
Jayaseta menghela nafas. Ini adalah kedua kalinya ia melakukan hal yang serupa, yaitu meledakkan tenaga dalam dalam bentuk hawa tenaga yang tak tampak. Tidak hanya itu, ia bahkan ikut meledakkan racun yang ada di dalam tubuhnya serta menjadikannya senjata bagai seekor ular yang meludahkan bisa dari mulutnya.
Ini membuatnya memiliki kemampuan lain yang luar biasa dalam hal olah kanuragan, yaitu menyerang musuh bahkan tanpa perlu menyentuh. Sebuah ilmu kesaktian yang bahkan Jayaseta sendiri hampir tak percaya ia bisa melakukannya, mengingat ia tidak terlalu suka dengan ilmu kanuragan yang melibatkan ilmu tenaga dalam.
Namun, memang, kemampuan baru yang didapatkannya hanya dalam beberapa malam tersebut, termasuk kemampuannya yang lain, yaitu bertarung dalam kegelapan dan tanpa melihat terssebut, membutuhkan tenaga yang cukup besar. Ledakan hawa kekuatannya itu menguras banyak tenaga. Ia sekarang merasa bahwa detak jantungnya berdetak begitu cepat dan darah mengalir ke kepalanya sama cepatnya. Maka, dengan gesit pula, Jayaseta langsung mengatur tubuhnya dengan hawa murni agar dapat langsung kembali siap.
Lâm di sudut lain, ternganga. Ledakan tenaga tidak sempat mengenai tubuhnya meski berhasil menjatuhkan kedua bawahan terakhirnya dengan telak. Lâm tak percaya dengan apa yang dilihatnya ini. Pembantaian yang terjadi pada semua rombongan perompak Champa maupun Annam yang awalnya hendak diterjunkan untuk membantu para anggota perompak Dunia Lain, nyatanya memang dihabisi oleh seorang pendekar pilih tanding. Jayaseta dan Pendekar Topeng Seribu berada jauh di atasnya. Lâmmerasa ia tidak pantas berada di tempat ini. Mati dibunuh seorang Jayaseta pun ia tak pantas.
__ADS_1
Pisau di tangan kanannya digenggam erat. Ia masih memiliki satu kesempatan. Sebuah kesempatan terakhir yang akan menyadarkan dirinya tentang semuanya. Tidak hanya tentang hidupnya, tetapi juga tujuan dan rencana besar Dunia Baru yang harus kembali dipertanyakan. Apakah melibatkan seorang Pendekar Topeng Seribu adalah sebuah keputusan yang baik dan bijak?
Lâmmelihat langit telah merekah. Sinar jingga sebentar lagi akan berubah keperakan. Mentari akan mengambil alih kegelapan yang telah menelan semua rekan dan bawahannya.
Lâm memandang Jayaseta lekat-lekat. Ia menekukkan kedua lututnya, menarik nafas panjang dan mengumpulkan semua tenaga dalam di tangan kanannya.
Jayaseta tidak mengetahui rahasia besar lagi di belakangnya yang saling jerat-menjerat bagai benang kusut. Lâm adalah salah satu dari banyak murid Sang Pisau Terbang Penari, yang juga pernah menjadi guru ilmu kanuragannya.
__ADS_1
Lâm akan mengubur rahasia ini sampai mati. Maka ia melemparkan pisau terkahirnya dengan jurus pamungkas yang ia pelajari lama.
Pisau itu mencelat cepat ke arah Jayaseta, jauh lebih cepat dari sebatang anak panah atau pelu*ru dan jauh lebih kuat dibanding sebatang gada.
Jayaseta merasakan ada angin kuat yang melaju ke arahnya bagai sekumpulan banteng. Sang pendekar sadar bahwa lawannya yang terakhir ini menggunakan kemampuan terakhir dan terbaiknya. Ia tak pernah menyepelekan musuh sama sekali. Sekali dua memang ia ceroboh, seperti halnya yang ia lakukan ketika melawan Lâm tadi. Namun, sekali lagi, ia tak pernah meremehkan musuh.
Jayaseta membiarkan naluri kependekarannya menguasai tubuhnya sehingga pisau dengan tenaga dalam yang melingkupinya itu lolos tidak mengenainya. Pisau itu terus melaju memotongi beberapa ranting pepohonan dan melesak menembus salah satu pohon besar di belakang Jayaseta. Hawa yang dihasilkan dari lemparan pisau itu terasa membakar wajah Jayaseta ketika melewati sisinya. Bisa dibayangkan bila pisau itu berhasil mengenai tubuhnya, sudah dipastikan kulit dan dagingnya pun bisa jebol.
__ADS_1
Jayaseta tidak membiarkan dirinya dimakan kepuasaan dan kelegaan terlalu lama. Ia langsung segera berbalik arah siap untuk mengambil gilirannya menyerang lawan. Ia tak akan pernah tahu apa yang dipersiapkan musuh bila ia tidak siap. Sedari awal ia memang tidak pernah meremehkan siapapun.
Namun, apa yang terjadi ketika Jayaseta berbalik arah. Ternyata Lâm sudah tidak ada di tempat. Perompak itu telah melarikan diri dari ajang pertempuran bagai seorang pengecut.