


Belati berukuran pendek, bisa lebih pendek dari pisau atau lebih panjang. Ini yang membedakannya dengan golok atau pedang, terutama karena belati lebih ringkas untuk dibawa-bawa dan diselipkan di balik busana atau sabuk.


Ketiga pendekar belati yaitu Kesuma, Mahendra dan Sasangka memilih menggunakan belati jenis wedhung. Serupa dengan jenis belati lain, wedhung ini berbentuk seperti pisau tetapi memiliki ukuran yang lebih besar. Penggunaannya juga serupa dengan Keris.



Perbedaannya, jika Keris biasanya diselipkan di belakang pinggang, senjata wedhung digunakan di bagian muka. Meski ada pula yang menggunakannya di samping badan.


Selain itu, wedhung juga cukup akrab digunakan oleh kaum wanita, serupa dengan patrem.


Wedhung sendiri memiliki beragam bentuk tergantung dari daerah dimana senjata ini berasal. Dari abad ke-10 Masehi, wedhung sudah digunakan di Cerbon. Ada pula wedhung gaya Mataram atau Bali.


Di kerajaan-kerajaan Jawa, termasuk Mataram, wedhung menjadi salah satu perlengkapan busana Keraton selain sebagai senjata, serta menunjukan derajat sang pengguna, yaitu jabatan Riyo, Wedono, Kliwon, dan Lurah.


Kesuma sendiri memegang wedhung gaya Mataram. Sarung wedhung yang menempel di pinggangnya terbuat dari kayu cendana. Ada sangkelitan atau tempat menempelkan lilitan sabuk atau pengikat, terbuat dari kulit penyu.


Kesuma sudah hendak menyerang para prajurit Betawi yang merunduk-runduk namun terus merengsek naik, ketika Mahendra dan Sasangka sudah ada di sampingnya. Juga menghunus dua bilah wedhung beragam ukuran dan jenis. Pada kenyataannya, ketiganya membawa lebih dari satu wedhung saja.


Sebagai para pendekar belati, pemilihan atas penggunaan senjata ini didasari atas beberapa alasan. Pertama, wedhung bisa sangat berbahaya ketika menusuk tubuh musuh. Bentuknya yang menggembung di bagian bilah tajamnya dapat menghancurkan perut atau dada seseorang dan mengakibatkan luka yang parah. Kedua, karena senjata ini adalah jenis senjata tikam jarak pendek, kematian musuh hampir pasti sebuah keniscayaan karena saking bahayanya daya hancur senjata itu.


Namun, kelemahannya juga berada pada jarak yang pendek itu. Sang pengguna harus berhasil masuk mendekati lawan untuk bisa menusukkan wedhungnya.


Itulah mengapa Mahendra dan Sasangka langsung datang bergabung bersama Kesuma, "Jurus-jurus kita dibuat berpasangan, bukan?" ujar Sasangka.


Dengan adanya tiga penyerang belati, serangan-serangan mereka menjadi panjang dan berkesinambungan. Tiga buah belati menjadi rantai tajam yang sambung-menyambung namun tetap memiliki hidup sendiri-sendiri. Inilah alasan ketiga atas kehebatan penggunaan senjata belati tersebut.


"Tapi, Jayaseta?" balas Kesuma.


"Apa kau mulai menyepelekan Jayaseta, seorang pendekar muda yang sudah mengalahkan kita mentah-mentah, membunuh dua jawara Jepun, satu perwira Walanda dan hanya tinggal menghabisi satu orang lagi?" balas Mahendra sembari tersenyum.


"Tugas kita hanya menghadang pengganggu-pengganggu itu agar tak merecoki kenikmatan membunuh Walanda keparat itu. Lagipula, sekaligus kita menikmati menghabisi *******-******* yang membunuh Badra, bukan?" lanjut Mahendra.

__ADS_1


Kesuma balas tersenyum. Ia mengangguk ke arah kedua rekannya. Ketiganya perlahan merangkak maju dengan tiga pasang wedhung terhunus.


***


Tembakan Pratiwi mengenai ikat kepala tinggi Karsan dan melepaskannya dari kepala.


Sekali lagi Karsan mengumpat dan menyumpah. Ia tak menyangka akan mendapatkan lawan sedemikian tangguh dalam hal penyerangan dari jarak jauh.


Ia mengambil satu anak panah lagi, merentangkan busurnya lagi dan melepaskannya ke arah musuh. Pada saat bersamaan Pratiwi meletuskan bedilnya pula.


Karsan terpelanting ke samping. Bahunya terluka, terserempet ***** Pratiwi. Ia tak tahu bagaimana dengan anak panahnya. Namun, ia tak mau ambil pusing untuk mereka-reka bagaimana dengan tembakannya.


Ia mempersiapkan satu anak panah lagi. Tangan kanannya bergetar karena bahu kanannya itulah dimana ia terluka. Rasa sakit itu tak terlalu parah, tapi cukup mengganggu, juga secara kejiwaannya yang merasa bahwa ia berhadapan dengan seorang lawan yang tangguh.


Baru saja ia hendak menaikkan kepalanya dari rerumputan dan pepohonan, Pratiwi menembak lagi.


DAR!


Karsan merasa desiran angin panas melewati pipinya. Ia kembali merunduk.


Kepulan asap moncong bedil terlihat jelas oleh Karsan. Ia bahkan sempat melihat kepala sang pendekar perempuan itu berada.


Percuma, pikir Karsan. Pratiwi terbukti bukan orang bodoh. Ia akan berpindah-pindah tempat, lagipula kemampuan mengisi bedilnya luar biasa tinggi. Kecepatannya diatas rata-rata, bahkan mungkin bisa lebih cepat dari panahnya. Padahal, kebanyakan penembak bedil, membutuhkan waktu dua kali lebih lama dibanding pemanah. Apalagi kerapkali mereka membutuhkan saru tambahan orang sebagai pengisi ***** bedil.


Karsan memejamkan mata. Ia ingat pelajaran yang diambil dari kehebatan jurus-jurus Jayaseta. Kehebatan seseorang bukan hanya dari panca indranya, namun juga dari rasa.


Ia merasakan angin yang meniup rerumputan. Gemerisiknya membawa serta pergerakan sang musuh.


Ia abaikan sepasang matanya. Busur ia sejajarkan di depan perut, gandewa pamenthaning cipta, ketika hendak mencapai tujuan haruslah memusatkan segala daya rasa dan menolak segala godaan dan halangan, seperti layaknya tapa seorang Arjuna.


Pratiwi sudah melihat tubuh Karsan yang bersila di balik rerumputan. Ia tersenyum heran melihat kuda-kuda aneh sang pemanah yang bukannya berjongkok, namun bersila seperti orang yang sedang bersemedi.


Sebuah sasaran yang terbuka. Sudah cukup tembak-tembakannya, pikir Pratiwi. Ia harus segera bertemu kakang Jayaseta pujaannya. Ia sama sekali tak peduli dengan keadaan para perwira Walanda dan pasukan pengawalnya. Pekerjaannya lah yang membuatnya terpaksa untuk datang ke tempat ini, semua atas kebodohan para perwira Walanda dan orang-orang kepercayaan mereka.

__ADS_1


Lagipula, sebaliknya ia banyak berterimakasih dengan de Jaager bersaudara sehingga kemungkinan besar ia dapat bertemu kembali dengan pujaan hatinya kembali. Bukan perkara gampang mencari keberadaan Jayaseta, Pendekar Topeng Seribu, yang menjadi incaran pasukan kompeni Walanda.


Saatnya menarik pelatuk.


Anak panas terlepas, melesat ke arah Pratiwi yang sedang meninting Karsan.


Karsan melepaskan anak panah itu ketika rasa di dalam dadanya menyentuh keberadaan Pratiwi.


Batang jemparing melesat dan menancap masuk ke dalam rongga bedil Pratiwi tepat ketika Pratiwi menarik pelatuknya.


DAR!


PLAK!


Ledakan terjadi di dalam bedil. Anak panah Karsan hancur berantakan, namun berada di dalam bedil. Sehingga kerusakan juga terjadi pada bedil Pratiwi, tak dapat digunakan kembali.


Pratiwi tersentak. Jari telunjuknya tersayat.


Bukan jarinya yang terasa sakit, namun hatinya.


Pratiwi yang sekarang bersumpah serapah dan mencabut kedua kerisnya.


Sudah usai. Ia berhasil mengalahkan Pratiwi, pikir Karsan. Lebih penting lagi adalah bahwa ia berhasil mengalahkan dirinya sendiri.


Ia berdiri dengan gagah dan percaya diri, kemudian berteriak, "Kesuma, Mahendra, Sasangka ... Aku menang. Habisi mereka semua," ujar Karsan agar ketiga rekannya tidak perlu merunduk lagi dan bisa merasa aman langsung menyerang lawan-lawannya.


DAR!


Asap tebal mengepul hanya beberapa tombak di depan Kesuma.


Karsan jatuh tertembak di dadanya.


Kesuma berteriak, "Karsan!" ketika melihat Karsan tumbang. Ia kemudian langsung menyerbu ke arah kepulan asap. Ia melompat dan membenamkan wedhung berkali-kali di dada sang penyerang.

__ADS_1


Karsan salah perhitungan, atau mungkin sekadar sembrono. Ada dari para prajurit yang merengsek ke atas bukit itu juga membawa bedil.


__ADS_2